Transformasi Agama dan Budaya ditengah-tengah Kekerasan Sosial.
Konflik dan kekerasan tidak
pernah berpisah dalam sejarah kehidupan manusia dimulai sejak zaman Nabi
Adam dimana terjadi konflik antara Qabil dan Habil. Dalam konteks kekinian,
terjadinya konflik disebabkan oleh hilanya hati dalam nurani dan nurani
didalam hati.
Bagaimana orang Indonesia dalam berbudaya? Sosok orang Indonesia dalam berbudaya bersemi didalamnya 4 sistem budaya yakni;
a. Sistem budaya lokal (etnis). Berbicara tentang etnis maka didalamnya ada suatu kesatuan dan keanekaragaman.b. Sistem budaya dari agama Hindu.c. Sistem budaya dari agama Islam.d. Sistem budaya dari agama Kristen.
Bagaimana sosok budaya
orang Sulawesi Selatan ? Nilai inti dari budaya di Sulawesi Selatan adalah
nilai tradisi besar Islam, tetapi disamping itu ada juga satu nilai tradisi
yang dipegang orang Sul-Sel. Hal tersebut adalah nilai tradisi pesisir
atau nilai budaya laut dimana nilai budaya ini yang sangat akrab dengan
benturan (open society). Makanya orang Sul-Sel umumnya berpribadi keras
dan tegas.
Perjalanan budaya Indonesia dalam kondisi sekarang ada dua kubu yang bertarung yakni;
- Global culture (globalisasi) dimana suatu keadaan yang sangat sulit untuk ditangkap dan dia sudah bersifat tumpang tindih, terpragmentasi dan perubahannya sangat cepat sekali.- Local Culture (lokalisasi) dimana budaya lokal tersebut berusaha untuk bangkit kembali dan menangkal globalisasi sehingga berusaha kembali untuk membentuk benteng-benteng untuk bertahan yang pada akhirnya muncul ketidaksamaan pendapat dan muncullah hal-hal yang radikal seperti saat ini. Pada akhirnya muncullah sifat-sifat etnis yang berlebihan yang dibarengi dengan munculnya sifat-sifat agama yang berlebihan (fanatisme). Hal itu diperparah lagi oleh para penganjur agama yang tidak mengangkat agama menjadi raghmatan lil alamin tetapi justeru mengangkat bagaimana agama itu bisa bertahan, bagaimana agama itu bisamempengaruhi orang lain termasuk bagaimana agama itu bisa dijadikan alat untuk memperoleh kepentingan-kepentingan tertentu.
Dalam kondisi sekarang,
ada kecenderungan bagi orang-orang untuk mengecilkan dan menyempitkan agama.
Misalnya ada anggapan bahwa agamanyalah yang benar yang lain salah, kelompoknyalah
yang benar yang lain salah, padahal apabila kita mencoba mendalami ajaran
agama sedalam-dalamnya maka kita berada pada satu puncak yang sangat baik
dalam keutuhan kita bersama. Olehnya itu kepicikan berpikir itulah yang
seharusnya diangkat dan diperbaiki oleh budaya.
Budaya Indonesia banyak
mengambil anasir-anasir budaya dari luar untuk mempertinggi harkat dan
martabat budayanya seperti mengambil anasir budaya dari agama Islam, Kristen,
Hindu Budha dan sebagainya.
System budaya yang dianut sekarang adalah system budaya yang terpecah-pecah karena hanya mengangkat perbedaan-perbedaan bukan persamaan-persamaan. Maka solusinya adalah yang perlu diangkat dan dikedepankan adalah persamaan-persamaan dalam budaya dan agama itu sendiri agar kehidupan bermasyarakat tercipta toleransi dan kebersaman yang tinggi.