|
|
 |
MENIKMATI DZIKIR dan KEBERSAMAAN dengan ALLAH
" Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan
mengingat Allah. Ingatlah hanya dengan mengingat Allah hati menjadi
tentram" ( QS. Ar Ra'du:28 )
Dzikir sudah menjadi kebutuhan yang asasi saat sekarang ini.
Melalui dzikir kepenatan dan kerutinan hidup dapat teratasi. Kondisi kehidupan
sering membuat kesempitan hati yang berdampak pada penyakit kejiwaan.
Semakin tipis dan lemah daya tahan jiwa terhadap problema kehidupan
semakin besar dan banyak penyakit jiwa. Namun bagi orang yang beriman
semua beban kehidupan ini akan terasa ringan dengan senantiasa berdzikir
kepada Allah SWT.
Imam Al Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin , mengajarkan untuk
selalu berdzikir dan meningkatkan kualitasnya. Dalam kitabnya beliau
menjelaskan jenjang kualitas dzikir seorang muslim, serta membaginya
dalam tiga tingkatan yaitu :
Pertama DZIKIR JALY yaitu menyebut dan mengingat ALlah dengan menampakkan suara yang jelas
untuk membiasakan lisan selalu mengingat ALlahh SWT. Ini untuk memulai
lisan menjalin hubungan yang lebih dalam dengan Allah SWT.
"Hai orang-orang yang beriman ingatlah Allah dengan dzikir yang banyak
dan bertasbihlah pagi dan petang". ( QS Al Ahzab : 41-42 )
Kedua DZIKIR KHAFY yaitu senantiasa berdzikir sehingga memiliki hubungan mesra dengan Allah
SWT. Hal ini dilakukan agar selalu akrab dengan aktifitas ubudiyah pada
Allah SWT.
" Sesungguhnya orang mukmin apabila disebut nama ALlah selalu bergetar
jiwanya, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambah iman mereka dan
kepada Allahlah mereka bertawakkal." ( QS Al Anfal :2)
Ketiga DZIKIR HAQIQY yaitu mengingat ALlah SWT dalam semua aktifitas kehidupan sehingga semua tatanan kehidupannya
selalu bersama Allah SWT. Karenanya dalam ajaran
Islam semua kegiatan diiringi do'a yang diajarkan Nabi Muhammad SAW,
sejak bangun tidur hingga akan tidur kembali.
" Yaitu orang yang berdzikir pada ALlah tatkala berdiri, duduk dan
berbaring. Dan selalu berfikir akan ciptaan Allah sambil mengatakan :
Ya Tuhan kami apa yang Kau ciptakan tidak akan sia-sia. Maha Suci
Engkau Ya ALlah dan selamatkanlah kami dari siksa api neraka." (QS Ali Imron : 191)
Pada kehidupan seorang muslim tentu diarahkan untuk mencapai
kualitas dzikir yang optimal. Akan tetapi dalam menjalankan dzikir bukanlah
bertujuan untuk mendapatkan dampak dzikir, karena dampaknya secara
otomatis dapat kita peroleh. NAMUN orientasi dzikir seorang muslim
adalah untuk meraih kebersamaan dengan ALlah SWT.
Adapun kebersamaan dengan Allah yang dalam istilah Aqidah Islam
disebut Ma'iyatullah mempunyai dua arah. Dari sisi manusia untuk meraih
kebersamaan dengan ALlah maka tentu harus menyamakan kehendaknya dengan
kemauan ALlah melalui "sami'na wa atha'na" ( Kami mendengat dan kami
mentaati). Dalam Aqidah Islam hal ini dikenal dengan istilah Wihdatul
Iradah. Karena itu semua dzikir yang kita lakukan bertujuan untuk
menyamakan kemauan kita dengan kehendak Allahh sebagai Tuhan dengan
kesiapan diri untuk selalu menjalankan dan mentaati semua aturan-Nya.
Adapun kebersamaan dengan Allah dari sisi-Nya berupa pertolongan
dan pembelaan Allah SWT atau Munashoroh. Pertolongan Allah yang diberikan
kepada setiap hamba-Nya yang TAAT tanpa diketahui dari arah mana
datangnya. Cuma muunashoroh ini diberikan ALlah secara bersyarat, tidak
diberikan secara cuma-cuma. Adapun syaratnya adalah :
1. IHSANULLAH, yaitu merasa yakin selalu dilihat dan diperhatikan ALlah
dalam semua kegiatannya. Sikap ini memberikan motifasi untuk selalu
beramal dan meyakini bahwa amal yang dikerjakannya dinilai ALlah.
"Dan carilah apa yang diberikan Allah padamu untuk hari akhirat dan
jangan melupakan nasipmu didunia. Dan berbuat baiklah pada Allah
sebagaimana ALlah berbuat baik kepadamu dan janganlah kamu melakukan
kerusakan dimuka bumi karena sesungguhnya ALlah tidak menyukai orang
yang berbuat kerusakan.: ( QS AL Qashash : 77 )
2. ITQANUL AMAL, yaitu Profesionalisme dalam amal. Artinya amal yang
dilakukan secara rapih dan tertib prosedur menurut aturan Allah.
"Sesungguhnya Allah menyukai amal seseorang yang dilakukan secara
itqan(rapih)."( HR Muslim)
3. TADHHIYAH, selalu berkorban pada Allah dengan kurban yang baik (memberikan kontribusi untuk amal Islam )
" Sesungguhnya yang diterima kurbannya adalah kurban orang yang
bertakwa." ( QS. AL Maidah:27)
4. KHUDU', merendah diri dihadapan Allah SWT dan mengakui kelemahan
dirinya.
Wallahu a'lamu bishawwab.
Alhaq-qu mirrabbik falaa takuunanna minal mumtariin
" kebenaran itu adalah semata dari Tuham-mu dan janganlah kamu termasuk
orang-orang yang ragu" ( QS 2:147 )
|