Pengalaman Anak CC III

Di serial pertama sudah saya singgung bahwa guru favorit saya di CC adalah Pak Wahab guru Ilmu Pesawat dimana saya jatuh senang kepada sang ilmu setelah mengetahui seninya. Tidak pernah ada mata pelajaran yang saya benci sebab saya tahu, sekali kita benci akan sang mata pelajaran, beliauw akan membawa kita ke pecomberan alias amblas angka di rapor. Banyak mata pelajaran yang saya senangi sebab saya orangnya memang rajin, sayang udah laku ye :-). Salah satu atau duanya adalah pelajaran bahasa. Yang pertama tentu bahasa Inggris dan kebetulan di kelas 2 dan 3 saya dapat guru cewek, ya, tak lain dari Ibu Kho yang cantik manis di waktu mudanya :-). Tanya kalu ga percaya :-). Suatu ketika kami anak-anak ditugaskan mengarang 'essay' dalam bahasa Inggris. Ibu Kho tak tahu bahwa waktu itu saya mempunyai 'pen friend' di manca-negara dan mempunyai satu dua kisah mengenai budaya bangsa yang sudah saya hapal banget, maklum sudah 100 kali kutulis. Ini yang kudongengkan.

"As dusk falls, neighbours gather for a selamatan. In Indonesia, you hold a selamatan for almost everything. When a calf is born, when a daughter gets married, when a son leaves for Canada :-)." Ya, saya bercerita mengenai upacara selamatan di masyarakat Indo dan si Ibu Kho kagum banget prens. Dikiranya saya hebring sekhalei di dalam mengarang sehingga saya lalu dipanggil ke muka kelas, disuruh menuliskan dongengan itu di papan tulis dan lalu dianalisis dan dijelaskan oleh Bu Kho. Sejak itu, ia juga sayang kepada Bang Jeha Anda dan tak pernah saya menyontek di ulangan bahasa Inggris :-). Sebetulnya lagi, ada satu anak di kelas 2A kami yang menjadi sumber kekaguman anak-anak akan bahasa Inggrisnya. Tentu saja sebab ia anak diplomat dan babenya pernah ditugaskan di KBRI London. Kalau Anda kenal, Janeidy Juni. Aksennya bak Winston Churchill dan segala macam kata ia tahu artinya. Yang lebih hesbat pren, Janeidy mempunyai satu buku langka di jaman itu, Lady Chatterley's Lover karya DH Lawrence. Buku itu menjadi terkenal karena masuk di dalam daftar hitam Gereja Katolik alias dosa banget ngebacanya :-). Kalau Anda pernah membaca buku itu, jangankan dibandingkan dengan stensilan yang banyak merebak di jaman saya, dibandingkan dengan buku roman ABG sekarang ini, ga ada apa-apanya. Adegan esek-eseknya paling sehalaman antara si Lady dan tukang kebonnya. Ditulisnya juga puitik dan prosais, engga kaya Bang Jeha ngarang cerita stensilan :-). Itulah salah satu kegiatan "ekstra- kurikuler" anak CC, mencari dan membaca buku yang dilarang urang Katulik.

Di atas saya sebutkan bahwa ada bahasa kedua yang saya pelajari di CC, ya Bahasa Jerman. Anak-anak kelas 1 diberikan pilihan, mau Latin atau Jerman dan saya lebih senang yang terakhir. Gurunya seperti saya sudah sebutkan adalah Pak Oei Tjoe Kian. Ia orang yang baik hati dan saya menjadi lebih kenal kepadanya karena saya juga les di rumahnya sesudah saya di kelas 3 dan tak ada lagi pelajaran Bahasa Jerman. Kesederhanaan guru-guru kita atau lebih gamblangnya kemiskinan mereka bisa kita sadari kalau kita bertandang ke rumah mereka. Beberapa saudara sepupu saya, sampai hari ini guru sekolah dan saya tahu betapa elitnya mereka, ekonomi sulit. Begitulah rumah Pak Oei, di suatu gang dekat Jl. Tanah Abang Bukit. Ruangan les adalah ruangan utama alias ruang tamunya. Yang lainnya cuma dapur dan kamar tidur serta kamar mandinya. Wong rumah di gang. Anda dan saya anak-anak CC tahu, sudah bukan rahasia bahwa ada guru les yang sedikit "membocorkan" soal ulangan kepada anak-anak les mereka. Kita tahu siapa yang les apa dan biasanya anak-anak ini ada fans-nya :-). Dibae-baein dan mungkin disamperin di malam menjelang ulangan. Dasarnya saya sok jago atau GR kali ye, saya tak pernah mencari-cari soal ulangan atau mendapatkannya dari mereka, gengsi dong. Seperti saya katakan, kalau saya jadi guru SMA di Indo, punya anak isteri dan gaji tibang pas buat (cuma) seminggu, mungkin saya juga akan melakukan hal yang sama, agar les saya menjadi laku keras. It is a matter of survival my dear friends.

Bukan hanya hal-hal memprihatinkan tentunya yang saya alami ketika bersekolah di CC, tapi juga hal-hal yang menyenangkan. Acara pemutaran film di aula terkadang menarik, pertandingan kejuaraan olahraga pun demikian. Tapi yang paling saya senangi adalah pertandingan olahraga antar seluruh SMA Katolik se-Jakarta. Disinilah kita bisa menikmati atlit-atlit amatir SanUr, SanMar. Marsudirini, Tarakanita alias cewek-cewek bahenol semlohay slekdut bertanding dan eksyen banget sebab kita tongton :-). Cewek mane nyang engga 'show off' ye ditonton ama anak CC :-). Salah satu anak SanUr yang cukup saya kenal adalah si Lena anak Kartini yang memang atlit oke punya. Cicinya Lena, si Nancy suatu ketika dipacarin oleh Bian Koen jadi memang mereka cukup hebring. Nah, di acara pertandingan olahraga seperti itulah, dewa asmara bekerja keras memanah-manahi hati cowok-cewek baik antara sesama atlit, antara atlit dan penonton maupun antara penonton. Teori psikologi 'excitation transfer' yang kira-kira berbunyi dimana ada 'excitement' disitu cinta mudah terbentuk sering berlaku jadinya di dalam acara pertandingan olahraga seperti itu. Sudah bukan rahasia lagi bahwa saya pun memboyong satu anak SanUr dan isteriku menggaet satu cowok CC karena seringnya kami 'excited' ketika pacaran dalam acara-acara kemping kami :-). Sampai serial berikutnya, lam lekom bai bai.

Home Next Previous