The Cross

 

Ambon Berdarah On-Line
News & Pictures About Ambon/Maluku Tragedy

 

 


 

 

 

KOMPAS


KOMPAS, Rabu, 07 Desember 2005

Gubernur Maluku: Dana Pengungsi Rawan Korupsi

Ambon, Kompas - Gubernur Provinsi Maluku Karel Albert Ralahalu mengungkapkan, munculnya kasus penggelembungan jumlah pengungsi dan penyelewengan dana bantuan pengungsi dari Departemen Sosial disebabkan oleh sulitnya kontrol terhadap penyaluran dana pengungsi tersebut.

Menurut Ralahalu, di Ambon, Selasa (6/12), penggelembungan jumlah pengungsi tidak saja dilakukan oleh pengelola bantuan, tapi juga warga pengungsi yang suka menambah daftar keluarga mereka. Bahkan, ada ! yang berpindah-pindah ke sejumlah lokasi pengungsian.

"Di atas kertas kita telah menghitung jumlah pengungsi sekian, namun kenyataan di lapangan angka itu bertambah banyak. Dana pengungsi memang rawan dikorupsi," katanya.

Oleh karena itu, Ralahalu tidak menampik sejumlah temuan lembaga swadaya masyarakat dan DPRD Provinsi Maluku mengenai penyelewengan dana pengungsi. Ia menyarankan agar kasus yang ditemukan dilaporkan ke aparat hukum untuk diproses.

Menurut Gubernur Maluku, selama menjabat sebagai kepala daerah sejak tahun 2003 ia telah menyerahkan 26 kasus ke kejaksaan dan kepolisian. Di antara 26 kasus korupsi terdapat kasus penyelewengan dana pengungsi.

Pansus DPRD

DPRD Maluku mengidentifikasi 10 kasus berindikasi korupsi serta penyelewengan data dan dana pengungsi di Maluku. Salah satu kasus terjadi di Kabupaten Maluku Tenggara dengan kerugian Rp 7,6 miliar.

Dalam rapat Panitia Khusus (Pansus) Pengungsi DPRD Maluku yang dipimpin ketuanya, M Wattiheluw, terungkap adanya ketimpangan penanganan pengungsi hingga bertahun-tahun.

Anggota pansus Sabtu Ohohirat (Fraksi PDI-P) mendesak pansus mengeluarkan rekomendasi politik atas sejumlah kasus korupsi dana pengungsi untuk ditangani secara hukum.

"Saya pernah tanya ke Gubernur mengenai kasus pertanggungjawaban dana pengungsi Rp 7,6 miliar di Maluku Tenggara, tetapi Gubernur bilang sudah ditangani. Sampai sekarang kami belum mendengar penanganannya seperti apa," katanya.

Anggota pansus lainnya, Darul Kutni Tuhepaly, mempertanyakan penyelesaian 900 keluarga pengungsi di Desa Wai, Kecamatan Salahutu, Maluku Tengah.

Sepengetahuan dia, masalah itu sudah tuntas pada masa darurat sipil Gubernur! SH Sarundajang. Namun, para pengungsi di sana masih masuk program, bahkan jumlahnya bertambah menjadi 2.000 keluarga. (zal)

Copyright © 2002 Harian KOMPAS
 


Copyright © 1999-2002 - Ambon Berdarah On-Line * http://www.go.to/ambon
HTML page is designed by
Alifuru67 * http://www.oocities.org/haroekoe
Send your comments to alifuru67@yahoogroups.com
This web site is maintained by the Real Ambonese - 1364283024 & 1367286044