Aborsi
Kunyatakan Hari Ini Bahwa Aku Adalah Seorang Pro-Choice
Ya aborsi. Sebuah kata yang banyak menimbulkan perdebatan yang seakan tanpa
akhir antara pro-choice dan pro-life. Seperti juga saat beberapa kali aku
berdebat dengan beberapa orang disini soalan itu dimana mereka sangat tertutup
dalam menerima pendapatku. Dapat ditebak, debat tersebut berubah menjadi
pemaksaan kehendak karena orang yang aku debat tersebut sama sekali tidak
menerima pendapatku. Menurutnya, aborsi adalah salah. Titik. Tanpa dia
sedikitpun mau mendengarkan ucapan dan alasanku. Karenanya, disini aku
mengutarakan pemikiranku soal aborsi ini. Bilamana ada yang merasa masih tidak
dapat menjelaskan pendapatnya soal aborsi tanpa alasan yang jelas --seperti
bahwa kalian berpendapat bahwa aborsi itu salah tapi tak memberi alasan jelas
kecuali hanya berkata, "Aborsi itu salah kata agama. Titik."-- ya maka menjadi
sebuah titik akhir juga diskusi ini. Karenanya pula, bilamana ada diantara
kalian yang sangat terikat dengan ajaran agama kalian tanpa kalian pernah
mengerti alasannya, atau juga ada diantara kalian yang mendewakan budaya timur
saat diri kalian mengenakan celana jeans dan mengkonsumsi produk instant,
sebaiknya kalian menekan tombol 'back' diatas dan membaca artikel lain di web
ini. Bagi yang terbuka pikirannya, silahkan melanjutkan membaca dan aku menunggu
tanggapan kalian. Setelahnya apakah kalian mau mengatakan bahwa diriku kafir
atau apa, aku tidak peduli karena menurutku adalah hakku untuk mengungkapkan
pendapatku. Hanya satu permintaanku, jangan debat aku dengan menggunakan
retorika-retorika agama. Karena menggunakan hukum agama, hanya berlaku bagi
agama yang sama, tidak bersifat universal. Sementara kita semua tahu bahwa
masalah aborsi atau masalah apapun di dunia ini sifatnya universal, tidak
memandang agama, ras, suku ataupun kenegaraan dan barat ataupun timur.
Aborsi. Adalah merupakan pembunuhan atas sebuah kehidupan manusia walaupun masih
banyak juga orang-orang yang tidak setuju dengan pendeskripsian ini. Mengapa?
Karena bagaimanapun aborsi adalah sebuah bentuk penggagalan sebuah bentuk
kehidupan. Berdasarkan dengan definisi ini, banyak ahli biologis akan sependapat
denganku saat aku berkata bahwa tidak ada perbedaan antara fetus dengan bayi
yang sudah dilahirkan. Sebuah fetus yang telah berumur dua belas minggu telah
memiliki sistem organ kehidupan yang fungsional seperti layaknya bayi yang telah
lahir. Fetus itu bernafas, menelan, bergerak. Dia sangat sensitif akan rasa
sakit dan suara bising, serta dia akan mencari posisi yang nyaman saat dirinya
merasa tidak nyaman. Karenanya saat aku melihat foto sebuah fetus, maka aku
melihat sebuah foto dari manusia, bukannya sekedar sebuah foto sel-sel mahluk
hidup. Dan pada akhirnya, mengaborsi manusia ini, akan sama halnya dengan
mengambil konsekwensi membunuh mahluk hidup yang tak bisa mempertahankan diri
ini.
Tetapi sekedar mendefinisikan aborsi sebagai sebuah bentuk pembunuhan, tidak
akan merubah apapun apabila diri kita tidak mau melihat apa alasan perempuan
melakukan tindak aborsi. Salah satu penyebabnya adalah berdasarkan kepada
ketidak seimbangan antara peran laki-laki dan perempuan dalam tatanan
tradisional. Mengutip kata-kata dari Sonia Skindrud --seorang aktifis
pro-choice-- sebagai berikut, "Mengesampingkan keinginan untuk melakukan
hubungan seksual adalah sesuatu yang selalu ditekankan kepada kita oleh orang
tua kita, sekolah kita, lembaga administrasi, birokrasi, dan figur-figur
religius. Sementara pada saat yang sama, kaum muda ditekan untuk segera
melakukan hubungan seks lebih dini oleh imej-imej yang dicekokan kepada kita
melalui media-media konsumen yang mereka konsumsi setiap harinya dimana-mana,
terlepas dari rasa keingin tahuan mereka sendiri untuk melakukan hubungan seks.
Perempuan-perempuan muda selalu diajarkan bahwa harga diri mereka tidak lebih
tinggi daripada sebagai daya tarik seksual bagi lawan jenisnya, lihat saja
bagaimana perempuan selalu diajarkan tentang bagaimana tampil cantik secara
fisik dan menarik bagi lawan jenisnya dengan mengesampingkan arti sebenarnya
dari cantik itu sendiri. Kenyamanan dan rasa percaya diri bagi perempuan
didapatkan saat mereka menerima respon laki-laki dalam bentuk ketertarikan
secara fisik yang otomatis berarti sebuah ketertarikan seksual. Menerima
penolakan dari laki-laki atas kekurangan dalam membangun imej seksual bagi kaum
perempuan dianggap sebagai sebuah penolakan yang menyeluruh terhadap diri
perempuan, lihat betapa mayoritas perempuan akan merasa sangat sakit hati saat
dirinya dianggap tidak cantik dilihat secara fisik. Karenanya semua perempuan
selalu berusaha untuk tampil dengan ukuran standar nilai kecantikan yang
diberikan oleh media. Maka, sekali undangan seksual tersebut mendapat sambutan,
maka tidak dapat disangkal apabila hal tersebut juga berarti pembukaan diri
mereka terhadap kemungkinan terjadinya kehamilan --sebuah kondisi dimana secara
tradisional selalu dianggap sebagai kesalahan penuh sang perempuan. Laki-laki
secara umum selalu berada pada pihak yang sama sekali tidak menanggung beban
apapun, dan sangat terlalu sering para laki-laki juga menolak menggunakan
sekedar kondom sebagai alat proteksi mereka hanya dengan alasan bahwa kondom
mengurangi kenyamanan dalam melakukan hubungan seks."
Tetapi kita juga masih harus melihat kepada salah satu persoalan besar penyebab
terjadinya aborsi di seluruh dunia, yaitu situasi ekonomi yang ditanggung
perempuan. Selama masih banyak perempuan yang tidak mendapat pekerjaan yang
layak, selama masih banyak taman ebrmain yang dibutuhkan oleh anak-anak, selama
masih banyak keluarga yang tidak memiliki hak untuk mendapatkan tempat tinggal,
selama masih banyak perempuan hamil dan perempuan yang telah mempunyai anak
mendapat tempat berbeda dengan posisi perempuan yang tidak dalam kondisi
tersebut di masyarakat, maka dunia kita masih akan dipenuhi oleh
tindakan-tindakan aborsi. Melihat kondisi negara Amerika yang sudah dianggap
sangat maju, kasus aborsi dalam beberapa tahun terakhir mengalami peningkatan
yang drastis, hal ini dapat dilihat korelasinya dengan naiknya pula angka
kemiskinan di Amerika. Hal ini juga terjadi dan mengalami kondisi yang sama di
negara Jerman setelah keruntuhan tembok Berlin. Sebanyak pengangguran massal
meningkat, maka semakin meningkat pula permintaan akan aborsi. Sementara alat
kontrasepsi sebagai salah satu alat pencegah kehamilan juga masih selalu menjadi
barang yang 'lux' yang diperuntukan bagi orang-orang kaya dan perempuan yang
mendapat pendidikan seks yang memadai sementara saat ini akses untuk mendapatkan
pendidikanpun semakin berkurang bagi sebagian besar massa seiring dengan
meningkatnya kemiskinan dan pengangguran. Hal ini jelas bahwa alat kontrasepsi
hanya seakan diperuntukkan bagi kalangan kelas menengah dan kelas borjuis.
Kontrol kelahiran digunakan secara efektif oleh mereka, tapi bagaimana halnya
dengan mereka yang berada dalam kondisi miskin? Diakibatkan oleh kurangnya media
pendidikan dan informasi bagi kaum miskin, mereka bahkan juga tidak mengerti
bagaimana cara menggunakannya. Di Inggris pada tahun 60an, diadakan sebuah
program untuk memperkenalkan kontrol kelahiran ke rumah-rumah perkampungan
miskin disana. Para ahli medis pergi ke rumah-rumah untuk menerangkan bagaimana
keefektifan hal tersebut dalam mengurangi angka kelahiran. Tetapi apa yang
ternyata berlaku beberapa tahun kemudian? Pemerintah Inggris memberhentikan
program tersebut dikarenakan program tersebut dianggap memakan biaya tinggi tapi
tidak memberikan keuntungan berlebih bagi negara. Mereka lebih suka memberikan
dananya bagi pertumbuhan ekonomi negara dan penguatan armada perang. Sebuah hal
yang tidak ada bedanya dengan yang terjadi di Indonesia dewasa ini. Menghadapi
masalah seperti ini, adalah sangat jelas bahwa bagaimana dalam tatanan
masyarakat kapitalistik seperti sekarang ini, penyediaan alat kontrasepsi atau
apapun yang gunanya dapat dirasakan oleh sebagian besar massa tetapi tidak
memberikan keuntungan secara ekonomis, maka program seperti itu akan ditolak
oleh negara. Tidak ada penghasilan yang didapat oleh negara dengan menyediakan
taman bermain bagi anak-anak. Tidak ada penghasilan yang didapat oleh negara
dengan memberikan pendidikan-pendidikan gratis pada massa. Tidak ada penghasilan
yang didapat oleh negara untuk membangun panti asuhan-panti asuhan bagi
anak-anak terlantar, tidak ada penghasilan yang didapat oleh negara untuk
menciptakan sebuah kondisi dimana perempuan yang hamil tidak perlu melakukan
aborsi...
Apabila lalu kita lihat kemungkinan perempuan untuk tetap melahirkan bayinya
dengan kondisi ekonomi yang sangat diskriminatif, apakah telah tersedia cukup
banyak panti-panti asuhan bayi? Negara tidak melihat keuntungan dengan membiayai
panti-panti asuhan seperti itu. Sementara kenyataannya, hingga saat ini diantara
masih sangat jarang tindakan pengadopsian bayi. Kita selalu berkata bahwa diri
kita tidak siap untuk merawat seorang bayi dan anak sebagai alasan untuk
menghindari tanggung jawab mengadopsi bayi dan anak. Dan semua orang juga
berkata tidak siap sebagai pembenaran dirinya untuk melepaskan diri dari
kesalahan apabila sudah terlalu banyak bayi dan anak yang hidup terlantar
kecuali perawatan minim dari panti asuhan yang semakin kekurangan biaya
perawatan. Masih terlalu banyak mereka yang sebenarnya mampu mengadopsi tetapi
menolak. Dan dengan kondisi seperti ini, bagaimana perempuan-perempuan tadi
dapat membesarkan bayinya yang tidak diaborsi, sementara biaya untuk perawatan
bayi dalam kondisi dewasa ini amatlah mahal. Lihat berapa harga dokter bayi,
saat seorang bayi yang masih sangat rawan akan penyakit jatuh sakit, berapa
harga obat yang tersedia untuk ditebus oleh si pengurus bayi tersebut, berapa
harga susu, peralatan perawatan bayi, dan lain sebagainya dewasa ini? Kesehatan
juga tidak diperhatikan oleh negara karena pemberian kesehatan gratis adalah
sesuatu yang tidak menghasilkan keuntungan apapun bagi negara. Apakah lalu
dengan berbagai kenyataan seperti itu kita hanya melimpahkan kesalahan aborsi
hanya pada perempuan yang melakukan tindak aborsi tersebut?
Kemudian kita juga harus melihat kenyataan bahwa bagaimana masyarakat sekarang
yang menghujat aborsi dalam kesehariannya selalu juga menempatkan mereka yang
hamil ke tingkat yang lebih rendah dalam tatanan masyarakat. Dalam kantor-kantor,
masih banyak yang hanya mau menerima kerja mereka yang belum memilki tanggungan
anak dan keluarga. Dalam pabrik-pabrik, masih banyak dimana para buruh perempuan
tidak mendapat gaji saat mereka mengambil cuti karena mereka mengalami kehamilan.
Di komplek-komplek perumahan dan perkampungan, masih banyak perempuan-perempuan
muda yang dihujat hanya karena mereka mengalami kehamilan sebelum menikah atau
karena mengalami kehamilan pada usia muda. Dalam keluarga, masih banyak orang
tua yang merasa dirinya tercoreng aib yang tak termaafkan disaat mereka menemui
putrinya mengalami kehamilan sebelum mendapatkan surat resmi dari negara yang
menjelaskan bahwa putri mereka sudah menikah. Orang tua yang kemudian lebih suka
merendahkan putri mereka, bukannya memberikan bantuan kepada putri mereka untuk
melewati masa-masa kehamilan hingga kelahiran anaknya nanti. Selama tradisi yang
mengikat ini, tradisi yang merendahkan perempuan yang hamil ini masih
dipertahankan, maka selama itu pula kasus aborsi akan terus terjadi.
Dengan membuka pikiran kita untuk mempelajari apa penyebab kasus-kasus adanya
aborsi, aku tidak berpikir bahwa keberadaan hukum anti-aborsi adalah sebuah
solusi bagi massa. Keberadaan hukum aborsi dalam kondisi sosial masih seperti
diatas tadi, hanya akan membuat semakin banyaknya praktek-praktek aborsi gelap
dimanapun juga di dunia ini walaupun di negara yang label agamanya kuat seperti
di Amerika Latin dengan agama Katholiknya dan Indonesia dengan agama Islamnya
dimana di tiap negara tersebut aborsi dianggap ilegal. Dalam aborsi gelap,
pasien perempuan seringkali mendapatkan praktek aborsi yang juga dipaksakan
asalkan kandungannya digugurkan dengan cara apapun juga, seperti menelan
substansi yang bisa membunuh fetus, mendapatkan injeksi penisilin, ataupun
dengan urut dimana seringkali terjadi salah urut yang malahan menimbulkan
kerusakan pada organ-organ kehamilan perempuan itu sendiri. Hasilnya? Seringkali
terjadi pendarahan dalam, infeksi rahim, peradangan mulut rahim hingga kerusakan
organ vital perempuan sehingga mereka ada kemungkinan tidak dapat mendapatkan
anak untuk selamanya, hingga yang paling parah adalah kematian dari perempuan
itu sendiri. Setiap tahun, menurut data legal dunia, setiap tahunnya 200.000
orang perempuan mengalami kematian karena praktek aborsi di negara-negara dunia
ketiga dimana mayoritas penduduknya miskin dan masih menganut adat tradisional
yang merendahkan perempuan hamil secara ketat. Karenanya, disitu pula aku
berpendapat bahwa keberadaan hukum anti-aborsi tidak akan merubah apapun selain
semakin meningkatnya kematian perempuan dan fetus akibat aborsi gelap.
Menghakimi perempuan yang melakukan aborsi sebagai pembunuh, juga tidak akan
merubah apapun atau menolong siapapun selain hanya memperbanyak kefrustrasian di
masyarakat ini. Bagi fetus dan bagi perempuan pelaku aborsi, aku tidak
menyalahkan siapapun. Walaupun aku masih berpendapat bahwa aborsi adalah bentuk
pembunuhan terhadap kehidupan, aku tidak melabelkan para pelaku aborsi sebagai
pembunuh, karena aku yakin bahwa tak seorangpun dari perempuan itu yang
melakukan aborsi dengan perasaan senang dan bahagia, atau menganggap aborsi
seakan sama dengan kegunaan alat kontrasepsi.
Aborsi yang dianggap ilegal secara otomatis juga dianggap tabu oleh masyarakat.
Tapi apakah ini sesuatu yang tabu disaat kita semua mau melihat apa penyebab
seorang perempuan melakuan aborsi yang selalu saja karena diakibatkan oleh
kondisi tradisional dan sosial-ekonomi-politik? Penabuan sesuatu tidak pernah
menyelesaikan masalah, karena dengan melabelkan sesuatu sebagai hal yang tabu,
maka disitu pulalah komunikasi akan berhenti dan terputus tanpa terselesaikan
padahal kasus aborsi masih terus berlanjut dalam tatanan masyarakat dunia ini.
Dalam penentangan kita terhadap tindak aborsi, menganggap aborsi ilegal dan
menyalahkan perempuan pelaku aborsi sebagai pembunuh dan mengucilkannya, tidak
akan menyelesaikan masalah sama sekali. Menganggap aborsi sebagai tabu, adalah
sama dengan menganggap tabu untuk melihat kepada inti masalah penyebab maraknya
kasus aborsi. Konteks pemikiran tradisional yang telah lengket di kepala kita
semua selama bertahun-tahun lamanya dapat diselesaikan dan mulai dirubah apabila
kita juga tidak menganggap bahwa sebuah tradisi itu sebagai sesuatu yang
dogmatis. Komunikasi dan edukasi adalah kuncinya. Sebagai contohnya, pendidikan
seks di sekolah-sekolah. Ingat saat kita masih sekolah dulu, dimana pada
pelajaran biologi kita selalu diajarkan tentang fungsi organ-organ kelamin,
berkata segalanya mulai dari menstruasi hingga proses kehamilan hingga
penyakit-penyakit kelamin, tetapi tidak sekalipun kita diajarkan untuk mengenal
lebih jauh kegunaan alat-alat kontrasepsi. Kebanyakan guru menganggap bahwa alat
kontrasepsi tidak baik diajarkan di sekolah karena itu adalah produk yang hanya
dipakai oleh mereka yang telah menikah secara resmi, bukan untuk kalangan
pelajar sekolah. Dan saat sekolah juga, kita tidak pernah dididik untuk mengenal
lebih jauh tentang bagaimana tatanan dunia ini berjalan, bagaimana peranan media
dalam membentuk imej dalam masyarakat, bagaimana perempuan diposisikan secara
seksual oleh sistem, bagaimana patriarki berkembang di dunia ini, dan lain
sebagainya. Tidak. Karena apa yang sekolah saat ini produksi adalah
siswa-siswanya yang merupakan produk siap pakai untuk dilemparkan ke pasaran,
bukan untuk memproduksi siswa-siswa yang dapat membuat kehidupan dunia menjadi
lebih baik kondisi sosial ekonomi politiknya.
Aku tidak menyepelekan atau menganggap bahwa pendidikan seks itu belum ada, tapi
aku mengatakan bahwa betapa masih kurangnya pemahaman juga mengenai pengambilan
tanggung jawab atas semua tindakan kita sehari-hari dan kemampuan mengambil
resiko dalam hidup kita. Kita hanya selalu diajarkan dengan menggunakan kata 'jangan',
kita selalu ditakut-takuti dengan berbagai resiko yang mengerikan, tetapi kita
tidak pernah diajarkan untuk bagaimana mengambil tindakan saat kehamilan telah
terjadi. Memberikan informasi mengenai kontrol kelahiran akan memberikan
kemungkinan menurunnya angka kehamilan yang tidak diinginkan. Tetapi tidak
sekedar itu saja. Harus diciptakan alat-alat kontrasepsi seperti pil yang dapat
digunakan oleh laki-laki juga sehingga tidak seluruh tanggung jawab dari
kehamilan dilimpahkan pada perempuannya saja. Pendidikan akan masalah kehamilan
harus diberikan kepada dua pihak, laki-laki dan perempuan. Dengan demikian
mungkin masih akan terjadi kasus kehamilan yang tidak diinginkan, tetapi aborsi
tidak lagi menjadi sebuah satu-satunya pilihan, aborsi hanya menjadi sebuah
alternatif diantara banyak pilihan lainnya. Mungkin ini terdengar seperti sebuah
utopia dalam tatanan sistem seperti sekarang ini apalagi dengan melihat
kenyataan bahwa dengan masuknya era neo-liberalisme dewasa ini segala dana
subsidi bagi kepentingan massa seperti kesehatan, pendidikan, perumahan dan
lainnya akan dipotong karena dianggap tidak memberikan keuntungan bagi negara.
Sebab-sebab ekonomi dan tradisi yang tidak mengenal kompromi penyebab aborsi
tidak akan pernah pergi dalam tatanan masyarakat seperti ini. Mungkin terdengar
dan terlihat tidak relevan saat aku berkata bahwa perjuangan melawan aborsi
adalah berarti juga harus berupa sebuah perjuangan melawan kapitalisme.
Walaupun aku benar-benar melihat data dan kenyataan yang berkaitan dengan aborsi
dengan fakta-fakta nyata seperti diatas, aku harus mengakui bahwa aku tidak
memiliki pilihan lain selain memerangi sistem kapitalisme itu sendiri, tak ada
alternatif lain dihadapanku. Aku juga tidak dapat menyelesaikannya dengan
menggunakan segi agama atau moral karena kondisi nyata saat ini agama tidak lain
hanyalah sebuah label yang tidak toleran dan kehilangan esensinya, sementara
dengan ukuran moral, aku tidak percaya lagi karena moral juga sudah kehilangan
esensi seperti juga nilai-nilai dalam agama itu sendiri. Lagipula bagaimana kita
menyelesaikan masalah aborsi yang sangat universal ini dengan menggunakan
pandangan salah satu agama yang jelas tidak semua orang memiliki agama yang sama
yang berarti bahwa pandangan salah satu agama tidak dapat digunakan untuk
dijadikan patokan bagi seluruh masyarakat yang jelas berbeda-beda agamanya dan
juga ada yang tidak beragama. Aku tidak mempunyai pilihan lain. Pada akhir kata,
aku masih menganggap aborsi itu sebaiknya tidak dilakukan, tetapi apa yang aku
akan katakan kepada seorang anak perempuan hamil berusia 16 tahun yang masih
pergi ke sekolah yang jelas-jelas akan memecat dan mengalienasikan anak tersebut?
Apakah aku akan mengatakan kepadanya untuk tidak melakukan aborsi dan
menyarankannya untuk melahirkan dan memelihara saja bayi tersebut? Aku akan
melihat kondisi nyata seperti juga yang dibayangkan oleh semua orang, bahwa
hidup anak perempuan tersebut akan hancur ketika dia memutuskan untuk melahirkan
bayinya. Secara personal, aku berpikir bahwa hal tersebut adalah kompromi buruk
yang aku lakukan untuk membiarkannya melakukan aborsi tapi aku tidak mempunyai
alternatif lain. Mengetahui bahwa aborsi berarti juga membunuh sebuah kehidupan,
aku masih harus menerima bahwa tidak ada alternatif lain bagi para perempuan
yang memilih untuk melakukan aborsi untuk tidak melakukannya, dimana berarti aku
memilih untuk menjadi seorang pro-choice dan mendukung pada perempuan untuk
melakukan apa yang mereka rasa perlu dalam tatanan masyarakat kapitalistik ini.
Tetapi, suatu saat nanti, disaat tatanan masyarakat yang kita tinggali di dunia
ini tidak lagi terpaku pada tradisi dan alasan-alasan ekonomis menjadi bukan
sebuah masalah yang menghasilkan kemiskinan, atau katakanlah dalam tatanan
masyarakat sosialistik tanpa hierarki, tapi masih ada juga perempuan yang
melakukan aborsi tapi tanpa memiliki alasan yang jelas, maka akulah yang akan
pertama kali menyatakan diri bahwa aku berjuang demi kelangsungan hidup fetus
tersebut.
I AM PRO-CHOICE, I AM RIOT AND I AM A PRO-LIFER'S NIGHTMARE IN THIS SICK CURRENT
SYSTEM!
tank_boy
PO Box 6407 bdcd, Bandung 40000, Indonesia terror.
worldwide@solution4u.com