The Cross

 

Ambon Berdarah On-Line
News & Pictures About Ambon/Maluku Tragedy

 

 


 

 

 

Radio Vox Populi


Radio Vox Populi [Ambon], 16-Sep-2005

Pak Gubernur, Jumawa 15 September 2005!

16-Sep-2005, Victor Manuhut - Ambon

Doing Twice Means Nothing...Electrical Dept. Freeport Indonesia

Ada apa dengan tgl 15 September 2005? Apakah kaki tangan RMS akan melancarkan provokasi yang mengancam stabilitas keamanan di Maluku? Perlukah kita memberikan perhatian ekstra yang melibatkan Gubernur Maluku dan para pembantunya?

Maaf, bukan disitu permasalahannya. 15 September 2005 adalah tanggal yang menyatakan kegagalan Pemerintah Daerah Maluku dibawah komando Gubernur Karel Albert Ralahalu untuk menyelesaikan masalah pengungsi. Dalam masa pemerintahan Ralahalu yang seumur jagung telah terjadi 2 (dua) kali kegagalan pada masalah yang sama yaitu penyelesaian pengungsi. Doing twice means nothing! Dalam terminologi Ambon dibilang os biking sampe dua kali artinya os seng ada apa-apanya. Kalo os pung apa-apa ada maka os skali biking samua beres!

Penanganan masalah pengungsi yang sejak poka-poka dikatakan tgl 15 September 2005 akan dituntaskan setelah gagal memenuhi target waktu pada akhir 2004. Ibarat barisan koor maka para pembantu Gubernur beramai-ramai turut mengiyakan laksana sekumpulan bebek berkwek-kwek ria.

Masalahnya, penanganan pengungsi tidak akan terselesaikan apabila tidak mempunyai rencana tertulis yang jelas untuk dilakukan oleh pembantu Gubernur dengan berpatokan pada master plan. Pada akhirnya masalah pengungsi ini akan diserahkan pada Pemerintah Kabupaten dan Kota sebagai lambang ketidakmampuan Pemprov. Sejak awal beta melihat kegagalannya berawal dari sini yaitu tidak mempunyai ketegasan dalam rencana yang tertulis jelas.

Kita lihat kilas balik berikut ini. Kompas tgl 30 Desember 2004 memuat pernyataan sang Upulatu, Gubernur Albert Ralahalu, bahwa banyak pengungsi yang belum tertangani disebabkan data-data yang diserahkan oleh para pengungsi tidak benar. Sehingga bantuan yang seharusnya disampaikan tidak tersalurkan dengan tepat. http://www.kompas.com/kompas-cetak/0412/30/1467272.htm

Setelah jadwal penanganan pengungsi molor dari akhir tahun 2004, muncul pernyataan dari Ir Rahman Soumena di harian Suara Maluku tgl 6 Januari 2005 bahwa "penanganan pengungsi akan selesai 15 September 2005".

Kemudian beta menulis di Suara Maluku dengan judul Tagores Rasa Dalam Nyanyian Rakyat pada tgl 10 Januari 2005 menyoroti hal diatas. Beta menulis serta menyoroti Ir Rahman Soumena, dasar perhitungan apa yang dipakai sehingga meneer ini sanggup menetapkan tanggal yang pasti setelah sekian kali target penyelesaian pengungsi tidak tercapai?

Artinya, beta saat itu mempertanyakan juga "dasar perhitungan apa" sehingga meneer-meneer pembantu Gubernur bisa dengan gagah berani berkoar-koar untuk menyenangkan hati para pengungsi?

Orang hanya berani bertaruh jika punya action plan yang jelas disertai alternatif-alternatifnya. Itu namanya kerja yang profesional. Bukan sebatas kata-kata kosong sang pembantu Gubernur yang tidak profesional dan tidak berkemampuan seperti yang dicontohkan oleh Ir Rahman Soumena.

Dapatkah kita berlindung dibalik alasan dana yang tidak ada dalam menuntaskan kasus pengungsi ini? Kalau dana tidak turun-turun dari pusat, apakah masalah pengungsi tidak perlu diselesaikan? Saya percaya dana akan turun jika sejak awal kita mampu menyelesaikan data dengan benar disertai metode yang tepat. Semuanya tergantung prioritas dan kemauan kita.

Kalau memang punya kemauan untuk menyelesaikan masalah pengungsi, seharusnya kita mempunyai rencana alternatif tanpa atau dengan dana pusat. Bila gagal dengan Plan A beralih ke Plan B, bila Plan B gagal beralih ke Plan C dan seterusnya.

Jikalau semuanya gagal, meminjam model didikan orang tua; mangapa os tra mati saja dari kacil? Mengapa begitu? Karena tidak mungkin tidak ada jalan keluar yang gentle sebab bapak Gubernur mempunyai banyak pembantu yang bergelar master hingga profesor! Mosok sih, mereka hanya diminta memberi pendapat untuk rencana proyek mercu suar seperti Menara Maluku, mess Maluku di Jakarta dan Jembatan merah putih Poka-Galala.

Dalam artikel saya sebelumnya, KISS Management dan Penanganan Pengungsi, dijelaskan bahwa kalau setiap permasalahan diselesaikan hanya dari balik meja tentu akan membutuhkan waktu yang panjang dan memberikan peluang bagi tangan-tangan yang tidak dengar-dengaran untuk mencaplok bantuan maupun memanipulasi data. Apalagi disertai keterlibatan orang-orang bermental parasitisme, tidak produktif serta sengaja menciptakan suasana birokratis yang membuat opportunity cost menjadi tinggi.

Juga, ada perasaan malu ketika beta membaca pernyataan bapak Jusuf Kalla yang mengatakan bahwa data pengungsi Maluku selalu berubah, http//www.malukumediacentre.net, disertai kelakuan mark up harga semen bagi pengungsi. Kalau sudah begitu, siapakah dia yang membagi semen untuk para pengungsi? Mereka-mereka ini yang harus diikat kemudian di strap dibawah panas matahari, ambor ampas kelapa koliling kaki biar dikerubuti semut api. Jangan pengungsi terus dijadikan kambing hitam.

Kalau data selalu berubah, bagi beta berarti permasalahan bukan terletak ditangan pengungsi tetapi terletak pada orang-orang yang mengurusi ƒcpengungsi yang tidak berkompeten dan tidak berkemampuan serta tidak mempunyai kemauan. Sekali lagi, pakailah KISS Management. KISS, Keep It Simple Stupid!

Ada pepatah mengatakan bahwa keledai tidak akan terantuk pada batu yang sama untuk yang kedua kali. Di Maluku, pemimpin melakukan dua (2) kali kegagalan pada masalah yang sama dalam kurun waktu yang seumur jagung. Tentu ini melahirkan tanda tanya terhadap kemampuan yang bersangkutan dalam memimpin masyarakat keluar dari kesulitan.

Kita adalah manusia bukan seekor keledai. Oleh sebab itu terasa aneh bila para pembantu Gubernur turut menyerahkan semua persoalan kegagalan pengaturan pengungsi atas kehendak Tuhan. Padahal yang paling mendasar membedakan manusia dan keledai adalah akal untuk berpikir bahwa Tuhan tidak akan pernah campur tangan dengan urusan keledai yang paling cerdas sekalipun.

Setahu beta, Gubernur Maluku pernah merasakan bekerja di lingkungan perusahaan global yaitu Freeport. Beta rasa beliau mengerti budaya kerja di Freeport yang tidak mentolelir seorang pemimpin untuk melakukan kegagalan. Apalagi sampai dua kali berturut-turut terhadap subyek yang sama. Kalau anda melakukannya maka tentu anda akan ditendang dari posisi anda. Ada slogan yang ditulis oleh salah satu departemen di Freeport yaitu doing twice means nothing. Doing twice means nothing bukan sekedar slogan tapi juga merupakan standard kerja, pak Gubernur. Tularkan dong, budaya kerja Freeport pada bawahan anda, kalau memang anda masih memilikinya. Mena!

(pernah disiarkan di harian Suara Maluku edisi 15 September 2005)

Copyright © 2005 RadioVoxPopuli.com. All right reserved.
 


Copyright © 1999-2002 - Ambon Berdarah On-Line * http://www.go.to/ambon
HTML page is designed by
Alifuru67 * http://www.oocities.org/hoelaliejoe
Send your comments to alifuru67@yahoogroups.com
This web site is maintained by the Real Ambonese - 1364283024 & 1367286044