Scene Kita Dan Zapatista
Scene punk, atau hardcore, atau apapunlah namanya, tidak pernah lepas dari
keterkaitannya dengan issue-issue sosial politik maupun ekonomi baik itu issue
nasional, maupun issue internasional, issue global.
Mulai dari kolektif Profane Existence di Amerika sana --yang saat ini telah
bubar--, atau label kolektif Alternative Tentacle yang dikoordinir oleh
eks-vokalis Dead Kennedys, Jello Biafra, atau juga label Spiral Objective hasil
bentukan Greg, seorang eks-anggota partai sosial-demokrat Australia, DSP. Atau
juga ratusan label independen yang tersebar di seluruh penjuru dunia, tak
terkecuali label yang sering dianggap sell-out karena kolaborasinya dengan
Warner-Bros, Epitaph, selalu terkait juga dengan issue-issue seperti diatas (kecuali
label-label independen bodoh yang terlalu idiot untuk dapat berpikir hingga
kearah sana).
Belum terlalu lama ini, hampir semua scene-punk/hardcore aktif di dunia ini
seakan terfokuskan pada issue-issue dari negeri Nusantara ini. Mulai dari kasus
runtuhnya Orde Baru, kemerdekaan Timor Leste, dan lain-lainnya, tampaknya
menjadi topik yang sedang 'in', lihat saja bagaimana band crust In/humanity
membahas masalah Timor Leste dalam salah satu medianya, lihat bagaimana katalog
label Spiral Objective mengulas cukup banyak soalan tersebut, juga lihat
bagaimana beberapa band hardcore/crust mengkoordinir sebuah piringan hitam
bertitel 'East Timor: A Betrayed Nation', sebuah kompilasi beberapa band dimana
semua profit yang didapat dari penjualan kompilasi tersebut disumbangkan bagi
membiayai kemerdekaan Timor Leste dan membantu para pengungsinya. Masih banyak
lagi band-band dunia lainnya yang peduli kepada masalah tersebut, pun hal itu
tidak berhubungan, berkaitan langsung dengan kehidupan mereka sehari-hari di
negeri mereka berada.
Setelah kasus-kasus yang menimpa negeri Nusantara ini, kini mulai menghangat
topik WTO, beserta segala kebijakan Neo-Liberalismenya yang sangat merugikan
negeri-negeri kapitalis pinggiran seperti negeri kita ini. Dan sebelum
kasus-kasus diatas tadi, issue yang banyak diangkat dalam scene adalah issue
pemberontakan Zapatista di Chiapas, Meksiko. Tetapi tiap issue tidak berarti
setelah dibahas lalu dianggap hilang seperti layaknya sebuah trend, tetapi
setiap issue merupakan masukan baru yang akan selalu mendapat perhatian walaupun
beberapa issue tersebut sudah memudar di kalangan masyarakat biasa. Seperti
contohnya kasus Zapatista, hingga kini masih terus merupakan topik yang menarik,
karena hingga kini pula pemerintah dan militer Meksiko masih melakukan
intervensi represif terhadap komunitas rakyat Indian Maya yang bertempat tinggal
di hutan-hutan Lacandon. Anok And Peace, sebuah label hardcore/punk yang aktif
secara politis, juga masih membahas masalah Zapatista tersebut, mereka
menyediakan informasi lewat internet, bahkan juga melancarkan propagandanya
melalui desain kaosnya. Profane Existence, dalam edisi majalahnya yang terakhir,
mengupas secara cukup mendetail mengenai prosesi perjuangan rakyat Indian
tersebut, hingga band politis Rage Against The Machine-pun menyisihkan uang
pendapatannya untuk membiayai pergerakan Zapatista tersebut.
Melihat kondisi global dalam scene punk/hardcore di dunia ini telah begitu jauh
melangkah, rasanya cukup aneh apabila kita yang mau tidak mau adalah merupakan
bagian dari scene punk/hardcore di dunia ini, tidak mengerti masalah
internasional seperti Zapatista tersebut. Kadang beberapa scenester lokal
berkata, buat apa kita membahas masalah internasional sementara masalah nasional
saja masih bertumpuk. Sebenarnya persoalannya bukanlah masalah apakah suatu
issue terjadi di negeri ini atau tidak, tetapi lebih merupakan masalah dunia,
masalah yang mau tidak mau akan ada hubungannya dengan apa yang terjadi di
Nusantara ini. Kadang kita malah bisa belajar menghadapi situasi negeri ini
dengan mempelajari situasi di negeri lain. Oke, tampaknya saya terlalu
bertele-tele, inti dari apa yang akan saya liput dalam kolom ini adalah kasus
perjuangan rakyat Indian Maya di hutan Lacandon, Chiapas, Meksiko dibawah
koordinasi gerakan Zapatista.
Sudah sejak ratusan tahun lamanya, rakyat Meksiko yang suku aslinya adalah suku
Indian Maya, telah menghadapi ketidak adilan dan pembantaian oleh kaum kulit
putih yang dimulai sejak kedatangan Columbus ke Amerika yang bagi rakyat
penghuni benua Amerika adalah merupakan awal sebuah bencana. Beriringan dengan
ekspansi Spanyol yang mengikuti jejak Columbus, pembantaian dan penghancuran
peradaban bangsa Maya dimulai, dimana bangsa Spanyol menginginkan emas yang
merupakan salah satu harta kekayaan rakyat Maya. Setelah era penjajahan mulai
dihapuskan dan dianggap tidak manusiawi lagi (walaupun sebenarnya hingga kinipun
penjajahan masih terus terjadi), bangsa Maya tetaplah tidak mendapat kembali
hak-hak mereka walaupun sekedar untuk hidup secara layak di tanah mereka sendiri.
Awal akhir abad 19, seorang 'Robin Hood' muncul dari kalangan rakyat jelata dan
menjadi tersohor karena keberaniannya dan dedikasinya membangunkan rakyat
Meksiko (termasuk bangsa Maya) untuk bangkit, melawan dan berjuang untuk merebut
kembali hak-hak mereka yang telah terampas. 'Robin Hood' tersebut yang bernama
Emiliano Zapata, pada akhirnya meninggal dunia pada awal abad 20 lalu. Zapata
telah meninggal, tetapi dia meninggalkan sesuatu bagi rakyatnya, sebuah semangat
perlawanan yang terus berkobar hingga kini, sebuah semangat revolusioner yang
oleh rakyatnya dimanifestasikan sebagai sebuah gerakan nasional yang diambil
dari nama pejuang tersebut, Zapatista.
PEMBERONTAKAN DI CHIAPAS
Tahun baru 1994 yang sebenarnya diharapkan sebagai hari kemenangan oleh presiden
Meksiko, Salinas atas diresmikannya perjanjian perdagangan bebas Amerika Utara
(NAFTA). Sebuah perjanjian perdagangan bebas yang notabene adalah kebebasan
berdagang bagi kaum borjuis dan merupakan penjara bagi rakyat dan kaum proletar.
Tetapi perayaan tahun baru tersebut tidak seperti yang diharapkan oleh Salinas,
karena justru pada awal tahun tersebutlah ribuan rakyat Indian Maya menghambur
keluar dari hutan-hutan dengan membawa senjata dan kemudian menduduki tujuh kota
penting di negara bagian Chiapas. Pada saat itu pula, dunia dikagetkan oleh
kelompok Indian Maya yang miskin, kumuh, tetapi terorganisir dengan rapih dan
sangat efisien. Pemberontakan kelompok Indian Maya yang berteriak ya basta! (sudah
cukup!), teriakan kepada 500 tahun lebih penindasan, marginalisasi dan
pembantaian Indian Maya di Meksiko.
Dalam beberapa hari, kelompok Indian tersebut menduduki penjara-penjara dan
membebaskan para narapidana sebanyak hampir 200 orang (dimana kebanyakan para
napi adalah orang-orang tak bersalah yang dijebloskan ke dalam penjara oleh
sistem yang tidak adil), menghancurkan beberapa pusat interogasi polisi,
menduduki gudang-gudang senjata dan amunisi, serta membakar dan menghancurkan
dokumen-dokumen dan arsip-arsip kota di beberapa balai kota dan pengadilan. Aksi
tersebut mencapai puncaknya ketika kaum Zapatista menculik bekas gubernur
Chiapas (seorang militer, sama seperti di negeri kita), Jenderal Absalon
Castellanos Dominguez, yang keluarga dan kroni-kroninya memerintah daerah
tersebut selama beberapa dekase dengan sewenang-wenang seakan daerah tersebut
adalah merupakan milik pribadi mereka. Zapatista menahan Dominguez selama 45
hari untuk kemudian diajukan sebagai seorang terdakwa di depan pengadilan rakyat
dengan tuduhan melakukan korupsi, pemerasan, penculikan dan pembunuhan (sama
seperti apa yang telah dilakukan oleh bekas presiden Suharto dan
jenderal-jenderalnya). Tetapi setelah Dominguez diadili diahdapan rakyat banyak
dan diputuskan bersalah, Zapatista membebaskannya tanpa ada cedera sedikitpun
juga. Hal tersebut dilakukan sebagai sebuah statement bahwa Zapatista
menginginkan perdamaian dan pembebasan tersebut bagi pemerintah dianggap sebagai
sebuah pelecehan atas segala tindakan pemerintah beserta kekuatan militernya
terhadap rakyat. Rakyat ketujuh kota tersebut yang pada awalnya sangat ketakutan
akan adanya pemberontakan tersebut, segera berubah menjadi bersimpati kepada
kelompok Zapatista, setelah mereka mendapati bahwa ternyata kelompok tersebut
bertindak sangat sopan terhadap rakyat daerah tersebut dan tidak melakukan
perampasan, penjarahan milik rakyat, bahkan saat kelompok tersebut meminta
bantuan suplai makanan dari rakyat setempat. Didukung dengan dibebaskannya
Dominguez setelah dianggap bersalah oleh kelompok Zapatista, rakyat makin
bersimpati dan dengan segera berpihak kepada kelompok Zapatista tersebut dengan
menyuplai makanan bagi seluruh anggota kelompok tersebut.
Pemerintah dan militer yang kaget, segera terjaga dengan penuh dendam. Dalam
waktu sepekan, mereka segera mengirimkan pasukan paramiliter dan merebut kembali
ketujuh kota tersebut secara brutal dan membunuhi siapapun yang mereka temui. Di
salah satu kota tersebut, menurut perkiraan seorang pastor Katholik yang selamat
dari pembantaian militer, lebih dari 400 orang yang justru sebagian besar adalah
rakyat sipil, telah terbunuh dalam peristiwa tersebut. Melihat kejadian tersebut,
Zapatista segera melakukan perundingan damai. Perundingan tersebut pada akhirnya
menjanjikan sebuah harapan perdamaian, tetapi dalam kenyataannya, militer secara
diam-diam terus melakukan teror-teror terhadap rakyat sipil dan menuduh bahwa
hal tersebut adalah tindakan Zapatista, sehingga Chiapas menjadi seperti
kamp-kamp bersenjata yang penuh dengan kegelisahan dan penderitaan.
Tanggal 10 Januari 1994, surat-surat kabar di seluruh Meksiko menerima statement
resmi dari seseorang yang menyebut dirinya sebagai Subcomandante Marcos, "Kami
disini mati setiap saat dan sekarat sekali lagi, tetapi kehidupan menjadi lebih
obyektif." Dalam waktu kurang dari sepekan kemudian sosok Marcos menjadi topik
media massa internasional karena ia pernah menguasai Chiapas. Dia dianggap dan
dihormati oleh rakyat seperti Robin Hood, Lone Ranger, atau Geronimo, bahkan
dianggap sebagai titisan pemimpin petani revolusioner Meksiko, Emiliano Zapata,
dan dianggap sebagai 'pahlawan gerilya pasca-modern yang pertama'.
Hingga kini, pemerintah dan pasukan militernya masih terus melakukan teror yang
memaksa kelompok Zapatista tersebut menyingkir ke pedalaman hutan Lacandon.
Zapatista kemudian membuka komunitasnya di hutan tersebut dan menjalankan sistem
tatanan sosial masyarakat dengan berdasarkan kepada sistem demokrasi langsung
(direct-democracy), membangun organisasinya dengan lebih efisien baik dalam
pergerakan maupun dalam kehidupan sehari-harinya.
PAGAR MILITER DI KOMUNITAS CHIAPAS
Kaya akan sumber daya alam --minyak bumi, mineral dan biosphere-- Chiapas segera
menjadi incaran dari para pengeruk keuntungan dari kebijakan ekonomi global.
Dalam bagian untuk menjaga dan mengusahakan agar terkuasainya sumber-sumber daya
alam tersebut, militer telah disebarluaskan di berbagai penjuru daerah Meksiko
sebanyak sekitar satupertiga dari seluruh tentara yang ada di Meksiko. Walaupun
sumber-sumber daya alam yang telah ditambang dan diproduksi selama ini sudah
sangat berlimpah, pada kenyataannya lebih dari 70 persen dari seluruh anak-anak
yang ada di Meksiko menderita kekurangan gizi. Dalam usahanya menguasai seluruh
sumber daya alam yang ada, pemerintah Meksiko melalui struktur pemerintahan oleh
partai tunggal yang sangat korup (seperti disini pada era kejayaan partai
tunggal Golkar) berusaha dengan segala cara untuk menyingkirkan komunitas
Zapatista yang secara legal telah membentuk FZLN (Front Pembebasan Nasional
Zapatista) dari basisnya di hutan Lacandon, Chiapas. Pemerintah juga memperkuat
tentara mereka dengan membentuk lebih banyak lagi tentara, mengeruk lebih banyak
lagi uang untuk memperkuat persenjataan tentaranya dan melakukan latihan-latihan
perang di hutan-hutan yang belum dikuasai Zapatista; selain itu pemerintah juga
menyulut konflik-konflik etnik dan agama untuk memecah belah komunitas tersebut
(sekali lagi, hal ini seperti yang sekarang terjadi di Nusantara); serta
mengajukan kebijakan-kebijakan yang pada intinya hanya melegitimasi kekuasaan
militer dan segala tindakannya yang pada akhirnya hanya menghapus kebebasan
rakyat seperti hak untuk berbicara, berekspresi, berorganisasi dan mendapat
jaminan keamanan (ingat juga kasus UU PKB di Nusantara).
Bagi pemerintah, Chiapas yang merupakan sumber daya alam terbesar di Meksiko
tersebut haruslah dibuat menjadi aman. Tetapi aman bagi siapa? Bagi pemerintah,
situasi aman tersebut hanyalah diperuntukkan bagi korporasi-korporasi
multinasional yang sedianya akan mendirikan tambang-tambangnya di hutan-hutan
tersebut, aman bagi para investor asing yang menanamkan modalnya di Meksiko,
bukan keamanan bagi rakyat Meksiko sendiri (lihat juga kasus Atjeh dan Papua
Barat, dimana pemerintah Indonesia menginginkan situasi di daerah tersebut
menjadi aman bagi korporasi multinasional yang ada, bukan bagi rakyat).
Pemerintah Meksiko sadar bahwa Zapatista adalah ancaman terbesar bagi
agenda-agenda mereka yang memapankan ketidak-adilan, penumpukan modal,
pengeksploitasian alam, serta penindasan bagi para buruh dan rakyat Indian Maya.
Pada langkah pertamanya, pemerintah setelah menandai daerah yang akan dibangun
pertambangan, mulai membuat jalur bagi rencana pembangunan jalan menerobos hutan,
dimana jalan tersebut rencananya akan melewati daerah dimana kelompok Zapatista
membangun komunitasnya. Tentu saja Zapatista menolak rencana tersebut dengan
mengajukan akibat-akibat yang akan timbul bila jalan tersebut direalisasikan.
Agenda pemerintah sangatlah simpel: membuka hutan hujan alami untuk kemudian
mengeksploitasinya secara besar-besaran dan disaat yang sama dapat memudahkan
bagi pengiriman pasukan paramiliter kedalam basis pergerakan Zapatista. Mungkin
agenda pemerintah sangatlah simpel, tetapi apa yang mereka hasilkan tidaklah
simpel: represifitas militer terhadap komunitas Indian Maya, degradasi moral
seperti alkohol, prostitusi, penindasan ekonomi, kekacauan dan kehancuran alam
yang menjadi penopang kehidupan di Meksiko yang juga berkaitan dengan masa depan
bumi. Dengan visi tersebut, komunitas Zapatista menolak agenda tersebut.
Zapatista tidaklah menolak kemapanan, tetapi kemapanan yang mereka harapkan
bukanlah kemapanan seperti yang dilakukan dalam dunia kapitalistik. Melainkan
kemapanan dimana tiap individu mempunyai hak hidup yang sama dengan lainnya
serta dapat hidup secara harmonis dengan lingkungan alam disekitarnya. Melawan
kemapanan dari sistem saat ini, Zapatista membangun sekolah-sekolah sendiri,
membangun struktur manajemen yang diatur sendiri oleh seluruh rakyat dalam
komunitas, membangun klinik-klinik pengobatan, lahan-lahan pertanian, dan
memapankan suatu sikap kebersamaan. Zapatista menolak sistem yang dimapankan
dengan kekuatan senjata, uang dan ancaman-ancaman serta alienasi.
Otomatis mereka menolak intervensi sistem ke dalam komunitas mereka. Mereka
tidak menginginkan pembangunan jalan melalui Amador Hernandez, sebuah kota yang
merupakan tempat pengenangan Emilio Zapata. Kota tersebut bertempat dalam
wilayah kotamadya Ocosingo, di lembah Amador di pinggiran daerah Montes Azules
yang merupakan daerah yang kaya akan biosphere-nya.
Pemerintah mengabaikan suara rakyat Indian Maya dengan tetap berkeras membangun
jalan utama menerobos selva (hutan) dan mengabaikan biosphere di Montes Azures.
Pembangunan jalan dimulai pada tanggal 12 Agustus 1999 lalu langsung dari titik
Amador Hernandez hingga San Quintin, dimana di daerah tersebut segera dibangun
lebih dulu sebuah komplek militer yang kuat. Para penduduk lokal baik dari kedua
kota tersebut sepakat untuk menolak pembangunan tersebut. Mereka percaya bahwa
pembangunan jalan tersebut hanya akan mempermudah intervensi militer kedalam
komunitas Zapatista di dalam selva. Dan sejak tanggal 14 Agustus, dua hari
setelah proyek dimulai, pemerintah telah mengirim 10.000 tentara ke kamp-kamp
yang baru dibentuk tersebut di Lacandon.
Penduduk di kedua daerah tersebut juga melihat bahwa bukan hanya Zapatista yang
terancam, tetapi juga selva yang merupakan tempat hidup mereka seperti yang
mulai terjadi di region Montes Azules, dimana pepohonan mulai ditebangi secara
besar-besaran oleh korporasi-korporasi multinasional yang hasilnya juga jelas
bukan untuk rakyat sendiri.
Tanggal 12 Agustus 1999 tersebut, ratusan penduduk melancarkan aksi protes.
Mereka berkumpul dan duduk di tempat, tepat di depan barisan tentara yang
bersenjata lengkap dan membawa gulungan kawat berduri. Aksi tersebut segera
didukung oleh organisasi-organisasi mahasiswa yang baru saja selesai
melaksanakan pertemuan nasional di La Realidad untuk membahas taktik kedepan
untuk FZLN. Tidak berapa lama kemudian, berbagai organisasi mahasiswa beserta
seluruh staff-staff pengajarnya, dan berbagai organisasi rakyat segera
memperkuat barisan penduduk yang tetap duduk tak bergeming di jalanan dihadapan
militer. Melihat keadaan yang semakin menyudutkan pihaknya, pemerintah segera
merespon aksi rakyat tersebut dengan tindak-tindak brutal untuk membubarkan
massa. Segera setelah massa tercerai berai, militer membuka dan memasang
gulungan kawat berduri untuk mencegah rakyat kembali lagi ke tempat tersebut
sejauh beberapa kilometer. Hal tersebut segera diikuti dengan pembangunan
mendadak landasan gabi helikopter militer yang menyuplai dengan segera peralatan
dan pasukan paramiliter lain yang dalam beberapa jam telah membangun kamp
militer baru.
Tetapi walau bagaimanapun, represifitas militer dan kuatnya solidaritas dari
rakyat telah membuat aksi tersebut dikabarkan ke segala penjuru, yang membuat
pemerintah segera mengeluarkan keputusan untuk menunda dulu pembangunan jalan
tersebut setidaknya untuk waktu dekat ini.
Pemerintah mungkin menunda pelaksanaan proyek, tetapi juga tidak mungkin
menghentikannya. Dapat dipastikan, bahwa entah dalam beberapa waktu lagi
--mungkin segera-- pemerintah akan mengiriimkan lebih kuat lagi paramiliternya,
tank-tank beserta seluruh amunisinya dan senjata penghancur lainnya kedalam
kampnya untuk kemudian menuju kedalam selva, kedalam jantung kehidupan komunitas
Indian Maya Zapatista.
Dan tentu saja, secara berimbang, Zapatista juga akan terus melawan hal
tersebut. Seperti yang dikatakan dengan tegas oleh Subcomandante Marcos pada
bulan Agustus lalu, "Kami ingin agar jalan yang dibangun akan menyalurkan
kemakmuran yang dalam hal ini adalah sumber daya alam Chiapaneco demi
kepentingan seluruh rakyat Meksiko, bukan untuk dijual demi mata uang asing.
Kami ingin agar jalan yang dibangun digunakan untuk kemerdekaan dan kedaulatan
rakyat Meksiko, bukan untuk memperkuat mereka yang telah memerintah kami seakan
kami adalah budak mereka dan membeli negeri ini seakan negeri ini adalah sebuah
barang yang murah... Dan selama jalan yang akan dibangun hanya meningkatkan
penindasan, penderitaan dan angka kematian bagi komunitas penduduk asli (Indian
Maya), Zapatista akan beroposisi menentang hal tersebut, kami akan melawan.
Walaupun kami akan menderita dalam perlawanan kami, walaupun mereka akan
menyerang kami, walaupun mereka akan memenjarakan kami, walaupun mereka akan
membunuh kami, walaupun mereka akan menyebarkan kebohongan mengenai diri kami,
kami tidak akan mengizinkan aksi dari pemerintah tersebut yang hanya akan
menyebabkan kematian, penderitaan, pengabaian dan ketakutan..." (diambil dari
sebuah artikel dalam jurnal Earth First! edisi November-Desember 1999 yang
berjudul: 'Military Fences In Chiapas Communities', oleh: Irlandesa).
Hingga kini masalah tersebut belum berakhir, tetapi pemerintah Meksiko akan
terus dihantui oleh bayang-bayang pemberontakan rakyat oleh Zapatista, selama
mereka terus berusaha melakukan penindasan terhadap rakyat.
Hal tersebutlah yang menjadi alasan, mengapa begitu banyak media-media
(terlebih) independen yang mengangkat tema perjuangan rakyat di bagian Chiapas,
Meksiko. Maka tidak heran apabila punk/hardcore yang pada kelahirannya telah
mengagungkan kata kebebasan, banyak yang turut serta memperhatikan soal ini.
Terlebih lagi bagi kita yang tinggal di Nusantara ini, dimana terdapat banyak
kesamaan-kesamaan dalam keputusan pemerintah yang sebenarnya hanya
menyengsarakan rakyat. Mulai dari pemerintahan yang militeristik, penanaman
modal asing yang berakibat pengeksploitasian alam demi mata uang asing,
pembuatan kebijakan-kebijakan yang hanya melegitimasi absolutisme militer,
merebaknya konflik-konflik sara yang disebabkan oleh pemerintah untuk memecah
belah rakyat, dan lain sebagainya.
Chiapas terus bergolak. Perlawanan rakyat juga terus berkobar. Dan
kejadian-kejadian tersebut menyisakan sedikit pertanyaan pada kita di Nusantara
ini, "Akankah kita biarkan perlawanan rakyat hanya terjadi di Chiapas-Meksiko
saja dan tidak di Indonesia?" Lawanlah. Punk/hardcore adalah sebuah budaya
perlawanan.
Catatan akhir:
1. Bagi yang menginginkan informasi lebih banyak mengenai pergerakan dan
perjuangan Zapatista, silahkan kontak saya. Ada cukup banyak artikel mengenai
hal tersebut, tetapi maaf, masih dalam bahasa Inggris.
2. Agitasi dan propaganda akan tetap diperlukan bagi pengorganisiran rakyat demi
kedaulatan rakyat sejati. Band saya, Kontaminasi Kapitalis, telah menerbitkan
sebuah fanzine bertitel 'Kontaminasi Propaganda' edisi yang perdana, berisi
artikel soal punk dan politik. Silahkan hubungi kami langsung atau ke
distro-distro biasa.
3. Diskusi, berbagi pendapat dan pola pikir dengan saya?
tank_boy
po box 6407 bdcd, Bandung 40000, Indonesia
terror.worldwide@solution4u.com