Anita memang manis penampilannya. Rambutnya tergerai sebahu dan dari belakang body-nya kaya botol buat ngukur waktu, si bule bilang hour glass. Pinggangnya ramping menantang untuk dibetot, dadanya lebar dan pinggulnya mek, kalau baru si Inul sih putus :-). Itu baru dari belakang. Dari depan, ente pasti mau berlutut di depannya. Dada yang lebar itu dikaruniai dengan, maaf kalu-kalu ada anak kecil, sepasang susu segede alaihim. Anita memang sexy dan mukanya mirip seperti JeLo, bukan agar-agar kesukaan bocah Amrik tapi Jennifer Lopez. Mulutnya yang sedikit merekah menantang dihiasi bibir tipis. Hidungnya yang mungil mancung menggoda untuk dicubit. Matanya pren, copot jantungmu bila diliriknya. Gimana sih, wong matanya JeLo :-). Adrian anak CC berjumpa dengan Anita di suatu acara pertandingan olahraga antar sekolah Katolik. Adrian memang bintang basket di CC dan kalau ia sedang bertanding, lapangan basket penuh kaya semut ngerubungin gulali. Karena riuhnya tepuk tangan penonton pas Adrian baru melakukan 3-point shoot kebolehannya, Anita yang memang sedang sendirian menghampiri lapangan basket yang letaknya dekat aula CC, mendengar riuh-rendahnya tepukan serta suitan fans-nya si Adrian :-). Kalau Anda belum kenal, selain ia dikaruniai kepiawaian pemain basket, Adrian juga kece anaknya. Otot-ototnya jelas terlihat kalau ia sedang berlari men-dribble bola, "ototnya" yang satu itu juga tak kalah nampangnya :-). Anak-anak yang sedang menonton minggir ketika Anita yang berparfum Miss Dior wangi mawar datang mendekat. Sebagian tak tahu lagi, bingung mau melihat terus Adrian eksyen apa cewek bahenol tersebut. Cerita selanjutnya, disensor alias disudahi saja prens sadayana. Ya, itulah salah satu stijl pembukaan cerita stensilan yang suka saya karang ketika saya masih di CC. Seperti saya katakan ke si Adrian yang memesan cerita seperti itu, saya sudah insap, kapok takut kuwalat kepada Pater Vel(thuijs) yang saya sayangi :-). Ya, Pater Vel adalah pater di Kanisius, guru mata pelajaran agama. Kepada beliaulah Bang Jeha mengakukan dosanya, sudah menulis cerita-cerita stensilan yang porno, mengalahkan DH Lawrence dengan Lady Chatterley Lover's-nya. Ketika saya masuk R.S. Carolus sehabis tabrakan motor, Pater Vel sering juga datang nge-bezoek disamping Pater Krekelberg yang cuma sekali doang, maklum direktur sibuk kali ye. :-)
Itulah salah satu dunia gelap di CC :-). Anak-anak senang akan pornografi dan penulis Anda yang sekarang sudah insap, sedikit banyak sudah berjasa membina karakter anak CC :-). Ingat, dibutuhkan unsur-unsur keterbukaan (kalau cerita di atas diterusin Anita dan Adrian bakal buka-bukaan memang :-)) untuk membina karakter. Unsur keinginan tahu anak-anak jelas nyata di dalam membaca cerita stensilan sebab saya berguru kepada para prens saya langganan PSK di Kramat Tunggak, terkadang saya nonton live show :-). Apa lagi unsur yang membina karakter anak CC? Oya mencari kebenaran dan pengertian. Adalah sudah sejak Adam dan Hawa cowok bertujuan hidup mempersunting cewek vice versa, alamiah namanya. Jadi mereka yang menghayati filsafat ini mestinya tahu bahwa di dunia sekolah cowok, kuberani jamin pasti di SanUr dan SanMar pornografi juga merebak. Salah satu kelik yang populer adalah kelik yang hobinya ke benda-benda porno, dari mulai cerita stensilan, majalah, foto sampai ke BF atau blue-film. Karena ini masalah sensitif, tak perlulah kusyer siapa saja penggemar cerita stensilanku di antara anak CC :-).
Namun, saya bisa mensyer kelik atau dunia kegiatan lain di CC, yakni kelik musik dan belajar. Ada satu kelik yang saya hormati, kelik anak-anak Kemayoran yang terdiri dari 4 serangkai, Hok Liang, Udin, Toto dan Azis. Yang terakhir adalah pemaen band cukup boljug sebab empoknya, Neneng Salmiah, menjadi bintang TV di waktu itu. Ya, si Azis yang kami panggil Botty, adalah salah satu anak yang membuat kehidupan di CC tidak hambar. Mereka sering ngebodor dan kalau piknik bersama, perut kita akan mules sebab ketawa mulu. Kalau ada acara informil di kelas, misalnya Ibu Kho udah bosen ngajar, ia minta Azis membawa gitarnya dan kami gantian nyanyi buat Ibu Kho di dalam kelas. Kalau saja Pater Jeuken pengganti Krekelberg tahu, gaji Ibu Kho bisa mandeg. Bagusnya anak-anak CC, lingkungannya seperti saya katakan kondusif, meskipun banyak becandanya mereka rajin belajar dan sesekali saya diundang jadi pelajar tamu. Belajar bersama sebetulnya bagus. Kalau sendirian kita hanya bisa memecahkan 10 soal dalam sejam :-), berempat kan jadi berlipat-lipat. Karena saya suka ke rumah Botty atau belakangan saya tahu bahwa bapaknya, Pak Arifien punya hobi yang sama dengan saya, ngoprek radio dan pemancar, bergurulah saya kepada babenya Azis di dalam hal ilmu merakit pemancar. Sudah gitu, keluarga mereka juga ramah, baik Neneng yang manis senyumnya kalau saya datang :-), maupun abang mereka Marzuki. Itu juga sebabnya ketika di kelas 3 SMA kami anak-anak sekolah di jaman itu disuruh membuat 'skripsi', pilihan saya adalah radio kristal dan saya buat sampai berfungsi atau jalan. Belakangan pren, nama CC semakin harum saja sebab teman saya dari cem-macem sekolah lainnya di Jakarta, antri meminjam skripsi itu dan mengubah doang nama saya ke nama mereka, kasian ya :-). Mana saya bisa menolak kalau adik-adik mereka sedang saya taksiri, suwer :-). Itu baru satu kelik yang saya ketengahkan dan seperti sudah saya katakan di awal serial ini, ada banyak kelik lainnya. Kelik pastilah sudah membina juga karakter anak CC. Sampai jumpa, lam lekom.