Home

.

HIJRAH UNTUK KEDAMAIAN HATI DAN KETENANGAN JIWA
oleh : Hardiono - Lisanalam


"Berangkatlah kamu, baik dalam keadaan merasa ringan ataupun merasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahuinya." [QS. At-Taubah:41]

Peristiwa Hijrah adalah perjalanan Rasulullah Muhammad saw dari Mekah ke Madinah, karena masyarakat Mekah pada waktu itu di dalam kekacauan, tidak mau lagi mendengarkan kebenaran yang disampaikan oleh Nabi Muhammad saw. Keputusan hijrah merupakan keputusan final, karena hidup di Mekah tidak memungkinkan lagi, disebabkan berbagai teror dan ancaman akan membunuh Nabi Muhammad saw. Sedangkan di Madinah lebih banyak memberikan harapan hidup yang lebih tenang dan tenteram di masa depan.
Sebagai hijrah pribadi bagi kita tidak lain adalah dengan menunaikan shalat, karena shalat merupakan tiang agama dan kunci pokok untuk mengenal eksistensi diri. Perintah shalat sebagai hak dan kewajiban umat islam untuk "berhubungan" dengan Sang Khaliq. Shalat bagi masyarakat awam tampaknya menjadi beban kewajiban yang sulit dilakukan dengan khusuk. Tetapi bagi yang memahami merupakan hak dan kebutuhannya, sudah bukan lagi kewajiban. Dengan shalat merasakan kecintaan Allah kepadanya dan kecintaanya kepada Allah, serta asyik tenggelam di dalam "selimut" Rahmaan dan Rahiim-Nya.
Golongan alim ulama, kyai atau para sufi, biasanya mampu memahami hakikat dan nilai-nilai hikmah yang terkandung di dalam Hijrah Nabi saw, termasuk memahami esensi dan rahasia shalat sebagai hijrah batin untuk ketentraman lahir batin. Kemampuan itu adalah hidayah dari Allah. Di akhirat kelak, nilai seseorang di lihat dari shalatnya. Jika saja shalat yang dilakukan itu benar dan khusyuk, maka shalatnya akan menjauhkan dari perbuatan keji dan mungkat. Itu akan mengantarkan pada perbuatan kebaikan dan amal ibadah lainnya. dan itu termanifestasikan pada pikiran, lisan dan perilaku sehari-hari.
Perilaku orang yang shalatnya khusuk, adalah sifat akhlaqul karimah, insan kamil dan rahmatan lil'alamin. Hal itu akan terbekas pada hati dan jiwanya, serta sikap sikap aslama (berserah diri) pada ketentuan Allah Rabbul 'Alamiin. Ia senantiasa memancarkan cahaya kelembutan, kedamaian, ketenangan dan ketentraman lahir batin. Kondisi inilah yang didambakan umat Islam khususnya dan umat manusia umumnya.
Ketika manusia terasing pada peradaban yang diciptakan sendiri, manusia haus akan kasih sayang sebenarnya. Manusia merindukan ketenangan dan ketentraman abadi. Begitu sulit mencari hiburan untuk refresing, mengatasi kesibukannya, untuk upaya kedamaian hati dan ketenangan jiwanya. Alternatif satu satunya adalah hijrah atau kembali ke fitrah, yaitu dengan shalat untuk mengenal diri dan Tuhannya. Dengan shalat, Insya Allah akan terbuka cakrawala batin. Ditambah zikir, puasa dan ibadah lainnya, terutama di malam hari yang sunyi sepi, sangat afdal "berhubungan" dengan Sang Khaliq. Dengan begitu, Insya Allah manusia akan menemukan jati diri yang sebenarnya.
"Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekuatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka sedih hati. Yaitu orang orang yang beriman dan bertaqwa. Bagi mereka berita gembira di dunia dan diakhirat. Tiada perubahan bagi Kalimat Allah. Itulah kemenangan besar. Janganlah kamu sedih oleh perkataan mereka. Sesungguhnya kekuasaan itu milik Allah. Dia Maha Mendengah lagi Mengetahui. [QS. Yunus 10:62-65]
Shalat para sufi dan wali tidak terhitung lagi jumlahnya, selain shalat wajib. Memutar tasbih berjam-jam bahkan semalam suntuk adalah "hobinya". Membaca dan mengkaji Alquran adalah "nyanyiannya". Puasa sunnah Senin-Kamis, sebulan penuh pada bulan Muhamrram ditambah 10 hari, serta puasa sebulan penuh di bulan Rajab, Sya'ban dan Ramadhan adalah "makanannya". Semua itu merupakan kenikmatan tertinggi "berdialog" dengan Tuhan.

.

Dikutip dari Buletin Uswatun Hasanah No. 497/Th X