Transformasi Agama dan Budaya ditengah-tengah Kekerasan Sosial.
Hal yang perlu kita perhatikan
dan renungkan kembali adalah apa itu tradisi dan agama. Agama punya dimensi
tertentu yang bersifat sosial tetapi ada suatu dimensi lain yang secara
khusus ditugaskan untuk direnungkan oleh kaum teolog yakni dimensi yang
menghubungkan anatara manusia dengan Tuhan. Dimensi ini biasanya oleh para
ahli sosiologi sering sering tidak diperdulikan.
Berbicara tentang peranan agama
ditengah-tengah masyarakat yang perlu kita lakukan adalah bahwa apa yang
kita percayai iniperlu kita transformasikan
dalam hal ini perlu kita terjemahkan dalam kehidupan sehari-hari, karena
kalau kita tida sanggup menterjemahkannyamaka
apa yang kita percayai dalam hati kita tidak ada maknanya karena Tuhan
memang mengutus kita ketengah-tengah dunia bukan untuk mendirikan syurga
disini tapi supaya kita bisa mengatur segala hal disekitar kita agar bisa
bermanfaat bagi semua umat manusia.
Tetapi persoalannya kemudian banyak
hal yang kita jumpai sering membuat kita pusing seperti beberapa kekerasan
yang terjadi akhir-akhir ini. Konflik yang terjadi di Sampit memang murni
konflik etnik bukan agama. Tetapi terkadan juga memang ada pihak-pihak
tertentu yang ingin mengaitkannya dengan agama dan bagi pandangan seperti
ini kewjiban kita memberikan penjelasan yang sejelas-jelasnya. Dan yang
kedua juga ada orang-orang tertentu yang sengaja mencari keuntungan dengan
terjadinya kekerasan ini. Makanya perlu kemampuan bagi kita untuk membedakan
mana yang berlatar belakang agama dan mana yang berlatar belakang suku/etnis.
Hal lain yang sangat memprihatinkan
kahir-akhir ini memang dilatar belakangi oleh beberapa sumber itu (agama)
bilamana ada dari pihak tertentu yang mengaitkannya dengan agamakarena
para penganut agama sering kelupaan sikaf rasionalnya dalam mencermati
hal tersebut. Dan ironisnya mereka malah sering mencari pengikut untuk
memanas-manasi konflik itu. Dan apabila suatu konflik sudah dikaitkan dengan
agama pasti akan tambah parah. Makanya sebagai umat beragama kita perlu
bersikaf rasional apa sebenarnya inti dari setiap konflik yang terjadi.
Kenapa agama sering dikaitkan dengan
konflik ? Ada beberapa alasan yang berkaitan dengan hal tersebut;
Dari ajaran agama itu sendiri.
Setiap agama yang universal (Islam, Kristen, Hindu, Budha dsb) memang memahami
diri sebagai agama yang benar, karena ada sesuatu amanat dari Ilahi, amanat
spiritual bukan hanya dianut dan dilaksanakan sendiri tetapi juga menyiarkannya
kepada orang lain. Inilah salah satu ciri khas dari agama itu. Dalam agama
juga ada suatu nilai khusus yang bersumber dari Tuhan yakni disamping kita
menganut ajaran itu kita juga dituntut untuk menyampaikan/ menyiarkan kebenaran
itu. Inilah tugas keagamaan kita yang padanya tidak bisa ditawar-tawar.
Yang menjadi persoalan kemudian
ketika masing-masing penganut agama itu hidup dalam keaneka ragaman (pluralisme)
agama. Maka disinilah muncul peluang terjadinya konflik. Misalnya seorang
penganut agama merasa bahwa agamanyalah yang benar dan menutup diri dari
kebenaran pemeluk agama lain.
Memang kita dituntut untuk meyakini
dan memelihara agama kita dengan baik tapi bagaimana dalam berinteraksi
dengan penganut agama lain ?
Hal ini memang sementara kita rintis
untuk belajar hidup bersama dalam kondisi keanekaragaman. Makanya hal yang
harus dilakukan adalah mari kita belajar memelihara keyakinan kita sekaligus
menerima dan mengakui bahwa orang lain punya keyakinan yang sama, inilah
yang dimaksud dengan toleransi.
Dalam toleransi semua orang punya
hak untuk percaya apa yang dia yakini sesuai dengan hati nuraninya dan
dia bisa menerimanya bahwa itu adalah sesuatu yang benar, tetapi disamping
itu ada sesuatu hal yang perlu ditambah bahwa semua orang punya hak untuk
percaya sesuai dengan keimanannya maka tidak ada orang yang berhak untuk
memaksa orang lain supaya dia percaya atas apa yang dipercayainya.
Ada tugas yang maha besar yang
perlu kita laksanakan yakni mengembalikan kemanusiaan manusia sebagai manusia
yang bermartabat, jangan kita memandang rendah manusia. Tugas ini adalah
ujian buat kita yang padanya kita belum lulus. Contoh kongkrit bahwa apa
yang terjadi di Sampit, Ambon dan Poso adalah kegagalan kita untuk memanusiakan
manusia sementara dalam ajaran agama manapun tak ada yang membolehkan kita
untuk mencabut martabat kemanusiaan seseoranmg. Dan kalau itu dilakukan
maka itu diluar daripada ajaran dan pemahaman agama.
Tetapi satu catatan juga bahwa
sering memang agama tidak bebas. Dalam pengertian bahwa agama sering dimanfaatkan
oleh penguasa. Agama tidak dikelola dan dikembangkan oleh umatnyatetapi
ada kepentingan-kepentinagn yang tidak bersifat keagamaan bercampur dengan
urusan agama dan sering memanipulasi agama untuk kepentingan para penguasa.
Ini adalah sesuatu hal yang dalam sejarah memang sering terjadi.
Salah satu pemahaman yang menyesatkan
berkaitan dengan hal diatas adalah adanya pemahaman yang mengatakan bahwa
kekuasaan sipenguasa itu diberikan legitimasi oleh agama atau oleh Tuhan.
Dan sekiranya legitimasi dari Tuhan itu tidak ada maka sang penguasa tidak
punya hak untuk berkuasa. Dengan demikian agama menjadi alat legitimasi
untuk kekuasaan dalam negara.Hal
ini terjadi di Indonesia pada jaman orde baru dimana Supersemar menjadi
legitimasi kekuasaan bukan konstitusi negara.
Berdasarkan hal diatas maka agama
perlu menarik diri dari kepentingan-kepentingan politik dan dan ditransformasikan
sesuai dengan kepentingan-kepentingan agama itu sendiri bukankepentingan
pihak-pihak tertentu yang tidak bertanggung jawab.
Dalam sejarah, pernah Nabi Muhammad
mengajak orang Kristen sembahyang di mesjidnya. Ini berarti bahwa memang
diakui ada perbedaan pemahaman kita tentang Tuhan. Tetapi padanya terdapat
saling pengakuan bahwa dalam Iman masing-masing itu jujur. Oleh karena
itu biarpun ada pemahaman tentang Allah berbeda tetapi Allah yang disembah
itu adalah Allah yang sama. Pada akhirnya inilah yang akan menentukan bukan
cara-cara atau pemahaman yang berbeda.
Ini adalah satu pelajaran buat kita semua bagaimana seharusnya kita bersikaf terhadap orang-orang yang lain agama. Makanya kita harus belajar hidup mengakui perbedaan-perbedaan itu dan juga tetap saling m,enghormati dan saling menghargai.