وجوب
عداوة اليهود والنصارى وغيرهم من الكفار
WAJIBNYA MEMUSUHI YAHUDI DAN NASRANI SERTA KAUM KUFFAR
LAINNYA
الشيخ عبدالعزيز
بن عبدالله بن
باز
Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin
Bazz
Kitabullah,
as-Sunnah dan Ijma’ kaum muslimin telah menunjukkan akan wajibnya kaum muslimin
untuk memusuhi kaum kuffar dari Yahudi, Nasrani dan seluruh kaum musyrikin dan
supaya kaum muslimin berhati-hati dari sikap mencintai mereka dan menjadikan
mereka sebagai wali-wali (pelindung) sebagaimana diberitakan oleh Alloh
Subhanahu di dalam kitab-Nya yang Mubin (jelas), yang tidak ada
kebatilan di dalamnya dan tidak pula di belakangnya, yang diturunkan oleh Yang
Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji, bahwasanya Yahudi dan kaum musyrikin itu
adalah manusia yang paling sengit permusuhannya terhadap kaum
mukminin.
Alloh
Ta’ala berfirman :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ
آمَنُوا لا تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَاءَ تُلْقُونَ إِلَيْهِمْ
بِالْمَوَدَّةِ وَقَدْ كَفَرُوا بِمَا جَاءَكُمْ مِنَ الْحَقِّ } إلى قوله
سبحانه: {قَدْ كَانَتْ لَكُمْ
أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ
إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا
بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ
أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ
“Hai
orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi
teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad),
Karena rasa kasih sayang; padahal Sesungguhnya mereka Telah ingkar kepada
kebenaran yang datang kepadamu”
sampai dengan firman-Nya Subhanahu : “Sesungguhnya
telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang
bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: "Sesungguhnya kami
berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah,
kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan
kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah
saja.”
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ
آمَنُوا لا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ
أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لا
يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ
“Hai
orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan
Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian
mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu
mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan
mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada
orang-orang yang zalim.”
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ
آمَنُوا لا تَتَّخِذُوا آبَاءَكُمْ وَإِخْوَانَكُمْ أَوْلِيَاءَ إِنِ اسْتَحَبُّوا
الْكُفْرَ عَلَى الْإِيمَانِ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَأُولَئِكَ هُمُ
الظَّالِمُونَ
“Hai
orang-orang beriman, janganlah kamu jadikan bapa-bapa dan saudara-saudaramu
menjadi wali(mu), jika mereka lebih mengutamakan
kekafiran atas keimanan dan siapa di antara kamu yang menjadikan mereka wali,
maka mereka itulah orang-orang yang zalim.”
تَرَى كَثِيرًا مِنْهُمْ
يَتَوَلَّوْنَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَبِئْسَ مَا قَدَّمَتْ لَهُمْ أَنْفُسُهُمْ أَنْ
سَخِطَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ وَفِي الْعَذَابِ هُمْ خَالِدُونَ وَلَوْ كَانُوا
يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالنَّبِيِّ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مَا اتَّخَذُوهُمْ
أَوْلِيَاءَ وَلَكِنَّ كَثِيرًا مِنْهُمْ فَاسِقُونَ لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ النَّاسِ
عَدَاوَةً لِلَّذِينَ آمَنُوا الْيَهُودَ وَالَّذِينَ أَشْرَكُوا
“Kamu
melihat kebanyakan dari mereka tolong-menolong dengan orang-orang yang kafir
(musyrik).
Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka sediakan
untuk diri mereka, yaitu kemurkaan Allah kepada mereka; dan mereka akan kekal
dalam siksaan. Sekiranya mereka beriman kepada Allah, kepada Nabi (Musa) dan
kepada apa yang diturunkan kepadanya (Nabi), niscaya mereka tidak akan mengambil
orang-orang musyrikin itu menjadi penolong-penolong, tapi kebanyakan dari mereka
adalah orang-orang yang fasik. Sesungguhnya kamu dapati
orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman
ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik.”
لا تَجِدُ قَوْمًا
يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ
وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ
عَشِيرَتَهُمْ
“Kamu tak
akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling
berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun
orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun
keluarga mereka.”
Dan ayat-ayat
yang semakna sangatlah banyak, dan ayat-ayat ini menunjukkan secara
shorih (terang) akan wajibnya untuk memusuhi
orang-orang kafir dari kalangan Yahudi, Nasrani dan seluruh kaum musyrikin
beserta kewajiban untuk memusuhi mereka sampai mereka mau untuk
beriman kepada Alloh semata. Ayat-ayat ini juga menunjukkan akan haramnya
menyayangi dan berwala’ (loyal) terhadap mereka, yang mana hal ini –yaitu
membenci dan waspada dari tipu daya mereka- disebabkan oleh karena kekufuran
mereka terhadap Alloh, permusuhan mereka terhadap agama-Nya dan wali-wali-Nya
serta dikarenakan tipu daya mereka terhadap Islam dan
pemeluknya.
Sebagaimana
firman Alloh Ta’ala :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ
آمَنُوا لا تَتَّخِذُوا بِطَانَةً مِنْ دُونِكُمْ لا يَأْلُونَكُمْ
خَبَالًا وَدُّوا مَا عَنِتُّمْ قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا
تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الْآيَاتِ إِنْ كُنْتُمْ
تَعْقِلُونَ هَا أَنْتُمْ أُولاءِ تُحِبُّونَهُمْ وَلا يُحِبُّونَكُمْ
وَتُؤْمِنُونَ بِالْكِتَابِ كُلِّهِ وَإِذَا لَقُوكُمْ قَالُوا آمَنَّا وَإِذَا
خَلَوْا عَضُّوا عَلَيْكُمُ الْأَنَامِلَ مِنَ الْغَيْظِ قُلْ مُوتُوا بِغَيْظِكُمْ
إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ إِنْ تَمْسَسْكُمْ حَسَنَةٌ تَسُؤْهُمْ
وَإِنْ تُصِبْكُمْ سَيِّئَةٌ يَفْرَحُوا بِهَا وَإِنْ تَصْبِرُوا
وَتَتَّقُوا لا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا إِنَّ اللَّهَ بِمَا يَعْمَلُونَ
مُحِيطٌ
“Hai
orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu
orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya
(menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka
menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata
kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan
oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami
terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya. Beginilah
kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman
kepada kitab-kitab semuanya. Apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata "Kami
beriman", dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari lantaran
marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah (kepada mereka): "Matilah kamu
karena kemarahanmu itu." Sesungguhnya Allah mengetahui segala
isi hati. Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati,
tetapi Jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. Jika kamu
bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan
kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala
apa yang mereka kerjakan.”
Di dalam ayat
yang mulia ini, ada dorongan untuk membenci kaum kafir dan memusuhi mereka di
jalan Alloh Subhanahu dari banyak sisi serta peringatan dari menjadikan
mereka sebagai teman kepercayaan sekaligus sebagai tashrih (penerang)
bahwasanya mereka tidak akan mengurangi (aktivitas mereka) untuk menimpakan
kejelekan kepada kita, dan ini adalah makna dari firman Alloh
Ta’ala : لا يَأْلُونَكُمْ
خَبَالا “mereka
tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu”, dan الخبال maknanya adalah
الفساد (kerusakan) dan التخريب (gangguan).
Alloh Subhanahu telah menerangkan bahwa mereka sangat suka dengan apa yang menyusahkan dan memberatkan kita, dan Alloh Subhahahu juga menjelaskan bahwa telah nyata kebencian dari mulut-mulut mereka dan dari ucapan-ucapan yang mereka lontarkan -bagi yang merenungkan dan memahaminya- dan apa-apa yang disembunyikan di dalam hati mereka berupa kedengkian, kebencian dan niat buruk terhadap kita lebih besar daripada apa yang mereka tampakkan.
Kemudian Alloh
Subhanahu menyebutkan tentang mereka –kaum kafir tersebut- bahwa mereka
menampakkan keislaman mereka secara munafik supaya dapat memenuhi maksud mereka
yang jelek, dan apabila mereka berlalu dan menemui setan-setan mereka, mereka
gigit ujung jari mereka lantaran kebencian mereka terhadap kaum muslimin. Alloh
Azza waJalla juga menjelaskan, bahwa segala kebaikan yang kita peroleh
berupa kemuliaan, kemenangan dan pertolongan terhadap musuh-musuh atau yang
semisalnya, niscaya akan menyusahkan mereka dan apa-apa yang menimpa kita berupa
keburukan, malapetaka dan wabah penyakit atau yang semisalnya, niscaya akan
menggembirakan mereka. Hal ini tidaklah mereka lakukan melainkan dikarenakan permusuhan
dan kebencian mereka yang amat
sangat terhadap kita dan agama kita.
Sikap Yahudi
terhadap Islam, Rasul Islam dan pemeluk Islam yang ditunjukkan oleh ayat-ayat
yang mulia ini, semuanya membuktikan akan permusuhan
mereka yang amat sangat terhadap kaum muslimin. Dan realita bangsa Yahudi zaman
ini dan di zaman kenabian serta di antara zaman ini dan zaman kenabian,
merupakan bukti terbesar akan hal ini (permusuhan
terhadap ahli kebenaran, pent.).
Demikian pula
dengan kaum Nasrani dan selain mereka dari kaum kuffar, yang menimpakan tipu
dayanya terhadap Islam, memerangi pemeluknya dan mengerahkan semua kemampuannya
untuk menyebarkan tasykik (keragu-raguan), tanfir (menyebabkan
lari dari Islam) dan talbis (kerancuan) di tengah-tengah pemeluk agama
Islam serta mereka keluarkan harta mereka dalam jumlah besar untuk missi
kristenisasi dan menyeru umat supaya masuk ke dalam agama ini. Semuanya ini,
menunjukkan akan kebenaran apa yang ditunjukkan oleh
ayat-ayat al-Qur’an yang mulia tentang wajibnya membenci seluruh kaum kuffar dan
waspada dari mereka dan dari tipu daya mereka serta dari menjadikan mereka
sebagai orang kepercayaan.
Maka wajib bagi
pemeluk agama Islam untuk berhati-hati dari perkara yang besar ini, dan wajib
untuk memusuhi dan membenci orang-orang yang diperintahkan oleh Alloh untuk
memusuhi dan membencinya, dari kalangan Yahudi, Nasrani dan seluruh kaum
musyrikin, sampai mereka mau untuk beriman kepada Alloh semata dan berpegang
teguh dengan agama-Nya yang Dia mengutus dengannya Nabi-Nya Muhammad
Shallallahu ‘alaihi wa Salam.
Dan dengan
demikian, mereka mewujudkan ittiba’ (pengikutan) mereka terhadap
millah bapak mereka Ibrahim dan Nabi mereka Muhammad Shallallahu
‘alaihi wa Salam yang Alloh telah menjelaskan hal ini di dalam ayat
sebelumnya, yaitu firman-Nya Azza wa Jalla :
قَدْ كَانَتْ لَكُمْ
أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ
إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا
بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ
أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ
“Sesungguhnya
telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang
bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: "Sesungguhnya kami
berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah,
kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami
dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada
Allah saja.”
Dan firman-Nya
:
وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ
لِأَبِيهِ وَقَوْمِهِ إِنَّنِي بَرَاءٌ مِمَّا تَعْبُدُونَ إِلا الَّذِي فَطَرَنِي
فَإِنَّهُ سَيَهْدِينِ
“Dan
ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: "Sesungguhnya aku
tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu sembah. tetapi (aku menyembah) Tuhan Yang menjadikanku; karena
sesungguhnya Dia akan memberi hidayah kepadaku.”
Dan firman-Nya Azza wa Jalla
:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ
آمَنُوا لا تَتَّخِذُوا الَّذِينَ اتَّخَذُوا دِينَكُمْ
هُزُوًا وَلَعِبًا مِنَ
الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَالْكُفَّارَ أَوْلِيَاءَ
وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ
“Hai
orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil jadi pemimpinmu, orang-orang
yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan, (yaitu) di antara
orang-orang yang telah diberi kitab sebelummu, dan orang-orang yang kafir
(orang-orang musyrik). Dan bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang-orang yang
beriman”. Dan ayat yang
semakna sangat banyak sekali.
Firman-Nya Ta’ala
:
لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ النَّاسِ
عَدَاوَةً لِلَّذِينَ آمَنُوا الْيَهُودَ وَالَّذِينَ أَشْرَكُوا
“Sesungguhnya
kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang
yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang
musyrik.”
Terdapat
penunjukan yang terang bahwasanya seluruh kaum kafir itu adalah musuh bagi kaum
yang beriman kepada Alloh Subhanahu dan Rasul-Nya Muhammad Shallallahu
‘alaihi wa Salam, akan tetapi Yahudi dan kaum
musyrikin penyembah berhala-lah yang paling ketas permusuhannya terhadap kaum
mukminin. Di dalam ayat ini terdapat dorongan dari Alloh
kepada kaum mukminin untuk memusuhi kaum kuffar dan kaum musyrikin secara umum
dan khususnya terhadap Yahudi dan kaum musyrikin dengan adanya tambahan
permusuhan di dalam menghadapi permusuhan mereka yang keras kepada kita.
Oleh karena itu, diwajibkan untuk menambah kewaspadaan dari
tipu daya dan permusuhan terhadap mereka.
Kemudian, sesungguhnya Alloh Subhanahu dengan
perintahnya kepada kaum mukminin untuk memusuhi kaum kafir, mewajibkan kaum
muslimin untuk bersikap adil di dalam permusuhan mereka. Alloh Ta’ala berfirman
:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ
آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ وَلا يَجْرِمَنَّكُمْ
شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلا تَعْدِلُوا اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ
لِلتَّقْوَى
“Hai
orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan
(kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan
adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum,
mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu
lebih dekat kepada takwa”
Alloh Subhanahu memerintahkan kaum mukminin
untuk senantiasa menegakkan keadilan terhadap seluruh musuh-musuh mereka, dan
melarang mereka untuk meninggalkan sifat adil terhadap mereka dhanya karena
kebencian terhadap suatu kaum.
Dan Alloh Azza wa Jalla telah mengabarkan
bahwasanya keadilan terhadap musuh dan teman adalah lebih dekat kepada takwa.
Dan maknanya adalah berbuat adil terhadap seluruh manusia dari wali-wali (teman
akrab) dan musuh-musuh adalah lebih dekat kepada takut akan murka Alloh dan adzab-Nya. Alloh Ta’ala berfirman :
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ
بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ
وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
“Sesungguhnya
Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum
kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan
permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil
pelajaran.”
Dan ayat yang mulia ini termasuk selengkap-lengkap
ayat yang mencakup perintah terhadap semua kebaikan dan larangan terhadap semua
keburukan. Diriwayatkan
bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam
tatkala mengutus Abdullah bin Rawahah al-Anshori ke Khaibar untuk menerka jumlah
buah kurma yang ditanam Yahudi, dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam
bermu’amalah dengan mereka dengan menyewakan kebun kurma dan tanah dengan cara
dibayar dengan separuh hasil panen kurma dan hasil cocok tanam. Abdullah menerka
jumlah buah kurma mereka, dan mereka berkata kepada beliau, “sesungguhnya
penerkaan ini adalah suatu kezhaliman”, maka Abdullah radhiallahu ‘anhu
berkata kepada mereka, “Demi (Dzat) yang jiwaku berada di tangan-Nya,
sesungguhnya kalian ini lebih aku benci daripada perhitungan kalian, dan benciku
kepada kalian melebihi benciku terhadap kera dan babi, dan sesungguhnya
terkaanku ini tidaklah menjadikan kebencianku kepada kalian dan kecintaanku
kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam menyebabkan aku bersikap
zhalim kepada kalian.” Maka kaum Yahudi itu berkata, “Dengan
(keadilan) ini tegaklah langit dan bumi.”
Maka bersikap
adil itu wajib baik terhadap orang yang dekat maupun jauh, terhadap teman maupun
lawan, akan tetapi keadilan ini tidaklah menghalangi untuk membenci dan memusuhi
musuh-musuh Alloh serta mencintai dan berwala’ terhadap wali-wali Alloh
yang mukmin, sebagai pengejawantahan
dalil-dalil syar’iyah dari Kitabullah dan Sunnah Rasulullah dan Alloh-lah
tempat memohon pertolongan…
$ $ $
(Majmu’ Fatawa wa Maqoolat Mutanawwi`ah :
II/178)
Dialihbahasakan oleh Abu Salma
al-Atsari dari http://www.dorar.net/