SINAR HARAPAN, Sabtu, 03 Desember 2005
Orang Kristen Jangan Menjadi Bagian dari Masalah
Oleh Web Warouw
Tidak mudah bagi orang Kristen berada di tengah masa transisi karena keadaaan
tidak normal dan sistem hukum tidak jalan semestinya sehingga orang Kristen sering
dijadikan korban atau kambing hitam persoalan. Untuk itu, umat harus bersatu
dengan cara semua kelompok harus duduk bersama untuk berdoa, mengupas
persoalan, bersikap, dan bertindak secara bersama, satu tubuh, seperti tubuh
Kristus. Di bawah ini, wawancara Sinar Harapan dengan mantan Ketua PGI, Pendeta
(Emiritus) Natan Setiabudi. Mengapa sampai sekarang konflik antaragama tidak
dapat diselesaikan?
Karena sampai sekarang penyebab utama atau dalang dari berbagai kekerasan yang
terjadi termasuk konflik yang mengadu domba antarumat beragama tidak terekspos.
Sangat sulit untuk dibilang tidak ada, tetapi tidak mudah mengekspos siapa di balik
semua itu. Masalah tidak kunjung selesai.
Satu saat reda, tapi nanti timbul lagi dalam bentuk-bentuk berbeda. Ini semua karena
elite politik dan ekonomi ikut bermain dan setiap persoalan dan negara tidak bisa
mengungkapnya.
Siapa sebenarnya dalang semua ini?
Dalangnya bisa dirunut ke belakang. Dalam peristiwa 21 Mei 1998, yang sangat
historis dan luar biasa, setelah ditekan selama lebih dari 30 tahun terjadilah
ledakan-ledakan perlawanan yang mendorong penguasa yang menindas mundur.
Tapi rupanya, ledakan itu tidak selesai saat itu juga. Potensi-potensi ledakan itu
sampai saat ini bahkan memberi kesempatan pada mereka yang dulunya
dilengserkan untuk ikut bermain lagi untuk sengaja melanjutkan menciptakan
ledakan-ledakan ketidakpuasan baru.
Tidak hanya mereka, tetapi ada berbagai kepentingan lain yang ikut bermain
menunggangi ledakan-ledakan yang terjadi seakrang. Tidak hanya satu kelompok,
tetapi beberapa kelompok yang saling mengambil keuntungan.
Apa kepentingan mereka?
Jelas, menghindari tuntutan pengadilan HAM dan korupsi yang dituntut oleh
demokratisasi dan reformasi. Unsurnya bisa sipil atau non-sipil. Dalam sejarah,
mereka pernah berkuasa. Yang kedua adalah yang berkepentingan ekonomi dan
politik. Dan yang ketiga adalah kepentingan ideologi agama yang ditafsirkan secara
radikal.
Apa benar pihak as! ing juga ikut bermain dalam berbagai konflik ini?
Dari dulu pihak asing sudah bermain di Indonesia, karena globalisasi, batas-batas
negara menjadi longgar. Tidak mungkin kepentingan nasional tidak berkaitan dengan
kepentingan politik global pada saat ini. Pada zaman perang dingin, Soeharto adalah
alat blok Amerika untuk melawan komunis. Setelah Komunis di Rusia dianggap
sudah runtuh, Soeharto dibiarkan jatuh.
Saat ini kepentingan siapa?
Saat ini karena adikuasa hanya satu, paling mungkin adalah keterlibatan terkuat
adalah Amerika. Dalam soal ekonomi sudah dapat dilihat bagaimana WTO, WB, dan
IMF adalah perpanjangan tangan kepentingan Amerika terhadap Indonesia.
Katanya ekonomi Indonesia membaik, yang pasti rakyat segera menjadi miskin.
Semuanya adalah untuk menguntungkan bisnis Amerika juga. BBM dinaikkan
katanya akan memperbaiki ekonomi Indonesia, tetapi untuk elit politik saja. Amerika
diuntungkan karena bisa bertransaksi dengan Indonesia. Elite bisnis dan politik saja
yang untung di Indonesia
Bagaimana pengaruh Amerika terhadap Indonesia dalam kampanye
antiteroris?
Semua pihak yang beradab tidak akan membenarkan terorisme. Orang Islam juga
tidak setuju dengan bom bunuh diri. Bom bunuh diri di Palestina berbeda dengan di
Indonesia.
Di Palestina adalah untuk perjuangan melawan penindasan Israel, sedangkan di
Indonesia adalah bagian dari persekongkolan dalam kepentingan politik global.
Saya yakin terorisme tidak memperjuangkan Islam. Kecuali mungkin sekelompok
yang atas nama memperjuangkan syariah Islam digunakan untuk membangun konflik
dan kekerasan. Mereka tidak mungkin membesar kalau tidak ada kerja sama dengan
kelompok-kelompok yang punya kepent! ingan politik ekonomi tadi. Mereka lebih
mungkin dipakai.
Apakah pemerintah-perintahan barat mewakili agama Kristen?
Injil tidak bisa dimonopoli oleh satu kebudayaan atau pemerintahan. Dalam Injil ada
pemisahan antara negara dan agama. Orang Kristen yang bertumbuh di Indonesia
tidak identik dengan mereka yang ada di negara lain.
Bersama pimpinan-pimpinan agama lain dari Indonesia, kepada George Bush, kami
secara tegas menyatakan bahwa walaupun Alkitab kita sama, tetapi sebagai warga
Indonesia, saya lebih dekat dengan sesama warga Indonesia yang beragama lain.
Walau agama saya sama dengan George Bush, tetapi saya dengan Abu Bakar
Ba'asir adalah satu warga negara yang sama. Orang Kristen Indonesia tidak bisa
diwakili oleh orang Kristen dari negara lain. Kita adalah bagian dari bangsa Indonesia.
Kebebasan bangsa ini tidak boleh didikte oleh ban! gsa lain dengan alasan apapun,
termasuk agama, ekonomi atau politik.
Bagaimana menyelesaikan konflik dan kekerasan di Tanah Air?
Penyelesaian ini harus datang serentak dari atas, yaitu pemerintah dan dari bawah,
yaitu masyarakat sipil. Dari atas harus ada political will yang jelas dan tegas, bahwa
siapapun yang bermain dalam adu domba dan mengejar kepentingan sendiri dengan
mengorbankan rakyat harus berhadapan dengan hukum. Niat tidak cukup tetepi butuh
kebijakan dan tindakan nyata di masa transisi ini.
Semua yang menghalangi political will ini harus dipatahkan agar setiap persoalan ada
kemajuan penyelesaian. Tanpa ini, tidak ada pegangan untuk menyelesaikan
persoalan negara ini.
Presiden dipilih oleh rakyat menurut saya tugasnya cuma satu, yaitu
mengembangkan political will untuk menyelesaikan persoalan bangsa yang sedang
bertransisi ini.! Ia harus menindak pelaku korupsi, kekerasan, melakukan rekonsiliasi
yang seharusnya dipayungi dengan political will yang kuat.
Di pihak lain, masyarakat jangan bergantung pada negara tetapi dengan payung
political will tersebut masyarakat dapat segera berinisiatif, untuk memerangi korupsi,
kekekerasan, melakukan rujuk, dan menghentikan politik adu domba. Kalau political
will tidak kuat dan masyarakat masih berganutng pada pemerintah yang lemah,
korupsi, kekerasan dan konflik akan terus terjadi, karena ada persekongkolan dibalik
semua itu. Seolah-olah bangsa ini ditentukan oleh kepentingan mayoritas
tertentu—dan minoritas wajar mengalah dan selalu harus berkorban, padahal negara
ini milik bersama.
Apa yang harus dilakukan orang Kristen?
Umat Kristen tetap jangan terpancing dengan semua upaya mengadu domba dan isu
yang menyesatkan, yang mengatakan bahwa musuh orang Kriste! n itu adalah orang
Islam. Sebagai warga negara, umat Kristen adalah bagian integral dari bangsa ini.
Di tengah masa transisi, memang sangat sulit karena keadaaan tidak normal dan
sistim tidak jalan sehingga orang Kristen sering dijadikan korban atau kambing hitam
persoalan. Umat Kristen harus bersatu dengan cara semua kelompok harus duduk
bersama dan menyatukan doa, iman, analisis dan tindakannya.
Semua ini dalam semangat seperti yang tertulis dalam Alkitab, yaitu kesejahterahan
kotamu adalah kesejahteraanmu. Oleh karena itu doakan dan upayakan
kesejahterahan bangsamu, karena itu adalah kesejahteraanmu juga. Dengan prinsip
ini kita akan dapat memikul beban di masa transisi.
Apakah umat Kristen masih ekslusif, mementingkan kesejahteraannya
sendiri?
Belakangan ini, ada tanda-tanda sebaliknya, yaitu memperhatikan kejahteraan
bersama. Kalau toh ! ada yang masih ekslusif, itu sangat ketinggalan. Saat ini, umat
Kristen tanpa melihat perbedaan agama ikut terlibat membantu kesulitan rakyat
Aceh.
Ketika rumah ibadah warga Ahmadiyah dirusak, umat Kristen juga memberikan
dukungan dan solidaritas pada warga Ahmadiyah. Walaupun rumah ibadah umat
Kristen mungkin lebih banyak yang dirusak, tetapi tetap memberikan perhatian pada
Ahmadiyah.
Bagaimana dengan solidaritas sosial terhadap kemiskinan rakyat?
Saat ini juga ada gerakan untuk mengupayakan memberikan bantuan pada rakyat
miskin, dengan membuat pasar murah. Ini baik, tetapi seperti membuang gula di laut,
karena kemiskinan ini adalah masalah struktural.
Negara saja dengan bantuan langsung tunai (BLT)-nya tidak bisa mengatasi
kemiskinan struktural ini. Bantuan dengan pasar murah kan sama dengan BLT yang
diharapkan dapat menutupi kenaikan B! BM. BLT ini sebenarnya tidak bijaksana dan
tidak menyelesaikan persoalan.
Jadi bagaimana orang Kristen terlibat menyelesaikan persoalan kemiskinan
itu?
Tuhan kita yang namanya Yesus dikaruniakan segala kuasa untuk menyelesaikan
semua masalah yang berakar dari dosa. Kuasa itu diberikan pada semua manusia,
khususnya umat Kristiani. Dalam kenyataannya, umat Kristen masih belum
menggunakan kuasa itu secara penuh, karena tidak bersatu.
Kalau bersatu dalam satu tubuh, ada mata, hidung, mulut, telinga, kaki, jantung,
tangan dan sebagainya, dan ada pembagian tugas yang proporsional, pasti dapat
mengatasi setiap persoalan termasuk kemiskinan. Jadi penyelesaiannya persoalan
struktural tidak bisa diselesaikan secara partial dan sporadis, tetapi harus
diselesaikan secara struktural juga.
Apa peran orang Kristen dalam kekuasaan?
Kalau umat Kristen bagian dari pemerintahan maka sebagai warga negara dia harus
bekerja dengan berlandaskan kasih, tetapi ini bukan berarti menterjemahkan
kekristenan dalam kebijakan publik yang memaksa agama lain untuk ikut.
Umat Kristen Indonesia kalau bersatu akan menjadi pelaku sosial yang efektif.
Pengusaha Kristen harus menjadi pelaku sosial juga, jangan biarkan buruhnya tinggal
di bawah garis kemiskinan. Saat ini orang-orang Kristen yang di dalam kekuasaan
baik di DPR maupun di pemeritah bekerja selayaknya bussiness as usual dan tidak
menjadi terang bagi Indonesia.
Ini bukan salah mereka tetapi tidak ada satu kekuatan yang mengkongkretkan terang
dan Kuasa Kristus tadi pada setiap pribadi orang kriten yang punya posisi. Rakyat
bagi mereka tetap sebagai abdi.
Seharusnya pejabat Kristen lebih mengerti bagaimana menjadi pelayan rakyat. Bagi
mereka yang ad! a di legislatif, orang kristen seharusnya menyuarakan kepentingan
rakyat yang mereka layani, bukan justru ikut dalam politik elit dan berkonspirasi anti
pada rakyat seperti kasus kenaikan BBM. Para hakim dan jaksa Kristen seharusnya
menjadi contoh tegas dalam penegakan hukum karena mereka tahu ajaran Alkitab
soal salah dan benar, baik dan buruk.
Kegagalan lembaga-lembaga gereja dan organasasi seperti Persekutuan Gereja
Seluruh Indonesia (PGI) dan lainnya adalah soal menyatukan tubuh Kritus yang
berbeda-beda fungsinya ini, sehingga tidak bisa menghadirkan kekuatan moral yang
dapat menjadikan umat Kristen termasuk pengusaha, legislatif, pemerintah, jaksa dan
hakim dapat menjadi terang dan jalan keluar, sebaliknya menjadi bagian dari
masalah.n
Copyright © Sinar Harapan 2003
|