Tulisan Putu Setia yang Tersebar di Berbagai Media Masa, Kecuali Kolom Khas
 

Ketika Saling Percaya itu tak Ada

Putu Setia

DAN juga tatkala purbasangka telah meracuni para elite politik, pimpinan organisasi nonpemerintah, para pengamat, wakil rakyat --dan siapa pun mereka, yang terbiasa menjadi narasumber di media masa -- maka yang terjadi di tengah masyarakat adalah kebingungan. Juga sesuatu yang sulit dipahami, menjadi teka-teki, dan meninggalkan pertanyaan, apa yang sebenarnya terjadi di negeri ini? Bang Upik, montir panggilan yang nama aslinya -- begitu tertulis di kartu namanya yang sederhana -- Mohamad Taufik, pun bingung justru ketika ia mengaku lebih sering membaca koran dan menonton televisi. "Ditangkap salah, tidak ditangkap juga salah, yang benar yang mana?" ia bertanya, sembari mencopot baut roda mobil yang akan diperiksa remnya.

Seperti yang dilakukan banyak orang, ia berkomentar tentang tertangkapnya Tommy. Ia sudah sempat memuji polisi-polisi muda yang berhasil menangkap buronan mahal itu. Ia kagum melihat tampang Tito, pimpinan penyergap Tommy. Katanya, sebuah wajah yang bersih, tenang, alim, cerdas, jauh dari kesan culas. Ia juga merasakan, betapa lelahnya Tito dan anak buahnya, berhari-hari melacak keberadaan sang buron. Kini, ketika Tommy tertangkap, ada suara yang melecehkan polisi. Itu hanya rekayasa belaka. Itu hanya sandiwara. Bagaimana mungkin Tommy ditangkap tanpa ada perlawanan. Kemana itu para pengawalnya. Kenapa ditangkap sehari sebelum Bimantoro pensiun. Kenapa itu terjadi ketika kasus Akbar Tanjung sedang dibicarakan. Ini akal-akalan yang hanya ingin mengalihkan perhatian masyarakat. "Ini yang bikin kita bingung, yang benar yang mana?" tanya Bang Upik.

Saya tidak bernafsu menjawab pertanyaan itu. Bukan supaya Bang Upik lebih cepat memeriksa rem mobil saya, tetapi karena saya menduga Bang Upik lagi berpihak ke polisi. Banyak yang seperti itu, memang, betapa pun kita selama ini sangat kecewa dengan polisi, dan betapa pun polisi seringkali merekayasa berbagai kasus. Dalam hal Tommy? Rasanya tak masuk di akal sehat, kalau itu sebuah sandiwara -- itu pun jika kita masih percaya akan adanya akal sehat di republik ini. Kasus dana Bulog yang melibatkan Akbar, tak akan bisa dialihkan sampai orang lupa dengan tertangkapnya Tommy. Pers tak perlu digurui dalam memilih berita, mereka pun seperti juga manusia biasa, punya rasa jenuh terhadap suatu persoalan. Lagi pula, pers yang bebas tak bisa disetir untuk memberitakan ini dan itu, seperti yang dimaui para pimpinan LSM atau pengamat politik.

Negeri ini memang lagi kehilangan sesuatu yang sangat bernilai, yakni rasa saling percaya. Sebaliknya, kecurigaan makin subur. Kini, apapun prestasi yang dilakukan aparat hukum, baik itu polisi, jaksa, hakim, pasti tak ada benarnya di mata (beberapa) orang.. Bahkan lebih luas lagi, apapun yang dilakukan pemerintah, semuanya salah melulu. Berbuat begini salah, tetapi ketika berbuat yang "tidak begini", juga salah. Semangat "asal beda dengan pemerintah" menjadi modal untuk bisa tampil di layar kaca atau dicetak namanya di koran dan majalah.

Indonesia saat ini, seperti ditulis Mar'ie Muhammad di Koran Tempo, adalah sebuah kain yang sangat panjang dan lebar, yang robek di sana-sini, bahkan di banyak tempat tampak rapuh dan hanya menunggu waktu terkoyak. Mar"ie menyebut pemerintah kurang beruntung untuk berbenah. Saya punya perumpamaan lain, Indonesia ibarat sebuah tulisan yang sangat semerawut, tidak mudah lagi untuk memahami apa maunya. Editor yang paling ulung pun tidak akan bisa meng-edit kembali Indonesia untuk mencapai tatanan yang ideal, karena sudah terlalu berantakan. Yang bisa dilakukan satu-satunya adalah "menulis ulang Indonesia", menyusun kata demi kata dalam paragraf-paragraf baru. Persoalan besarnya adalah kata-kata apa untuk memulainya?

Bang Upik, dengan kesederhanaan cara berpikirnya, mengajak orang untuk mempercayai dulu apa yang dilakukan polisi. Maaf, ia masih berbicara dalam konteks kecil Indonesia, soal Tommy. Ujarnya: "Nanti dalam pemeriksaan dan pengadilan kalau ada kejanggalan, nah, baru bisa dikatakan sandiwara, jangan sekarang mah menuduh yang macam-macam."

Sayang, kesederhanaan bersikap seperti itu, bagi sebagian banyak "tokoh", sekarang menjadi barang mewah,. Mewah dan mahal, karena yang harus dipakai untuk membayarnya adalah rasa rendah hati untuk mengucapkan selamat (dan dengan demikian juga berarti memuji), sebuah institusi yang terlanjur dan dipelihara dalam imajinasi sebagai kotor, seolah-olah tak ada satu polisi pun yang bisa mengambil prakarsa untuk membuat bersih atau agak bersih. Polisi suka merekayasa, suka memeras, membekingi penjudi. Jaksa mudah disuap, mudah ditekan untuk membelokkan pemeriksaan, kerjanya lamban dan tidak profesional. Hakim pun masih menggadaikan palunya untuk menjatuhkan vonis, ada mafia besar di sana. Semuanya berada dalam atribut yang kotor.

Apakah sebuah keniscayaan jika paragraf pertama tentang "Indonesia yang baru" dimulai dengan rangkaian kata yang sangat sederhana: yakni sebuah tekad bersama untuk mencoba membuang segala stempel yang kotor itu? Sebuah paragraf yang juga didukung oleh sikap yang lagi-lagi teramat sederhana, yaitu kesediaan untuk menghilangkan segala purbasangka dan berjiwa besar untuk menghargai sebuah prestasi. Sebuah alinea yang menorehkan kata-kata positif, setidaknya yang biasa-biasa saja, bukan caci-maki.

Tentu pada akhirnya, tekad membersihkan kotoran itu harus dikerjakan bersama dan diawasi bersama-sama. Jika dalam perjalanan ada yang masih membuat kotor, ingatkan dia, kalau masih bandel, sudahlah, suruh dia minggir. Indonesia memang harus ditulis ulang dengan kejernihan hati untuk saling mempercayai.

(Majalah TEMPO 16 Desember 2001)


©Raditya2002