Kuliah Terbuka Forlog Hari II

Transformasi Agama dan Budaya ditengah-tengah Kekerasan Sosial

2 Maret 2001 di STT Intim.

Moderator ; Abidin Wakano, M.Ag

Realitas Sosial Kekerasan.

Oleh; Dra. Zohra A. Baso, M.Si

Ada sebuah persoalan yang perlu kita pertimbangkan dalam mencermati kondisi akhir-akahir ini. Hal tersebut adalah terjadinya bumerang yag dialami oleh kelompok-kelompok prodemokrasi dan penggerak demokrasi itu sendirimisalnya saja terjadinya kekerasan terhadap mereka-mereka ketika rezim lama (orde baru) come back lagi.Hal ini dapat kita lihat dari serangkain kekerasan dan kerusuhan yang kayaknya sengaja diciptakan untuk menghalangi laju refaormasi.

Ironisnya, hampir semua orang terlena bahwa kekerasan itu adalah persoalan kekinian saja tetapi kalau dikaji lebih jauh bahwa kekerasan yang terjadi adalah sebuah akumulasi kekecewaan atas kesenjangan-kesenjangan sosial didaerah.

Kalau kita melihat sumber kekerasan itu bahwa pada dasarnya beberapa macam yakni;

1. Kekerasan dari negara.

Hal ini dapat dilihat dari proses pembangunan negara kita dimana kebijakan-kebijakan tentang pembangunan memilih paradigma modernisasi yang lebih menekankan pada stabilitas politik. Terbukti dengan kebijakan-kebiajakn tersebut justeru memperlemah posisi rakyat termasuk dalam hal ini posisi perempuan. Makanya sangat susah mencapai yang namanya Masyarakat Sipil (Civil Society).

Masyarakat Sipil yang dimaksudkan disini adalah masyarakat yang mempu mengembangkan nilai-nilai dan moralitas sosial. Berbicara tentang nilai maka kita tidak bisa lepas dari yang namanya agen nilai (pembawa nilai), misalnya Guru, lembaga-lembaga kepolisian, pendidikan, lembaga politik dsb. Persoalannya kemudian masih percayakah kita dengan para agen nilai ini. Jawabnya sudah tidak.

Dalam konteks Indonesia sekarang,tidak berperannya lembaga-lembaga agen nilai ini dalam merespon keperluan pengauatan masyarakat kecil seharusnya diisi oleh Organisasi Non Pemerintahan (ORNOP).

Yang jelasnya bahwa kekerasan yang dilakukan oleh negara berlangsung secara sistematis. Contoh konkrit dari kesemua kekerasan tersebut adalah marjinalisasi suku Dayak di Kalimantan Tengahdengan masuknya kepentingan-kepentingan kapitalis yang merampas hak-hak ulayat mereka atas bantuan dan legitimasi yang diberikan negara. Hal ini berdampak pada terjadinya kekerasan dan konflik horizontal yang terjadi pada masyarakat.

2. Kekerasan Budaya.

Hal ini disebabkan oleh penafsiran budaya yang salah seperti misalnya adanya budaya patriarchal yang membuat makin terpuruknya kaum perempuan. Hal ini terangkat dari suatu keluarga dimana bapak sebagai Kepala Rumah Tangga. Hal seperti ini turut terbawa kedunia publik yang membuat perbedaan peran antara laki-laki dan perempuan.

3. Kekerasan Agama.

Hal ini biasa dilihat dalam setiap reepsi perkawinan dimana ajaran agama lebih banyak ditafsirkan secara sembarangan khususnya ayat-ayat yang berkaitan dengan pwerempuan.