Dilaksanakan bersama oleh
tanggal 27 Januari 2001 di Gedung Kemanunggalan
TNI-Rakyat
[Pidato ini berasal dan disesuaikan di sana-sini
dari Khutbah Jum'at terakhir abad ke-20
(milenium kedua) di Masjid Al-Markaz al-Islami
Makassar]
Dr. H. Qasim Mathar, IAIN Alauddin Makassar
Saudara-Saudara Hadirin yang saya muliakan!
Milik Allah-lah segala pujian, sekalipun di negeri mayoritas berpenduduk muslim ini, masjid dan gereja dibakar massa. Milik Allah-lah segala pujian, sekalipun di negeri mayoritas penduduknya berpuasa ini, bulan Ramadhan menjadi bulan pertumpahan darah, bulan saling membantai dan membunuh sesama manusia. Milik Allah semua puja-puja, sekalipun di negeri Muslim terbesar di dunia ini, kelompok minoritas dirundung rasa was-was setiap saat.
Di negeri ini, mayoritas merupakan sosok raksasa yang angker, menakutkan. Di negeri ini, minoritas etnis atau minoritas agama bersiap setiap saat untuk dikeroyok dan dihajar oleh kelompok mayoritas. Di negeri ini, juga, minoritas yang kuat secara ekonomi merupakan makhluk penghisap darah mayoritas.
Maha Besar Allah, Tuhan manusia Muslim dan Kristen Ambon yang saling berbunuhan hingga kini, Tuhan orang-orang Galela dan Tobelo yang saling berbunuhan di Halmahera Utara. Maha Suci Allah, Tuhan orang-orang GAM (Gerakan Aceh Merdeka), Tuhan orang-orang Aceh, dan Tuhan aparat negara yang saling berbunuhan di negeri Serambi Mekah. Tiada Tuhan selain Dia, yang rumah-Nya di bakar dan dibom. Tiada Tuhan selain Dia, yang umatnya paling gampang dihasut untuk saling bermusuhan dan berbunuhan. Tiada Tuhan selain Dia, yang nama-Nya diteriakkan dan dipekikkan di medan perang: perang sabil dan perang salib.
Atas nama-Mu, ya, Tuhan, kami menabuh genderang perang. Atas nama-Mu, ya, Tuhan, kami mengintai, memukul, dan membantai orang-orang yang menyebut nama-Mu di gereja, di kuil, di vihara, dan di masjid. Atas nama-Mu, ya, Tuhan, kami membakar rumah-rumah pemukiman, mengusir dan mengejar penghuninya, tidak peduli perempuan, orang tua, atau pun anak kecil. Kami mengejar mereka, tidak peduli perempuan terhina kehormatannya di depan mata-Mu, ya, Tuhan; … tidak peduli orangtua tersungkur dan mendengus kena sabetan parang kami di depan mata-Mu, ya, Tuhan; … tidak peduli anak kecil menangis-melengking terpercik darah orang tuanya yang kami tebas di depan mata-Mu, ya, Tuhan; … semuanya atas nama-Mu dan di depan mata-Mu, ya, Tuhan.
Saudara-Saudara yang saya muliakan!
Masyarakat madani adalah suatu masyarakat dengan pola hidup berperadaban. Kata "madani" sepadan dengan kata Arab lainnya, yaitu "hadorah", yang berarti "pola hidup menetap di suatu tempat" sebagai lawan "pola hidup berpindah-pindah tempat" atau nomad, atau "badawah", sebagaimana kehidupan orang-orang Baduwi yang dikenal di jazirah Arab pada masa itu, atau dengan kata lain berpola hidup "kampungan", bahkan dapat sepadan dengan kata "biadab". Konflik dan kerusuhan menyebabkan kondisi warga masyarakat berpola kehidupan "badawah", nomad, berpindah-pindah, terusir, terlantar, tersiksa, jatuh sakit, bahkan tewas dalam eksodus, serta biadab, sangat jauh dari pola kehidupan madani. Maka, kalau dalam kondisi warga yang amat buruk demikian rupa, dan itu terjadi dalam lingkup kita satu warga bangsa, pantaskah dalam pandangan agama manapun, kita justeru memanas-manasi, memperkeruh suasana, dan mengerahkan orang-orang untuk terlibat ke dalam konflik dan kerusuhan itu. Na'uzu billah min zalik. Apa bedanya kita dengan syaitan yang sangat senang dengan konflik dan kerusuhan. Apa bedanya kita dengan syaitan yang amat benci dengan pola kehidupan yang damai dan tenteram. Syaitan menyebabkan perbuatan-perbuatan jahat menjadi tampak menarik dan indah
"… dan syaitan pun menjadikan perbuatan-perbuatan jahat manusia tampak indah bagi manusia" (Q.S. al-An'am/6: 43)
"Dan ketika syaitan menjadikan manusia memandang baik pekerjaan mereka, seraya merayu manusia dengan berkata: Tidak ada seorang pun yang dapat mengalahkanmu pada hari ini dan saya ini adalah pelindungmu. Namun, ketika kedua pasukan sudah saling berhadapan, syaitan pun balik ke belakang seraya berkata: saya berlepas tangan darimu, sesungguhnya saya dapat melihat apa yang tidak dapat kamu lihat, sesungguhnya saya takut kepada Allah. Dan, Allah sangat keras siksa-Nya" (Q.S. al-Anfal/8: 48)
Berhati-hatilah, jangan sampai kita mengira berjihad di jalan Allah, padahal pada hakikatnya kita melakukan kejahiliahan terhadap nilai-nilai luhur agama. Berhati-hatilah, jangan sampai dikira perang sabil atau perang salib, namun sesungguhnya yang terjadi adalah perang kepentingan dan interest bukan-agama, tapi menunggangi emosi keagamaan umat beragama.
Jangan berharap suatu pola kehidupan yang lebih baik, atau masyarakat Indonesia baru yang madani dengan bergantinya abad dan milenium, jika yang menjadi manusia pada abad dan milenium baru ini adalah orang-orang Islam atau orang-orang Kristen, atau umat beragama lain yang memiliki gelora kebencian dan semangat saling bermusuhan. Sudah tiba saatnya semua umat beragama, khususnya kaum muslimin, untuk memikirkan ulang sikap keberagamaan kita. Sudah tiba saatnya kita mengoreksi faham keagamaan kita yang telah mengantar kita kepada kehidupan bermasyarakat dan berbangsa sekonyol sekarang ini. Sudah tiba saatnya kita lebih menekuni dan lebih mendalami makna ayat-ayat dari kitab suci kita masing-masing, yang mungkin di masa lalu kita telah keliru memahaminya, sehingga membawa kita ke kancah pertikaian dalam kehidupan antar umat beragama yang juga memberi andil pada kacaunya kehidupan masyarakat bangsa kita.
Saudara-Saudara yang saya muliakan!
Agama di masa depan adalah agama yang memiliki kesediaan dan kemampuan bersanding dengan agama yang lain. Agama yang demikian adalah agama yang di dalam inti ajarannya terdapat semangat kemitraan yang luar biasa tinggi dan ruh kelapangan dada yang luar biasa luas. Agama yang tidak memiliki semangat dan ruh seperti itu, akan ditolak oleh manusia yang hidup dalam abad dan milinium di depan. Saya mengetahui kedua agama, Islam dan Kristen, dan beberapa agama besar lainnya, memiliki semangat dan ruh tersebut. Agama menjadi masalah ketika dipahami secara keliru oleh penganutnya. Selanjutnya kesalahpahaman terhadap ajaran agama dapat berakibat amat buruk bagi kehidupan sosial, seperti yang terjadi di Ambon, Poso, dan beberapa tempat lainnya.
Saudara-Saudara,
Karena tingkat pendidikan dan ketersediaan sarana dan prasarana yang lebih bagus, dan karena dunia dan aktifitas kehidupan manusia masa depan adalah "dunia dan kehidupan tanpa dinding (borderless)", maka manusia masa depan tidak sudi lingkungan tempat hidup mereka seperti kondisi kerusuhan Ambon dan Poso, misalnya. Di masa depan, manusia akan memandang cara mengatasi masalah sosial dengan "gaya" kerusuhan Ambon atau Poso sebagai cara primitif dan tidak berbudaya. Ya, di masa depan, mungkin pada sekitar tahun 2100, anak cucu kita akan menilai kerusuhan Ambon dan Poso sebagai perilaku orang primitif dan tidak berbudaya. Karena itu, di masa depan, anak cucu kita tidak akan menganut, bahkan akan menolak, agama yang memelihara dan mewariskan semangat perkelahian model Ambon, Poso, dan lain-lainnya, yang sementara dialami oleh generasi ujung abad ini.
"Dunia dan kehidupan tanpa dinding" adalah dunia dan kehidupan anak cucu kita pada abad dan milenium di depan. Agama yang pas dengan "dunia dan kehidupan tanpa dinding" serupa itu ialah agama yang selalu siap berdialog, menyapa, dan bersanding - bukan berhadap-hadapan, apalagi mengajak saling baku pukul - dengan warna-warni keragaman manusia masa itu. Islam dan Kristen, serta agama apa pun, pasti akan ditolak jika agama tersebut menyiapkan manusia untuk saling baku bantai dan menghancurkan bangunan peradaban kemanusiaan. Islam dan Kristen dalam model kerusuhan Ambon dan Poso hanya akan dianut oleh sisa-sisa kemunitas manusia yang ber"budaya" primitif.
Saudara-Saudara yang saya cintai!
Termasuk upaya penegakan syariat Islam, sama sekali tidak boleh tampil seperti "gaya Ambon, gaya Poso, dan gaya Aceh", perubahan yang berlumur darah dan kaya dengan rasa kebencian dan dendam-kesumat. Upaya penegakan syariat Islam serupa itu, pasti akan ditolak masyarakat. Karena itu, saya berpendapat, syariat Islam yang ingin ditegakkan itu hendaknya berciri-ciri sebagai berikut:
2. Tidak total, tapi bertahap dan berskala perioritas. Pelaksanaan syariat secara total, tidak memiliki contoh historis dari tarikh kenabian. Karena itu, pelaksanaan syariat secara total adalah ahistoris.
3. Berlangsung secara sosiologis dan berakar secara kultural. Kita adalah orang Melayu, orang Bugis-Makassar-Mandar-Toraja, bukan orang Arab, bukan orang Barat. Islam di Indonesia harus bernuansa Melayu, bukan bercorak Arab, bukan pula bercorak Barat. Nilai-nilai yang berproses secara sosiologis dan kultural akan lebih tahan dan lestari.
4. Harus konstitusional. Perjuangan penegakan syariat Islam harus melandaskan diri dan bermain dalam koridor konstitusi dan aturan yang telah kita bikin bersama sebagai bangsa. Sudah cukup pengalaman sejarah ada noda-noda hitam yang dibuat kaum Muslimin di negerinya ini sendiri karena perjuangan mereka melawan konstitusi dan aturan yang dibikin bersama. Karena itu, yang ke
5. Syariat Islam tidak bergerak ke arah pembentukan Negara Islam, atau bentuk negara selain Republik Indonesia, semisal, Kekhilafahan Islam. Syariat bisa ditegakkan tanpa mengubah bentuk negara kita Republik Indonesia.
6. Materi syariat Islam tetap memberi ruang kepada pemahaman Islam, baik yang bercorak formalistik/harfiah/leterlik, maupun pemahaman yang bercorak substansial/manawi. Dan, yang ke:
7. ialah: upaya penegakan syariat Islam senantiasa menghargai kemajemukan masyarakat bangsa kita.
Karena itu, amat disayangkan Keluarga Besar Korps Alumni HMI (KAHMI) yang berhalal bihalal beberapa waktu yang lalu di gedung ini, telah terperangkap ke dalam semangat yang mementingkan simbol-simbol dan formalisme agama, tidak menukik ke substansi agama (Islam). KAHMI terperangkap seperti itu dapat disimak dari orasi yang dibawakan oleh pembawa orasi malam itu, yang, juga, bahkan mengobar-ngobarkan semangat pemberontakan Kahar Muzakkar. Bagi saya, syariat Islam seharusnya tidak terkait sama sekali dengan semangat serupa itu. Orasi serupa itu potensial menggiring kita ke kancah perjuangan melawan hukum.
Saudara-Saudara yang saya muliakan!
Isa Almasih dan Muhammad saw. seolah-olah hadir menemani manusia yang merayakan Hari Natal dan Idul Fitri, dalam imajinasi keagamaan saya. Setelah kedua nabi Allah itu tidak lagi berada di tengah-tengah manusia, maka yang tinggal adalah Kitab Suci di tangan kita masing-masing. Al-Qur'an di tangan kaum Muslimin dan Injil di tangan kaum Nasrani, serta kitab suci yang lain di tangan umat beragama lainnya. Saya membuka al-Qur'an, saya menemukan pernyataan Selamat Hari Natal dari Kitab Suci umat Islam itu yang mengutip ucapan Nabi Isa:
artinya : Salam sejahtera untukku pada saat Hari Natalku, pada saat wafatku, dan pada saat kebangkitanku kelak" (Q. S. Maryam/19: 33)
Sedang, bagi umat Islam yang saling menyapa "minal a-idiyn wal fa-iziyn", pada suasana Hari Raya Idul Fitri, semoga sapaan yang berarti doa itu benar-benar sesuai maksudnya, yaitu: "Semoga kita kembali kepada fitrah kesucian dan agama yang benar sehingga ampunan dan ridho Allah mengantar kita kepada kenikmatan surga-Nya".
Saudara-Saudara yang berbahagia!
Di persimpangan abad dan milenium ini, saya mendengar suara Isa Almasih berkata: "Aku datang membebaskan bumi" dan suara Muhammad berkata: "Aku rahmat bagi seluruh alam". Salam sejahtera bagi kedua Nabi Allah itu. Akankah pula salam dan sejahtera itu meliputi kehidupan anak cucu kita pada abad dan milenium yang sedang kita masuki, tentu sangatlah bergantung pula pada sebanyak apa dan sejauh mana kita telah menghirup, merekam, meraih, mengambil, dan melaksanakan sekuat-kuatnya nilai-nilai puasa dan bulan Ramadon yang barusan meninggalkan kita, bagi kaum Muslimin; semangat Natal, bagi kaum Nasrani, serta semangat ajaran luhur agama bagi semua umat beragama. Ayo, kita coba buktikan semangat itu ke dalam bulan-bulan kehidupan kita di luar bulan Ramadon, atau setelah Hari Natal meninggalkan kita, atau setelah tahun Imlek berlalu. Ayo, mari kita buktikan, siapa di antara kita yang paling berpihak kepada nilai-nilai luhur agama. Ayo, kita buktikan setelah kita bubar dari acara ini.