The Cross

 

Ambon Berdarah On-Line
News & Pictures About Ambon/Maluku Tragedy

 

 


 

 

 

SUARA PEMBARUAN DAILY


SUARA PEMBARUAN DAILY, 26 Desember 2005

Refleksi Natal: Natal dan Politik Persahabatan

Martin Lukito Sinaga

NATAL adalah mengenai pemberian; mengenai hidup yang sedalam-dalamnya, adalah pemberian dan kemurahan Allah. Kita pun diminta berujar: Life as a gift. Malah kita boleh tambahkan, hal itulah yang hendak disingkap dalam seluruh kisah, kesibukan dan pernak-pernik kado di malam Natal.

Hidup bukan pertama-tama perkelahian, bukan soal kalah-menang, bukan pula jebakan di dalam pertarungan kuasa Jahat dan Baik, bukan Nasib Buta yang kejam, tetapi-sekali lagi-ultimately, hidup adalah Pemberian.

Dalam Natal, Kristus yang lahir ke dunia diberikan kepada kita, agar semua orang bisa tiba pada iman: bahwa hidup dimulai sebagai Pemberian, oleh karena kasih Allah.

Sering dikatakan, pemberian ilahi kepada kita, yaitu dalam "anak"-Nya yang lahir itu, adalah pemberian kasih agape. Ada kasih yang tak terperikan, kasih ilahi, yang hadir bagi manusia; dan kasih itu dalam tradisi Kristen klasik dinamai kasih agape.

Namun demikian, kalau cerita sang bayi Kristus itu kita lanjutkan sampai ia tumbuh dewasa, dan menjadi Kristus yang berjumpa dengan begitu banyak manusia, kita segera menemukan dimensi khas dari agape tadi. Kristus menyentuh perempuan yang sakit perdarahan, ia makan bersama orang yang dituduh berdosa, dan malah mengundang para perempuan yang "hina" masuk ke dalam komunitasnya.

Di situ pemberian ilahi itu datang dan mendekat, terjangkau tangan orang-orang banyak, dan menjadi yang sehari-hari. Itulah kasih philia, kasih persaudaraan, kasih pertemanan, pendek kata: persahabatan.

Kasih Ilahi

Dalam teks Injil Johanes 15:13, seolah seluruh gerak pemberian agape itu tiba pada momen manusiawinya, momen yang kita semua dapat jalani, "tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya kepada sahabat- sahabatnya". Agape, kasih ilahi diberikan dan dirayakan di malam Natal, kasih yang menopang segala-sesuatu dari hidup kita, kini dilanjutkan, dikonkretkan, menjadi kasih demi sahabat-sahabat, bahkan menjadi persahabatan: philia.

Dan philia ialah kasih yang menerima apa adanya orang lain: pertama-tama menyambutnya, bukan menuntutnya. Pertama-tama mendengarkan ia bercerita, dan bukan mengomentarinya. Lalu membiarkan spontanitas terjadi dan bukan memulai dengan memberitahukan "posisiku" dan "kepintaranku". Dan yang lantas terbuka menerima pemberiannya, dan tidak berpikir "aku lebih kaya darimu", atau "minder dan curiga pemberian akan merendahkanku". Malah dengan menyambut pemberian kita tahu betapa berlimpahnya hidup ini.

Elisabeth Moltmann-Wendel mengatakan, "friendship combines intimacy, trust and closeness with detachment, respect for the otherness of the other, the mystery of his or her strangeness."

Dan tampaknya, dalam masyarakat kita di Indonesia ini, praktik yang tampak sederhana itu, praktik yang seyogianya menjadi tabiat bangsa ini, semakin sulit. Prasangka menjadi cara berhadapan dengan sesama. Lalu curiga, lalu amarah bercampur cemas, karena seolah terkepung musuh, sambil ajaran yang penuh agresi dijadikan senjata penjaga, dan di ujungnya: kekerasan. Akibatnya, ketakutan bermukim dari rumah ke rumah di negeri ini.

Cicero, pemikir Romawi abad ke-2 menulis de Amiticia (Tentang Persahabatan). Diceritakan saat itu Laelius dilanda kesedihan karena meninggalnya sahabat karibnya, Scipio, sampai Laelius tidak bisa ikut dalam pertemuan bulanan dengan sahabat-sahabatnya.

Orang lalu menjenguknya, dan memintanya menceritakan pengalamannya dengan almarhum Scipio. Laelius pun ber- ujar, "Tidak seorang pun dapat menjadi sahabat kecuali orang itu baik.

Di samping kebaikan itu sendiri, saya memohon kepada kalian untuk melihat persahabatan sebagai hal yang paling indah di dunia."

Ia mengatakan, "Betapa penting kemampuan bersahabat, sebab tidak lama lagi kita akan menyaksikan orang- orang yang lebih pintar menimbulkan kerusuhan."

Saya teringat seorang pendeta Gereja Isa Almasih (GIA) Karang Roto, Semarang, Gunarto namanya, yang kebetulan pada 1997 berada di Situbondo, dan bertemu Gus Dur (Abdurrahman Wahid). Jadilah mereka sahabat. Biasa saja, ketawa-ketiwi bersama, sambil jalan di tengah reruntuhan gereja yang rusak di situ.

Setelah selesai kasus Situbondo, Gunarto akan ditahbiskan menjadi pendeta di Gereja Isa Almasih; dan Gus Dur datang, ikut menumpangkan tangan, memberkati dan menahbiskan Pdt Gunarto di Gereja GIA Jl Rajawali (Jakarta Utara), 20 Juni 2002. Malah Gus Dur guyon, "Bodoh kamu Gun, kok saya doain dan memberkati kala saya sudah lengser. Coba waktu saya presiden, untung kamu!" Pendeta Gunarto hanya tertawa, "Yang penting endas-ku (kepalaku) sudah kamu pegang, dan surgaku ada dua."

Dua bulan lalu, gereja tempat Gunarto melayani di Karang Roto Semarang dihancurkan perusuh. Segera Gus Dur mengirim orang- orangnya untuk membangun kembali gereja itu, bahkan katanya akan empat kali lebih besar!

Persahabatan dalam yang sehari-hari, itulah momen ketika pemberian Tuhan terjadi, di negeri ini! Itulah juga momen ketika rasa takut dan prasangka dapat dihadapi, lalu diatasi dan malah mendatangkan persekutuan yang melintasi batas-batas. Dan segera pula kita tahu, dari persahabatan akan tercipta tanda-tanda kehidupan yang baik, "dari reruntuhan men-jadi rumah bersama yang empat kali lebih besar!"

Maka, yang perlu kita kembangkan di negeri ini, sambil agama-agama berpesta dan menengok lagi spiritualitasnya, ialah politik persahabatan. Sejak Jacques Derrida dan St Sunardi (1999), kepada kita ditekankan jangan sampai kebiasaan menjalin persahabatan hilang, dan membiarkan prasangka menjadi sikap terhadap agama ataupun orang "yang lain" (the other).

Dengan politik persahabatan hendak ditekankan, setiap individu adalah subjek etis (yang bisa memutuskan yang baik baginya), yang puncak kehidupan moralnya dapat dilihat dalam kemampuannya menjalin persahabatan. Khususnya di negeri ini, saat orang-orang terkurung dalam absolutisme sikap dan pikiran, dan mengira menegakkan keyakinan sendiri secara mutlak adalah tugas ilahi. Juga ketika sekarang di negeri ini, banyak orang yang tunduk pada ideologi kekerasan, dan tidak mau mencerna atau menelaah secara kritis sama sekali.

Dengan persahabatan, setiap keyakinan tumbuh dalam relasi dengan manusia lain. Setiap prinsip rela diuji dalam maknanya bagi kemaslahatan orang lain. Bukan demi aku dan Tuhanku semata.

Dengan demikian, setiap komunitas keagamaan dituntut agar mengembangkan companionship sebagai kesaksian dan amanah agamanya. Selanjutnya, pemeluk agama-agama tersebut menciptakan persahabatan dengan siapa saja selaku misi dan dakwah. Persekutuan ataupun komunitas agama akan ditandai dengan spirit hospitality (keramahtamahan yang membuka tangan bagi yang lain), dan bukan lagi niat agresi.

Sehingga, bukan lagi batas, sikap mendaku (mengklaim) kebenaran, lalu mencurigai yang akan menjadi tema keseharian agama-agama. Agama-agama justru menjadi ruang-ruang para sahabat berjabat tangan, dan kehadiran "engkau yang sungguh berbeda" menjadi kesempatan menjalin persahabatan, dan lalu melaluinya bertemu dengan rahasia hidup selaku pemberian ilahi tersebut. Dan itu pulalah sebenar-benarnya arti merayakan Natal saat ini! * Penulis adalah pengajar pada Sekolah Tinggi Teologi Jakarta, juga pendeta di Gereja Kristen Protestan Simalungun


Last modified: 26/12/05
 


Copyright © 1999-2002 - Ambon Berdarah On-Line * http://www.go.to/ambon
HTML page is designed by
Alifuru67 * http://www.oocities.org/haroekoe
Send your comments to alifuru67@yahoogroups.com
This web site is maintained by the Real Ambonese - 1364283024 & 1367286044