MENUNDUKKAN NAFSU
"Barang siapa mampu menundukkan nafsunya, surgalah tempatnya. Sebaliknya, siapa
yang mengikuti hawa nafsunya, neraka tempat kembalinya." [HR. Bukhari Muslim]
Nafsu merupakan bagian intergral dari kehidupan jiwa yang menghimpun karakter-karakter tercela pada diri manusia.
Posisi inilah yang melahirkan kekuatan dahsyat, sehingga tidak semua manusia mampu menundukkan musuh dalam selimut
ini. Kecuali dengan sebuah perjuangan yang sungguh-sungguh (mujahadah) dan kesinambungan (istiqomah).
Al-Ghozali dalam rawdhah ath-tholibin wa'umdah assalikin menghingatkan kita untuk senantiasa waspada terhadap
bahaya nafsu. Ia adalah musuh yang paling berbahaya dan paling sulit ditanggulangi. Sebab, ia adalah musuh dari
dalam diri. Ibarat pencuri yang berasal dari anggota keluarga sendiri, maka besarlah tipuan dan bahayanya. Sebagai
anggota keluarga, ia adalah musuh yang dicintai. Sementara manusia buta terhadap aib kekasihnya. Acapkali dia melihatnya
tetapi tidak mengindahkannya.(Terj hal 109).
Kilauan dunia saat ini, ibarat hidangan yang sangat lezat rasa dan aromanya, di tengah hari hidangan itu dihadapkan
pada seekor srigala yang tengah mengalami kelaparan hebat. Setiap langkah kita, setiap itu pula kita sulit menghidar
dari fenomena pembangkit nafasu, harta, maupun kedudukan.
Sebab fenomena ini telah dijadikan Allah sebagai bagian dari perhiasan dunia untuk manusia. "Dijadikan indah
pada pandangan manusia kecintaan pada apa-apa yang diinginkan, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak
dari jenis emas, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan disisi Allah-lah tempat kembali yang baik
[surga]."[QS 3:4].
Kecintaan Rasulullah saw kepada umatnya dibuktikan dengan menawarkan "resep obat" untuk mencegah dan
menundukkan terjangkitnya penyakit nafsu ini. Resep pertama dengan cara mengurangi makan, berpuasa dan menahan
lapar. Dalam keadaan lapar, energi "bakteri" nafsu melemah, sehingga mudah ditundukkan. Abu Sulaiman
ad-Darani berkata, "Kunci dunia adalah kenyang, dan kunci akhirat adalah lapar". Demikian ucapan ini
dikutip oleh Sayyid Abdul Wahab Asy-Sya'rani dalam Al-minab Astsaniyah.(Terj hal 44).
Resep kedua untuk menundukkan dorongan nafsu selain lapar adalah bangun malam (tahajud) untuk mengurangi tidur
dan mengamalkan amalan-amalan berat. Dengan bangun malam akan menghancurkan melepaskan manusia dari empat unsur
kejadian: air, tanah, udara dan api. Hasilnya adalah kekuatan ruh untuk mendekatkan diri guna menggapai ridho Allah
semata. Tahajud adalah tuntunan Rasulullah untuk taqorub kepada-Nya. Diriwayatkan, Rasulullah sering shalat tahajud
sampai kakinya bengkak, ketika ditanyakan mengapa beliau begitu rajin padahal beliau ma'sum. Jawabnya,"Apakah
tidak sebaiknya kalau aku jadi hamba yang bersyukur." [HR Bukhari Muslim].
Bila nafsu manusia telah tumbang oleh kekuatan hati, maka lahirlah energi baru berupa kesucian diri yang kokoh
sebagai sumber moral terpuji (akhlakul karimah). Kesucian diri akan membuahkan sikap kedermawanan, keramahan, sabar,
rendah hati. Sebaliknya nafsu membuahkan kerakusan, gila kekuasaan, kesombongan, penindasan, dan sifat tercela
lainnya.
Alangkah indahnya bila elemen bangsa baik rakyat maupun pejabat memiliki kekuatan moral ini, dan mengimplementasikan
dalam komunitas sosial insya Allah, berbagai musibah akan segera enyah dari bumi Indonesia. Sebab kekuatan moral
akan melahirkan kesalehan sosial yang tinggi, harmonisasi masyarakat akan segera terwujud bahkan bagi pelakunya,
akhlak terpuji ini bisa mengantarkannya menuju pintu surga yang abadi. Wallahu a'lam bi showab.
|