Beberapa waktu yang lalu Kompas Online memuat tulisan berjudul 'Ibu Bisnis "Shabu", Anak Pengguna'. Terus terang, aku tidak tahu narkoba bernama 'shabu' ini apa persisnya, apakah derivatif dari heroin seperti halnya putao, atau penemuan "ahli riset" dari tanah air :-(. Di dalam cerita itu, dikisahkan mengenai tertangkapnya si ibu empat anak bernama Ny. Kartika karena menjadi pengedar shabu bersama anaknya bernama Heru yang baru berumur 16 tahun. Konon si ibu tertangkap karena ia dihianati suaminya yang melaporkannya kepada polisi setelah bertengkar. Itu salah satu alasan lain untuk janganlah berkelahi dengan suami atau isteri Anda :-). Yang tragis, si Heru, menjadi penyhabu katanya sebagai pelarian dari suasana keluarga yang penuh pertengkaran. Alasan kedua agar Anda yang sudah menikah jangan bertengkar melulu. Karena tayangan ini bukan mau menceritakan isi Kompas Online, maka kita tinggalkan kisah Ny. Kartika yang sedang mendekam di dalam penjara polisi Bogor sampai ia memakai "ilmu belutnya" untuk keluar dari tahanan polisi seperti ketika ia ditangkap polisi Bandung 2 tahun lalu.
Yang menarik adalah bahwa Ny. Kartika sudah dilaporkan oleh suaminya. Tidak banyak temanku ortu yang mau atau tega melaporkan anaknya yang atau menjadi pemakai narkotik atau diduga juga berjualan. Misalnya, si anak tidak pernah diberikan uang jajan tapi mampu mempunyai pager atau cell-phone, HP kalau di Melayu. Salah satu kekwatiran mereka, anaknya seumur hidup akan mengalami kesulitan karena mempunyai apa yang namanya 'criminal record'. Tidak juga, sebab bila kelakuan mereka tidak toxic lagi, dapat dilakukan pembersihan atau penghapusan nama itu dari database 'criminal record' setelah selang waktu tertentu. Itulah yang saya singgung sebagai 'toughlove'. Tergantung sikon memang, di dalam beberapa hal, anak tersebut patut untuk dilaporkan kepada polisi sebab dapat menyeret seluruh keluarga menjadi 'kriminil'. Seorang ibu tunggal (single mother), anaknya "bercocok-tanam" ganja (marijuana) di rumahnya dan pada mulanya ia cuekkan karena takut akan anaknya. Barulah setelah kami, dua tiga temannya meyakinkannya bahwa kalau sampai rumahnya digerebeg polisi dan ketahuan bahwa di rumah itu ada "pabrik marijuana", ia akan celaka juga. Ia musnahkan semua tanaman dan peralatan "pabrik" dan ketika si anak setengah mengamuk mengetahuinya, ia sudah siap untuk menelepon '911' (nomor telepon darurat di Amrik Utara) untuk melaporkan sang putera yang tercinta.
Memang saya akui lebih mudah untuk mengimplementasikan tindakan 'toughlove' di negeri seperti Kanada ini. Disamping polisi tidak mudah disogok seperti di tanah air, banyak sekali jaring-keamanan sosial (social safety-net) yang akan menampung anak dari jalanan. Anak yang diusir tidak harus menjadi luntang-lantung di jalanan tetapi kalau mereka mau, mereka dapat tinggal di rumah-rumah penampungan, tentunya yang akan menerapkan disiplin atau beberapa aturan. Para pecandu narkotik juga mempunyai tempat penampungan, kembali bila mereka mau, untuk merehabilitasi kecanduannya, drug rehab clinic istilahnya. Jadi anak yang "diusir" dari rumah karena sudah tidak dapat lagi hidup bersama di dalam suasana keluarga yang normal, mempunyai tempat penampungan. Seseorang yang saya kenal di Indonesia yang anaknya kecanduan putao, ingin mengirimkan sang anak ke luar negeri. Kataku, kalau itu cuma mau dijauhkan dari pengedar narkotik temannya, percuma saja, Anda hanya memindahkan persoalan dari kampung Melayu ke luar batang. Sudah pasti ia akan mencari lagi sang putao yang disini bernama heroin atau nama-nama jalanannya di Kanada seperti bombita, china white, H, junk, horse, dsb. Ya, itulah yang kukatakan di awal tayangan, segala pendidikan kita sampai ke Universitas percuma sebab kita akan perlu belajar lagi bila sampai anggota keluarga kita, tok tok tok, menjadi pecandu narkotika. Kita perlu mengetahui apa bahasa jalanan setiap narkotik itu sehingga tahu "setan" jenis mana yang sudah merasuki si anak :-(.
Membaca Kompas Online hari-hari yang lalu memang membuat saya banyak merenung meski tidak sempat merenungkannya di dalam hutan. Bukan saja moral penguasa sudah bejat tak karu-karuan, anak muda yang menjadi harapan bangsa pun diseret ke dalam lembah kehancuran karena situasi bangsa, negara, ekonomi, politik, sosial yang serba semrawut tidak alang kepalang :-(. Kukira Anda sudah memahami dari contoh yang kukemukakan di atas, kira-kira tindakan apa saja yang dapat membuahkan hasil bila si anak menjadi pecandu narkotik dan upaya preventif apa yang kita dapat lakukan sebagai ortu agar sang anak tak pernah akan tergoda atau terseret ke dalam jurang yang dapat membawa kematian. Semoga tayangan ini tidak bermanfaat bagi diri Anda, artinya tidak pernah akan Anda butuhkan kecuali sebagai penambah informasi belaka. Sampai berjumpa di tayangan topik lainnya. Salam dari Toronto.