Rekonsiliasi Memerlukan Kebenaran:
Laporan Komisi Kebenaran Afrika Selatan
Terjemahan dari: Versöhnung braucht Wahrheit: Der Bericht der südafrikanischen Wahrheitskommission (hal. 13 16: Pengantar dari Joachim Braun).
Aula East London teriisi penuh sampai pada bangku yang terakhir. Di atas panggung duduk 17 anggota Komisi Kebenaran dalam bentuk setengah lingkaran, ditengah duduk ketuanya yaitu Desmon Tutu yang menggunakan jubah Uskup Agung gereja Anglikan berwarna merah darah. Di alula tersebut hadir ribuan orang pendengar yang hampir semuanya orang berkulit hitam. Di depan mereka disediakan satu kursi yang kosong untuk seorang korban yang hari ini akan berbicara dan kursi lainnya untuk keluarga dekatnya. Di atas panggung juga tersedia mimbar dimana sang korban akan berbicara.
Di bagian balkon tersedia tempat untuk para jurnalis baik dari dalam maupun dari luar negri. Sejak Nelson Mandela memulai tugasnya sebagai Presiden pada bulan Mei 1944 Afrika selatan tidak pernah lagi mengalami banjir jurnalis seperti saat ini. Pada hari senin tanggal 16 April 1996 untuk pertama kalinya Komisi Kebenaran mempubilkasikan kegiatan mereka.
Desmon Tutu merencanakan bahwa peristiwa ini adalah mendengarkan korban dan bukan tentang perundingan untuk mendapatkan amnesti. Makanya yang diutamakan adalah hak para korban sementara untuk pelaku ada waktunya nanti. Demikian halnya pemilihan tempat bukan hal yang tidak disengaja. East London terletak di bagian timur provinsi Kap. Daerah ini merupakan daerah yang paling kuat memiliki perjuangan kaum kulit hitam jika dibanding di daerah bagian lainnya di Afsel, disini juga lahir ANC dan kemudian lahir pula gerakan "Black-Consciousness. Di tempat ini pula terjadi kebrutalan yang lebih dahsyat dari pemerintah Apartheid terhadap lawannya. Tidak ada daerah yang paling menderita se menderita di daerah ini.
Entah siapa mengangkat lagu tua dalam bahasa Xhosa, bahasa kaum kulit putih di daerah ini, yakni: Lizalise idinga lakho, artinya: pengampunan bagi yang bersalah menyembuhkan manusia. Para hadirin menyanyikan dengan empat suara seperti sebuah jemaat dalam satu kebaktian. Setiap orang tahu lagu ini. Kemudian Tutu mengucapkan doa. Dia memformulirkan doanya sedemikian rupa sehingga muslim dan orang hindu merasa dilibatkan. Dia berdoa memohon berkat Allah untuk kerja Komisi tersebut secara khusus kiranya karya tersebut dapat berhasil untuk memberikan kontribusi bagi pemulihan trauma bangsa: "kita semua, kulit hitam dan putih membutuhkan penyembuhan. Karena kita semua adalah orang orang yang terluka." Kemudian Tutu menyalakan lilin yang besar dan menyucikan ruangan itu.
Lagu gereja, doa dan penyucian ruangan: Tutu dengan sadar membuat peristiwa mendengarkan korban menjadi peristiwa religius. Perjuangan Tutu melawan sistim Apartheid berangkat dari kepercayaannya bahwa orang orang berkulit hitam yang menjadi korban dari sebuah sistim penindasan yang mengaku sebagai kristen adalah juga anak anak Allah yang sama diciptakan menurut gambar Allah seperti dengan orang orang berkulit putih. Sekarang, ketika Tutu menjadi ketua Komisi dia hendak memulihkan kembali harkat kemanusiaan kaum kulit hitam dimata dunia. Pada awal kegiatan ini Tutu menegaskan bahwa kegiatan ini bukanlah proses pengadilan melainkan sebuah kesempatan untuk menghormati para korban dengan jalan mengakui penderitaan mereka. Sampai saat ini mereka tidak pernah diberi kesempatan di depan umum untuk boleh menceritakan apa yang dilakukan terhadap mereka. Kini mereka akan menceritakan kisah mereka, kebenaran mereka dalam bahasa mereka (untuk itu begitu banyak penterjemah dalam runag penterjemah) menurut kemampuan sebagaimana yang dimungkinkan oleh kekuatan dan ingatan mereka.
Setiap anggota Komisi bercakap dengan seorang korban. Percakapan ini berbeda dengan pengadilan melainkan semacam terapi dengan seorang pasien. Percakapan dilangsungkan dengan sangat berhati hati, mendengar dengan baik, menguatkan, dengan tidak banyak menggunakan pertanyaan balik dan kalau daya ingat saksi menjadi lelah maka dilakukan istirahat dan kalau ingatan itu menyakitkan maka percakapan dihentikan untuk sesaat. Komisi Kebenaran mempunyai bagian yang menangani penyelidikan fakta fakta yang diceritakan oleh para korban .
Pada umumnya saksi adalah perempuan. Mereka telah kehilangan suami dan anak laki laki mereka. Sering mereka tidak mengetahui bagaimana mereka dibunuh atau dimana mereka, apakah mungkin masih hidup atau berada di penjara. Perempuan perempuan ini kurang menceritakan perderitaan mereka meskipun mereka sendiri menderita akibat penangkapan dan penyiksaan.
Para saksi tidak pernah duduk sendiri di depan Komisi melainkan mereka didampingi oleh satu atau dua orang yang mereka pilih sendiri untuk mendampingi mereka yang akan menghibur mereka jikalau mereka bersedih dan menangis. Pada proses ini terjadi tangisan yang begitu banyak oleh sebab itu peristiwa ini juga sering di ejek sebagai "Cry Commision" (komisi menangis). Namun ejekan ini menjadi gelar terhormat karena komisi ini telah menghapus air mata, air mata dari penderitaan, kedukaan, kemarahan bahkan kadang kadang juga air mata penghiburan.
Tidak semua korban adalah kaum yang berkulit hitam. Tugas yang diberikan oleh parlemen kepada Komisi ini adalah menyelidiki pelanggaran HAM yang terjadi terhadap dua kelompok yang berkonflik. Sejak hari pertama proses ini di East London seorang yang berkulit putih setengahbaya menceritakan pengalamannya sebagai korban. Ia terkena bom yang dilakukan oleh aktivis kulit hitam sehingga tangannya terpotong. Tutu sangat menghargai cerita korban ini untuk mengungkapkan bahwa ada juga dari kaum yang berkulit putih yang melakukan tindakan kekerasan. Para hadirin di aula dan semua orang di negara (Afsel) melalui siaran radio dan televisi hendaknya mengetahui cara kerja Komisi yang netral.
Proses mendengarkan korban tidak selalu melelahkan seperti pada awalnya di east London namun selalu memiliki semangat yang sama dan respek yang sama terhadap para korban. Ini berjalan 2 tahun lamanya di kota kota besar dan di desa desa yang terpencil di setiap sudut Afsel. Pada umumnya orang orang biasa yang dimunculkan oleh Komisi, mereka yang melalui raut wajahnya adalah pekerja (buruh) keras yang menderita dan bertanya terus: mengapa mereka melakukan itu kepada kami? mengapa mereka memperlakukan kami lebih kejam dari pada mereka memperlakukan binatang? bagaimana mungkin hati mereka sangat keras terhadap orang orang yang paling kami cintai?.
"Di ruang mayat saya harus mengidentifikasi anak saya. Kami antri menunggu di depan rumah.... Tetesan darah hitam yang kental mengalir melalui bawah pintu keluar....Di dalam tercium bau darah yang menyengat yang tak tertahankan..... mayat mayat ditumpuk...saya menemukan mayat anak saya. Darah yang menetes dari tubuhnya yang sudah jadi mayat sudah menjadi hijau."
"Saya mendengar tembakan. Saya berlari,tergelincir dan tjatuh. Kemudian saya merayap menuju pintu rumah. Di atas tangga saya melihat anak laki lakiku dimana tangannya memegang kepala ayahnya yang berlumuran darah dan telah mati . Dia menangis dan berteriak: Papi, bicara denganku. Hari ini dia berusia 21 tahun. Saya selalu terbangun pada tengah malam karena teriakannya: bersihkan darah, bersihkan darah dari wajah ayahku."
Polisi menahan saya agar saya tidak pergi ke tempat interogasi. Saya menyelinap diantara kakinya akhirnya saya dapat masuk juga. Saya menemukan anak saya.... Bheki sudah terpotong potong. Bagian tubuhnya berserakan dimana mana. Bagian bagian otaknya berhamburan diruangan itu...Itulah akhir hayat Bheki.
Demikianlah bunyi kesaksian yang dinyatakan didepan Komisi. Mereka tidak hanya menceritakannya didepan hadirin di aula melainkan seantero negri karena media masa selalu merelay kejadian ini, karena semua orang di desa desa terpencil dapat mendengarkan radio dimana belum ada TV dan radio menyiarkan dalam berbagai macam bahasa termasuk bahasa daerah.
"Saya tengah membuat teh di kantor polisi. Saya mendengar suara yang keras dan melihat seseorang yang jatuh dari lantai atas melalui jendela dan jatuh ke lantai beton. Saya berlari keluar ternyata yang jatuh adalah anak saya, sebenarnya cucu saya tetapi saya yang membesarkannya."
Para saksi seperti penyampaian seorang pembantu ini telah didengarkan oleh orang orang Afsel selama dua tahun melalui berita di medis masa. Bukan mentri atau anggota parlemen, bukan pemimpin perusahaan atau para uskup yang menceritakan kisah kisah tersebut melainkan orang orang biasa menjadi penting untuk dikutip pada awal sebuah berita.
Siapa yang tidak mendengarkan radio, akan menonton di TV. Hampir setiap hari yaitu pada malam hari proses kerja Komisi Kebenaran ini (mendengarkan korban) dijadikan berita utama dan disiarkan secara detail. Setiap minggu malam ada acara setengah jam yang cukup menarik yang berhubungan dengan kerja Komisi tersebut.
Kehadiran dan perhatian yang sangat tinggi dari media masa mendapat akibat yang ganda: Para korban tidak saja mengungkapkan kisahnya di depan anggota Komisi melainkan di depan semua warga Afsel. Orang Afsel yang berkulit putih yang selama ini tidak mau melihat penderitaan sesama warganya yang berkulit hitam tidak dapat lagi berpendapat bahwa kisah kisah yang mengerikan dan kebrutalan yang dilakukan selama masa Apartheid berkuasa merupakan kisah fiktif dari media yang jahat. Tentu saja mereka tidak menonton kalau mereka tidak mau atau menghindar. Menurut laporan, cara khusus setiap minggu malam lebih banyak digemari oleh kaum berkulit hitam karena kulit putih tidak mau membuat rusak minggu malam mereka dengan acara tersebut.
Ada hal yang khusus pada minggu kedua proses tersebut di East London, Tutu membaca sebuah surat yang anonim yang diterima oleh Komisi. Surat tersebut ditulis dalam bahasa Afrikaans, bahasa orang Buren:
"Kemudian saya menangisi semuanya yang terjadi juga meskipun saya tidak dapat merubahnya lagi. Dan kemudian saya bertanya pada diriku sendiri, bagaimana mungkin bahwa orang tidak tahu, bahwa begitu sedikit upaya upaya untuk melawan (kebrutalan) dan saya sendiri juga sering hanya melihat. Dan saya bertanya selanjutnya, bagaimana orang dapat hidup dengan dosa dan kesalahan ini...Saya tidak tahu apa yang saya harus katakan atau apa yang dapat saya lakukan. Saya mohon, ampuni saya."