Kuliah Terbuka.
Transformasi Agama dan Budaya ditengah-tengah Kekekarasan Sosial.
1 Maret 2001 di IAIN Alauddin Makassar.
Moderator : Ati Hildebrandt Rambe, M.A.


Transformasi Agama dan Budaya ditengah-tengah Kekerasan Sosial.

(Suatu Pendekatan Agama-agama).
Oleh: Prof. Dr. Olaf Schumman

Hal yang perlu kita perhatikan dan renungkan kembali adalah apa itu tradisi dan agama. Agama punya dimensi tertentu yang bersifat sosial tetapi ada suatu dimensi lain yang secara khusus ditugaskan untuk direnungkan oleh kaum teolog yakni dimensi yang menghubungkan anatara manusia dengan Tuhan. Dimensi ini biasanya oleh para ahli sosiologi sering sering tidak diperdulikan.
 

Berbicara tentang peranan agama ditengah-tengah masyarakat yang perlu kita lakukan adalah bahwa apa yang kita percayai iniperlu kita transformasikan dalam hal ini perlu kita terjemahkan dalam kehidupan sehari-hari, karena kalau kita tida sanggup menterjemahkannyamaka apa yang kita percayai dalam hati kita tidak ada maknanya karena Tuhan memang mengutus kita ketengah-tengah dunia bukan untuk mendirikan syurga disini tapi supaya kita bisa mengatur segala hal disekitar kita agar bisa bermanfaat bagi semua umat manusia.
 

Tetapi persoalannya kemudian banyak hal yang kita jumpai sering membuat kita pusing seperti beberapa kekerasan yang terjadi akhir-akhir ini. Konflik yang terjadi di Sampit memang murni konflik etnik bukan agama. Tetapi terkadan juga memang ada pihak-pihak tertentu yang ingin mengaitkannya dengan agama dan bagi pandangan seperti ini kewjiban kita memberikan penjelasan yang sejelas-jelasnya. Dan yang kedua juga ada orang-orang tertentu yang sengaja mencari keuntungan dengan terjadinya kekerasan ini. Makanya perlu kemampuan bagi kita untuk membedakan mana yang berlatar belakang agama dan mana yang berlatar belakang suku/etnis.
 

Hal lain yang sangat memprihatinkan kahir-akhir ini memang dilatar belakangi oleh beberapa sumber itu (agama) bilamana ada dari pihak tertentu yang mengaitkannya dengan agamakarena para penganut agama sering kelupaan sikaf rasionalnya dalam mencermati hal tersebut. Dan ironisnya mereka malah sering mencari pengikut untuk memanas-manasi konflik itu. Dan apabila suatu konflik sudah dikaitkan dengan agama pasti akan tambah parah. Makanya sebagai umat beragama kita perlu bersikaf rasional apa sebenarnya inti dari setiap konflik yang terjadi.
 

Kenapa agama sering dikaitkan dengan konflik ? Ada beberapa alasan yang berkaitan dengan hal tersebut;
 

Dari ajaran agama itu sendiri. Setiap agama yang universal (Islam, Kristen, Hindu, Budha dsb) memang memahami diri sebagai agama yang benar, karena ada sesuatu amanat dari Ilahi, amanat spiritual bukan hanya dianut dan dilaksanakan sendiri tetapi juga menyiarkannya kepada orang lain. Inilah salah satu ciri khas dari agama itu. Dalam agama juga ada suatu nilai khusus yang bersumber dari Tuhan yakni disamping kita menganut ajaran itu kita juga dituntut untuk menyampaikan/ menyiarkan kebenaran itu. Inilah tugas keagamaan kita yang padanya tidak bisa ditawar-tawar.
 

Yang menjadi persoalan kemudian ketika masing-masing penganut agama itu hidup dalam keaneka ragaman (pluralisme) agama. Maka disinilah muncul peluang terjadinya konflik. Misalnya seorang penganut agama merasa bahwa agamanyalah yang benar dan menutup diri dari kebenaran pemeluk agama lain.
 

Memang kita dituntut untuk meyakini dan memelihara agama kita dengan baik tapi bagaimana dalam berinteraksi dengan penganut agama lain ? 
 

Hal ini memang sementara kita rintis untuk belajar hidup bersama dalam kondisi keanekaragaman. Makanya hal yang harus dilakukan adalah mari kita belajar memelihara keyakinan kita sekaligus menerima dan mengakui bahwa orang lain punya keyakinan yang sama, inilah yang dimaksud dengan toleransi. 
 

Dalam toleransi semua orang punya hak untuk percaya apa yang dia yakini sesuai dengan hati nuraninya dan dia bisa menerimanya bahwa itu adalah sesuatu yang benar, tetapi disamping itu ada sesuatu hal yang perlu ditambah bahwa semua orang punya hak untuk percaya sesuai dengan keimanannya maka tidak ada orang yang berhak untuk memaksa orang lain supaya dia percaya atas apa yang dipercayainya.
 

Ada tugas yang maha besar yang perlu kita laksanakan yakni mengembalikan kemanusiaan manusia sebagai manusia yang bermartabat, jangan kita memandang rendah manusia. Tugas ini adalah ujian buat kita yang padanya kita belum lulus. Contoh kongkrit bahwa apa yang terjadi di Sampit, Ambon dan Poso adalah kegagalan kita untuk memanusiakan manusia sementara dalam ajaran agama manapun tak ada yang membolehkan kita untuk mencabut martabat kemanusiaan seseoranmg. Dan kalau itu dilakukan maka itu diluar daripada ajaran dan pemahaman agama.
 

Tetapi satu catatan juga bahwa sering memang agama tidak bebas. Dalam pengertian bahwa agama sering dimanfaatkan oleh penguasa. Agama tidak dikelola dan dikembangkan oleh umatnyatetapi ada kepentingan-kepentinagn yang tidak bersifat keagamaan bercampur dengan urusan agama dan sering memanipulasi agama untuk kepentingan para penguasa. Ini adalah sesuatu hal yang dalam sejarah memang sering terjadi.
 

Salah satu pemahaman yang menyesatkan berkaitan dengan hal diatas adalah adanya pemahaman yang mengatakan bahwa kekuasaan sipenguasa itu diberikan legitimasi oleh agama atau oleh Tuhan. Dan sekiranya legitimasi dari Tuhan itu tidak ada maka sang penguasa tidak punya hak untuk berkuasa. Dengan demikian agama menjadi alat legitimasi untuk kekuasaan dalam negara.Hal ini terjadi di Indonesia pada jaman orde baru dimana Supersemar menjadi legitimasi kekuasaan bukan konstitusi negara.
 

Berdasarkan hal diatas maka agama perlu menarik diri dari kepentingan-kepentingan politik dan dan ditransformasikan sesuai dengan kepentingan-kepentingan agama itu sendiri bukankepentingan pihak-pihak tertentu yang tidak bertanggung jawab.
 

Dalam sejarah, pernah Nabi Muhammad mengajak orang Kristen sembahyang di mesjidnya. Ini berarti bahwa memang diakui ada perbedaan pemahaman kita tentang Tuhan. Tetapi padanya terdapat saling pengakuan bahwa dalam Iman masing-masing itu jujur. Oleh karena itu biarpun ada pemahaman tentang Allah berbeda tetapi Allah yang disembah itu adalah Allah yang sama. Pada akhirnya inilah yang akan menentukan bukan cara-cara atau pemahaman yang berbeda.
 

Ini adalah satu pelajaran buat kita semua bagaimana seharusnya kita bersikaf terhadap orang-orang yang lain agama. Makanya kita harus belajar hidup mengakui perbedaan-perbedaan itu dan juga tetap saling m,enghormati dan saling menghargai.