Air Mata Dan Kepalan Tangan 'X'
Sebenarnya saya kurang berniat untuk ngebuat kolom ini dan memang kolom ini
tidak ada pada perencanaan awal newsletter ini. Tapi banyak kritikan, masukan
dan pertanyaan-pertanyaan dari rekan-rekan tentang apa yang saya tulis dalam
newsletter ini. Seharusnya memang saya menjelaskan secara jelas mengenai alasan
saya mengapa kok menentang kapitalisme. Ada yang mengatakan bahwa saya terlalu
terinfluence oleh Ucok dan Pam, atau bahkan mengatakan saya adalah seorang
marxis, juga ada yang mengatakan saya sengaja ngebuat newsletter ini dengan tema
yang ekstrim untuk mendapatkan keuntungan, dan banyak komentar lainnya yang
ditujukan pada saya. Saya berharap dengan kolom ini, saya bisa menjelaskan
hal-hal tersebut, sehingga tidak ada salah pengertian diantara kita.
Pertama-tama saya ucapkan terima kasih buat pertanyaan-pertanyaan dan
tanggapan-tanggapan dari rekan-rekan yang ditujukan buat saya. Sebab dengan
demikian, komunikasi dan toleransi diantara kita dapat terjalin dengan baik.Saya
akan memulainya dari alasan perlawanan saya terhadap kapitalisme. Sistem
kapitalisme ini secara global memang menguasai sebagian besar negara yang ada di
dunia, dan pemerintahan kita bisa dikatakan sebagai kapitalis pinggiran alias
kepanjangan tangan kapitalis pusat, yang didominasi oleh negara-negara industri
besar. Hal ini dapat dibuktikan melalui kebijakan yang disusun oleh pemerintah
Indonesia yang selalu mengikuti aturan dari badan kapitalis internasional untuk
asia yaitu IMF. Contohnya adalah kebijakan pencabutan subsidi BBM, Listrik,
kesehatan dan pendidikan yang sebenarnya dorongan dari IMF. Dalam sistem
kapitalisme diutamakan mekanisme pasar, yaitu mekanisme tawar-menawar atau
jual-beli. Sebenarnya sistem ini cukup baik, dimana masyarakat dibiarkan untuk
bersaing secara bebas di pasar dengan maksud menetukan sendiri cara mereka
berekonomi sehingga kita didorong untuk kreatif dan mandiri. Namun, kalau kita
telaah secara kritis keadaan yang ada di lapangan, persaingan yang ada
sebenarnya hanya menghasilkan kemiskinan. Siapa yang kuat modalnya, dialah yang
menang di pasar dan dapat tetap bertahan hidup. Kalau saya boleh indentikan,
sebenarnya hal ini mirip dengan kanibalisme, sebab perilaku manusia yang seperti
itu menunjukkan indikasi kemunduran dari peradaban manusia beserta evolusi
pemikirannya. Padahal katanya evolusi pemikiran manusia akan mengarahkan manusia
pada kebijaksanaan dan keadilan. Kita lihat hasil dari persaingan ini, banyak
orang mati kelaparan, banyak gelandangan dan kaum miskin lainnnya yang tersisih
akibat modal mereka yang lemah, walaupun mereka sebenarnya sudah berusaha. Kalau
kita tinjau dari sudut manusiawinya, apakah kita yang selama ini menikmati
fasilitas yang enak, seperti tidur di atas kasur empuk, makan tiga kali sehari
dll, pernah memikirkan mereka yang hidup di kolong jembatan, makan dari tong
sampah, atau memikirkan mereka yang tersisih akibat persaingan bebas atau
sebagai korban kapitalisme? Pernah nggak?!!! Ha!!! Jawaaab?!!! Padahal mereka
sama dengan kita, yang butuh makan alias punya perut yang sama dengan kita,
butuh pendidikan buat menunjang kehidupan mereka, butuh fasilitas kesehatan yang
memadai? Pernahkah kita memikirkan sampai ke arah situ, atau kita cuman bermusik
sampai telinga kita torek, lalu membiarkan mereka yang kalah dalam hidup ini
tetap seperti itu? Kita manusiawi atau tidak kalau seegois itu? Bagaimana kalau
posisi kita seperti mereka? Apakah dengan diberi santunan saja cukup? Apakah itu
langsung menyelesaikan permasalahan? Apalagi kita yang mengklaim bahwa diri kita
beragama dan percaya Tuhan, pernahkan sebuah agama mengatakan jadilah kaya dan
biarlah manusia yang lain tertindas, biarkan aja!!!!! Saya rasa nggak satu pun
agama yang pernah menganjurkan hal tersebut. Semua agama mengajarkan bagaimana
menciptakan kesejahteraan buat semua manusia sehingga kita bisa hidup dengan
damai. Nggak pernah ada agama yang mengajarkan jadilah egois, bukan? Yahhhh….
sekarang realistilslah dengan kenyataan, bahwa mereka yang hidup di bawah kolong
jembatan itu banyak, mereka yang harus menjual aurat untuk mendapatkan makan
jumlahnya banyak, mereka yang harus mengorek-ngorek tong sampah untuk
mendapatkan makanan itu banyak, dan itu semua manusia, bukan binatang. Kalau
kita masih mau dibilang manusiawi, berusahalah buat mereka, dan satu-satunya
cara adalah berjuang melawan kapitalisme, sebab itulah inti permasalahnnya.
Konsep DIY, adalah salah satu bentuk perlawanan terhadap kapitalisme, sebab DIY
bukan cari untung, tapi dedikasi terhadap scene. Setidaknya kita meminimalisir
kapitalisme, dengan cara DIY tersebut. Kapitalisme ini identik dengan uang
sebagai ukuran untuk modal, bukankah orang mencuri dan merampok buat mendapatkan
uang? Bukankah menjual aurat untuk mendapatkan uang? Bukankah menipu, menindas
semuanya motivasinya untuk mendapatkan uang?? Bukankah mengintimidasi manusia
dengan drugs dengan tujuan dapat uang? Bukankah ngejual rokok, dan minuman keras
untuk mendapatkan uang?? Uang adalah sumber permasalahan, dengan uang kita
menjadi rakus dan teralienasi dengan manusia yang lain, sebagai contohnya
mungkin kita masih ingat dengan kasus calo yang saling bunuh, gara-gara duit Rp
100. Anjiz@#!$%, ternyata sistem kapitalismelah yang menyebabkan 'lose
generation'!!!!
Padahal yang terutama bagi manusia adalah makan yang cukup, mendapatkan
fasilitas kesehatan, bisa mendapatkan pendidikan, tinggal di rumah yang layak,
bukannya menjadi rakus dan serakah dengan mobil mewah, rumah besar dan fasilitas
lain yang serba wah!!! Coba kita lihat mereka yang hidup menderita, seperti
tidak makan, sulit mencari kerja, keadaan kesehatan yang bertambah buruk
ditambah dengan harga obat yang mahal akibat subsidi kesehatan dicabut, buruh
kontrak, petani kecil, anak-anak putus sekolah akibat subsidi pendidikan dicabut,
dlll jumlahnya sangat banyak bahkan lebih banyak dari mereka yang hidup
berkecukupan. Hal ini bisa menjadi perenungan kita bersama.
Selanjutanya, saya akui memang Ucok dan Pam adalah rekan baik saya, mereka
banyak menolong dan memberi pengertian kepada saya. Namun, saya tetap bebas
untuk menentukan langkah hidup dan pilihan saya. Saya bisa aja memusuhi atau
melakukan hal-hal yang buruk terhadap mereka. Namun, setelah saya banyak belajar
dari kenyataan, memang yang mereka omongkan kepada saya banyak berguna buat saya,
dan saya pikir hal tersebut sangat rasional dan sesuai dengan kenyataan. Bukan
maksud saya membela mereka, tapi kalau kamu mau mengerti apa yang mereka
omongkan melalui newsletter atau fanzine mereka, banyaklah melihat kenyataan dan
bandingkan dengan omongan saya, Pam atau Ucok dan telaah hal tersebut dengan
saksama.
Penulisan newsletter ini sangatlah jauh dari nuansa mencari profit, kalau saya
mau cari untung kenapa nggak muat berita tentang perceraian Dessy Ratnasari,
atau foto bugilnya Britney Spears, biar sekalian edan!!!! Newsletter ini
hanyalah sedikit dedikasi saya buat menyebarkan informasi kepada rekan-rekan,
memberi kontribusi buat scene HC/Punk di sini dan menjelaskan bahwa ada manusia
yang hidup tidak lebih beruntung dari kita. Hanya itu saja!!!
Apakah saya seorang marxis? Jawabnya ada di dalam diri saya dan saya bisa seenak
perut saya untuk menjawab pertanyaan itu.. Sekarang untuk menjawab pertanyaan
ini, saya malah ingin balik bertanya sejauh mana pemahaman kita mengenai
marxisme? Apakah kita hanya mengetahuinya atau bahkan mengindentikan marxisme
dengan atheisme? Atau mengatakan bahwa Marxisme itu Rusia atau RRC? Saya pikir
itu sangatlah naif!!! Kalau pemahaman kita masih sedangkal itu, kita masih harus
banyak belajar, dan jangan menjadi bebal kalau disuruh baca atau belajar!!! Pada
edisi yang kedua, saya anjurkan untuk membaca buku Frans Magnis Suseno dengan
judul 'Pemikiran Karl Marx', kita bisa baca dan pahami dengan baik mengenai
marxisme itu sebenarnya. Tapi perlu ditegaskan bahwa saya bukan seorang atheis,
secara penuh saya percaya kepada Tuhan yang telah membebaskan saya dari dosa dan
menyelamatkan diri saya. Saya rasa menjadi seorang atheis adalah pilihan yang
independen bagi seseorang, alias itu adalah urusan orang itu dengan kepalanya (urusan
si eta jeung sirahna!!!). Dan hal tersebut juga adalah hak dia dan perlu
dihormati, yang penting apa yang dilakukan tidak merugikan orang banyak. Kalau
kita mengklaim diri kita beragama tapi saling membunuh seperti yang terjadi di
Ambon, atau bahkan berniat untuk menambah parah keadaan di sana, apakah itu
lebih baik daripada seorang atheis yang memikirkan bagaimana supaya konflik di
Ambon bisa diselesaikan, sehingga korban jiwa tidak bertambah?!!! Bukankah agama
diturunkan Tuhan untuk membawa kedamaian buat umat manusia?!!! Yahhhhhh….itu
juga bisa menjadi salah satu perenungan lain buat kita.
Menjadi seorang sXe bukanlah menjadi seorang yang egois, kita harus berusaha
menjadi seorang yang penuh dedikasi dan mampu berpikir positif buat masyarakat.
Sebab kondisi sosial kita, menunjukkan siapa atau bagaimana keadaan kita secara
individu. Hal-hal yang berada di sekitar kita yang akan mengakibatkan kita
berubah, dan perubahan itu terjadi melalui proses belajar. Dengan kita belajar
dari lingkungan sosial, maka akan terbentuk sikap dan pola pikir. Sikap dan pola
pikir inilah yang akan melandasi setiap tindakan yang kita lakukan. Baik anda
seorang environmentalism, feminist, pelindung hewan, pembela HAM atau orang yang
suka bergaul, berdandan dan 'ngador', landasan anda bertindak seperti itu
bermula dari bagaimana kondisi sosial anda. Dan hal tersebut tidak bisa
dipungkiri, bagaimana pun caranya kita berkilah.
Semoga apa yang saya tuliskan ini tidak memuaskan, supaya kita semakin kritis
dengan permasalahan yang ada, dan sorry kalau ada kata-kata yang agak ngelantur.
Harapan saya, perenungan-perenungan yang saya lontarkan bisa dipertimbangkan dan
disikapi. Saya pikir itu saja dulu penjelasan saya, kalau masih ada yang ingin
bertanya atau bertukar pikiran, bisa mengirimkan surat beserta perangko balasan
kepada redaksi. (Air mata dan kepalan tangan'X' ).
KNOWN YOUR ENEMY
The "X"