Rubrik : Wacana |
Nasib Pemangku tak Seputih Pakaiannya
I Nyoman Tika
Pemangku sebagai manggala ritual di kalangan umat Hindu,
ibarat kelopak bunga, menanggung beban berat menyangga agar mahkota bunga dapat
terjurai demikian indah. Walaupun begitu, kelopak bunga tetap tak mendapat
pujian. Sama halnya dengan pemangku, bagaimanapun umatnya maju tetap saja
perhatian untuk sang pemangku itu tak beranjak jauh. Mulai dari seleksi sampai
kesejahteraannya tak banyak ditanggapi. Malah yang sering hadir adalah cibiran
atau dituntut sempurna, bagai dewa. Lalu, bagaimanana mestinya umat Hindu
memaknai pemangku saat ini? Pemikiran nyeleneh kerap muncul di kalangan umat Hindu yang
saya temui. Ketika banyak pemangku di Bali tidak menguasai mantra, apa yang sebenarnya
kita harapkan dari beliau dalam upacara besar itu? Lebih-lebih dapatkah kita
gantungkan harapan pada sosok pemangku ketika banyak dari mereka tak tahu
sastra dan nyaris buta huruf? Tidak mudah menjawabnya. Sebelum menulis artikel ini, saya lempar masalah ini di Jurusan
Kimia Undiksha. Pemikiran saya nyatanya bervibrasi sama dengan teman-teman yang
lain, bahwa kehadiran Jero Mangku tetap penting dan bermakna spiritual tinggi
dalam setiap upacara dan pembinaan umat. Yang dibutuhkan adalah ‘kesucian
hatinya’ walaupun kadang-kadang mantranya tidak lengkap. Karena kehadirannya
untuk memimpin upacara, selain sebagai simbol kesucian, juga sebagai tamu, itu
saja sudah cukup. Mengapa demikian? Saya teringat hanya ada satu bahasa yaitu bahasa hati. Bahasa
hati jauh lebih manjur berhubungan dengan Yang Maha Tahu dari pada ucapan penuh
kemunafikan. Tak ada yang lebih hebat dari bahasa hati. Hati murni, jujur dan
suci menjadi penting ketika seseorang ingin menjadi pemangku. Kehadiran seorang
pemangku dalam suatu upacara bermakna, bahwa sang pelaksana upacara telah
melakukan Rsi yadnya, dan juga telah melakukan penghormatan yang tinggi kepada
tamu yang kebetulan adalah orang suci (atita
yadnya). Namun di era globalisasi, di negara majemuk seperti Indonesia,
seorang pemangku haruslah sebagai penjaga sumber air telaga yang air suci untuk
pencerahan. Dia bisa melayani dan mampu memberikan aspirasi yang cerdas
terhadap para pemedek/umat yang
membutuhkannya. Untuk kasus terakhir, kisah jernih yang saya alami di
beberapa daerah layak direnungi. Saya salut dan hormat pada para Jero Mangku yang
mengabdikan dirinya untuk ngayah
melayani umat yang sempat menggetarkan hati saya. Berpakaian sederhana, dengan tatapan
mata tua yang tulus disertai tutur kata yang teratur, menjadi idaman banyak
umat yang mencari air pencerhan. Mereka itu menjadi saksi dari beragam peristiwa
yang telah dialami berkenaan dengan pura itu. Fasih dalam ilmu kegamaan. Sosok
pemangku itu, seperti yang saya temukan di pura Wai Lunik di Bandar Lampung, atau
Nak Lingsir yang telah manjeng pandita di Pulau Buton Sulawesi
Tenggara. Atau bisa lihat seorang pemangku yang sederhana, dengan tutur katanya
yang mantap tentang agama di Pura Cimahi Bandung. Ketiga Nak Lingsir itu sudah cukup untuk menunjukkan, bahwa peran seorang
pemangku sangat besar dalam menjaga api suci agar tetap menyala di suatu pura
di luar Bali. Dalam seleksi ke-pemangku-an, bisa dari departemen agama
bekerjasama dengan Parisada (PHDI), kemudian dilakukan kursus di masing-masing
provinsi. Tradisi nyanjan (suatu cara
dengan mencari kepada orang paranormal, di desa saya disebut sedahan/tapakan) tampaknya
perlu dimodifikasi. Tradisi lewat keturunan juga sering gagal mengemban misi
pencerahan umat. Nyanjan atau
keturunan, cara-cara ini sangat tidak standard. Nyanjan penting, bila setelah dipilih ada
motivasi untuk membelajarkan diri. Misalnya, di rumah saya memiliki pemangku
desa yang tugasnya muput di kahyangan tiga, umurnya sudah uzur,
selalu tersenyum dan gembira. Suatu kali saya tanya apa filosofi yang dianut
selama menjadi pemangku. Jawabannya pendek, hanya tiga kata, yaitu ngayah, ngayah dan ngayah. Dengan diberi tugas ngayah
saja sudah senang, imbalan tidak penting. Odalan adalah perayaan, dan mereka merayakan sebagai sebuah tugas
suci. Apakah ada cibiran selama jadi pemangku, ”ah… pasti ada, cuma ingat, batu
biasanya dilemparkan ke pohon-pohon yang berbuah lebat. Layaknya buah masak di
pohon, semua orang menginginkan itu. Apa lagi orang seperti saya, sederhana, banyak
orang mulia menghadapi cobaan dan kesulitan berat. Namun bila seseorang benar-benar
melaksakan kebenaran, tak satupun orang dapat mengoyahkannya. Biarkan beberapa
orang melawan kebenaran, mereka tidak akan pernah menang. Oleh karena itu,
lakukanlah dengan sungguh-sungguh kebenaran itu, apapun yang mungkin datang
kepada kita, seorang yang berpegang kepada kebenaran akan diliputi oleh kemenangan.
Oleh sebab itu, jangan pernah meninggalkan kebenaran. “ Seorang pemangku mestinya merindukan pencerahan bathin.
Berbicara pencerahan bathin W.N Pahnke dalam International journal of Parapsychology 8, (1966) mengatakan
tentang pencerahan bathin, (1) Kesatuan (unity) diri dengan dunia lahir dan
dunia bathin.(2) Transedensi waktu dan ruang, mencapai keabadian, (3) Elasi
kedamaian (4)Takwa (awe) perasaan suci dan takjub, (5) Memiliki keyakinan bahwa
kebenaran tertinggi sudah tercapai lewat intuisi, (6) Dampak pengalaman
religius yang terus menerus pada kepribadian, pemahaman dan perilaku. Sebagai seorang muda, saya selalu ingin mengajak pemerintah
dan tokoh umat untuk melihat profesi kepemangkuan sebagai bentuk lembaga yang
harus dihidupi oleh umat Hindu sebagai penyangga keutuhan umat beragama. Pemangku
selalu harus mendapat perhatian, baik rohani maupun secara lahiriah, sehingga
pemangku nasibnya selalu putih seputih pakaiannya. |