Duplikasi Ala Sekolah
Hari senin, Pak Bagus yang guru IPS itu setelah selesai memberikan pelajaran,
akhirnya menugaskan siswanya dengan pr (pekerjaan rumah) biasa! rutinitas pak
bagus yang katanya untuk melatih data ingat siswa. Tentang bagaimana korelasi
atau sejauh mana pemerintah begitu respon terhadap IMF. Ya! Dengan segala tetek
bengeknya karena tempo hari pak bagus telah membahas dengan para siswanya.
Mungkin dia ingin mengetahui sejauh mana siswanya menangkap pelajaran yang telah
ia berikan.
Hari Rabu tugas itu sudah harus ditangan Pak Bagus. Selesai tidak selesai
kumpulkan! Pak Bagus sedikit mengancam siswanya. Hah! Hebat Juga taktik Pak
Bagus dan ini selalu berhasil. Si Arif yang anak kesayangan para guru itu
langsung mengerutkan dahi pertanda bahwa ia harus segera membuka catatan yang
tempo hari pak bagus berikan dan tak kalah pentingnya mengumpulkan bahan bahan
dari catatan teman-temannya juga buku-buku yang ia anggap dapat membantu,
biasanya terbitan Balai Pustaka yang selalu dianjurkan setiap guru di sekolahnya.
Ya! Ia pikir analisa pemerintah lebih jelas. Rupanya siswa sekolah yang satu ini
telah menggantungkan tugasnya pada analisa buatan pemerintah dengan segala
pembenaran-pembenaraan yang tidak masuk akal sama sekali, dengan semua idealisme
yang menyesatkan kita. Dan karakter siswa seperti ini tidak hanya di jumpai
padaa siswa bernama arif saja. Ibarat si kerbau cepat gemuk lalu di potong atau
di jual oleh majikannya. Jadi nasib kebo itu ada sepenuhnya di tangan si majikan.
Sementara si asep siswa yang sering keluar masuk ruang BP dan tempo hari untuk
kesekian kalinya harus mendapat sanksi dari kepala sekolah karena kedapatan
merokok di kantin sekolah itu hanya melenggang tenang keluar dari gerbang
sekolah. Sementara si Arif yang sedang berlari meninggalkan sekolah itu dengan
tergesa gesa tanpa diduga menubruk si asep yang berada pas didepanya, Duuuugh!
Heh! Sep elo ngalangin gua aja sih! Lho siapa yang ngalangin, mata lo kemanain
atuh goblog siah! Si asep membalas karena kaget. Aku buru-buru nih mau pinjam
catatan si susan, Pak Bagus khan ngasih PR! Koq kamu tenang tenang aja sih!
Emaang gua pikirin anjing! Pr khan pekerjaan rumah, ya entar aja aku pikirin di
rumah. Terus ngapain lagi harus pinjem catatan sana -sini, Buku! Pr itu kan yang
ngerjain kita sendiri ya bagaimana pendapat kita dong! ngapain pinjem catatan
udah ajaa si pak agus yang ngerjaian PR sana! Sama aja kita menyalin pendapat
orang lain atuh rif! Kumaha ari mnaeh atuh goblog! Dasar bego luh! Pantesan lu
disayang sama guru, jawban elo nggak beda sama si pak bagus, enggak pernah mikir
luh!
Kondisi di atas bila kita analisa hampir karakter siswa seperti si Arif
merupakan hasil bentukan dari sistem sekolah yang merupakan corong propaganda
pemerintah, selain media massa atau lsm-lsm dan semua corong-corong yang berada
di sekitar kita (saatnya untuk dihancurkan!) lalu di hembuskan kepada anak
didiknya agar selamanya mereka patuh dan tundduk pada aturan-aturan penguasa,
nurut! kayak kebo tadi. Guru sebagai prototype bagi siswa merupakan manusia yang
setiap pendapatnya merupakan yang terbaik yang di jadikan acuan siswanya dan
yang lebih parahnya setiap siswa secara langsung atau tidak langsung dituntut
untuk menganalisa seperti apa yang guru pikirkan.
Antara murid dan guru terjadi hubungan yang non dialogis artinya guru
menerangkan, siswa mendengarkan. Guru seolah yang paling benar, siswa
membenarkan, saya ambil contoh misalnya dalam suatu mata pelajaran dengan durasi
45 menit seorang guru menerangakan materi pelajaran, selama itu pula aia tidak
membri kesempatan untuk berdialog atau membuka forum diskusi. Padahal forum
seperti ini sangat diperlukan untuk membuka wawasan dan melatih nalar dan logika
serta yang paling penting untuk memupuk rasa percaya diri dana setiap siswa
dapat menjadi dirinya sendiri bukan menjadi gurunya atau apapun atau siapapun.
Atau selama 45 menit itu dalam proses belajar mengajar, hanya beberapa menit
saja guru memberi kesempatan siswanya untuk bertanya. Itupun lebih banyak
gurunya sendiri yang menjawab. Pendidikan seperti inilah yang oleh Paulo Preire
disebut sebagai antagonisme pendidikan gaya bank.
1. Guru mengajar, murid belajar
2. Guru tahu segalanya, murid tak tau apa apa
3. Guru berpikir, murid di pikirkan
4. Guru bicara, murid mendengarkan
5. Guru mengatur , murid diatur
6. Guru memilih dan memaksakan pilihanya, murid mematuhi
7. Guru bertindak, murid membayangkan bagaimana bertindak sesuai dengan tindakan
gurunya.
8. Guru memilihapa yang akan diajarkan, murid menyesuaikan diri.
9. Guru mengacaukan wewenang ilmu pengetahuan dengan wewenang profesionalismenya
dan mempertentangkan dengan kebebasan muridnya
10. Guru adalah subjek proses, murid adalah objeknya.
Kita banyak menjumpai tipe-tipe guru yang moralis, perfeksionis, otoriter dan
sok sempurna bagai dewa penyelamat bagi siswa yang diajarnya, saya sebut ini
sebagai nabi kesiangan yang menjurus pada watak-watak fasis ala Hitler. Sosok
guru yang katanya harus digugu dan ditiru adalah slogan basi bau tai kucing yang
harus disingkirkan. Bagaimana tidak! Setiap siswa belomba lomba untuk menyerupai
sosok seorang guru, guru bilang A siswa ya A, guru bilang B siswa ya B, Ingat
kan! Kita menikmati bangku sekolah anatara usia 6-7 tahun! Usia yang begitu
rentan provokasi dan pengaruh-pengaruh dari lembaga pendidikan bernama sekolahan.
Cuci otak!
Bila selamanya proses belajar dan mengajar yang tidak demokratis ini berlangsung,
maka sangat tidak mustahil seorang siswa akan selalu dalam keterbatasan pikiran,
selalu dalam bayang bayang jalan pikiran pendidik karena setiap siswa merasa
tidak mempunyai kontribusi dan kebebasan berpendapat. Jadi masih ada jurang
pemisah antara siswa dan guru. Jurang yang dapat menghambat bahkan menggangu
siswa untuk berdialektika. Watak watak guru yang memberi jarak seperti inilah
merupakan watak borjuis yang tidak senang melihat siswanya berpikir setarap atau
bahkan melebihi gurunya.
Kita ambil contoh misalnya si A memmpunyai kemampuan membuat lagu komersil, laLu
temaNnya si B juga tertarik untuk mencipta lagu karena si B tahu selama si A
menghasilkan lagu ia menjadi seorang jutawan yang kemana mana selalumemakai BMW.
Tapi si A menolak untuk mengajarkan bagaimana membuat lagu-lagu yang komersil,
padahal si B sangat membutuhkan. Ini watak borjuis karena komersil dan
kompetitif maka ia tidak memberikan ilmunya kepada si B, si A merasa takut
tersaingi karena bila si B mampu membuat lagu maka ia mendapat saingan dari
temanya sendiri, siB. Ketakutan ini sangat tidak rasional. Si A mempunyai sifat
yang monopilistik, dia berpikir seolah diantara teman temanya hanya dia yang
mampu untuk membuat lagu yang komersil. Padahal walaupundalam proses mencipta
lagu walau tujuan nya sama yaitu komersil. Dengan pertimbangan bayak faktor baik
dari dalam maupun dari luar yang dapat mempengaruhi hasil kreatifitas dari
keduanya. Jadi watak watak borjuis seperti si A itu yang harus dihancurkan,
dibuang jauh jauh atau dimasukan ke kandang babi. Watak-watak seperti itulah
yang dapat menjebak kita pada perbedaan kelas. Bila watak borjuis, monopolistik,
persaingan dan sifat sifat fasis tai anjing lainnya hancur maka akan terwujud
dimana pada dasarnya setiap individu adalah guru bagi individu lainnya.
Newsletter HALLO! mail to: gejalagila@ganja.com