PUTUS ASA

Putus asa berarti "habis (hilang) harapan; tidak mempunyai harapan lagi". Harapan yang diinginkan oleh seseorang telah hilang sebagai akibat dari keteledoran dan kesalahan yang dilakukan oleh dirinya.

Allah memberikan gelar kepada mereka dengan tiga macam gelar atau golongan yang selalu putus asa dalam mencari rahmat dan anugerah Allah :


Pertama, golongan kafirun. Allah berfirman dalam surat Yusuf, 12:87.

"....Janganlah kamu berputus harapan dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada yang berputus harapan dari rahmad Allah itu, melainkan kaum kafir (orang yang tidak beriman)".

Bagi kelompok kafirun ini, menurut Fakhruddin Al-Raziy dalam kitab Tafsirnya, jiwa putus asa mereka timbul karena tidak adanya keyakinan bahwa Tuhan Maha Kuasa dalam penyempurnaan sesuatu, Maha Mengetahui segalanya, Pemurah dan Mulia, bahkan mereka percaya bahwa Dia kikir yang tidak memberikan apapun bagi manusia.

Tentunya yang dimaksud dengan kelompok kafirun disini adalah mereka yang hatinya telah tertutup dari pancaran ilahi atau mereka yang tidak mensyukuri nikmat-Nya.


Kedua adalah dhallun (sesat) . Sebagaimana dikemukakan dalam Al-Hijr, 15:56;

"Dia berkata: Orang yang putus harapan dari rahmat Tuhan itu, hanya orang orang yang sesat (adhdhaallum)."

Menurut Al-Maraghi dan Abi As-Suudiy dalam kitab Tafsir mereka, bahwa kesesatan yang berakibat kepada timbulnya putus asa adalah karena kesalahan mereka dalam menempuh jalan kebenaran dan kelalaian serta kealpaan mereka dalam mengharap kepada Nya.


Ketiga adalah musrifun (melampuai batas). Firman Allah dalam Az-Zumar,39:53;

"Katakanlah : Hai hamba-hamba-ku yang melampaui batas (asrafuu) mencelakakan dirinya; janganlah kamu putus harapan dari rahmad Allah."

Bagi golongan musrifun ini, jiwa putus asa tersebut muncul karena mereka telah melampaui batasan kemampuan (potensi) diri yang telah diberikan Tuhan. Semakin jauh manusia melampui batas-batas potensi dan kemampuan dirinya, semakin tinggi pula tingkat dan kadar putus asa yang akan terjadi dalam diri dan jiwanya.

Peringatan Allah ini dijelaskan dalam surat Asy-Syura, 42:27:

"Dan kalau Allah melapangkan rezeki seluas-luasnya kepada hamba-hamba Nya, sudah tentu mereka akan melanggar aturan di muka bumi. Tetapi Allah menurunkan dengan ukuran/kadar sebagimana yang dikehendaki Nya: Sesungguhnya Dia cukup mengetahui dan memperhatikan hamba-hamba-Nya."

Dari ayat diatas, agaknya Allah memberi rezeki kepada seseorang sesuai dengan kadar kemampuan potensi yang ada pada dirinya sendiri.

From : Lembaran Da'wah Uswatun Khasanah No. 516/th XI