Tulisan Putu Setia yang Tersebar di Berbagai Media Masa, Kecuali Kolom Khas
 

Dastarasta: Tergantung Sang Pembisik
(Tambahan untuk Jakob Sumarjo)

Putu Setia

Menarik sekali tulisan Jakob Sumarjo di harian ini (14 April 2001) dengan judul Dastarasta: Raja yang Buta. Saya ingin memberi tambahan sekitar Dastarasta menjelang pertempuran dasyat Bharata Yudha berlangsung.

Pendekatan saya tentu saja berbeda. Jakob Sumarjo, dan mungkin jutaan penggemar wayang Jawa, akan selalu menganggap Mahabharata adalah "semata-mata cerita wayang". Dalam konteks ini, "cerita wayang" itu adalah karya sastra, sebuah khayalan dari seorang pujangga masa silam. Namun, sebagai penganut Veda Vedanta (umumnya disebut beragama Hindu), bagi saya Mahabharata adalah Ithiasa -- sejarah agama. Bahkan bagi pemeluk Hindu, di manapun dia berada, salah satu kitab sucinya, yakni Bhagavad Gita, diturunkan dalam rentang waktu Mahabharata itu sendiri, yakni pada saat menjelang perang saudara terjadi di Kerajaan Bharata. Bhagavad Gita (nyanyian suci) disebut sebagai Pancamo Veda, artinya Kitab Veda kelima, setelah Catur Veda (Rg Veda, Sama Veda, Yajur Veda, dan Atharva Veda) Kedudukan Bhagavad Gita sebagai kitab suci karena ia diwahyukan oleh Krishna yang saat itu sudah menyandang predikat Awatara Wisnu, lewat pembuktian yang menggegerkan. Dalam Hindu, awatara berarti Tuhan yang menjelma dalam tubuh manusia. (Catur Veda tidak diturunkan melalui awatara, tetapi wahyu Tuhan itu langsung diterima Maharesi)

Karena pendekatan saya pada Ithiasa dan dalam jalur kitab suci Hindu, maka saya tidak memberikan pandangan dalam pemahaman wayang Jawa. Saya ingin menyoroti Dastarasta (ejaan dalam huruf latin yang digunakan dalam kitab-kitab Hindu: Dhrtarastra) semata-mata dalam konteks Mahabharata sebagai Ithiasa. (Sekedar catatan: komik Mahabharata karya RA Kosasih dan film Mahabharata versi India yang pernah ditayangkan TPI berpedoman pada Mahabharata versi Ithiasa).

Sloka (ayat) pertama dalam Bhagavad Gita adalah pertanyaan Dastarasta kepada Sanjaya. Terjemahannya: "Dhrtarastra berkata: Di medan bhakti, di padang Kuruksetra, siap bertempur putra-putraku dan putra-putra Pandu, apakah yang akan mereka lakukan, wahai Sanjaya, ceritakanlah kepadaku."

Dastarasta yang buta ini sudah tepat mencari seorang pembisik. Sang pembisik itu, Sanjaya, adalah putra Widura, yang tidak terlibat dalam perang saudara. Dastarasta bersaudara Pandu dan Widura. Ketika perang saudara terjadi, Pandu sudah meninggal, dan yang bertempur memperebutkan kekuasaan adalah putra-putra Dastarasta (dalam wayang disebut Kaurawa) melawan putra-putra Pandu, Pandawa. Putra Widura netral, meski sebelum perang mereka dalam hati lebih memihak Pandawa. Sanjaya, salah satu putra Widura, betul-betul netral dalam perang ini, karena itu ia melaporkan apa adanya kepada pamannya, Dastarasta.

Pada sloka kedua sampai sloka sembilan, Sanjaya langsung melaporkan situasi pasukan yang sudah berhadap-hadapan. Dia lukiskan bagaimana "pasukan berani mati" dari pihak Kaurawa sudah siap bertempur, sementara "pasukan pembela kebenaran" dari Pandawa juga sedang berbenah diri. Kedua pasukan sama-sama menyatakan keyakinan akan menang, karena itulah Kuruksetra disebut sebagai "medan bhakti" (dharma ksetre) bukan "medan perang". Kematian di sini adalah sorga, kalau saya tak salah, mungkin "medan bhakti" itu sejenis jihad dalam Islam, sehingga yang meninggal disebut mati syahid.

Sanjaya, Sang Pembisik, menceritakan bagaimana kehebatan pasukan Pandawa (sloka 2), lalu Sanjaya menceritakan bagaimana Duryodana mendatangi Guru Drona (sloka 3 - 9) untuk mengantisipasi pertahanan pasukan Pandawa. Sanjaya tahu, dari wajah-wajah para prajurit kedua pihak ada "orang-orang yang gelisah" yang mempertanyakan untuk apa perang saudara ini. Tapi, Sanjaya tak melaporkan hal itu karena takut membuat opini dan mengambil alih tugas penasehat. Tugasnya hanya melaporkan fakta saja. Sebaliknya, Dastarasta tidak mengetahui bagaimana wajah-wajah para prajurit yang akan bertempur, karena ia buta. Ia tak bisa menangkap getar hati kedua pasukan yang dipimpin oleh putra-putra dan keponakannya sendiri, apalagi menangkap getar hati seluruh penduduk Astina. Dastarasta tak tahu bagaimana gelisahnya Arjuna yang harus melawan guru dan misannya. Dastarasta pun tak tahu bagaimana kebimbangan Bisma di pihak lain, karena Sang Pembisik tak menguraikan hal itu. Menjelang perang itu Dastarasta tidak didampingi penasehat, karena semua penasehatnya juga terlibat konflik para elit. Melihat langsung apa yang terjadi berbeda dengan hanya mendengar apa yang diceritakan. Seandainya Dastarasta tidak buta, barangkali ia akan mencegah perang itu, dan konflik kekuasaan bisa didamaikan lewat dialog. Tetapi karena ia buta, dan Sanjaya hanya seorang pembisik, bukan seorang penasehat, maka Dastarasta membiarkan perang itu terjadi, mungkin persoalan dianggapnya sepele.

Bharata Yudha akhirnya berlangsung dengan korban yang luar biasa, juga untuk seluruh penduduk negeri Astina. Namun, di situ pulalah awatara turun dan menjelma pada diri Krishna. Bagi umat Hindu, "wahyu awatara" ini dijadikan pelengkap Catur Veda. Kemudian, Mahabharata sebagai Ithiasa, dijadikan pegangan. Salah satu pegangannya, setiap pemimpin Hindu (raja, pendeta, pemangku, dan sebagainya), kesehatan adalah syarat mutlak, karena ia tak bisa mengambil keputusan hanya karena bantuan seorang pembisik. Keputusan harus diambil dengan menggunakan seluruh indra: melihat, mendengar, berdialog, merasakan dan mengolahnya dengan akal budi.


©Raditya2002