Doa yang Terkabul

Sahabat Rasulullah saw, Saad bin Abi Waqas, minta petunjuk kepada beliau agar doanya kepada Allah selalu dikabulkan. ''Perbaikilah makananmu,'' ujar Rasulullah saw memberi nasihat. Lalu beliau melanjutkan, ''Barangsiapa memakan barang yang halal, maka bersinarlah agamanya, lemah lembut hatinya, dan tiada dinding penghalang antara doanya dan Allah SWT. Sebaliknya, barangsiapa memakan barang yang subhat (diragukan kehalalannya), maka gelaplah agamanya dan tertutup hatinya. Barangsiapa memakan barang yang haram, ringanlah agamanya, mati hatinya, lemah keyakinannya dan Allah mengutuknya.''

Nasihat tadi tentu tak hanya untuk Saad bin Abi Waqas, tapi juga untuk seluruh umat Islam. Lebih lagi di saat sekarang ini, apa yang diperingatkan oleh Rasulullah itu sangat penting untuk kita renungkan.

Cobalah perhatikan fenomena umum di sekitar kita. Kehidupan yang kompetitif, serta tuntutan kebutuhan hidup yang melambung tinggi, membuat sebagian orang cenderung memilih jalan pintas dengan tidak memperhatikan soal halal dan haram dalam mendapatkan rezeki. Padahal, dalam Islam diperingatkan bahwa rezeki yang tidak halal pada akhirnya merupakan bencana dan kerugian bagi manusia itu sendiri, yang tidak hanya akan dialami di akhirat nanti.

Rasulullah saw pernah mengisahkan, ''Ada seseorang yang khusuk berdoa kepada Allah. Tetapi, bagaimana Allah akan memperkenankan doanya, sementara yang dimakannya sehari-hari berasal dari harta yang haram, pakaian yang melekat di badannya adalah pakaian yang haram, darah yang mengalir di tubuhnya mengandung zat makanan yang haram, dan ia bergelimang dengan penghasilan yang haram.''

Dalam hadis lain, Rasulullah saw juga menjelaskan bahwa apabila seseorang memasukkan ke dalam rongga mulutnya makanan yang diperoleh melalui jalan yang tidak halal, maka selama empat puluh hari ibadahnya tidak diterima Allah, yakni selama di darahnya mengalir zat-zat makanan yang tidak halal itu.

Selain itu, Rasulullah saw menegaskan sebab lain tertolaknya doa, yaitu apabila kita sudah tidak lagi peduli (apatis) dengan lingkungan di sekitar kita, dengan melalaikan tugas menegakkan kebaikan dan memberantas kemungkaran. Diriwayatkan oleh Aisyah ra: Pada satu ketika Rasulullah saw masuk ke rumah dengan wajah sendu. Beliau terus berwudhu lalu naik ke mimbar, mengucapkan tahmid kepada Allah, lalu beliau bersabda, 'Wahai manusia, sesungguhnya Allah SWT baru saja berfirman kepadaku: wajib bagi kamu sekalian mengajak orang lain kepada kebaikan dan mencegah perbuatan mungkar. Agar jangan datang satu saat, di mana kamu berdoa tetapi Aku (Allah) tidak menjawab doamu, kamu meminta tetapi Aku tidak kabulkan, kamu memohon pertolongan tetapi Aku tidak memberi pertolongan'.

Demikian Rasulullah saw mengamanatkan kepada sekalian umatnya penyebab tertolaknya doa. Bila doa tidak terjawab lagi, bukan berarti Allah tidak lagi bersifat Maha Pemurah, tetapi manusialah yang mesti mengaca diri. Wallahu a'lam bis shawab.

From : Republika