Transformasi Agama dan Budaya ditengah-tengah Kekerasan Sosial.
Ada beberapa asumsi pokok yang perlu dilihat dalam mencermati kondisi seperti saat ini.
1.Aspek Ketergantungan dimana dalam hidup bermasyarakat, tidak ada kelompok/komunitas yang bisa sendirian apalagi dalam era globalisasi seperti yang kita alami saat ini.
2.Aspek interaksi adalah hal yang mutlak dalam suatu system sosial. Pada hakekatnya, interaksi ini bersifat timbal balik selain itu dia juga merupakan siklus bukan linier. Interaksi harus mengedepankan mutu dan kwalitas baik yang bersifat vertikal lebih-lebih yang bersifat horozontal. Misalnya dalam Forlog bukan ditakar pada apa yang diperbuat tetapi takarannya adalah apakah ada efek yang ditimbulkannya. Jadi semakin baik efeknya bererti semakin baik interaksinya.
3.Prinsip Konservasi (bukan konserfatisme) dan Konflik. Konserfatisme adalah upaya untuk mempertahankan stabilitas dan kemapanan. Sedangkan konsevasi adalah upaya untuk menjaga integritas suatu kelompok sementara dalam prakteknya banyak orang yang justeru terperangkap pada konserfatisme.
4.Sistem disatu sisi akan menjaga dan melindungi integritasnya dengan cara-cara yang mungkin dapat bersinggungan dengan upaya perlindungan system lain, disinilah peluang terjadinya konflik. Jadi pencapaian sinergi yang konstruktif pada suatu system bisa saja merupakan suatu kematian pada system lain. Itulah sebabnya diperlukan adanya pengertian mutuality dan bukan asal saya hidup tidak peduli kelompok lain, bukan asal kelompok kita yang unggul tidak peduli kelompok lain. Alamiahnya, kalau kita hanya berpikir tentang kelompok kita, upaya kita untuk membesarkan kelompok kita akan mematikan kelompok lain. Disinilah diperlukan mawas diriapakah kita akan memperhatikan kelompok kita disis lain akan menjadi bumerang buat kelompok lain. Dengan kata lain konfli hendaknya dilihat bukan hanya sebagai hal negatif tetapi juga merupakan hal yang abash melekat dalam kehidupan bersistem.
5.Dalam kondisi kenegaraan kita, yang dibutuhkan sebenarnya adalah transformasi bukan reformasi. Jadi loncatannya harus transformasi yang disertai dengan kesetaraan. Tanpa kesetaraan maka kita akan sulit hidup bersama-sama. Kesetaraan yang dimaksudkan disini adalah bukan sama rata, tetapi duduk sama tinggi untuk melakukan dialog antar perbedaan-perbedaan tersebut. Dalam pengertian system perlu ada kesetaraan dalam interaksi walaupun tetap ada hirarki tetapi hirarki itu tetap dalam bentuk posisi dan peran bukan dalam bentuk derajat dihadapan Tuhan.
Bagaimana sebetulnya suatu kelompok sehingga bisa terjadi disharmonisasi/dis integrasi ? Ada beberapa kemungkinan;
qApabila tujuan dari satu atau beberapa komponen (sub system) bertentangan dengan tujuan system secara keseluruhan. Misalnya suatu daerah yang ingin memisahkan diri dari NKRI, itu berarti karena dia melihat tujuannya tidak bisa dicapai oleh tujuan nasional NKRI.
qSejumlah elemen organisasi seperti komunikasi, umpan balik dsb tidak jalan. Kalau kita melihat keadaan pemerintahan negara, tiap orang sudah bicara sesuai dengan apa maunya sendiri tidak lagi pada posisinya. Eksekutif, legislative semua berjalan sesuai kehendaknya sendiri.
qEnergi dari internal system tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan minimum dari system. Terjadinya konfli, malapetaka adalah gambaran dari kemungkinan ini.
qTekanan supra system secara nasional ataupun global terlalu berat sehingga dengan sendirinya menimbulkan disharmonisasi organisasi.
qEnergi tidak diperoleh dari supra system (tidak ada suffort secara nasional). Apabila kita tahu demikian maka yang perlu dilakukan adalah bagaimana mengembalikan system kedalam keadaan yang normal tetapi bukan dengan equilibrium (keseimbangan yang baku) tetapi lewat transformasi berbagai pihak.
Dimana sebenarnya posisi agama, tranformasinya lewat apa dan apa yang harus dilakukan ?
Model transformasi Indonesia menekankan pada fondasi ekonomi dari model produksi yang akan menghasilkan tiga sub system ;
a.Kelompok dominan yakni pemilik tanah, pemilik industri (konglomerat). Kelompok ini jumlahnya sedikit tetapi memiliki pengaruh dan dominasi yang besar.
b.Kelompok yang menghasilkan produksi yakni petani, buruh dsb. Kelompok ini besar jumlahnya tapi sering menjadi obyek penderita.
c.Kelompok auxiliary (pembantu) yang menjembatani kedua kelompok tersebut seperti kelompok professional, pegawai negeri, birokrasi dsb.
Biasanya kelompok dominan yang
menciptakan warna kepada negara (state), kepada pemerintahan, dan kepada
penegak hukum. Dialah yang m,engontrol keberlangsungan negara seperti saat
ini.
Dalam negara, ada dua sub system besar yakni sub system struktur politik dan sub system struktur ideology. Sub system struktur politik mencakup eksekutif, legislative dan yudikatif. Sedangkan sub system ideology mencakup sekolah, mediamassa, parpol, lembaga budaya dan lembaga agama.
Seharusnya, ideology mesti mewarnai struktur politik dan menjaga nilai-nilai. Dalam hal ini agama sebagai sebuah ideology tiodak perlu berkiprah dalam dunia poliytik tetapi agama memberikan persuasi dan menjaga nilai-nilai. Struktur ideology perlu memberi masukan kepada struktur politik dan memberi masukan kepada setiap unsur tetapi tidak bisa dengan force tetapi melakukannya lewat sosialisasi dengan pendekatan persuasive.
Struktur politik kalau menganggap kondisinya aman dia juga akan melakukannya dengan persuasi, tetapi kalau dianggap kondisinya mengganggu status quo dia akan mempergunakan force. Cuma persoalannya adalah ideology (agama misalnya) lebih banyak terpengaruh oleh system politik. Kalau agama ingin melakukan transformasi dia harus memberi corak kepada semua pihak supaya mereka yang akan membuat suatu struktur alternatif.
Bagaimana keadaan agen ideology (guru, tokoh agama, sekolah dsb) ?
Kondisi agen ideology terpuruk seiring dengan terpuruknya kondisi ekonomi. Bahkan PT sekalipun dimana padanya harus terjadi obyektifitas dan sistematical logic tidak terbebas dari dominasi nilai- nilai factor struktur politik. Misalnya saja kalau dulu Rektor adalah presdien Universitas yang memiliki otoritas penuh dikampusnya justeru sekaran merupakan perpanjangan tangan menteri Pendidikan. Dalam kondisi seperti ini apakah PT mampu memberikan nilai-nilai transformatif ? Begitupun halnya dengan lembaga-lembaga agama seyogyanya tidak terperangkap oleh nilai-nilai dominan fower.
Ada beberapa hal yang perlu dipikirkan bersama-sama sebagai tawaran issu :
1.Dalam berkiprah agama butuh kelembagaan tapi celakanya setiap ada kelembagaan yang mulai mapan cenderung dia mendukung status quo. Biasanya kelembagaan butuh material (kapital) dan dia terperangkap dalam kapital dari yang berkuasa sehingga dia mendukung status quo yang terjadi. Untuk itu lembaga agama harus mawas diri dan jangan membiarkan dirinya terbelit dan terperangkap oleh ikatan nilai-nilai dominan dari status quo yang bertentangan dengan keyakinan kebenaran.
2.Ada yang hilang dari masyarakat kita yakni respek diri. Kita hanya respek kepada orang lain sebanyak kita respek pada diri kita. Orang yang tidak respek pada dirinya tidak mungkin bisa respek kepada orang lain. Masyarakat saat ini butuh respek saling menghargai.
3.Terperangkap pada krisis ekonomi, agama perlu menawarkan konsep ilmiah soal optimisme. Mengapa terjadi konflik karena banyak orang yang pesimis. Contohnya pembicaraan para tokoh umumnya bernada pesimis seakan-akan mau ambruk ini Indonesia.
4.Indonesia luas dimana irama hidup dan penghayatan tempo dan interval waktu tidaklah sama. Ada yang begitu modern jauh kedepan dan ada yang masih lambat (tradisional) olehnya itu agam bisa berbuat bijak tidak menyamaratakannya.
5.Publik time. Misalnya yang terjadi dinegara kita, kita tidak sabar. Maunya dalam sekejap semua keinginan harus terkabulkan. Dalam hal ini agama perlu memberi nuansa dan makna pada penghayatan waktu.
6.Semua agama berdasar pada inklusifitas tidak ekslusif. Agama perlu mentransformasikan kembali ajaran-ajarannya agar ia menjadi inklusif, karena pada hakekatnya Tuhan mencintai seluruh umat manusia dan tidak ada sekat-sekat.