|
Muslim world news On-line
Date of Publication: April 2000
INDONESIAN MUSLIMS FOR GLOBAL PEACE AND JUSTICE
Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarokaatuh
ANTARA HAMAS DAN HIZBULLAH
Pernyataan Israel untuk menarik pasukannya dari
dataran tinggi Golan, sempat menaikkan pamor
perlawanan bersenjata Hizbullah di Libanon. Mau tidak
mau, niat Israel itu memang terpengaruh oleh sejumlah
kontak senjata yang kerap terjadi dengan pejuang
Hizbullah. Dan itu jelas merupakan prestasi bagi
Hizbullah.
Tokoh Palestina di Gaza Ibrahim Gosyeh menulis artikel
perbandingan antara gerakan perlawanan Islam di
Libanon dengan Palestina. Perlawanan bersenjata
terhadap Israel di Libanon muncul di awal delapan
puluhan, sementara di Palestina baru muncul di awal
sembilan puluhan. Dua gerakan perlawanan ini memiliki
sejarah yang khas sebagai langkah paling efektif
menyikapi kesewenangan Zionis. Gerakan itu sendiri
muncul dari satu sumber, yakni akidah Islam yang
memiliki motivasi, kekuatan perlawanan dan
kontinyuitas perjuangan.
Melalui gerakan itu, aqidah Islam mampu
mengerahkan puluhan bahkan ratusan tentara Islam yang
prestisius dengan totalitas perjuangan melawan Zionis
dan Amerika. Mereka mampu berhadapan dengan Zionis
yang didukung kekuatan militer, strategi dan diback up
oleh pihak AS yang menjadi opini dunia.
Ada sejumlah perbedaan antara gerakan
perlawanan di Libanon dan Palestina. Di Libanon,
gerakan perlawanan mendapat dukungan penuh dari
pemerintah. Jauh berbeda dengan kondisi Palestina yang
mendapat tekanan kuat dari pemerintah otonomi.
Lantaran dukungan pemerintah, gerakan perlawanan
Libanon memiliki tempat latihan dan diizinkan memiliki
senjata. Sementara hal ini sama sekali tak diperoleh
oleh gerakan perlawanan di Palestina. Tak ada tempat
aman bagi pejuang Palestina untuk melakukan latihan
militer, apalagi persenjataan.
Kehadiran pemerintah otorita Palestina di Tepi
Barat dan Gaza sesuai perjanjian Oslo menyebabkan
tumpulnya gerakan intifadhah massa. Pemerintah menjadi
kekuatan penghalang terbesar bagi rakyatnya sendiri
untuk memberi keamanan bagi Israel. Bahkan, jaringan
kerja antara pemerintah dengan Israel memiliki target
spesifik untuk melenyapkan semua bentuk perlawanan
terhadap Israel. Kerjasama keamanan dengan Zionis dan
dukungan AS setelah perjanjian Oslo menjadikan PLO
sebagai lembaga paling mewakili pemerintah legal di
Palestina.
Berbeda sekali dengan kondisi perlawanan
Libanon yang mempunyai basis gerakan sendiri di
selatan Libanon. Apalagi mereka mendapat dukungan
penuh dari rakyat. Itu sebabnya pejuang Hizbullah
Libanon telah sukses dalam dua hal. Pertama,
keberhasilan mereka meraih dukungan seluas mungkin
bagi perjuangan baik dari aspek rakyat maupun
pemerintah secara resmi. Bukan hanya itu, istimewanya,
sejumlah negara yang terikat dengan perjanjian dengan
Zionis pun mendukung hak perlawanan Libanon. Kedua,
tingkat ketahanan, kesabaran dan keridhaan rakyat
Libanon yang terus menerus menghadapi serangan Israel.
Serangan Israel menyebabkan ratusan bangunan, pusat
pembangkit listrik dan jembatan hancur. Tapi bangsa
mujahid itu tetap bertahan untuk menempuh langkah
perlawanan terhadap Zionis.
Itulah keberhasilan gerakan kemerdekaan di
Libanon yang berbeda dengan Palestina. Gerakan
Palestina tidak bisa meraih dukungan luas di kalangan
rakyat karena harus berhadapan dengan permerintah,
bahkan hingga kini persenjataan mereka terus disita.
Di kalangan masyarakat, pemerintah juga
berhasil mewarnai opini bahwa gerakan perlawanan
Palestina menyebabkan kesulitan ekonomi, politik,
pendidikan dan kesulitan lain yang menyebabkan puluhan
ribu warga Palestina tidak tidak bisa bekerja di
wilayah Israel.
Di tengah opini tersebut, tidak sedikit warga
Palestina yang bekerja membangun rumah untuk pemukim
Yahudi di Palestina. Sementara pihak pemerintah
otonomi yang telah menerima dana pembangunan jutaan
dolar untuk tiga puluh tahun ke depan, justru menanam
dana itu di luar Palestina dan menggunakannya untuk
membangun sejumlah istana bagi pejabat. Ironis.
Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarokaatuh
(DI-21/04/00)
Source : SABILI
|