PENJELASAN
TENTANG HAKIKAT SIKAP EKSTRIM
DI
DALAM MENGISOLIR DAN MENVONIS BID’AH
Petikan dari ucapan para ulama
salafiyin
Bagian I : Kata Pengantar dan
Latar Belakang
اعداد :
أبو سلمى
الأثري
Kata Pengantar
الحمد
لله الذي ألف
بين قلوب
المؤمنين،
ورغبهم في
الاجتماع
والائتلاف،
وحذرهم من
التفرق والاختلاف،
وأشهد أن لا
إله إلا الله
وحده لا شريك
له، خلق فقدر،
وشرع فيسر،
وكان
بالمؤمنين
رحيماً،
وأشهد أن
محمداً عبده
ورسوله، الذي
أمر بالتيسير
والتبشير،
فقال: " يسروا
لا تعسروا،
وبشروا ولا
تنفروا "،
اللهم صلى
وسلم وبارك
عليه، وعلى
آله
المطهرين،
وأصحابه الذين
وصفهم الله
بأنهم أشداء
على الكفار
رُحماء
بينهم، وعلى
من تبعهم
بإحسان إلى
يوم الدين،
اللهم اهدني
واهد لي واهد
بي، اللهم طهر
من الغل
جناني، وسدد
لإصابة الحق
لساني، اللهم إني
أعوذ بك أن
أضل أو أُضل،
أو أزِل أو
أزَل، أو أظلم
أو أُظلم، أو
أجهل أو يُجهل
علي. أما
بعد:
Segala puji hanyalah milik Alloh yang telah
mempertautkan hati kaum mukminin dan menganjurkan mereka supaya bersatu padu dan
saling berhimpun serta memperingatkan dari perpecahan dan perselisihan. Saya
bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq untuk disembah melainkan hanyalah
Alloh semata yang tidak memiliki sekutu. Dialah yang mensyariatkan dan
memudahkan, dan Dia terhadap kaum mukminin adalah sangat penyantun. Saya juga
bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, yang diperintahkan dengan
kemudahan dan berita gembira. Beliau bersabda : ”Permudahlah dan janganlah
kamu persulit, berikanlah kabar gembira dan janganlah membuat orang lari (dari
kebenaran).”
Ya Alloh limpahkan sholawat, salam dan berkah kepada
beliau, kepada keluarganya yang suci dan kepada para sahabatnya yang mana Alloh
mensifatkan mereka sebagai kaum yang keras terhadap kaum kafir dan lemah lembut
diantara mereka, serta kepada siapa saja yang mengikuti mereka hingga hari
kiamat kelak.
Ya Alloh tunjukilah diriku, tunjukkan (kebenaran)
untukku dan tunjukilah denganku (orang lain). Ya Alloh sucikanlah hatiku dari
rasa dengki dan luruskan lisanku dalam menyampaikan kebenaran. Ya Alloh, aku
berlindung kepada-Mu dari menyesatkan (orang lain) dan disesatkan, dari
menggelincirkan (orang lain) dan digelincirkan, atau menzhalimi dan dizhalimi,
atau membodohi dan dibodohi. Amma Ba’du :[1]
Di tanah air ini, fenomena saling mencela, menghajr,
mentahdzir hingga bahkan mentabdi’ adalah suatu hal yang lumrah.
Uniknya fenomena ini lebih tampak terjadi pada orang-orang yang
mengklaim sebagai salafiyun ahlus sunnah. Walaupun kitab dan ulama
rujukannya (mayoritas) sama, namun perselisihan dan perpecahan malah makin
subur dan semarak. Di tengah-tengah fenomena hajr dan tabdi’ ini
muncul 3 kutub yang saling berseberangan dan semuanya saling mengklaim di atas
al-Haq, yaitu :
Namun, setiap kelompok yang mengaku sebagai
salafiyun juga mengklaim bahwa mereka adalah ahlul wasth wal ’adl (kelompok
yang moderat dan pertengahan). Namun pengakuan atau klaim belaka tanpa bukti
hanyalah isapan jempol belaka.
Faqihuz Zaman Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin
berkata memberikan penjelasan siapakah salafiyun ahlus sunnah itu :
السلفية
هي اتباء منهج
النبي صلى
الله عليه و
سلم وأصحبه
لأنه مَن سلفنا
تقدموا علينا,
فاتباعهم هو
السلفية. وأما
اتخاذ
السلفية
كمنهج خاص
ينفرد به
الإنسان ويضلّل
من خالفه من
المسلمين ولو
كانوا على حقّ
فلا شك أن هذا
خلاف السلفية.
“Salafiyyah adalah ittiba’(penauladanan)
terhadap manhaj Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan
sahabat-sahabatnya, dikarenakan mereka adalah salaf kita yang telah mendahului
kita. Maka, ittiba’ terhadap mereka adalah salafiyyah. Adapun menjadikan
salafiyyah sebagai manhaj khusus yang tersendiri dengan menvonis sesat
orang-orang yang menyelisihinya walaupun mereka berada di atas
kebenaran, maka tidak diragukan lagi bahwa hal ini menyelisihi salafiyyah!!!”
Beliau rahimahullahu melanjutkan :
لكن
بعض من انتهج السلفية
في عصرنا هذا
صار يضلل كل
من خالفه ولو
كان الحق معه
واتخاذها
بعضهم منهجا
حزبيا كمنهج
الأحزاب
الأخرى التي
تنتسب إلى
الإسلام وهذا
هو الذي ينكر
ولا يمكن
إقراره.
“Akan
tetapi, sebagian orang yang meniti manhaj salaf pada zaman ini, menjadikan
(manhajnya) dengan menvonis sesat setiap orang yang menyelisihinya walaupun
kebenaran besertanya. Dan sebagian mereka menjadikan manhajnya seperti manhaj
hizbiyah atau sebagaimana manhaj-manhaj hizbi lainnya yang memecah belah Islam.
Hal ini adalah perkara yang harus ditolak dan tidak boleh ditetapkan.”
Syaikh melanjutkan lagi :
فالسلفية
بمعنى أن تكون
حزبا خاصا له
مميزاته و
يضلل أفراده
سواهم فهؤلاء ليسوا
من السلفية
شيء. وأما
السلفية التي
هي اتباع منهج
السلف عقيدة
وقولا وعملا
واختلافا
واتفاقا
وتراحما
وتوادا كما
قال النبي صلى
الله عليه و
سلم ((مثل
المؤمنين في
توادهم
وتراحمهم
وتعاطفهم
كمثل الجسد الواحد
إذا اشتكى منه
عضو تداعى له
سائر الجسد بالحمى
والسهر)). فهذه
هي السلفية
الحقة.
“Jadi, salafiyah yang bermakna sebagai suatu
kelompok khusus, yang mana di dalamnya mereka membedakan diri (selalu ingin
tampil beda) dan menvonis sesat selain mereka, maka mereka bukanlah termasuk
salafiyah sedikitpun!!! Dan adapun salafiyah yang ittiba’ terhadap
manhaj salaf baik dalam hal aqidah, ucapan, amalan, perselisihan, persatuan,
cinta kasih dan kasih sayang sebagaimana sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa
Sallam :
((مثل
المؤمنين في
توادهم
وتراحمهم
وتعاطفهم كمثل
الجسد الواحد
إذا اشتكى منه
عضو تداعى له
سائر الجسد
بالحمى
والسهر))
“Permisalan kaum mukminin satu dengan lainnya dalam
hal kasih sayang, tolong menolong dan kecintaan, bagaikan tubuh yang satu, jika
salah satu anggotanya mengeluh sakit, maka seluruh tubuh akan merasa demam atau
terjaga.
Maka inilah salafiyah yang hakiki!!!”.[2]
Inilah salafiyah yang disebutkan oleh Faqiihuz
Zaman al-Allamah Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullahu. Yaitu
salafiyah pada segala sisi, baik aqidah, amalan, persatuan, akhlak dan
sebagainya. Adapun salafiyah yang membawa bendera fanatik pada ustadznya,
menjadikannya sebagai landasan di dalam wala’ dan baro’,
menyalahkan dan menvonis sesat siapa saja yang menyelisihinya, bersikap keras
lagi kaku, maka ini bukanlah salafiyah sama sekali. Terutama dari masalah
akhlaq, banyak para pengklaim sebagai salafiyun yang paling sejati akhlaqnya
tidaklah menunjukkan kesalafiyahannya sama sekali, padahal salafiyah di dalam
masalah berakhlaq adalah :
هم
أحسن الناس
أخلاقاً
وأكثرهم
حلماً وسماحة
وتواضعاً،
وأحرصهم دعوة
إلى مكارم
الأخلاق
ومحاسن
الأعمال من
طلاقة الوجه،
وإفشاء السلام،
وإطعام
الطعام، وكظم
الغيظ، وكف
الأذى عن
الناس
واحتماله
منهم،
والايثار
والسعي فى قضاء
الحاجات،
وبذل الجاه في
الشفاعات،
والتلطف
بالفقراء،
والتحبب إلى
الجيران
والأقرباء،
والرفق
بالطلبة
واعانتهم
وبرهم، وبر الوالدين
والعلماء،
وخفض الجناح
لهما قال تعالى:)
وَإِنَّكَ
لَعَلَى
خُلُقٍ
عَظِيمٍ( (القلم:4) وقال صلى
الله عليه
وسلم:"أثقل شئ
فى الميزان الخلق
الحسن" صحيح
رواه الإمام
أحمد.
“Mereka
adalah manusia yang paling baik akhlaknya, paling banyak bersikap lembut,
lapang dan tawadhu’-nya. Mereka adalah yang paling bersemangat berdakwah
menyeru kepada akhlak yang mulia dan amal yang paling bagus, dengan wajah yang
ceria, menyebarkan salam, memberikan makan, menahan marah, menghilangkan
kesusahan manusia, mendahulukan kepentingan kaum muslimin dan berusaha memenuhi
kebutuhan mereka. Mereka senantiasa mengerahkan daya upaya di dalam menolong
mereka, bersikap lembut dengan fakir miskin, bersikap kasih sayang terhadap
tetangga dan kerabat, lemah lembut dengan penuntut ilmu, menolong dan berbuat
kebajikan kepada mereka, berbakti kepada orang tua dan ulama dan memelihara
kedua orang tua (di waktu tuanya). Alloh Ta’ala berfirman :
) وَإِنَّكَ
لَعَلَى
خُلُقٍ
عَظِيمٍ(
“Sesungguhnya
pada dirimu (Muhammad) terdapat akhlak yang agung” (al-Qolam : 4) dan
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda :
((أثقل
شئ فى الميزان
الخلق الحسن))
“Sesuatu
yang paling berat di timbangan adalah akhlak yang baik.” Shahih
diriwayatkan oleh Imam Ahmad.”[3]
Oleh
karena itu hendaklah kita semua saling introspeksi diri, saling menasehati di
dalam kebenaran dan takwa dan saling bekerja sama di dalam kebajikan dan ketakwaan.
Kewajiban Ahlus Sunnah saat ini adalah :
ولا
شك أن الواجب
على أهل السنة
في كل زمان ومكان
التآلف
والتراحم
فيما بينهم،
والتعاون على
البر والتقوى. وإن
مما يؤسف له
في هذا الزمان
ما حصل من بعض
أهل السنة من
وحشة
واختلاف، مما
ترتب عليه انشغال
بعضهم ببعض تجريحاً
وتحذيراً
وهجراً، وكان
الواجب أن تكون
جهودهم
جميعاً موجهة
إلى غيرهم من
الكفار وأهل
البدع
المناوئين
لأهل السنة،
وأن يكونوا
فيما بينهم
متآلفين
متراحمين،
يذكر بعضهم بعضاً
برفق ولين.
“Tidak
ragu lagi, bahwa kewajiban Ahlus Sunnah di setiap zaman dan tempat adalah
saling bersatu dan menyayangi di antara mereka serta saling bekerja sama di
dalam kebajikan dan ketakwaan. Dan suatu hal yang sungguh disayangkan pada
zaman ini adalah, apa yang terjadi pada sebagian Ahlus Sunnah berupa pertikaian
dan perselisihan, yang berimplikasi pada sibuknya mereka satu dengan lainnya di
dalam mencela, mentahdzir dan menghajr. Padahal seharusnya mereka
kerahkan seluruh kesungguhan mereka ini dan mereka tujukan kepada selain mereka
dari kaum kuffar dan ahlul bid’ah yang senantiasa memusuhi Ahlus Sunnah. Mereka
seharusnya menjalin persatuan dan kasih sayang dan saling mengingatkan satu
sama lainnya dengan kelemahlembutan dan cara yang halus.”[4]
Latar Belakang
Sesungguhnya,
telah banyak ahlul ilmi dan para penuntut ilmu yang telah mendahului saya di
dalam menuliskan risalah semacam ini. Semua ini berangkat dari respon dan
reaksi atas fenomena dan realita yang terjadi di tengah-tengah maraknya
aktivitas hajr, jarh, tahdzir, bahkan tabdi’ di antara barisan
salafiyin. Mereka juga membongkar kejahatan sikap ghuluw di dalam tabdi’
dan hajr yang tengah mewabah
saat ini. Berikut ini saya sebutkan diantaranya, dan alangkah lebih baik jika
yang saya sebutkan ini bisa dirujuk semua atau sebagiannya :
Dan masih
banyak lainnya yang tidak mungkin disebutkan satu persatu.
Para du’at
dan penuntut ilmu salafiyin di
Dan masih
banyak lagi sebenarnya para du’at dan penuntut ilmu yang tidak
disebutkan di sini.
Perlu
ditambahkan, di tengah upaya yang positif dan kontributif ini, dalam rangka munashohah
(saling menasehati) dan mengupayakan sebab-sebab ishlah dan persatuan ini,
ada sebagian kalangan yang mungkin telah ter’makan’ oleh madzhab ghuluw
dan ashobiyah (fanatisme) menolak bahkan mencela secara serampangan
tanpa dilandasi oleh ilmu upaya ini. Di sisi lain, ada pula sebagian mereka
yang taqshir dan tanpa dilandasi ilmu –terutama ilmu tentang dakwah
salafiyah- turut ambil bagian di dalam upaya ini, yang berangkat dengan niat
turut membawa perbaikan (ishlah), namun pada kenyataannya malah merusak
tatanan dan pilar dakwah salafiyah, dikarenakan ketiadafahamannya akan dakwah
salafiyah mubarokah ini. Iya! Dan yang saya maksudkan adalah al-Akh Abu
Abdurrahman ath-Thalibi hadahullahu dalam buku “best seller”-nya yang
berjudul “Dakwah Salafiyah
Dakwah Bijak”.[14]
Buku ini
konon sangat laris bak kacang goreng. Walaupun penulisnya majhul
di kalangan dakwah salafiyah, namun ada sebagian saudara kita salafiyun turut
ter’makan’ oleh buku ini. Sesungguhnya buku ini dari zhahirnya adalah
rahmat namun isinya adalah adzab. Diantara implikasi negatif terbitnya buku ini
adalah, munculnya tafriq (pemecahbelahan) dan taqsim
(pemilah-milahan) dakwah salafiyah menjadi Salafiyah Yamaniyah[15] dan Salafiyah
Harokah. Ini adalah taqsim yang muhdats (bid’ah) lagi buruk.
Syaikhuna
Salim bin Ied al-Hilaly hafizhahullahu membatalkan taqsim
(pemilah-milahan) seperti ini di dalam ucapannya pada saat penutupan
Dauroh di Masjid Al-Irsyad Surabaya tahun 2001 silam, beliau berkata :
« ... فإنّ من
ثبت سلفيته
أخٌ لنا سواء
كان في مشرق الأرض
أو في مغربها...
أما تفريق
الدعوة السلفية
بأنّ هذه
سلفيةٌ
شاميةٌ أو
سلفيةٌ حجازيةٌ
أو سلفيةٌ
مغربيةٌ أو
سلفيةٌ
يمنيةٌ فإن
نبرأ إلى ذلك
فإنّ سلفية
واحدة, مات
ائمتُنا وهم
متّفقون
عليها, مات
الألباني وهو
محبّ لإبن باز
ومات إبن باز
وهو محبّ
للألباني
ومات إبن
عثيمن وهو
محبّ لهما
ومات درّة
اليمن الشيخ
مقبل وهو محبّ
للجميع... »
“Karena sesungguhnya,
barangsiapa yang telah tetap kesalafiyahannya maka dia adalah saudara kita,
sama saja baik dia berada dari bagian barat bumi ataupun timurnya… Adapun
memilah-milah dakwah salafiyah menjadi salafiyah Syamiyah atau Salafiyah
Hijaziyah atau Salafiyah Maghribiyah atau Salafiyah Yamaniyah, maka kami
berlepas diri dari pemilah-milahan ini, karena salafiyah itu satu!!! Telah
wafat para imam kita dan mereka semua bersepakat di atasnya, telah wafat
al-Albani dan beliau mencintai Ibnu Baz, telah wafat Ibnu Baz dan beliau
mencintai al-Albani, telah wafat pula Ibnu ‘Utsaimin dan beliau mencintai
keduanya, serta telah wafat permata negeri Yaman, Syaikh Muqbil dan beliau
mencintai seluruhnya…”[16]
Beliau hafizhahullahu
juga berkata :
« ... وأننا
بفضل الله
نشرنا هذا
المنهج في
مشارق الأرض
وفي مغاربه لا
نفرّق بين
السلفيّين و
لا نفضّل
بعضَهم على
بعضٍ بل نجمعَ
شملهم وندعوا
إلى الصلح
بينهم وندعوا
إلى التوفيق
بينهم ... »
“Dan kami
dengan fadilah dari Alloh, menyebarkan manhaj ini di bumi bagian timur dan
barat, dan kami tidak memilah-milah di antara salafiyin, kami tidak
mengutamakan antara satu dengan lainnya, namun kami persatukan kalimat mereka
dan kami ajak mereka kepada perdamaian di antara mereka serta kami seru mereka
kepada saling meluruskan di antara mereka…”[17]
Apa yang
saya lakukan di dalam menyusun risalah ini adalah suatu upaya sederhana untuk
turut memberikan kontribusi di dalam memberikan nasehat, klarifikasi,
kritikan dan masukan, baik untuk diri
saya sendiri maupun selainnya. Saya di sini tidak lebih dan tidak bukan
hanyalah menyokong dan mendukung apa yang telah dituangkan oleh saudara saya
yang mulia, al-Ustadz Abu Abdil Muhsin Firanda di dalam bukunya “Lerai Pertikaian Sudahi Permusuhan”. Saya juga turut sedikit memberikan jawaban dan
klarifikasi terhadap syubuhat yang dilontarkan oleh saudara-saudara saya
salafiyin yang terpengaruh oleh faham ghuluw ini di bab akhir risalah
ini.
وأسأل
الله عز وجل
أن يوفق
الجميع لما
فيه تحصيل
العلم النافع
والعمل به
والدعوة إليه
على بصيرة،
وأن يجمعهم
على الحق
والهدى،
ويسلمهم من
الفتن ما ظهر
منها وما بطن،
إنه ولي ذلك والقادر
عليه، وصلى
الله وسلم
وبارك على عبده
ورسوله نبينا
محمد وعلى آله
وصحبه ومن
تبعهم بإحسان
إلى يوم
الدين.
Saya memohon pada Allah ‘Azza wa
Jalla semoga memberikan Taufiq-Nya kepada (kita) seluruhnya untuk mendapatkan
ilmu yang bermanfa’at dan beramal dengannya serta berda’wah kepadanya di atas
hujjah yang nyata, dan semoga Ia mengumpulkan kita semuanya di atas kebenaran
dan petunjuk dan menyelamatkan kita semuanya dari berbagai fitnah baik yang
nyata maupun yang tersembunyi. Sesungguhnya Allah Maha penolong atas segala hal
dan Dia Maha kuasa atasnya. Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam serta
keberkahan kepada hamba-Nya dan Rasul-Nya Nabi kita Muhammad dan kepada
keluarga serta para sahabatnya dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan
baik sampai hari kemudian.[18]
Al-Faqir ila ‘Afwa Robbihi
Abu Salma al-Atsari
[1] Dinukil dari Muqoddimah Rifqon Ahlas
Sunnah bi Ahlis Sunnah oleh al-Allamah Abdul Muhsin al-‘Abbad, tanpa penerbit,
cet. I, 1423 H./2003 M., hal. 3.
[2] Liqo’ul Babil Maftuuh, pertanyaan
no. 1322 oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin; dinukil dari Aqwaalu
wa Fataawa al-Ulama’ fit Tahdziri min Jama’atil Hajr wat Tabdi’, penghimpun
: Kumpulan Para Penuntut Ilmu, cet. II, 1423/2003, tanpa penerbit.
[3] Hiyas Salafiyyah Fa’rifuhaa karya
Samir al-Mabhuh al-Kuwaiti. Didownload dari www.sahab.org.
[4] Ucapan al-‘Allamah ‘Abdul Muhsin al-‘Abbad
dalam Rifqon Ahlas Sunnah bi Ahlis Sunnah. Op.Cit., hal. 7-8.
[5] Beberapa penulis menukil ucapan beliau ini
sebagai ibrah di dalam menjelaskan manhaj yang shahih di dalam
masalah tabdi’ dan hajr. Di antaranya adalah seperti yang
dilakukan oleh Syaikh ‘Amru ‘Abdul Mun’im Salim di dalam bukunya Manhaj
as-Salafiy ‘inda asy-Syaikh Nashiruddin al-Albani dan al-Ushul allati
bana ‘alaiha ghulatu madzhabihim fit tabdi’, dan Syaikh Said bin Shabir
Abduh di dalam kitabnya Muzilul Ilbas fi Ahkam ‘alan Naasi. Demikian
pula cuplikannya terdapat di dalam buku al-Akh al-Ustadz Firanda yang berjudul
“Lerai Pertikaian Sudahi Permusuhan”. Bagi yang menghendaki kelengkapan
terjemahan tceramah Syaikh al-Albani rahimahullahu ini bisa didownload
di http://www.geocities.com/fsms_sunnah.
[6] Buku ini telah diterjemahkan dan
diterbitkan oleh Pustaka Imam Bukhari – Solo.
[7]
[8] Buku ini terbit sebagai respon adanya
beberapa ulama yang mentahdzir risalah Rifqon beliau sehingga beliau
perlu untuk mengklarifikasi dan menjelaskan akan kesalahan mereka. Bahkan pasca
buku ini terbit, beberapa oknum dari kaum ghulat semisal Falih al-Harbi
dan Fauzi al-Bahraini terbongkar hakikat dan kedok manhajnya yang serupa dengan
kaum Ghulat dan Haddadiyah Jadidah. Bab terakhir risalah ini yang
berjudul at-Tahdzir min Fitnati at-Tajrih wat Tabdi’ min Ba’dli Ahlis Sunnah
fi Hadzal ‘Ashr telah diterjemahkan, bisa dicopy di http://www.geocities.com/abu_amman/rifqon.htm
atau di dalam http://muslim.or.id
yang sedang diterjemahkan secara berkala keseluruhan risalah ini oleh seorang ukhtun
alumni LBIA Yogyakarta –fa jazzahallahu khoyrol jazaa’-.
[9] Risalah ini sebenarnya adalah transkrip
ceramah yang disampaikan oleh Syaikh di hadapan mahasiswa Islamic University of
Madinah, yang ditranskrip oleh masyaikh Markaz al-Imam al-Albani dan disebarkan
di dalam booklet resmi Markaz al-Imam al-Albani. Risalah ini telah
diterjemahkan, bisa dicopy di http://www.geocities.com/abu_amman/
(Maktabah Abu Salma).
[10] Syaikh Ibrahim ar-Ruhaili tercatat sudah
memiliki dua nasehat berharga bagi salafiyin terutama salafiyun
[11] Seperti artikel “Bahtera Dakwah Salafiyah
di Indonesia”, “Dilema Tahdzir Antara Sebuah Tuntutan Dakwah dan Tumbal
Sensasi…”, dll. Semuanya dapat dicopy di www.muslim.or.id.
[12] Seperti Tanya jawab yang beliau asuh di www.muslim.or.id
yang berjudul “Fiotnah Sururi”, “Anda Salah Faham”, dll…
[13] Buku ini yang paling komprehensif, ilmiah
dan lengkap pembahasannya. Isinya sarat dengan faidah dan manfaat yang dapat
menghilangkan syubuhat dan kerancuan bagi orang-orang yang obyektif di dalam
membacanya walaupun ada beberapa kalangan yang mencela dan menolaknya. Apabila
buku seorang alim besar semisal al-Allamah Abdul Muhsin al-Abbad saja ada fihak
yang menolak, mengkritik bahkan mencelanya, maka apalagi buku yang ditulis oleh
al-Ustadz Firanda ini. Kritikan demi kritikan terus datang bertubi-tubi, ada
yang ilmiah dan adapula yang berupa celaan dan makian belaka. Namun,
alhamdulillah, hal ini tidak menyurutkan beliau, bahkan beliau di dalam cetakan
keduanya menambah beberapa hal yang bermanfaat yang semakin mengokohkan isi
buku ini. Pada cetakan kedua buku ini, al-Ustadz menambahkan di dalamnya kata
pengantar dari 3 asatidzah yang mulia, yaitu al-Ustadz Abu ‘Auf at-Tamimi,
al-Ustadz Abu Ihsan dan al-Ustadz Ahmas Faiz Asifuddin hafizhahumullahu
ajma’in. Beliau juga memperkaya dengan tambahan fatwa-fatwa yang bermanfaat
dan nukilan-nukilan tambahan yang berfaidah. Alhamdulillah. Semoga Alloh
membalas kebaikan bagi penulisnya dan menjadikan bukunya bermanfaat bagi Islam
dan kaum muslimin.
[14] Saya belum membaca keseluruhan buku ini.
Namun saya pernah membaca sebagian dengan metode scan reading (membaca
cepat dengan melompat-lompat tiap halaman hanya untuk mengetahui isi buku ini).
Saya tidak begitu tertarik membaca buku ini secara keseluruhan karena tidak ada
yang spesial pada buku ini. Namun, saya agak terperanjat ketika melihat dan
mendengar berita bahwa buku ini sangat laris. Wallahu a’lam, apakah
laris di kalangan ikhwah salafiyah ataukah laris di kalangan saudara-saudara
kita harokiyin dan hizbiyin yang bisa dijadikan ‘rudal’ oleh
mereka untuk menyerang dakwah mubarokah ini.
[15] Istilah ini semakin ngetrend di forum-forum
internet yang isinya kebanyakan mencela dakwah salafiyah. Istilah ini semakin
terkenal lagi setelah al-Ustadz Abduh Zulfidar Akaha –hadahullahu-
mempergunakannya di dalam bukunya yang berjudul “Siapa Teroris Siapa
Khowarij?” (bantahan terhadap buku “Mereka adalah teroris” karya
al-Ustadz Luqman Ba’abduh,) terbitan Pustaka al-Kautsar. Saya telah membaca
buku ini dari A sampai Z-nya, dan ada beberapa mulahadhot (catatan) yang
perlu diberikan terhadap buku ini. Syubuhat di dalamnya sangat luar biasa
sekali, karena penulis selain memiliki bekal pengalaman yang ‘lebih’ di dalam
dunia jurnalistik, penulis juga cukup aktif mencari sumber, data dan fakta
dengan surfing dan browsing di dunia maya. Sehingga tidak kurang
dari 50 persen isi bukunya berkisar dari sumber internet. Metode jurnalis bak
wartawan sangat kentara di dalam bukunya ini. Apabila Alloh meberikan waktu
luang maka saya akan sedikit memberikan beberapa catatan ringan dan singkat
terhadap buku yang konon sangat ‘fenomenal’ ini.
[16] Ceramah Syaikh Salim al-Hilali yang
disampaikan pada saat penutupan Dauroh fi Masa`ilil Aqodiyah wal Manhajiyah
di Masjid Al-Irsyad, tahun 2001 silam. Dauroh ini dilaksanakan atas kerjasama
Ma’had ‘Ali Al-Irsyad as-Salafi bekerjasama dengan Markaz al-Imam al-Albani
Yordania. (rekaman MP-3 menit ke-11:51-12:40).
[17] Ibid. Menit ke-13:29-13-50).