Kuliah Terbuka.
Transformasi Agama dan Budaya ditengah-tengah Kekekarasan Sosial.
1 Maret 2001 di IAIN Alauddin Makassar.
Moderator : Ati Hildebrandt Rambe, M.A.


Transformasi Agama dan Budaya ditengah-tengah Kekerasan Sosial.

(Suatu Pendekatan Budaya)
Oleh: Prof. Dr. Darmawan Mas’ud

 

Konflik dan kekerasan tidak pernah berpisah dalam sejarah kehidupan manusia dimulai sejak zaman Nabi Adam dimana terjadi konflik antara Qabil dan Habil. Dalam konteks kekinian, terjadinya konflik disebabkan oleh hilanya hati dalam nurani dan nurani didalam hati.
 

Bagaimana orang Indonesia dalam berbudaya? Sosok orang Indonesia dalam berbudaya bersemi didalamnya 4 sistem budaya yakni;

a. Sistem budaya lokal (etnis). Berbicara tentang etnis maka didalamnya ada suatu kesatuan dan keanekaragaman.
b. Sistem budaya dari agama Hindu.
c. Sistem budaya dari agama Islam.
d. Sistem budaya dari agama Kristen.
Tetapi inti dari segala system budaya tersebut adalah hasil dari sebuah kreatifitas, karena budaya adalah hasil dari sebuah kreatifitas yang tinggi yang dilahirkan dengan perenungan dan pikiran yang logis dan mendalam. Tetapi pada akhirnya juga kreatifitas inilah yang bisas membikin orang menjadi munafik budaya (bukab munafik agama), yang pada akhirnya ini sering diterjemahkan orang Indonesia sehingga terjadi konflik budaya.

 

Bagaimana sosok budaya orang Sulawesi Selatan ? Nilai inti dari budaya di Sulawesi Selatan adalah nilai tradisi besar Islam, tetapi disamping itu ada juga satu nilai tradisi yang dipegang orang Sul-Sel. Hal tersebut adalah nilai tradisi pesisir atau nilai budaya laut dimana nilai budaya ini yang sangat akrab dengan benturan (open society). Makanya orang Sul-Sel umumnya berpribadi keras dan tegas.
 

Perjalanan budaya Indonesia dalam kondisi sekarang ada dua kubu yang bertarung yakni;

- Global culture (globalisasi) dimana suatu keadaan yang sangat sulit untuk ditangkap dan dia sudah bersifat tumpang tindih, terpragmentasi dan perubahannya sangat cepat sekali.
- Local Culture (lokalisasi) dimana budaya lokal tersebut berusaha untuk bangkit kembali dan menangkal globalisasi sehingga berusaha kembali untuk membentuk benteng-benteng untuk bertahan yang pada akhirnya muncul ketidaksamaan pendapat dan muncullah hal-hal yang radikal seperti saat ini. Pada akhirnya muncullah sifat-sifat etnis yang berlebihan yang dibarengi dengan munculnya sifat-sifat agama yang berlebihan (fanatisme). Hal itu diperparah lagi oleh para penganjur agama yang tidak mengangkat agama menjadi raghmatan lil alamin tetapi justeru mengangkat bagaimana agama itu bisa bertahan, bagaimana agama itu bisamempengaruhi orang lain termasuk bagaimana agama itu bisa dijadikan alat untuk memperoleh kepentingan-kepentingan tertentu.
Ada tiga inti dari nilai budaya Bugis yakni ‘tongeng’ (kebenaran), ‘lempu’ (kejujuran) dan ‘getteng’ (ketetapan hati). Ketiga nilai ini sangat relevan dengan kondisi sekarang. Cuma persoalannya kemudian ketiga nilai ini sering diselewengkan. Contoh misalnya ketika berbucara tentang budaya siri’, hal ini sering dislahartikanuntuk kepentingan-kepantingan politis, kepentingan-kepentingan agamanya dan kepentingan golongannya.

Dalam kondisi sekarang, ada kecenderungan bagi orang-orang untuk mengecilkan dan menyempitkan agama. Misalnya ada anggapan bahwa agamanyalah yang benar yang lain salah, kelompoknyalah yang benar yang lain salah, padahal apabila kita mencoba mendalami ajaran agama sedalam-dalamnya maka kita berada pada satu puncak yang sangat baik dalam keutuhan kita bersama. Olehnya itu kepicikan berpikir itulah yang seharusnya diangkat dan diperbaiki oleh budaya.
 

Budaya Indonesia banyak mengambil anasir-anasir budaya dari luar untuk mempertinggi harkat dan martabat budayanya seperti mengambil anasir budaya dari agama Islam, Kristen, Hindu Budha dan sebagainya.
 

System budaya yang dianut sekarang adalah system budaya yang terpecah-pecah karena hanya mengangkat perbedaan-perbedaan bukan persamaan-persamaan. Maka solusinya adalah yang perlu diangkat dan dikedepankan adalah persamaan-persamaan dalam budaya dan agama itu sendiri agar kehidupan bermasyarakat tercipta toleransi dan kebersaman yang tinggi.