PENJELASAN
TENTANG HAKIKAT SIKAP EKSTRIM
DI
DALAM MENGISOLIR DAN MENVONIS BID’AH
Petikan dari ucapan para ulama salafiyin
اعداد :
أبو سلمى
الأثري
Ucapan
Samahatul Imam
Abdul Aziz
bin Abdillah bin Bazz
Samahatul Imam Abdullah bin
Abdil Aziz bin Bazz rahimahullahu
ditanya tentang bagaimana sikap seorang muslim yang berada di atas sunnah nabi
Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, sedangkan ia memiliki hubungan erat
(nasab) dengan kelompok yang mengamalkan bid’ah seperti menambah lafazh adzan
dengan asyhadu anna ‘Aliyya waliyyullah
dan hayya ‘ala khayril ‘amal, mereka
juga mengatakan bahwa keturunan Muhammad dan Ali adalah sebaik-baik keturunan,
serta melakukan aqiqoh bid’ah di saat ada kerabat yang meninggal dengan
memotong domba dan tidak menghancurkan tulangnya, namun tulang dan kotorannya
dikuburkan dengan anggapan hal ini adalah baik dan wajib diamalkan. Kemudian
beliau rahimahullahu juga ditanya
apakah boleh menikahi mereka, berlemah lembut dengan mereka, menghadiri
walimah-walimah mereka padahal mereka menunjukkan aqidah mereka secara
terang-terangan dan mereka mengklaim bahwa mereka adalah al-Firqoh an-Najiyah dan selain mereka adalah di atas kebatilan.
Syaikh rahimahullahu pertama menjawab tentang bid’ahnya lafazh adzan dan
aqiqoh bid’ah di atas, kemudian beliau menjawab tentang bagaimana sikap muslim
yang berada di atas sunnah di dalam mensikapi mereka sebagai berikut :
وأما
قول السائل ما
موقف المسلم
الذي على
السنة
المحمدية وله
بهذه الطائفة
رابطة نسب هل
يوادهم بمعنى
يكرمهم
ويكرمونه
ويتزوج منهم
ويزوجهم مع
العلم بأنهم
يجاهرون بعقيدتهم
ويقولون إنهم
الفرقة
الناجية
وأنهم على
الحق ونحن على
الباطل . . ؟
”Adapun pertanyaan penanya bagaimana
sikap seorang muslim yang berada di atas Sunnah al-Muhammadiyah
sedangkan dia dengan kelompok ini memiliki ikatan darah (nasab), apakah ia
(perlu) menyayangi mereka dengan artian memuliakan mereka sehingga mereka juga
turut memuliakannya, dan menikahi (wanita) dari kalangan mereka serta
menikahkan mereka, padahal telah diketahui bahwa mereka menampakkan aqidah
mereka secara terang-terangan dan mereka mengatakan bahwa mereka adalah al-Firqoh
an-Najiyah dan mereka (mengklaim) berada di atas kebenaran sedangkan kita
di atas kebatilan...?”
والجواب
: إذا كانت
عقيدتهم هي ما
تقدم في الأسئلة
مع موافقة أهل
السنة في
توحيد الله
سبحانه
وإخلاص
العبادة لله
وعدم الشرك به
لا بأهل البيت
ولا بغيرهم
فلا مانع من
تزويجهم
والتزوج منهم
وأكل ذبائحهم
والمشاركة في
ولائمهم وموادتهم
على قدر ما
معهم من الحق
وبغضهم على
قدر ما معهم
من الباطل؛
لأنهم مسلمون
قد اقترفوا
أشياء من
البدع
والمعاصي لا
تخرجهم من
دائرة
الإسلام
”Maka jawabnya : Jika aqidah
mereka adalah sebagaimana yang dikemukakan di dalam pertanyaan sebelumnya, (yaitu)
tetap mensepakati ahlus sunnah di dalam tauhidullah subhanahu wa Ta’ala dan mengkihlaskan ibadah hanya untuk-Nya semata
tanpa mensekutukan-Nya dengan sesuatu apapun baik dengan ahlul bait atau
selainnya, maka tidaklah mengapa menikahkan mereka dan menikah dengan mereka,
memakan sembelihan mereka dan berkumpul (menghadiri) di walimah-walimah mereka.
Kita menyayangi mereka sebatas kebenaran yang ada pada mereka dan kita membenci
terhadap kebatilan yang mereka miliki, karena sesungguhnya mereka adalah kaum
muslimin yang terhimpun pada mereka sesuatu dari kebid’ahan dan kemaksiatan
yang tidak sampai mengeluarkan mereka dari lingkaran Islam.”
وتجب
نصيحتهم
وتوجيههم إلى
السنة والحق
وتحذيرهم من
البدع
والمعاصي فإن
استقاموا
وقبلوا
النصيحة
فالحمد لله
وهذا هو المطلوب
، أما إن
أصروا على
البدع
المذكورة في الأسئلة
فإنه يجب
هجرهم وعدم
المشاركة في
ولائمهم حتى
يتوبوا إلى
الله ويتركوا
البدع والمنكرات
كما هجر النبي
صلى الله عليه
وسلم كعب بن
مالك
الأنصاري
وصاحبيه لما
تخلفوا عن غزوة
تبوك بغير عذر
شرعي
”Maka wajib menasehati
dan mengarahkan mereka kepada as-Sunnah dan al-Haq, serta memperingatkan mereka
dari kebid’ahan dan kemaksiatan. Jika mereka berlaku lurus dan menerima
nasehat, falhamdulillah, maka inilah yang dituju/dikehendaki. Jika
mereka masih bersikeras dengan bid’ah-bid’ah yang disebutkan di pertanyaan
tadi, maka wajib menghajr mereka dan tidak boleh menghadiri
walimah-walimah mereka hingga mereka mau bertaubat kepada Allah dan
meninggalkan kebid’ahan dan kemungkaran. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa Sallam menghajr Ka’ab bin Malik
al-Anshari dan dua orang rekannya yang tidak turut berperang di perang Tabuk
tanpa udzur syar’i.”
وإذا
رأى قريبهم أو
مجاورهم أن
عدم الهجر
أصلح وأن
الاختلاط بهم
ونصيحتهم
أكثر فائدة في
الدين وأقرب
إلى قبولهم
الحق فلا مانع
من ترك الهجر؛
لأن المقصود
من الهجر هو
توجيههم إلى
الخير
وإشعارهم
بعدم الرضا
بما هم عليه
من المنكر
ليرجعوا عن
ذلك
”Namun jika seseorang
memandang bahwa tidak menghajr teman atau tetangganya adalah lebih bermashlahat
dan bercampur dengan mereka serta menasehati mereka lebih dekat dengan
penerimaan mereka kepada kebenaran, maka tidak terlarang meninggalkan hajr.
Karena tujuan dari hajr adalah mengarahkan mereka kepada kebaikan atau
mensyiarkan ketidakridhaan terhadap kemungkaran agar mereka mau kembali (ruju’)
dari kemungkaran tersebut.”
فإذا
كان الهجر يضر
المصلحة
الإسلامية
ويزيدهم
تمسكا
بباطلهم
ونفرة من أهل
الحق كان تركه
أصلح كما ترك
النبي صلى
الله عليه
وسلم هجر عبد
الله بن أبي
بن سلول رأس
المنافقين
لما كان ترك
هجره أصلح
للمسلمين
”Jika sekiranya hajr
akan merusak mashlahat Islami dan semakin menambah mereka untuk
berpegang dengan kebatilan dan mereka lari dari ahlul haq, maka meninggalkan hajr
lebih bermashlahat, sebagaimana nabi meninggalkan hajr kepada
Abdullah bin Ubai bin Salul, pimpinan kaum munafikin, yang mana ketika nabi
tidak menghajrnya adalah demi kemashlahatan kaum muslimin.”
أما
إن كانت هذه
الطائفة تعبد
أهل البيت
كعلي وفاطمة
والحسن
والحسين رضي
الله عنهم أو
غيرهم من أهل
البيت
بدعائهم
والاستغاثة بهم
وطلبهم المدد
ونحو ذلك ، أو
كانت تعتقد أنهم
يعلمون الغيب
أو نحو ذلك
مما يوجب
خروجهم من
الإسلام ،
فإنهم والحال
ما ذكر لا
يجوز
مناكحتهم ولا
مودتهم ولا أكل
ذبائحهم بل
يجب بغضهم
والبراءة
منهم حتى يؤمنوا
بالله وحده …
”Namun, jika kelompok ini
menyembah ahlul bait seperti Ali, Fathimah, Husain atau Hasan Radhiyallohu ’anhum, atau
mempersembahkan do’a kepada mereka, beristighotsah dan memohon pertolongan atau
semacamnya kepada mereka, atau meyakini bahwa mereka mengetahui perkara yang
ghaib atau semacamnya dari amalan-amalan yang mewajibkan pelakunya keluar dari
Islam. Maka sesungguhnya mereka dan perkara-perkara yang disebutkan (di atas)
menyebabkan tidak boleh menikahi mereka, tidak pula mengasihi mereka, tidak
memakan sembelihan mereka, bahkan wajib membenci dan berlepas diri dari mereka,
hingga mereka beriman kepada Allah Ta’ala semata…”
Lantas syaikh menyebutkan
dalil-dalil pengharaman syirik, dan beliau rahimahullahu
melanjutkan jawabannya :
أما
قول هذه
الطائفة أنهم
الفرقة
الناجية وأنهم
على الحق
وغيرهم على
الباطل
فالجواب عنه أن
يقال : ليس كل
من ادعى شيئا
تسلم له دعواه
بل لا بد من
البرهان الذي
يصدق دعواه
كما قال الله
سبحانه :
قُلْ
هَاتُوا
بُرْهَانَكُمْ
إِنْ كُنْتُمْ
صَادِقِينَ
…
“Adapun klaim mereka bahwa
mereka adalah al-Firqoh an-Najiyah
dan merekalah yang berada di atas kebenaran, dan orang-orang selain mereka
adalah berada di atas kebatilan. Maka jawabannya adalah : tidaklah setiap orang
yang mengklaim sesuatu maka klaimnya telah bebas/selamat, namun haruslah klaim
itu disertai burhan (bukti-bukti yang
nyata) yang mendukung klaimnya. Sebagaimana firman Allah sunhanahu : “Katakanlah, datangkan bukti-buktimu jika kamu
adalah orang-orang yang benar” (QS al-Baqoroh : 111)…” dst hingga akhir
jawaban beliau…[1]
Ucapan
Muhadditsul Ashr al-Imam
Muhammad
Nashiruddin al-Albani
Samahatul Imam, Muhaddits
al-Ashr, Muhammad Nashirudin al-Albany rahimahullahu berkata di dalam mendefinisikan siapakah mubtadi’
itu sebagai berikut :
أثر أبي
هريرة رضي
الله عنه يصلح
أن يكون مثالاً
عن أنَّ وقوع
العالم في
بدعة لا يعني
أنه مبتدع,
وأنَّ وقوع
العالم في
ارتكاب محرّم
أي القول في
إباحة ما هو
محرم
اجتهادًا منه
لا يعني أنه
ارتكب محرما.
فأقول : أثر
أبي هريرة رضي
الله عنه هذا الذي
ينصّ على أنّه
كان يقوم يوم
الجمعة قبل الصلاة
يعظ الناس,
يصلح بأن يكون
مثالاً صالحاً,
كون البدعة قد
تقع من عالم
وليس مع ذلك
أنه مبتدع.
“Atsar Abu Hurairoh radhiallahu
‘anhu sesuai
untuk dijadikan sebagai contoh dari permasalahan bahwa jatuhnya seorang alim ke
dalam kebid’ahan tidak otomatis menjadikannya mubtadi’. Dan jatuhnya
seorang alim ke dalam perbuatan haram
yaitu dengan berpendapat tentang bolehnya sesuatu yang haram karena hasil
ijtihadnya maka tidak otomatis menyebabkannya sebagai pelaku keharaman. Aku
katakan, atsar Abu Hurairoh radhiallahu
‘anhu ini yang
menashkan/menunjukkan bahwa beliau berdiri pada hari
Jum’at sebelum sholat, memberikan nasehat kepada manusia, merupakan contoh
tepat yang sesuai, bahwasanya terkadang bid’ah itu dilakukan oleh seorang yang
alim namun tidaklah menjadikannya sebagai mubtadi’ begitu saja.”
وقبل
الخوض في تمام
الجواب أقول :
المبتدع هو أولا
الذي من عادته
الابتداع في
الدين, وليس الذي
يبتدع بدعة
ولو كان هو
فعلا ليس عن
اجتهاد وإنما
عن هوى, مع هذا
لا يسمى
مبتدعاً. وأوضه
مثال لتقريب
هذا المثال,
أن الحاكم
الظالم قد
يعدل في بعض
أحكامه فلا
يقال فيه
عادل, كما أن
العادل قد
يظلم في بعض
أحكامه فلا
يقال فيه ظالم,
وهذا يؤكد
القاعدة
الإسلامية
الفقهية أن
الإنسان بما
يغلب عليه من
خير أو شر إذا
عرفنا هذه
الحقيقة
عرفنا من هو
المبتدع.
”Sebelum masuk lebih mendalam
kepada jawaban, aku katakan : pertama, mubtadi’ itu adalah orang yang
kebiasaannya mengada-adakan bid’ah di dalam agama. Dan tidaklah orang yang
melakukan kebid’ahan walaupun ia melakukannya bukan dari ijtihadnya
tetapi dari hawa nafsunya, namun walau demikian ia tidak dikatakan
sebagai mubtadi’. Aku terangkan sebuah contoh yang mirip dengan contoh
ini, seorang hakim yang zhalim, terkadang berlaku adil dalam sebagian
keputusannya namun dia tidaklah dikatakan sebagai hakim yang adil, sebagaimana
juga hakim yang adil terkadang melakukan kezhaliman pada sebagian
keputusannya namun dia tidak dikatakan sebagai hakim yang zhalim. Hal
ini menyokong suatu kaidah fikih islami bahwasanya seseorang itu dihukumi dari
kebaikan dan keburukan yang dominan pada dirinya, apabila kita telah mengetahui
realita ini niscaya kita mengetahui siapakah mubtadi’ itu.”
فيشترط
إذن في
المبتدع
شرطان : أولاً :
أن لا يكون
مجتهدا وإنما
يكون متّبعاً
للهوى, والثاني
: أن يكون ذلك
من عادته ومن
دينه.
”Kalau begitu, disyaratkan
bagi mubtadi’ itu dua syarat, yaitu : pertama, dia bukanlah termasuk
mujtahid namun ia adalah pengikut hawa nafsu, dan kedua yaitu, dia tidaklah
melakukannya sebagai kebiasaannya atau sebagai bagian dari agamanya.[2]”
Samahatul Imam juga ditanya
dengan pertanyaan sebagai berikut :
السائل :
هل صحيح أن
هجر المبتدعة
في هذا الزمان
لا يطبق؟
“Apakah benar bahwa menghajr ahli bid’ah di zaman ini tidak tepat
untuk diimplementasikan?”
Samahatul Imam rahimahullahu menjawab :
هو يريد
أن يقول لا
يحسن أن يطبق,
هل صحيح لا
يطبق؟ هو لا
يطبق لأنه
المبتدعة و
الفساق
والفجار هم
الغالبون, ولكن
هو يريد أن
يقول لا يحسن
أن يطبق, وهو
كأنه السائل
يعنيني أولا
يعنيني.
فأقول: نعم, هو
كذلك, لا يحسن
أن يطبق, وقد
قلت هذا صراحة
آنفا حينما
ضربت المثل
الشامي: أنت
مسكّر وأنا
مبطّل.
“Dia (penanya) bermaksud mengatakan bahwa praktek hajr
tidak layak untuk diterapkan, apakah benar tidak layak diterapkan? Yang benar
adalah praktek hajr memang tidak diterapkan karena mubtadi’,
orang-orang fasik dan fajir (durhaka)
adalah dominan di zaman ini. Akan tetapi dia (penanya) ingin mengatakan tidak
layak untuk diimplementasikan. Dan penanya seakan-akan memaksudkanku dengan
pertanyaannya ataukah tidak memaksudkanku. Maka aku katakan, “iya” keadaannya
adalah demikian, tidak layak untuk diterapkan. Saya telah mengatakannya dengan
jelas tadi ketika aku membuat permisalan tentang pepatah Syaami (orang Syam) : “Kamu menutup (pintu masjid) maka aku tidak
jadi sholat.”[3]
Beliau rahimahullahu ditanya kembali :
السائل : لكن مثلاً
إذا وجدت
بيئة, الغالب
في هذه البيئة
أهل السنة
مثلاً, ثم وجدت
بعض النوابت
ابتدعوا في
دين الله عزّ
وجل, فهنا
يطبق أم لا
يطبق؟
“Tapi (wahai syaikh), misalkan ada sebuah lingkungan, dan yang
dominan di lingkungan ini adalah ahlus sunnah misalnya, kemudian ditemukan ada sekelompok orang yang
berbuat bid’ah di dalam agama Alloh Azza
wa Jalla, maka apakah (hajr) diterapkan ataukan tidak?”
Beliau rahimahullahu menjawab :
يجب هنا
استعمال
الحكمة, هذه
الفئة
الظاهرة القوية,
هل إذا قاطعت
الفئة
المنحرفة عن
الجماعة, يعود
الكلام سابق هل
ذلك ينفع
الطائفة
المتمسكة أم
يضّرها, هذا من
جهتهم, ثمّ هل
ينفع
المقاطعين
والمهجورين من
الطائفة
المنصورة أم
يضّرهم, هذا
سبق جوابه كذلك.
يعني لا ينبغي
أن تأخذ مثل
هذه الأمور بالحماس
وبالعاطفة
وإنما
بالروية
والأناة و الحكمة...
“Yang wajib adalah kita harus menggunakan hikmah. Jika kelompok
yang lebih kuat yang mayoritas yang menghajr kelompok yang menyeleweng –kita kembalikan kepada pembahasan yang
telah lalu- apakah hal ini akan memberikan manfaat pada kelompok yang berpegang
pada kebenaran ataukah malah akan mencederai (memudharatkan)nya? Ini dari satu sisi. Kemudian dari sisi lain apakah
hajr yang diterapkan oleh ath-Thaifah
al-Manshurah bermanfaat bagi kelompok yang dihajr atau justru
menimbulkan mudharat bagi mereka.
Jawabannya telah lalu, yaitu tidaklah patut dalam permasalahan seperti ini kita
mengambil sikap dengan semangat dan perasaan belaka, namun seharusnya dengan
sikap hati-hati, tenang (tidak gegabah) dan penuh hikmah…”[4]
Ucapan
Faqiihuz Zaman Samahatus Syaikh
Muhammad
Sholih al-Utsaimin
Samahatul Imam, Faqiihuz
Zaman, Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin rahimahullahu berkata :
فإذا
كان في
الهجر من فعل
معصية لترك
واجب أو فعل
محرم فائدة
فإنه يهجر حتى
تتحقق
الفائدة ، وأما من
كان هجره لا
يفيد شيئاً بل
لا يزيد الأمر
إلا شدة وإلا
بعداً عن أهل
الخير فلا
يهجر ، لأن
الشرع جاء
بالمصالح
وليس بالمفاسد
، فإذا علمنا
أننا لو هجرنا
هذا العاصي
لم يزدد إلا
شراً وكراهة
لنا وكراهة ما
معنا من الخير
، فإننا لا
نهجره ، نسلم
عليه ونرد
عليه السلام
لأنه وإن عصى
الله ،
والمؤمن لا
يهجر فوق ثلاث
، هذا هو الحكم
فيما يتعلق بالهجر
،
”Apabila menghajr orang
yang melakukan kemaksiatan dan meninggalkan kewajiban atau berbuat kemaksiatan
memberikan faidah, maka dia (perlu) dihajr hingga dapat mewujudkan
faidah. Akan tetapi orang yang hajrnya tidak membuahkan faidah sedikitpun,
namun malah menambah keras kepala dan menjauh dari kebenaran, maka janganlah dihajr.
Karena syariat itu datang dengan membawa kemashlahatan bukan kerusakan.
Apabila kita telah tahu bahwa apabila kita menerapkan hajr pada
kemaksiatan ini tidaklah menambah melainkan keburukan, kebencian terhadap kita
dan kebencian terhadap apa yang kita bawa berupa kebaikan, maka kita jangan
menghajrnya. Kita ucapkan salam padanya dan kita jawab salamnya. Karena,
walaupun dia telah bermaksiat kepada Alloh, seorang mukmin itu tidaklah dihajr
lebih dari tiga hari. Inilah hukum yang berkaitan dengan hajr.
وفي
النهاية
يسوءني أن أحد
المسلمين اليوم
يمر بعضهم ببعض لا
يسلم أحدهم
على الآخر ،
يتلاقيان يضرب
كتف أحدهما
كتف الآخر لا
يسلم عليه وكأنما
مر بجيفة أو
يهودي أو
نصراني ، مع
أنهم أخوه ،
ومع هذا إذا
سلم عليه ماذا يستفيد
؟ عشر حسنات
نقداً ، إيمان
، محبة ، ألفة
، دخول الجنة
.قال النبي
صلى الله عليه
وسلم : ( والله
لا تدخلوا
الجنة حتى
تؤمنوا ولا
تؤمنوا حتى
تحابوا أفلا
أخبركم بشئ إذا
فعلتموه
تحاببتم
أفشوا السلام
بينكم ) فبين أن
إفشاء السلام
من أسباب المحبة
من الإيمان
والإيمان سبب
لدخول الجنة
”(Keadaan) akhir-akhir ini
sungguh mengecewakanku, bahwasanya ada seorang muslim pada hari ini, mereka
berlalu melewati sebagian lainnya namun tidak saling mengucapkan salam antar
satu dengan lainnya, seakan-akan mereka berlalu dengan ketakutan atau
seakan-akan mereka melewati orang Yahudi atau Nasrani, padahal mereka adalah
saudaranya, padahal apabila dia mengucapkan salam, apa faidah yang dapat ia
peroleh? (dia akan memperoleh) sepuluh kebaikan secara sempurna, keimanan,
kecintaan, keterpaduan dan masuk ke dalam surga. Nabi Shallallahu ’alaihi wa
Salam bersabda :
والله
لا تدخلوا
الجنة حتى
تؤمنوا ولا
تؤمنوا حتى
تحابوا أفلا
أخبركم بشئ إذا
فعلتموه
تحاببتم
أفشوا السلام
بينكم
”Demi Alloh, kalian tidak
bakal masuk surga sampai kalian beriman, dan kalian tidak beriman sampai kalian
saling mencintai. Maukah kalian aku
beritakan dengan sesuatu amalan yang apabila kalian laksanakan maka kalian akan
saling mencintai? Yaitu sebarkan salam di tengah-tengah kalian.”
Beliau menjelaskan bahwa
menyebarkan salam termasuk sebab-sebab yang dapat menghantarkan kepada
kecintaan dan keimanan, sedangkan keimanan itu merupakan sebab masuk ke dalam
surga.
ويؤسفنا
جداً أن نرى
مسلمين يلتقي بعضهم
ببعض ولا يسلم
، بل ربما
كانا أخوين
زميلين في
الدراسة ،
سواء في دراسة المسجد
أو في دراسة
الكلية أو
المعهد أو
المدارس
الأخرى ، لا
يسلم بعضهم
على بعض إذاً ما
فائدة العلم ؟
ما فائدة طلب
العلم ؟إذا لم
يتربَّ طالب
العلم
بالتربية الحسنة
التي دل عليها
الكتاب
والسنة ،
Sungguh sangat menyedihkan
sekali, kami melihat kaum muslimin bertemu antara satu dengan lainnya namun
tidak saling mengucapkan salam. Bahkan betapa banyak dua orang bersaudara yang
berteman baik di suatu sekolah, baik di Masjid, perkuliahan, ma’had ataupun
sekolahan lainnya, mereka tidak saling mengucapkan salam antara satu dengan
lainnya. Lantas, apa manfaatnya ilmu?!! Apa faidahnya menuntut ilmu?!! Apabila
tidak berimplikasi sama sekali terhadap seorang penuntut ilmu pendidikan yang baik, yang telah ditunjukkan
oleh Kitabullah dan Sunnah Rasulullah.
وكان
عليها رسول
الله صلى الله
عليه وسلم فما الفائدة
من التعليم
فهو والجاهل
سواء ، إن لم يكن
الجاهل خيراً
منه ، ولهذا
احثكم على
إفشاء السلام
لفوائدة
العظيمة ، وهو
لايضر ، لأنه
عمل اللسان ،
واللسان لو
يعمل من
الصباح إلى
الغروب ما
كلَّ ولا ملَّ
فنسأل الله
لنا ولكم
الهداية
والتوفيق والعصمة
والتوبة إنه
على كل شئ
قدير .
Rasulullah Shallallahu
’alaihi wa Salam telah mewajibkan untuk menuntut ilmu, lantas apa faidahnya
belajar apabila dirinya dengan orang bodoh itu sama saja?!! Kalau tidak
demikian maka orang bodoh itu lebih baik baginya. Oleh karena itu, aku anjurkan
kalian semua untuk menyebarkan salam agar memperolah faidah yang agung, dan hal
ini (menyebarkan salam) tidaklah membahayakan, dikarenakan hal ini merupakan
perbuatan lisan, dan lisan apabila dipergunakan dari pagi hari sampai sore,
tidak bakal habis dan berkurang. Kami memohon kepada Alloh hidayah, taufiq,
keterpeliharaan dan taubat bagi diri kami dan kalian, sesungguhnya Dia atas
yang demikian ini adalah Maha Mampu.”[5]
Syaikh rahimahullahu
juga berkata :
فكل
مؤمن وإن كان
فاسقاً فإنه
يحرم هجره ما لم
يكن في الهجر
مصلحة ، فإذا
كان في الهجر مصلحة
هجرناه ، لأن
الهجر حينئذ
دواء ، أما إذا
لم يكن فيه
مصلحة أو كان
فيه زيادة في
المعصية
والعتو ، فإن
مالا مصلحة فيه تركه
هو المصلحة .
”Maka setiap mukmin, walaupun
ia seorang yang fasiq, haram menghajrnya selama tidak mendatangkan
faidah. Namun jika bermashlahat maka kita lakukan. Karena hajr
adalah obat, jika hajr tidak mempunyai mashlahat atau justru
malah menambah kemaksiatan dan kedurhakaan, maka sesuatu yang tidak bermashlahat
meninggalkannya adalah suatu mashlahat pula.[6]
Ucapan
Muhaddits Yaman al-’Allamah asy-Syaikh
Muqbil bin
Hadi al-Wadi’i
Berkata asy-Syaikh al-’Allamah
al-Muhaddits Muqbil bin Hadi al-Wadi’i rahimahullahu ketika ditanya
tentang kriteria di dalam menghajr
:
الحمد لله رب
العالمين
وصلى الله على
نبينا محمد وعلى
آله وأصحابه
أجمعين ،
وأشهد أن لا إله إلا
الله وحده لا
شريك له ،
وأشهد أن محمداً
عبده ورسوله
أما بعد:
”Segala puji hanyalah milik
Alloh Pemelihara alam semesta, sholawat dan salam semoga senantiasa
terlimpahkan kepada Nabi kita Muhammad, keluarga beliau dan para sahabatnya
seluruhya. Saya bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq selain Alloh semata
yang tidak ada sekutu bagi-Nya dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba
dan utusan-Nya. Amma Ba’du :
فالهجر : هجر
المسلم يعتبر
من الكبائر
والرسول صلى
الله عليه
وسلم يقول : ( لا
يحل لمسلم أن يهجر
أخاه فوق ثلاث
) نعم ويقول
أيضاً :( إن الله
سبحانه
وتعالى يغفر
لجميع خلقه إلا
لمشرك أو
مشاحن فيقول
انظروا هذين
حتى يصطلحا )
فهجر المسلم
يعتبر من
الكبائر ،
Hajr
(dalam artian) menghajr seorang muslim itu termasuk dosa besar,
Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa Salam bersabda :
لا
يحل لمسلم أن يهجر
أخاه فوق ثلاث
”Tidak halal bagi seorang
muslim menghajr saudaranya lebih dari tiga hari.”
Dan sabda beliau pula :
إن
الله سبحانه
وتعالى يغفر
لجميع خلقه إلا
لمشرك أو
مشاحن فيقول
انظروا هذين
حتى يصطلحا
”Sesungguhnya Alloh Subhanahu
wa Ta’ala mengampuni seluruh hamba-Nya kecuali orang yang musyrik dan orang
yang bertikai. Lantas beliau berkata : perhatikanlah dua perkara ini
sampai keduanya terbebas”
Maka menghajr seorang
muslim itu termasuk dosa besar.
وقد وقع مع
النبي صلى
الله عليه
وسلم أن هجر الثلاثة
الذين خلفوا
عن غزوة تبوك هجرهم
نحو خمسين
ليلة وهكذا
أيضاً هجر
نساءه عند أن
تظاهرن عليه
وطلبن منه
النفقة فيما لا
يقدر عليه
هجرهن شهراً
ثم بعد ذلك
أمره الله أن
يخيرهن بين
البقاء معه
وبين الفراق
( يا أيها
النبي قل
لأزواجك إن
كنتن تردن
الحياة
الدنيا
وزينتها
فتعالين أمتعكن
وأسرحكن
سراحاً
جميلاُ وإن
كنتن تردن
الله ورسوله
والدار
الآخرة فإن
الله أعد
للمحسنات
منكنَّ أجراً
عظيماً )
Terjadi di zaman Nabi Shallallahu
’alaihi wa Salam bahwasanya beliau menghajr tiga orang yang tidak
turut dalam perang Tabuk, beliau menghajr mereka selama 50 malam. Beliau
juga menghajr isteri-isteri beliau tatkala mereka membangkang dari
beliau dan menuntut harta kepada nabi yang tidak beliau sanggupi, beliau hajr
mereka selama sebulan, kemudian setelah itu beliau memberikan pilihan kepada mereka
antara tetap bersama beliau ataukah perceraian.
يا أيها
النبي قل
لأزواجك إن
كنتن تردن
الحياة
الدنيا
وزينتها
فتعالين أمتعكن
وأسرحكن
سراحاً
جميلاُ وإن
كنتن تردن
الله ورسوله
والدار
الآخرة فإن
الله أعد
للمحسنات
منكنَّ أجراً
عظيماً![]()
”Hai nabi, Katakanlah
kepada isteri-isterimu: "Jika kamu sekalian mengingini kehidupan dunia dan
perhiasannya, Maka marilah supaya kuberikan kepadamu mut'ah dan Aku ceraikan
kamu dengan cara yang baik. Dan jika kamu sekalian menghendaki Allah dan
Rasulnya-Nya serta negeri akhirat, Maka Sesungguhnya Allah menyediakan bagi
siapa yang berbuat baik diantaramu pahala yang besar.” (al-Ahzab : 28-29)
Beliau rahimahullahu
lalu melanjutkan perkataannya :
فالهجر
الذي وقع من
النبي صلى
الله عليه سلم
قليل وقليل ،
فلا ينبغي لكل
من رأي منه
تقصيراً أن
تهجره فإن النبي
صلى الله عليه
وسلم يقول : ( حق
المسلم على
المسلم خمس
ومنها إذا
لقيتها فسلم عليه )
والهجر في هذا
الزمن وفي غير
هذا الزمن لابد
أن لا يكون
شهوة . بينك
وبين صاحبك
خصام قلت : أنا
أهجرك لله ،
لكن لو فتشت نفسك
وأنصفت لكان
الهجر لأجل
نفسك فلا
يكون لحظ
النفس
Hajr yang
terjadi dari Nabi Shallallahu ’alaihi wa Salam sangatlah sedikit dan sedikit.
Maka tidaklah sepatutnya bagi setiap orang yang ia melihat ada kekurangan pada
seseorang lantas kamu menghajrnya, karena Nabi Shallallahu ’alaihi wa
Salam bersabda :
حق
المسلم على
المسلم خمس
ومنها إذا
لقيتها فسلم عليه
”Hak muslim yang satu
dengan muslim lainnya ada lima, diantaranya apabila bertemu maka ucapkan salam
padanya.”
Hajr di
zaman ini dan selain zaman ini, haruslah tidak boleh atas dasar syahwat (hawa
nafsu). Jika ada permusuhan antara dirimu dengan temanmu, kamu berkata : ”aku
menghajrmu karena Alloh” akan tetapi jika kau tilik dirimu dan kau
berlaku adil maka sesungguhnya hajr itu adalah untuk dirimu bukan untuk
kebahagian diri.
تهجر
لله سبحانه
وتعالى
فمثلاً ولدك
أو أخوك أو
جارك أخوك في الله
هجرته وما
شعرت إلا وقد
انحرف ، أو
ذهب إلى الشيوعين
، أو إلى
غيرهم ، وأنت تعتبر
آثماً وأنت
المتسبب في
انحرافه ، فلا
بد أن تنظر
المصلحة ،
مثلاً إذا
هجرت ولدك
يوماً أو
يومين وهو
محتاج إليك ،
وسيرجع وأنت
متأكد أنه
سيرجع ، أما
إذا كان سيخطفه
الخربيون ، أو
كان سيضيع
ويميع في الشوارع
، فعليك أن
تصبر عليه وتدعو
الله له
بالهداية ،
فإن دعوتك
بإذن الله
مستجابة تدعو
الله أن يهديه
Kamu menghajr karena
Alloh Subhanahu wa Ta’ala, misalnya anakmu, atau saudaramu, atau
tetangga saudaramu, menghajrnya di jalan Alloh, dan tidaklah kamu rasakan
melainkan tambah menyimpang, atau berubah menjadi sosialis atau selainnnya,
maka kamu menjadi dosa dan menjadi sebab atas penyimpangannya. Maka haruslah
kamu perhatikan maslahatnya. Misalnya apabila kamu hajr anakmu sehari
atau dua hari sedangkan ia butuh kepadamu dan dia akan kembali (taubat) maka kamu harus yakin bahwa dia bakal
kembali. Adapun jika hizbiyun akan merenggutnya, atau dia akan
menyia-nyiakan dan meremehkan syariat, maka kamu wajib bersabar atasnya dan
do’akan baginya hidayah dari Alloh, karena do’amu dengan izin Alloh adalah mustajabah,
maka berdo’alah kepada Alloh supaya Ia memberinya hidayah.
نعم أنصحكم
أن لا تحضروا
محاضرة
المبتدعة من
حزبيين ، ومن
غيرهم لماذا ؟
لأنهم يبثون
السموم فيها شعرتم
أو لم تشعروا
، أما إذا
لقيته في
الطريق
فالسلام
عليكم ،
وعليكم
السلام ، وإذا
صافحك فصافحه
، لكن من أجل
سلامة قلوبكم
والمحافظة
على قلوبكم من
الشبه أنصحكم أن لا
تحضروا
محاضرات
المبتدعة
سواء كانوا حزبيين
أم غيرهم ،
نعم من أجل
المحافظة على
سلامة القلوب
فإن أحدكم
ربما يخرج على
سيارته من
صنعاء إلى
حضرموت وليس
له إلا أن يدعو
إلى حزبه المغلف
، أو إلى حزبه
الظاهر والله
المستعان .
Iya, aku nasehatkan kalian
untuk tidak menghadiri pengajiannya mubtadi’, baik dari kaum hizbiyin
ataupun selain mereka, kenapa? Karena mereka akan menancapkan bisa
beracunnya baik kamu rasakan maupun
tidak kamu rasakan. Adapun apabila kamu bertemu dengannya di jalan, maka
ucapkan assalamu’alaykum, wa’alaykumus salam, apabila dia mengajakmu
bersalaman maka bersalamanlah dengannya. Akan tetapi, dalam rangka untuk keselamatan
hati kalian dan menjaga hati kalian dari syubuhat, maka aku nasehatkan kalian
supaya tidak menghadiri pengajian mubtadi’, baik mereka dari hizbiyin
ataupun selainnya. Iya, dalam rangka untuk menjaga keselamatan hati. Karena
sesungguhnya, betapa banyak salah seorang diantara kalian keluar melakukan
perjalanan dari Shon’a menuju Hadhromaut, tidak ada yang mengajak dirinya
melainkan orang yang mengajak kepada partainya yang tertutup (tersembunyi) atau
kepada partainya yang tampak, Dan hanya kepada Alloh kita memohon pertolongan.”[7]
[1] Lihat : al-Ajwibah al-Mufiidah ‘an Ba’dli Masa`ilil Aqidah oleh al-Imam Abdul Aziz bin Baz,
diterbitkan oleh : Ri`aasah al-idaaroh
al-Buhuts al-Ilmiyyah wal Iftaa’, cet. III, 1422/2002, Riyadh, hal. 25-31.
[2] Dari kaset Man Huwa al-Mubtadi’, Silsilah
al-Huda wan Nur ash-Shoutiyah no. 785, side B; dinukil dari buku Aqwaalu
wa Fataawa al-Ulama`u fit Tahdziiri min Jama’ati al-Hajri wat Tabdii’,
penyusun : Kumpulan Penuntut Ilmu, cet. II, 1424 H., tanpa penerbit, hal. 18-19.
[3] Dari kaset Haqiqotul Bida’ wal Kufri,
Silsilah al-Huda wan Nur no. 666, side B; dinukil dari al-Manhajus
Salaf ‘inda asy-Syaikh Nashiruddin al-Albani karya ‘Amru ‘Abdul Mun’im Salim
hal. 90-91; Bagi yang ingin mendapatkan terjemahan lengkap ceramah ini bisa
didownload di http://geocities.com/fsms_sunnah (Download
Centre Maktabah Abu Salma).
[4] Ibid.
[5] Syarh
Riyadhus Shalihin oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin, tahqiq :
Syaikh Abdullah ath-Thoyar, cet. I, 1415 H./1995 M, Darul Wathon,
[6] Lihat Muzilul Ilbas fi Hukmi ‘ala
an-Naasi karya Said bin Shabir Abduh, hal. 252; Melalui perantaraan Aqwalu
A`immah ad-Da’wah as-Salafiyah fi hadzal ‘Ashr fi Mas`alati al-Hajr wat Tabdi’di
dalam www.muslm.net/vb
[7] Lihat al-Ajwibah as-Sadidah fi Fatawa
al-‘Aqidah oleh al-‘Allamah Muqbil bin Hadi, juz I, hal. 167-168; melalui
perantaraan Aqwal (ibid.)
-***-***-***-