(Dosen Sejarah Gereja di Sekolah Tinggi Theologi Indonesia Bagian Timur Makassar)
Ada satu buku tipis tetapi sangat kaya informasi yang berhubungan dengan pengertian-pengertian agama Yahudi yang memberi inspirasi terhadap beberapa pokok keyakinan Iman Kristen. Buku ini berjudul: Common Roots. New Horizons: Learning about Christian Faith from Dialogue with Jews, Genewa, WCC, 1994, diterjemahkan oleh Martin L. Sinaga, kemudian diterbitkan oleh BPK, tahun 1995 berjudul: Akar Bersama: Belajar tentang Iman Kristen dari Dialog Kristen Yahudi. Buku ini ditulis oleh Sekretaris Eksekutif bagi hubungan Kristen-Yahudi, Gerakan Agama-agama baru dan Marxisme pada Kantor Hubungan Antar Agama Dewan Gereja-gereja se Dunia. Nama pengarang buku ini adalah Hans Ucko. Ia seorang Pendeta.
Apa yang dituliskan oleh Hans Ucko, merupakan suatu upaya untuk mendamaikan konsep-konsep teologi Kristen danYudaisme. Teologi Kristen yang dikembangkan dalam gereja seolah-olah bukanlah gagasan-gagasan, pengertian-pengertian yang terinspirasi dari gagasan teologi Yahudi. Bahkan secara lebih ekstrim Hans Ucko mengungkapkan munculnya gejala dari orang Kristen yang menyatakan bahwa Yudaisme sebagai musuh gereja. Yudaime negatif dan gereja positif. Agama Yahudi merupakan agama hukum sedangkan agama Kristen adalah agama anugrah. Pertentangan-pertentangan teologi seperti ini merupakan inti konflik antara agama Yahudi-Kristen. Upaya pendamaian yang dilakukan Hans Ucho melalui tulisannya ini, bertujuan untuk menarik minat dari para Teolog Kristen agar lebih menikmati dan mendalami pemahaman teologinya sendiri sesudah berjumpa secara utuh dengan akar teologi Kristen yakni Yudaisme. Perjumpaan seperti ini akan merubah paradigma gereja secara baru terhadap iman sesamanya. Kata Hans, semakin mengenal sejumlah gambaran negeri orang maka pegenalan tentang negeri kita sendiri akan semakin kaya, demikian gambaran yang dipakai oleh Hans untuk memperlihatkan makna perjumpaan antar agama-agama. Kesulitan membaca buku ini, khususnya bagi pelajar pemula yang berminat untuk mempelajari agama Yahudi, sebagaimana yang saya alami, berdasarkan pada alur pengungkapan tema yang ditempuh secara terhambur-hambur dan kurang sistematis sebagaimana yang disadari sendiri oleh sang penulis. Dan buku ini memang bukan yang baik bagi sang pemula yang ingin belajar Yudaisme.
Hans Ucko menguraikan pandangan sebagian orang Kristen dan cara berteologi yang memakai model interpretasi "arus balik ", yakni kacamata Perjanjian Baru dipakai untuk memahami Perjanjian Lama, sebagaimana model berteologi abad pertengahan yang kemudian dilanjutkan oleh teolog-teolog abad 20, antara lain: Paul Tillich dan Pannenberg. Model Interpretasi seperti ini merupakan pengaruh dari perasaan gereja yang berkuasa dan sangat eksklusif. Gereja memahami dirinya sebagai Israel Baru, yang menerima gagasan mesianik terpenuhi dalam diri Yesus Kristus. Israel baru dengan bebas menafsirkan tradisi-tradisi kitab Perjanjian Lama sehingga tradisi-tradisi Yahudi dalam PL dianggap sebagai persiapan kedatangan Kristus dan gereja. Agama Yahudi dikatakan sebagai agama legalis, yang mengaharapkan keselamatan Allah melalui bujukan-bujukan dengan cara bertingkah laku menurut hukum-hukum. Bahkan jikalau ada penganut Yudaisme yang hidup di antara umat Kristen, maka pengaut Agama Yahudi dipaksa hidup dalam tembok ghettonya sendiri. Rancangan misi pun bagi penganut Yahudi berhubungan dengan Kristenisasi. Pada intinya, gereja dan teologi Kristen berupaya untuk menghilangkan akar sejarahnya melalui berbagai upaya baik melalui kekuatan politik maupun kekuatan hermeneutik. Puncak upaya untuk meniadakan Yudaisme secara politik tercatat dalam peristiwa yang dikenal dengan peristiwa Hollocaust pada jaman pemerintahan totaliter Hitler. Peristiwa ini merupakan krisis bagi gereja dan teologi Kristen. Pentingnya menemukan kembali hubungan yang mendamaikan antara Yahudi - Kristen merupakan pokok pembicaraan pada Konverensi Dewan Gereja-Gereja se Dunia pertama di Amsterdam tahun 1948. Tantangan sinkritisme bagi upaya memulihkan hubungan Yahudi-Kristen pada waktu itu sangat menonjol sekalipun demikian disadari bahwa agama Yahudi tidak boleh dirumuskan dari perspektif Kristen. Agama Yahudi haruslah di rumuskan oleh agama Yahudi sendiri. Hanya cara seperti ini yang memungkinkan gereja melihat dan memahami secara jernih agama Yahudi dan teologi yang dikembangkan oleh gereja. Dalam kerangka inilah maka Hans Ucko mencoba merumuskan posisi Yudaisme dalam tradisi-tradisi PL.
Umat Pilihan, Tanah Perjanjian tidak dapat dipisahkan dari tradisi Perjanjian Lama dan perasaan yang melekat dalam diri orang Yahudi sampai kini. Umat Pilihan dan Tanah Perjanjian sangat berhubungan dengan pusat komunitas untuk mendemonstrasikan kehidupan bangsa yang kudus. Inilah martabat dan hakekat nilai kehidupan bangsa Yahudi.Kekudusan bangsa Yahudi berhubungan dengan gaya kehidupan mereka yang khas, yang hidup menurut aturan-aturan atau hukum-hukum. Gaya hidup seperti itulah yang menjadi kekuatan atau inti untuk menunjukan jalan yang ditunjukan Tuhan, sebagai bangsa yang kudus di tanah yang kudus. Jadi kekudusan bangsa yahudi sangat ditentukan pula oleh ukuran ketaatan terhadap hukum-Torah di tanah yang dijanjikan. Di luar tanah itu adalah pengasingan. Israel diberikan tanah yang gersang untuk merubahnya menjadi tanah yang mendatangkan kesuburan dan kemakmuran. Dengan demikian, ketaatan akan diwujudkan melalui permohonan dan pengharapan dengan terus menerus pada Allah. Jadi tanah itu sendiri mendidik mereka dekat dan tergantung pada Allah. Tanah Israel bukanlah tanah milik tetapi sebagai Tanah Perjanjian. Tanah ini di kemudian hari menjadi tanah persengketaan sebab Tanah Perjanjian akan dirobah menjadi tanah milik atau tanah pusaka.
Agama yahudi tidak memiliki banyak doktrin kecuali memiliki syema. "Dengarlah hai Israel, Tuhan itu Allah kita, Tuhan itu Esa." Pengajaran ini merupakan dasar bersama untuk memahami bahwa, Allah itu satu, Allah semua manusia. Tidak ada perpecahan doktrinal dikalangan Yudaime. Yudaime lebih orthopraksis, menekankan suatu tindakan yang benar dan tidak doktrinal, yang mempersoalkan apakah ajaran benar atau salah. Jadi yang penting dalam Yudaime apa yang manusia lakukan bukan apa yang manusia percayai. "Engkau harus hidup menurut jalan yang ditunjukan Tuhan dengan melakukan kebenaran dan keadilan (Kej. 18:19), sebagaimana perjanjian Allah dan Nuh. Sikap hidup etis sebagai respons terhadap panggilan Allah di tanah yang dijanjikan. Tidak ada alasan, menurut interpretasi Ucko untuk menuduh agama Yahudi sebagai agama yang tertutup. Penciptaan manusia, Adam, dalam tradisi Yahudi menunjukan bahwa Allah pada mulanya hanya menciptakan satu orang manusia saja sebagai nenekmoyang seluruh umat manusia dan tidak menciptakan satu komunitas bangsa. Jadi tidak ada alasan dalam Alkitab untuk menyebabkan rasisme.
Nampak bahwa ada hubungan yang dekat antara Yahudi sebagai Bangsa Pilihan, Tanah yang dijanjikan dan bangsa-bangsa lain. Bangsa-bangsa lain dilihat dalam terang perjanjian Allah dan Nuh. Perjanjian tersebut diringkas menjadi tujuh perintah menurut tradisi rabinik yang intinya adalah mencakup nilai kemanusiaan. Tujuh perintah Yahudi menjadi dasar perintah bagi semua umat manusia. Bangsa Yahudi memiliki terdiri dari 613 perintah sudah termasuk tujuh perintih rabinik. Ke-613 peritah harus dilihat sebagai identitas keyahudian, cara hidup dan menjadi simbol keyahudiannya yang unik. Perintah menjadi pemandu hidup, pentintah sebagai makna keyahudian, perintah mengingatkan keterpilihan mereka di antara bangsa - bangsa lain, perintah sebagai bentuk pengabdian kepada sumber kehidupan. Inilah kebudayaan bangsa Yahudi. Siapapun yang setia pada perintah ini dijamin memiliki olam haba, dunia masa depan, yang oleh tradisi Yahudi sering disebut Kerajaan Sorga, malkuth syamayim, untuk menghindari penyebutan nama Allah yang mengikuti kata Kerajaan. Dunia masa depan biasanya dihubungkan dengan gagasan Messianik. Dalam pengalaman sejarah Yahudi, gagasan Messianik senantiasa muncul pada saat bangsa mengalami penganiayaan. Berkali-kali bangsa Yahudi kecewa terhadap pemimpin-pemimpin rohani mereka yang meramalkan kedatangan mesias. Terakhir diramalkan akan datang tahun 1992, yang pada akhirnya menunjuk pada pemimpin rohani mereka. Menurut Ucko, harapan datangnya Mesianik sangat berhubungan dengan datangnya Kerajaan Sorga atau Kerajaan Allah. Harapan ini merupakan bagian religiusitas Bangsa Pilihan itu. Gagasan Kerajaan Allah mengungkapkan kerinduan terhadap kejujuran, keadilan, kedamaian dan kesetaraan. Kerinduan akan Kerajaan Allah adalah tanda ketidakpuasan dengan realitas hidup masa kini. Harapan datangnya Raja yang adil merupakan kekuatan bangsa hidup dalam ketaatan. Dengan demikian, kata hans Ucko: " bukan seperti yang dituduhkan orang Kristen kepada agama Yahudi sebagai agama legalis, agama yang membujuk kemurahan Allah atau agama yang mengandalkan upaya manusia melulu untuk mendapatkan olam haba, masa depan atau keselamatan".
Sekalipun tidak seluruh gagasan Hans Ucko dapat saya jelaskan pada kesempatan ini namun akar-akar Teologi Kristen tentang Penciptaan, Umat Pilihan, Tanah yang dijanjikan, Umat yang Kudus, Bangsa-bangsa lain, Keselamatan yang akan datang, perlu mendapat pencerahan dari gagasan teologi Yudaisme. Jangan-jangan interpretasi gereja tradisional terhadap pokok-pokok teologi ini justru merupakan interpretasi yang merupakan hasil dari kesombongan dan keangkuhan gereja. Perjumpaan yang terbuka dengan gagasan-gagasan teologi Yudaisme bahkan agama-agama lain penting agar teologi Kristen sendiri diperkaya. Ziarah teologi dapat menghantar kita merumuskan gagasan teologi Kristen yang membangun perdamaian dan kesetaraan.