Soalan Yang Sering Diajukan: Hari Tanpa
Belanja
Apa Hari Tanpa Belanja itu?
Hari Tanpa Belanja (30 November) adalah sebuah ide sederhana untuk bersikap
lebih kritis pada budaya konsumen dengan jalan mengajak kita untuk tidak
berbelanja selama sehari. Ini adalah suatu bentuk perlawanan terhadap budaya
konsumerisme.
Dari mana Hari Tanpa Belanja berasal?
Hari Tanpa Belanja telah dimulai sejak 1993 oleh Adbuster—sebuah organisasi
nirlaba yang berpusat di Kanada yang bertujuan meningkatkan kesadaran kritis
konsumen (idenya berasal dari Ted Dave, pendiri Adbusters). Kini Hari Tanpa
Belanja telah dirayakan secara internasional di lebih dari 30 negara.
Apa tujuannya?
Sebagai konsumen, kita seharusnya mempertanyakan produk-produk yang kita beli
dan perusahaan-perusahaan yang membuatnya. Idenya adalah untuk membuat orang
berhenti dan berpikir tentang apa dan seberapa banyak yang mereka beli telah
berpengaruh pada lingkungan dan negara-negara berkembang.
Siapa yang merayakan?
Anda! Ini adalah perayaan Anda! Beritahu teman-teman, pasanglah poster dan
jangan belanja pada 30 November.
Mengapa ada perbedaan tanggal perayaan?
Di Amerika Serikat dan Kanada, Hari Tanpa Belanja tahun ini dirayakan 29
November 2002, sehari setelah perayaan Thanksgiving. Di Indonesia, Hari Tanpa
Belanja akan dirayakan 30 November 2002--pada hari Sabtu, di mana orang biasa
menghabiskan waktu untuk berakhir pekan dan pergi berbelanja.
Apa yang akan saya dapatkan?
Selama 24 jam Anda akan mengambil jarak dari konsumerisme dan merasa bahwa
belanja itu tidak terlalu penting. Setelah itu Anda akan mendapatkan kembali
kehidupan Anda. Itu adalah sebuah perubahan besar! Kami ingin Anda membuat
komitmen untuk mengurangi belanja, lebih sering mendaur-ulang, dan mendorong
para produsen untuk bersikap lebih jujur dan fair. Konsumerisme modern mungkin
merupakan sebuah pilihan yang tepat, tetapi tidak seharusnya berdampak buruk
bagi lingkungan atau negara-negara berkembang.
Apakah itu berarti saya dilarang belanja?
Percayalah, sehari tanpa belanja tak akan membuat Anda menderita. Kami ingin
mendorong agar orang-orang berpikir tentang akibat-akibat dari apa yang mereka
beli bagi lingkungan dan negara-negara berkembang.
Belanja? Apa salahnya?
Sebenarnya bukan hanya belanja itu sendiri yang berbahaya, tetapi juga apa yang
kita beli. Ada dua wilayah yang perlu kita perhatikan, yaitu lingkungan dan
kemiskinan. Negara-negara kaya di Barat (hanya 20% dari populasi dunia)
mengkonsumsi lebih dari 80% sumber alam dunia, dan menyebabkan ketakseimbangan
dan kerusakan lingkungan, serta kesenjangan distribusi kesejahteraan. Kita patut
cemas pada cara barang-barang kita dibuat. Juga banyaknya perusahaan-perusahaan
besar yang menggunakan tenaga kerja di negara-negara berkembang karena murah dan
tidak ada sistem perlindungan pekerja.
Bagaimana dengan lingkungan?
Bahan-bahan baku dan cara pembuatan yang digunakan untuk membuat barang-barang
kita memiliki dampak buruk seperti limbah beracun, rusaknya lingkungan, dan
pemborosan energi. Pengiriman barang-barang ke seluruh dunia juga menambah
tingkat polusi.
Apakah satu hari akan membuat perubahan?
Hari Tanpa Belanja tidak akan mengubah gaya hidup kita hanya dalam satu hari, ia
lebih merupakan sebuah pengalaman melakukan perubahan! Kami bertujuan membuat
Hari Tanpa Belanja mengendap dalam ingatan setiap orang—layaknya peringatan
Lebaran, Natal, atau Tujuh Belasan—agar juga berpikir tentang diri mereka
sendiri, tentang keluarga terdekatnya, keluarga, teman-teman, dan masa depan.
Apa yang harus saya lakukan?
Tidak melakukan sesuatu berarti melakukan sesuatu! Anda bisa melihat kegiatan
Hari Tanpa Belanja di berbagai penjuru dunia lewat link di sebelah kiri halaman
ini, atau kunjungi website Adbusters.
Pikir lagi sebelum membeli! Jawablah pertanyaan-pertanyaan ini sebelum
berbelanja!
* Apakah saya benar-benar memerlukannya?
* Berapa banyak yang sudah saya punya?
* Seberapa sering saya akan memakainya?
* Akan habis berapa lama?
* Bisakah saya meminjam saja dari teman atau keluarga?
* Bisakah saya melakukannya tanpa barang ini?
* Akankah saya bisa membersihkan dan/atau merakitnya sendiri?
* Akankah saya bisa memperbaikinya?
* Apakah barang ini berkualitas baik?
* Bagaimana dengan harga? Apakah ini barang sekali pakai?
* Apakah barang ini ramah lingkungan?
* Dapatkah didaur-ulang?
* Apakah barang ini bisa diganti dengan barang lain yang sudah saya miliki?