Lamunan Bersepeda IX

Hari hujan dan angin bertiup cukup kencang waktu saya bersepeda ke kantor hari Senin lalu. Meskipun jarang terjadi hujan lebat seperti di daerah tropis dan tidak sampai membuat saya basah kuyup tetapi lumayan keyep atau kiyipnya saya ketika sampai di kantor. Sambil bersepeda di tengah hujan itu memang saya melamun :-). Bagi saya, bersepeda di tengah hujan merupakan suatu pilihan alias tidak mesti. Bagaimana kalau keadaan ekonomi saya tidak memberikan pilihan itu? Jelas tidak akan ada kisah ini.

Musim semi dan panas di kota Toronto ini terkenal dengan salah satu 'feature' bernama kemacetan jalan. Mengapa jalanan menjadi macet? Karena dimana-mana jalanan rusak dan terjadi perbaikan jalan. Yang membuat macet adalah kalau yang diperbaiki 'highway' karena arus lalulintas mobil yang tinggi disini. Mengapa kalau musim semi jalanan rusak? Tidak lain karena dingin atau es yang turun ke jalanan. Es ini menyebabkan keretakan yang lama kelamaan menjadi semakin besar karena tekanan dan lindasan ban mobil. Nah, keretakan yang parah terjadi umumnya di pinggir jalan karena kalau salju dikeruk (shovel) oleh mobil-mobil pengeruk, maka salju atau es itu dipindahkan ke pinggir jalan. Akibatnya selama bersepeda saat-saat ini, mata saya harus awas, sejeli mata anak Betawi menghindari "macam-macam gituan" kalau jalan di kampung :-). Terkadang karena ada mobil yang tidak memungkinkan saya menghindari celah itu dan salah taksir, dikira tidak lebar, saya menghantam celah yang dalam. Memang paling sih 5 10 cm lebarnya tetapi karena ban sepeda yang kecil maka terasa, ngejeglek gitu. Untuk mobil, celah atau lubang seperti itu tidak ada artinya, paling gres atau srek. Lalu syokbrekernya membuat pengemudi mobil kan asyik asyik saja. Apalagi mobil Timor :-). Bersepeda, ya syokbrekernya tubuh dewek alias diri sendiri.

Lalu saya jadi merenung lagi. Waktu saya masih kecil, kalau BBM naik harganya, ibu saya suka menjerit, "Gilaaakkk, bahan bakar naik lagi." Memang kalau BBM naik, semua jadi naik dan pejabat yang mengeluarkan keputusan itu saya yakin tidak mengeluarkan uang dari kantongnya sendiri yang tipis untuk beli BBM. Retak-retak atau lubang jalanan kehidupan, bagi "pengemudi mobil" memang tidak terasa, tetapi bagi si "pengendara sepeda" sangat terasa jegleknya. Beberapa waktu seseorang warga Net ini mengatakan, (ia laki-laki), "Gimana ya rasanya jadi perempuan?" Lalu di japri saya jawab, "Gih nyamar jadi perempuan sehari dua, lebih bagus jadi nenek-nenek dan mungkin dapat sedikit jawaban dari pertanyaan itu." Kalau kita tidak pernah mengalami sendiri, memang sukar menempatkan diri, kata orang sini 'to put oneself in the other shoes'.

Bukan hanya keretakan dan masuk lubang yang saya lindas, "kesengsaraan" saya bersepeda Senin itu. Nah, hujan dan angin yang cukup kencang, mengakibatkan lumpur cipratan mobil-mobil menerpa muka saya. Terkadang pengemudi "kurang ajar" menghantam genangan air di sisi depan saya dan saya paling dapat berkata "Sialan," sambil lalu menghapus cipratan air lumpur itu. "Sama kan dengan hidup ini?" kata sementara warga P-Net terkasih. Betul. Contohnya kita lihat di sekeliling kita juga, terlebih di tanah air yang sedang mempersiapkan "pesta" demoncrazy :-(.

Sebagian warga Net ini termasuk saya tentunya, di dalam posisi, jabatan, kedudukan, pemilik harta duniawi, terkadang menjadi "pengemudi mobil" dan melupakan sesama kita "pengendara sepeda". Semoga Anda dan saya dari waktu ke waktu sadar, bahwa banyak "pengendara sepeda" tidak mempunyai pilihan di dalam hidupmya dan mbok kalau mengemudi hati-hati untuk tidak mencipratkan lumpur ke muka mereka. Salam dari Toronto dan terima kasih kepada Anda semua baik di jalum maupun di japri yang menyemangati saya untuk terus menulis. Mungkin ketamuan Bu Admin di rumah kami hari-hari ini memberikan pengaruh positif sehingga saya meluangkan waktu di Sabtu pagi ini untuk menulis lagi.

Home Next Previous