Seorang sohibku warga milis Anda kemarin ini mengirimkan tayangan per japri
mendongengkan teori John Dewey, seorang filsuf/psikolog/ahli pendidikan.
Kata Oom John, "Banyak orang yang berpendidikan ternyata tidak terampil
berpikir". Kata prenku yang sedang menulis suatu tesis, ketidak-terampilan
itu bukan disebabkan oleh "lack of ability" atau "lack of intelligence",
tapi oleh 'lack of character'. Ini memang bukan teorinya tapi Oom Ron
Ritcchart anak Harvard. Kata si Ron, ada enam karakter yang khas dari mereka
yang gemar berpikir seperti anak-anak CC :-). Kujabarkan di bawah ini.
1. Open mindedness
2. Curiosity
3. Metacognitive
4. Seeking truth and understanding
5. Strategic
6. Skeptical/Analytic
"Weleh Bang Jeha, ente lagi ngedongengin CC atau mau kasih kuliah psikologi," tanya Anda-anda yang tak suka berpikir tapi ngeritik :-). Kata pren saya lagi, ternyata, pembentukan karakter seperti di atas banyak dipengaruhi oleh metode/kurikulum sekolah. Itulah sebabnya saya dongengkan di serialku ini. Kalau Anda dan saya alumni CC merasa kita ini tukang berpikir, berdasarkan teori di atas, tak lain tak bukan karena metode belajar beberapa guru-guru kita di CC dan terlebih karena LINGKUNGAN yang kondusif. Saya tak tahu apakah Anda diajar Pak Tri(sno) guru Civic di jaman saya. Meskipun ia dari budaya Jowo, menurut saya pandangannya terbuka. Ia mempersilahkan kita bertanya dan terkadang pertanyaan kita sengak atau tepatnya ngeritik pemerintah (Sukarno) pada saat itu. Meskipun mengajar ilmu eksakta, jagoan saya Pak Wahab juga terbuka pikirannya. Bukannya GR tapi karena saya banyak menimba ilmu alias pemecahan soal-soal pesawat dari buku-buku AMS Belande, sesekali kalau saya dipanggil ke depan dan memecahkan soal Pak Wahab dengan metoda yang lain dari apa yang ia inginkan untuk dilakukan, ia bisa manggut menerima solusi yang saya 'propose' :-).
Kalau Anda mengikuti serial The Nurture Assumption yang saya dongengkan berdasarkan buku berjudul itu karangan Judith Harris, Anda tahu bahwa menurut doi, lingkungan dan bukan ortu yang telah membentuk karakter kita. Ortu bisa memfasilitasinya tetapi tidak melakukannya. Jadi kesimpulan, lingkungan sekolah dan pergaulan seperti di CC sedikit banyak penting di dalam membina karakter kita. Kalau di SMP kemungkinan kemampuan cognitive kita masih belum sebagus di SMA untuk mencari kebenaran dan pengertian, belum sekokoh anak umur 14-17 dalam dalam melakukan analisis. Di tayangan terdahulu saya kemukakan kegiatan kami di luar jam pelajaran atau di hari libur. Selain piknik, kami suka ngerumpi dengan seorang teman kami anak Pasar Minggu, si Utut. Sebut saja namanya sebab menceritakan kebaikannya. Utut tidak jauh bangkunya dari saya, mencong dikit sebangku di belakang saya. Jadi cukup pren atau memang dekat kapling kami. Suatu ketika Utut mengajak man-temannya ke rumahnya untuk bermain berenang di danau kecil dekat rumahnya. Tentu saja tak kami lewatkan kesempatan seperti itu. Yang mengharukan kami, sedikitnya si saya, meski Utut dari keluarga sederhana, ia menjamu man-temannya makan siang di rumahnya, a la kadarnya tentu. Inilah satu contoh yang saya katakan, pendidikan di CC membina karakter kita. Saya yakin Anda setiap warga CC punya "Utut-Utut"-mu yang lainnya yakni kalau selama bersekolah kerjamu tidak belajar mulu :-).
Anda dan saya anak CC tahu teman kita si Anu anak jendral, si Polan anak menteri, si Badu anak cukong. (Ketika saya di CC, anak Cak Roeslan Abdulgani salah seorang menterinya Bung Karno sedang bersekolah.) En toh kita tak peduli dan sering senasib, misal digampar Pak Taryo :-), ditendang Pater Pamong si Both :-). Seriusan, meskipun banyak di antara babe bapak prens teman kita orbek, kita tak peduli dan menganggapnya sama azha kaya si Utut. Saya pernah sebangku dengan Widarto yang babenya jendral Zeni A.D., dengan Rosihan yang bapaknya propesor doktor ahli bedah tulang, dengan Roy Thio (Tirtadji) yang bokapnya direktur CTC (kemudian jadi Panca Niaga), tapi bagi saya 'so what'. Ya, di CC-lah kita mulai dibina prens akan prinsip-prinsip demokrasi, penghargaan terhadap seseorang tak peduli suku agama rasnya. Bagusnya lagi lingkungan kita di saat itu, anak-anak jendral pejabat konglomerat itu pada umumnya juga tidak ada yang sok jago. Mana mereka berani nangtangin para guru di CC atau bertawuran model SMA jaman Y2K. Itulah satu contoh lagi yang bagi saya berkesan karena bapakku cuma anak kampung Kwitang di Betawi, tak punya titel maupun pangkat.
Satu dongengan lagi, kalau Anda masih di Indo dan seangkatan dengan saya di CC, tentu Anda kenal sejarah awalnya seorang tokoh dunia intelektuil Indonesia saat ini, doktor Frans von Magnis Soeseno. Ketika ia baru menclok di Kampung Melayu alias masih menjadi saurang frater SJ, ia ditaruh di CC. Kasian banget prens yang bukan anak CC, nasib si von Magnis (kami panggil ia demikian). Karena tubuhnya yang kerempeng dan wajahnya yang memang rada memelas :-), ia sering banget menjadi sasaran ejekan dan olok-olok anak-anak badung di CC. Bahasa Indonya masih sangat terbatas, ia juga dari Jerman alias membawa citra "hitler" bagi para pengoloknya. Jadi ia sering diledeki di dalam bahasa Betawi atau Indo kampungan sehingga ia mau marah tidak bisa, wong ga ngerti, mau nangis tentu malu :-). Akibatnya, Frater von Magnis di tahun pertama di CC menjadi seorang yang THP menurut saya, The Hurting People. Mungkin kita semua telah menempa karakternya sehingga ia sekarang menjadi seorang pemikir intelek yang sangat hebring :-). Sampaikan salam saya kepada si Magnis bila Anda berjumpa atau mengenalnya :-). Bai bai lam lekom.