CERITERA PENDEK
"TALI SILATURAHMI"
KARYA PDT.DANNY SOPAMENA

Suatu ketika, Ambe Sampe berjumpa dengan sahabat lamanya Daeng Kule di Pasar Sentral Makassar. Sangking lamanya tidak berjumpa, mereka berpelukan erat di tengah hiruk pikuknya pasar tanpa menghiraukan orang-orang di sekitarnya yang merasa geli menyaksikan adengan pelukan mesra dua lelaki di siang bolong itu. Sambil memegang bahu Daeng Kule erat-erat, Ambe Sampe berkata:

"Eeee Kule, di mana kamu selama ini? Saya dengar sudah hebat kamu sekarang ya!"
Dengan agak malu-malu Daeng Kule menjawab:

"Tidak ji teman; saya biasa-biasa saja ji. Sejak tinggalkan Bili-bili dulu karena diusur pemerintah,....itu...., untuk dibikin Dam..., saya dengan keluarga pindah ke Mamuju. Tapi, untung juga digusur pemerintah dari Bili-bili. Sekarang coklatku banyak sakali di Mamuju".

Mendengar penjelasan Daeng Kule, Ambe Sampe tampaknya tertarik untuk pindah ke Mamuju pula. Karena itu ia bertanya kepada Daeng Kule:

"Eeee Kule, adakah tanah di Mamuju untuk saya bertani di sana? Setelah pensiun dari tentara di Pakato dulu, saya dan keluarga pindah ke Palopo Utara dan bertani di sana. Coklatku juga cukup bagus, dan sebenarnya saya senang tinggal di sana. Tapi.... edede... kacaunya Palopo sekarang. Baku perang terus. Biar saya ini bekas tentara saya merasa ngeri juga. Hari-hari paporo meletus... Untung rumahku tidak terbakar waktu kerusuhan terakhir ini. Kalau tidak, saya tidak tahu mau pindah ke mana lagi".

Daeng Kule agak tercengang mendengar penjelasan sahabatnya tadi. Ia kemudian mengajak Ambe Sampe menuju sebuah warung kopi. Setelah memesan dua cangkir kopi dan dua bungkus songkolo, Daeng Kule menatap sahabatnya dengan penuh keprihatinan, sambil berkata:

"Sekarang, di mana-mana kacau di! Bukan cuma di Palopo; di Poso, di Irian....eee apalagi di Ambon.... edede... kacaunya. Orang mati seperti binatang. Yang tidak masuk di akalku lagi to, agama dipakai untuk bikin orang baku bunuh."
Percakapan di antara dua sahabat lama itu terhenti sejenak karena tampaknya kaduanya sedang merenung dan bertanya dalam hati masing-masing: mengapa kerusuhan bisa terjadi di mana-mana di negeri kita Indonesia tercinta ini. Sesekali hanya terdengar desahan nafas panjang disertai gelengan kepala, pertanda kedua sahabat ini tak habis pikir tentang peristiwa-peristiwa yang mengerikan akhir-akhir ini.......

Karena tidak sarapan pagi, Ambe Sampe kelihatannya sangat lapar dan karena itu ia melahap songkolo yang dipesan dalam waktu sekejap, bahkan memesan sebungkus lagi. Sambil melahap songkolo bungkusan kedua, Ambe Sampe berkata kepada sahabatnya:

"Kule...., masih ingat kamu waktu kami sekeluarga siarah ke rumahmu Hari Lebaran dulu sebelum kita berpisah! Waktu itu istrimu bikin songkolo seperti ini, tapi jauh lebih enak, enak sekali. Saya ingat waktu itu saya makan banyak sekali sampai isteriku injak-injak kakiku suruh berhenti. Padahal saya masih mau tambah lagi........ Tetapi cerita-cerita , mengapa waktu Hari Natal kau tidak datang lagi ke rumahku sampai akhirnya kita berpisah?"

Mendengar pertanyaan Ambe Sampe ini, Daeng Kule tampaknya terkejut dan raut wajahnya agak berubah. Dalam waktu cukup lama ia tidak dapat berbicara, seolah-olah sedang mencari-cari jawaban. Kemudian setelah menghela nafas panjang-panjang, dengan agak tersendat-sendat Daeng Kule berkata:

"Sampe....- e...e. jangan ko marah di. Saya juga heran mengapa waktu itu saya bisa begitu. Maksudnya.... e...e ...mengapa saya tidak datang ke rumahmu waktu Hari Natal".
Ada sesuatu yang tampaknya sulit dijelaskan oleh Daeng Kule kepada sahabatnya itu. Dan rupanya ia mau menghindar untuk tidak menjelaskannya. Tetapi karena keduanya sudah menjalin persahabatan sangat lama, bahkan hubungan kedua keluarga mereka sudah lebih dari pada saudara sendiri, akhirnya dengan berat hati Daeng Kule mau menjelaskan duduk persoalan yang sebenarnya sehingga ia dan keluarganya tidak datang ke rumah Ambe Sampe pada Hari Natal beberapa tahun yang lalu.

"Begini Sampe....  Saya ingat waktu itu permulaan bulan Desember. Kami dikumpulkan di balai desa lalu ada penjelasan bahwa kami tidak boleh siarah ke rumah- rumah orang-orang yang tidak seagama dengan kami. Apalagi, katanya ada peraturan yang dikeluarkan oleh pemerintah."

Daeng Kule tertunduk dan tidak dapat melanjutkan penjelasannya lagi kepada sahabatnya. Yang terdengar hanyalah helaan napas panjang, seolah-olah ia pun tidak mengerti mengapa tali silaturahmi yang selama ini terpintal erat antara mereka berdua tiba-tiba terputus begitu saja. Bahkan ia lebih tidak mengerti lagi, mengapa tali silaturahmi itu diputuskan, konon oleh sebuah peraturan pemerintah yang ia sendiri tidak pernah baca.................

"Kule...., sekarang saya mengerti mengapa kau dan keluargamu tidak datang ke rumahku pada Hari Natal beberapa tahun yang lalu. Dan sekarang, saya menyesal, betul-betul saya menyesal, mengapa karena kau dan keluargamu tidak datang ke rumahku pada hari Natal lalu saya dan keluargaku juga tidak datang lagi ke rumahmu pada Hari Lebaran! .... Maaf Kule ....., saya juga salah...., saaaalah sekali"

----------

Beberapa saat kemudian, Daeng Kule merogoh sakunya mencari dompet untuk membayar kopi dan songkolo yang dipesan. Tetapi niatnya untuk membayar kopi dan songkolo ini diurungkan karena tiba-tiba masuk seorang penjual koran sambil berteriak:

"Ambon rusuh lagi...., Ambon rusuh lagi. Kelempok merah dan putih saling menyerang dan mengakibatkan 27 orang mati, belum termasuk tentara dan polisi".

Ketika Daeng Kule bermaksud membeli koran tersebut, Ambe Sampe menepis tangannya sambil berkata dengan penuh emosi:

"Tidak usah baca koran-koran seperti ini. Yang bikin kita tambah kacau sebenarnya adalah koran-koran seperti ini. Kalau wartawannya merah, pasti dia akan tulis berita- berita yang menjelek-jelekkan kelompok putih; begitu juga sebaliknya. Jadi, sulit kita tahu mana berita yang betul dan mana yang bohong."

Melihat sikap Ambe Sampe yang penuh emosi itu, Daeng Kule mengurungkan niatnya membeli koran. Tetapi tampaknya ia penasaran ingin mengetahui berita tentang kerusuhan di Ambon. Yang sempat ia ingat hanyalah teriakan anak penjual koran tadi bahwa kelompok merah dan putih saling menyerang dan mengakibatkan 27 orang mati. Yang membuat Daeng Kune lebih penasaran lagi ialah, ia ingin mengetahui apa itu kelompok merah dan apa itu kelompok putih. Karena itu dengan hati-hati ia bertanya kepada Ambe Sampe:

"Sampe...., tadi tukang jual Koran itu bilang bahwa yang baku perang di Ambon itu adalah kelempok merah dan kelompok putih. Kelompok-kelompok apa itu kah ?"

"Kule....Kule....Apakah kau tidak pernah nonton televisi di Mamuju! Kan di televisi itu sering dikasih lihat bagaimana orang baku perang di Ambon. Yang ikat kepala dengan kain merah ini adalah orang-orang Kristen, sedangkan yang ikat kepala dengan kain putih itu adalah orang-orang Islam. Jadi, kelompok merah itu adalah kelompok Kristen, sedangkan kelompok putih itu adalah kelompok Islam''.

Mendengar penjelasan Ambe Sampe, Daeng Kule bukannya memperlihatkan sikap bahwa ia telah mengerti, melainkan sebaliknya memperlihatkan sikap marah. Sambil memukulkan kepalan tinju kanannya ke telapak tangan kiri, Daeng Kule setengah berteriak:

"Kurang ajar itu orang-orang di Ambon. Masa mereka merobek-robek bendera negara kita untuk berperang satu dengan yang lain. Mungkin mereka sudah gila semua".

Ambe Sampe agak terkejut dan terheran-heran mendengar teriakan Daeng Kule, karena ia tidak mengerti mengapa Daeng Kule tiba-tiba marah. Jangan-jangan bukan orang-orang di Ambon yang sudah gila tapi Daeng Kule-lah yang sudah mulai gila. Untuk mengetahui apakah Daeng Kule masih waras ataukah sudah gila, Ambe Sampe memegang bahu sahabatnya itu sambil bertanya:

"Eeee Kule ...., apa maksudmu bahwa orang-orang di Ambon itu merobek-robek bendera negara kita untuk berperang satu dengan yang lain?"

"Hei Sampe...., kamu kan bekas tentara. Masa kamu tidak tahu bahwa bendera Indonesia itu warnanya merah dan putih. Jadi, kalau orang-orang di Ambon itu ikat kepala dengan kain merah dan kain putih untuk berperang, itu berarti mereka merobek- robek bendera negara kita untuk baku bunuh satu dengan yang lain. Karena itu saya bilang mereka sudah gila semua. Sebab, kata pak... siapa itu dulu.... waktu kami penataran P4 di Sungguminassa, bendera merah-putih itu kan lambang persatuan bangsa dan negara kita.... Eh...., bukannya dipakai untuk bikin kita jadi satu, malah dirobek-robek untuk kasih hancur kita satu dengan yang lain. Apa itu tidak gila?!"

Ambe Sampe mengangguk-angguk tanda memahami maksud sahabatnya itu. Tetapi setelah merenung sejenak, tiba-tiba Ambe Sampe memukul meja di warung kopi itu sambil setengah berteriak:

"Kalau saya masih jadi tentara seperti dulu, akan kutembak manusia-manusia berengsek yang merobek-robek dan mau bikin hancur negara kita ini".

"Eeee Sampe, ini kan sudah jaman reformasi. Jadi aparat keamaman itu tidak bisa seperti dulu-dulu lagi yang tembak orang sembarangan saja".

"Reformasi ... reformasi ... apa itu reformasi! Ini ... ini... akibat reformasi yang kau bilang itu maka kita semua jadi bau terasi"

----------

Pasar Sentral mulai agak sepi ketika dua sahabat lama itu melangkahkan kaki meninggalkan warung kopi. Mereka berdua berjalan sambil berpelukan menuju tempat perhentian pete-pete yang akan mereka tumpangi ke tempat masing-masing. Tetapi tiba- tiba Daeng Kule menghentikan langkah sahabatnya dan kemudian berkata:

"Sampe ... , jangan ko marah di.... Saya tuhu kamu bekas tentara. Tapi saya tanya apakah betul di Ambon itu bukan saja terjadi perang antara kelompok merah dengan kelompok putih, tapi juga perang antara aparat keamanan sendiri!".
Ambe Sampe tersentak mendengar pertanyaan sahabatnya yang mendadak itu. Dalam waktu cukup lama ia menerawang, seolah-olah sedang memikirkan sesuatu yang sangat merisaukannya. Kemudian, sambil memeluk dadanya sendiri ia berkata dengan suara yang nyaris tak terdengar:

"Kule....., saya tidak mengerti mengapa tentara-tentara dan polisi-polisi sekarang ini bisa jadi begini. Mereka semua sekolah pintar-pintar. Peralatannya juga canggih-canggih. Beda dengan kami dulu yang cuma tamat SD dan cuma punya peralatan sederhana. Tapi supaya kau tahu Kule, jadi tentara dan polisi itu bukan cuma harus punya otak yang pintar dan peralatan yang canggih. Ini....ini... Jiwa ini yang paling penting. Dalam jiwa ini harus ada perasaan cinta yang sungguh pada tanah air. Dan karena cinta yang sungguh pada tanah air, siapa saja yang mau menghancurkan tanah air ini akan digilas tanpa pandang bulu, termasuk tanpa pandang agama dan suku. Kami dulu Kule, biar cuma tamat SD, punya peralatan sederhana, dan juga punya gaji sangat kecil....  tetapi di sini ... di sini .... di dada ini, tertanam jiwa cinta tanah air yang luar biasa. Karena itu kami semua bisa bersatu, tanpa pandang suku dan agama".

Dalam keheningan senja Daeng Kule dan Ambe Sampe melangkah lunglai menuju tempat perhentian pete-pete, sambil memendam beribu tanya tentang mengapa anak-anak negeri Indonesia ini bisa terporak poranda. Ketika Daeng Kule bermaksud menyetop pete-pete jurusan Daya yang akan ditumpanginya, Ambe Sampe menghela tangannya sambil berkata:

"Eh....Kule...., kasih alamatmu di Mamaju. Saya janji... betul-betul saya jangi.... kalau nanti Lebaran, saya dan seluruh keluarga akan datang siarah ke rumahmu di Mamuju".

"Sampe...., pegang ko janjimu itu betul-betul. Dan supaya kamu tidak lupa janjimu, bawa ko kopiahku ini ke Palopo. Setiap kali ko lihat kopiahku ini, ingat ko janjimu tadi dan ingat ko saya selalu. Dan dengar ko Sampe.... Kalau nanti kamu sekeluarga datang siarah ke rumakku di Mamuju pada Hari Lebaran, saya janji....betul-betul saya janji, saya akan datang bersama seluruh keluargaku ke Palopo pada Hari Natal nanti.... Saya tidak akan dengar lagi larangan dari siapa pun juga, sabab kita ini sudah lebih dari saudara. Agama tidak boleh dan tidah akan memisahkan kita lagi".

Ambe Sampe seolah-olah menerjang Daeng Kule, lalu mereka berdua berangkulan sangat erat dengan berlinang air mata. Kemudian dengan setengah berteriak Ambe Sampe berkata:

"Kuleeeee ....., kita ini bersaudara. Jangan ada lagi yang memisahkan kita, Kule......."

Mentari mulai perlahan-lahan tenggelam di ufuk Barat ketika Daeng Kule berangkat dengan pete-pete jurusan Daya meninggalkan sahabatnya Ambe Sampe yang berdiri melambai-lambaikan tangan hingga pete-pete menghilang di tikungan. Ambe Sampe baru terkejut dari lamunannya ketika seorang anak jalanan datang menghampirinya dan bertanya:

"Pak, pak ........ mengapa menangis pak?"