Pengalaman Anak CC VIII

Kemarin saya bertemu dengan teman saya anak bule Kanada yang sudah 10 tahun lebih saya tidak menjumpainya. Bersama isterinya dan saya berdua Cecilia dahulu kami mengajar KBA, Keluarga Berencana Alamiah di kota Toronto ini. Jadi hubungan kami cukup dekat serta juga karena sifat para guru KBA, blak- blakan engga tahu malu :-). Saya jemput ia di suatu sekolah khusus, elite, The Hawthorne School for Girls yang terletak di daerah York Mills - Leslie kalau Anda anak Toronto. Ketika saya masuk ke ruangan utama sekolah yang memang wah tersebut, saya disuguhi pemandangan persiapan Ekaristi atau Misa Kudus. Oya, sekolah itu menampung cewek-cewek dari mulai TK sampai SMA. Saya tanya kepadanya sambil kami ngobrol makan siang bersama di suatu warung 'submarine' tak jauh dari sekolah. "Is attending Mass a must at the school?." "Only up to grade 7, which is the last grade before high school at Hawthorne," katanya lagi. Jadi anak-anak SMA-nya tidak mesti untuk menghadiri Misa meski Katolik. Sampai lupa, sekolah itu memang sekolah swasta elite buat puteri urang Katulik. Bagaimana tidak elit kalau uang sekolahnya saja $ 12000, ya belasan ribu dollar setahunnya, dua kali lipat uang kuliah universitas. Meski tentu tak saya ceritakan kepadanya, waktu saya di CC, entah mengapa saya selalu diara (bahasa Betawi: dikejar) oleh Pater Vel kalau di hari Jum'at acara Misa Kudus, saya ngumpet di ruangan kelas :-). Mungkin paksaan ikut Misa oleh Pater Velthuijs membuat saya tetap menjadi saurang Katulik sampai hari ini.

Seriusan prens sadayana, selain acara pemutaran filem yang terkesan ketika saya bersekolah di CC, acara-acara retret bagi kami anak Katoliknya juga bagus. Meskipun retret diadakan di ruangan sekolah atau di aula, tetapi ada kesempatan untuk merenung sebab pada umumnya, bila ada retret suasana CC di akhir pekan itu menjadi sunyi. Anak-anak asrama baik yang ikut retret maupun yang tidak, tentu berdisiplin dan tidak berani cem-macem. Untungnya kami di CC, ada kapel yang cukup bagus dan seperti gereja suasananya. Meskipun saya tidak pernah dienen disana, istilah bagi putera altar di jamanku dalam melayani Misa, saya senang untuk tinggal diam dan merenung di dalam kapel itu. Di CC-lah "renungan" saya di dalam kapel susteran Santo Josef Jl. Dwiwarna dikompensasikan :-). Ya, saya pakai tanda kutip sebab waktu saya SMP di Budi Mulia, hampir setiap pagi saya melayani Misa di kapel susteran tersebut. Kerajinan saya tak lain karena meriahnya suasana kapel disitu dibandingkan dengan kapel di CC.

Di atas saya tambahkan kata 'tamat' sebab memang saya ingin mengakhiri serial ini. Ada satu dua serial saya yang jadi tertunda karena serial ini. Sebelum saya lupa, terima kasih kepada semua pemberi komen, khususnya warga CC Amrik yang sudah memberikan saya "bensin" sehingga saya bisa menulis sepanjang 8 tayangan. Adalah pendapat saya bahwa saat yang paling asyik dan membahagiakan ketika kita bersekolah adalah di waktu SMA. Di SD? Kemungkinan kita masih ngompol dan cengeng :-). Gimana SMP? Masih blo'on dan telmi banget. Di universitas/akademi? Terlalu kompleks dan sering penuh dengan permainan politik yang kotor maupun tak etis. Jadi semoga Anda setuju, SMA kita adalah dimana kita mulai terbentuk dan terbina sebagai manusia. Kalau saya berjumpa dengan seseorang dan setelah sedikit ngobrol tahu ia anak CC juga, sepertinya ada suatu pelekat virtuil di antara kita anak-anak eks CC. Itu suatu bukti bahwa masa di SMA memang paling oke punya :-). Sebentar lagi Dr. Frans Tshai yang oleh temannya di CC dikenal sebagai si Fa Hie akan datang ke Toronto. Berseliweran surat seterom ke kotak surat saya yang ditulis anak CC para prennya sehubungan dengan kedatangan beliauw. Jadi bila Anda tinggal di Toronto dan mengenalnya sejak di CC serta Anda mau bertemu secara pribadi karena ada hutang piutang :-), surati saya dan sebagai sesama anak CC, kita bisa KKN-an mek :-).

Saya tahu banyak anak CC yang bangga bila menyebutkan ia dulu di CC, apalagi kalau tahu Akbar Tanjung dan Yapto anak CC juga :-) di samping sederetan nama menteri dan pejabat orbek lainnya. Ya, SMA kita bisa menjadi ajang pembinaan kita sebagai manusia atau lebih tepatnya memanusiakan diri kita, becoming human istilah kerennya. Karena saya dulu suka bergaul dengan prens saya baik yang dari mulai di SMA Negeri sampai ke Taman Siswa hingga ke SMAK I, memang lingkungan kita di CC boleh dibilang oke punya. Meskipun kita dipaksa ke Misa Kudus kalau kita Katolik, disiplin dari para guru dengan pedoman pendidikan a la Yesuit menurut hemat saya cukup memanusiakan kita para Canisian. Di dalam lingkungan CC kita bersikap 'humble', tidak pernah sok jago sebab kita sadar "di atas langit ada lagi langit lainnya" bak istilah dunia kang-ouw atau persilatan :-). Semoga itu juga prinsip Anda di dalam hidup di dunia sosial Anda dan kalau saya si Jeha suka sok jago, itu karena saya sedang lupa mengenangkan sahabat saya Sugeng Surjadi almarhum, seorang Canisian yang sederhana dan rendah hati. Semoga kita anak-anak CC dapat saling mengingatkan kalau-kalau kita menjadi Ketua DPR atau Presiden RI :-) untuk sebagai "kacang" kita tidak lupa akan "lanjaran" kita. Bukan karena ada nama CC di belakang kita tetapi agar supaya Dia-lah Sang Pencipta yang lebih bersinar dibandingkan si kita anak CC :-). Ad majorem Dei gloriam, demi semakin mulia nama-Nya semoga menjadi motto hidup kita di dunia ini baik Anda anak CC, Ursula :-) maupun SMA lainnya. Teriring salam dari Toronto.

Home Previous