Pengalaman Anak CC VII

"Apa anak CC suka berantem Bang Jeha?," tanya si Jimi Hendrix anak CC Amrik yang memang bawel :-), sebab setiap tayanganku dikomentarinya. Di era saya, tujuan utama anak-anak SMA bersekolah adalah belajar dan bukan untuk saling tawuran, amit-amit ngebajak bis. Artinya, jarang sekali saya melihat adanya perkelahian di lapangan bola CC. Kata si Jimi sih, anak yang bengkelai di era dia kalau ketahuan Pater Drost dikeluarin dengan akibat mereka "pindah" kalau berkelahi, yakni di Taman Cut Mutiah yang tidak jauh dari CC letaknya. Memang, namanya juga anak laki-laki, ada saja sih jagoan tukang berkelahi antara kami, salah satu anak sekelas saya si Goan Hoey. Namun, dari seluruh anak CC yang saya paling sering lihat berkelahi di lapangan bola adalah si Naryo. Kalau Anda tidak kenal, ia abangnya penyanyi tenar Marini dan Yapto bos Pemuda Pancasila yang tak perlu saya ceritakan kelakuannya di CC,atut :-). Kalau bengkelai Naryo buka baju sehingga dadanya yang berbulu kaya gorilla sengaja diperlihatkannya supaya lawannya belum apa-apa sudah keder. Oya, darimana saya tahu Naryo abangnya Marini, kan CC sekolah cowok semua? Karena teman sebangku saya, si Wid naksir dengan Marini dan suka datang ke rumah keluarga mereka dimana si babe seorang kolonel AD waktu itu. Wid yang babenya jendral menang angin sehingga suka saya godai :-). Sayangnya Marini semakin lama semakin hebring di dunia show dan apalah artinya anak saurang jendral.

Di salah satu serial ini saya dongengkan sedikit tentang Pak Harun yang bodynya lebih mirip pegulat dibanding atlit. Selama 3 tahun ialah guru olahraga di CC dan saya sempat sekali melihat Pak Harun yang setreng: takjub. Begini kisahnya. Sejak saya di SD Budi Mulia saya mempunyai sahabat karib bernama Bong Ngiap Lim anak Bangka. Sebagai layaknya sahabat saya, si Caplin julukan pren dekatnya ke doi, anaknya baik sekhalei. Saya suka makan juga di rumahnya di Taman Sari XI kalau lagi lapar :-). Nah, sejak kecil Caplin sudah senang berenang dan semakin besar semakin senang alias ketika ia sekelas saya di CC, ia menjadi atlit nasional membawa nama bangsa di bidang renang. Spesialisasinya adalah gaya punggung dan, maaf, mencet biji :-) alias pemain tim polo air nasional. Ialah yang menceritakan rahasianya permainan kotor para manukers kalau sedang bertanding polo air. Bila wasit tidak melihat, mereka memijat biji lawan sekeras-kerasnya atau menendangnya seolah-olah tidak sengaja. Baru setelah Ngiap Lim mensyer begitulah ulah para pemain polo air, saya lebih menyimak memperhatikan apa yang terjadi di bawah air ketika ada pertandingan polo dan kayanya ia tidak bohong :-). Nah lagi, untungnya generasi saya, ketika kami ujian akhir SMA kami harus mengikuti atau ada mata pelajaran olahraga yang diuji. Mungkin itu sebabnya juga sampai saat ini saya tetap senang berolahraga. Tidak salah lagi, yang saya pilih untuk diuji adalah renang, gaya dada yang paling gampang. Selain kami mesti diuji, dicatat waktu kami berenang sejauh 50 meter, juga kami diuji bisa 'sit up' berapa kali, 'push up' berapa kali, dst. Karena Ngiap Lim, sori sampai lupa nama barunya Bambang Budihardja, sekelas maka selama saya diuji ia juga di ruangan yang sama denganku. Ketika mesti sit up push up di ruangan olahraga CC, pas Caplin sit up mendekati 100 kali, Pak Harun yang dari kagum jadi bosen, menyuruhnya berhenti saja. Itu pula yang terjadi ketika Ngiap Lim push up sampai 50 kali dan masih terus diganda ketawa. Anak CC yang masuk TC (Training Centre) memang engga malu-maluin bangsa ya prens. Saya tahu prenku BB berhasil menggondol medali-medali di dalam kejuaraan internasional hanya kayanya Indonesia tidak pernah menang dalam pertandingan polo air putera :-).

Beberapa hari yang lalu seorang di CC Emberikan, America, bertanya siapa azha yang jadi dokter di antara para warganya. Rupanya dokter dan insinyur masih menjadi idaman ibu-ibu Indo bagi titel menantu mereka :-). Mengingat Ngiap Lim di atas dan urusan perdukunan, satu warga CC yang juga sahabat saya dan sempat lulus sebagai dokter adalah Sugeng Surjadi. Bersama-sama Ngiap Lim, kami bertiga mendirikan LSM ketika kami masih di SD Budi Mulia dengan tujuan: belajar lebih giat lagi maupun mempromosikan segala hal yang menyangkut dunia pendidikan :-). Karena kami percaya semakin sedikit formasi suatu LSM semakin ia akan kompak, cukup ketua bendahara dan sekertarisnya, itulah doang anggota LSM kami merangkap para direkturnya. Sugeng yang dengan sedih harus saya syer sudah meninggal ketika baru saja lulus sebagai dokter, adalah idola saya juga. Bukan saja kami bersama-sama di LSM tersebut, kami bertiga juga misdienar atau istilah keren sekarangnya, putera altar. Ketika di CC Sugeng berguru kepada Prof Makino yang kalau tak salah menyandang Dan VI yudoka. Itulah sebabnya, karena ban hitam yang dimilikinya dan sebagai saurang pendekar, ketika pada suatu malam yang naas ia pulang di jalanan kampung dekat seberang Pasar Rumput habis wakuncar, ia ditusuk rampok. Kata teman-teman yang meng-autopsinya dan dari lukanya, jelas Sugeng melawan dan ia ditusuk dari belakang dimana sang pisau langsung menghunjam jantungnya dan hilanglah salah seorang pren berdiskusiku di dunia ini. Ya, ketika belakangan ia kuliah di FKUI dan sering ditugaskan ke Kalimantan, setiap ia pulang, kami berdua ngobrol dan ia mensyer suka-duka maupun tekadnya untuk bila sudah lulus, menjadi dokter di Kalimantan. Itulah sahabatku almarhum Sugeng Surjadi, anak tangsi yang ayahnya cuma seorang sersan, harapan keluarga, ketika nyawanya melayang di kota Betawi yang tidak ramah lagi alias banyak penyamunnya :-(. Salah satu warisan LSM maupun kenangan akan Sugeng yang sampai hari ini masih saya tekadkan adalah membagi apa-apa yang ada di otak saya untuk Anda semua, termasuk menulis dongengan seperti ini, maupun membantu pendidikan mereka yang tak mampu untuk membiayainya. Semoga, sampai berjumpa, bai bai lam lekom.

Home Next Previous