Belum lama ini, ketika saya mengunjungi 'alma mater' SMA saya, Canisius College atau kami singkat CC, saya cukup sedih melihat mengecilnya lapangan bola di muka kelas-kelas kami. Dahulu lapangan yang luas itu dibatasi oleh ruangan kelas-kelas, bagian PasPal dari kelas 1 s/d 3 di jaman saya. Anak-anak SosBud kelasnya di bagian belakang. Selain itu, asrama anak-anak yang kos di CC, kami sebut 'anak asrama' juga ada di pinggir lapangan, kemudian kapel ruang makan anak asrama dan aula CC. Jadi Anda dapat membayangkan kira-kira luas lapangan itu. Guru olahraga di jaman saya adalah Pak Harun yang tubuhnya lebih mirip petinju kelas berat dari seorang atlit :-). Salah satu hukuman Pak Harun ataupun di CC adalah berlari mengelilingi lapangan yang cukup luas itu. Kalau saya sering kehabisan napas di saat-saat sekarang, saya suka heran bahwa kog di saat saya SMA, berlari mengelilingi lapangan itu tidak melelahkan untuk saya, berapa kali pun. Mungkin karena tidak seperti Pak Harun, tubuh saya kerempeng alias efisien pembakaran energinya :-). Yang lebih masuk di akal karena saya aktif bermain badminton, naik sepeda ke SMA (sampaipun ke Uni belakangan) dan sesekali mendaki gunung atau kemping.
Banyak sekali memang pengalaman saya di CC, bergaul dengan anak CC maupun berkenalan dengan guru-gurunya. Dari semua-semua guru CC yang pernah mengajar saya, yang tentunya saya hormati dan hargai, Pak Wahablah idola favorit saya. Why oh why? Ada sejarahnya dikit. Saya mulai diajar oleh beliau di mata pelajaran Ilmu Pesawat ketika saya kelas 2 PAS. Jangan kejengkang pren, saya dapat nilai 3 di kwartal pertama di rapor saya :-). Goblok banget ye :-). Ya, saya belum mengenal dan bingung dengan "filsafatnya" Ilmu Pesawat, mechanics bahasa Inggrisnya. Namun, setelah sebentar merenung melihat angka 3 di buku rapor, angka terendah yang Bang Jeha Anda pernah diberikan (kecuali kalau lagi ulangan ketahuan nyontek, langsung dapet tiga :-)) saya bersuwer. Ya, saya bertekad untuk tidak boleh membenci sang ilmu melainkan harus mengenalnya dengan sungguh-sungguh. Anda penggemar serial PAB mungkin masih ingat pren saya anak Jawa si Paidjo? (bukan nama sebenarnya). Abangnya dua tiga kelas di atasnya dan seperti juga Paidjo, bersekolah di Taman Siswa alias sekolah bagus di saat itu. Saya pinjam kepada Bang Dur... buku-buku maupun catatan kelasnya ketika ia belajar Ilmu Pesawat. Untungnya saya, Bang Dur punya buku-buku latihan soal Ilmu Pesawat eks AMS Belande. Saya simak satu persatu soal-soal di buku Bang Dur dan lama kelamaan, voila, lampu colen di otak saya untuk Ilmu Pesawat berubah menjadi lampu strongking :-). Saya jatuh cinta kepada ilmu itu dan terutama saya senang kepada Pak Wahab. Berani suwer pren, saya maupun ortu saya engga pernah nyogok guru maupun les ini les itu untuk mengejar nilai. Satu-satunya les yang pernah saya lakukan adalah ke Pak Oei Tjoe Kian (abangnya Mr. Oei Tjoe Tat, eks menteri negara RI di jaman BK) guru Bahasa Jerman. Itupun karena saya ingin sekolah ke Jerman guna meningkatkan kemampuan saya berbahasa Jerman. (Apa daya bokap nyokap ogut engga punya doku menyekolahkan saya di luar batang.) Hanyalah karena saya sangat senang akan pelajaran Pak Wahab, sekitar dua kali di akhir ujian sekolah selesai dan rapor diberikan, saya bertandang ke rumahnya membawa kue-kue a la kadarnya. Hanya sebagai tanda terima kasih.
Menceritakan pengalaman anak CC akan kurang lengkap kalau tidak menceritakan pengalaman ngerumpi kami dengan anak-anak SanUr atau Santa Ursula :-). Saya lihat banyak dari antara pembaca yang manggut-manggut, apalagi kalau Anda kaya saya, dapet bini anak Ursula :-). Meskipun isteri saya bukan hasil perumpian saya ketika saya masih di CC tapi tetap nama Ursula itu memberikan satu bonus point buat kite anak CC, ya engga prens? Jelas sebabnya, sekolah di "kampung burung" doang, mana kita engga blingsatan kalau ke SanUr atau ke SanMar. Satu kegiatan yang masih saya ingat adalah ketika kami, di SMA 3 ketika itu bergabung dengan anak SMA 3 SanUr mencari dana. Kebetulan tim saya mendapat dua anak manis, sebut saja namanya siape tau ente kenal. Satu Sri Sabur anaknya pak jendral dan satu lagi Hanny Fang Han Liang anak Taman Sari. Tak usah diceritakan sebetulnya tetapi seusai kami keliling nyawer (dapetnya di daerah Kota di Bendungan), berkat teori psiko bernama 'excitation transfer' sahaya jadi suka bertandang ke rumah Sri maupun Hanny. Ke rumah Hanny yang rakyat biasa sih engga susah atau perpelen (kata urang Belande) yach. Weleh, ke rumah Sri, tentu mesti di-interogasi dulu oleh "satpam" di kandang monyet rumah Jendral Sabur. Itu mungkin sebabnya juga, ketika belakangan di jaman demo KAMI KAPPI, Bang Jeha Anda mesti berhadapan dengan warga resimen Cakra, ia dapat mengurangi sedikit ketakutannya dengan mengingat perumpiannya dengan Sri Sabur :-). Tak salah lagi, ia tidak terkencing-kencing ketika ditembaki serdadu Cakra, lantaran yang diingatnya cuma kemanisan si Sri :-). Sampai berjumpa di kisah berikutnya, bai bai lam lekom.