Republika Online edisi:
09 Jun 2000

Ketua MUI Palu Minta Umat Bersabar

PALU -- Tokoh Islam kota Palu, KH Saggaf Al-Djufrie, yang juga pimpinan Yayasan Al-Khaerat serta ketua MUI Palu meminta agar umat Islam setempat bersabar sehubungan merebaknya isu kerusuhan Poso menjalar ke ibu kota Provinsi Sulteng ini.

''Saya tegaskan, isu seperti itu tidak benar. Kita menginginkan kota Palu tetap merupakan daerah yang aman bagi semua pemeluk agama. Oleh karena itu, semua pihak hendaknya tidak resah,'' kata Saggaf di Palu kemarin.

Ia menegaskan, umat Islam di Palu sudah cukup dewasa, sehingga mereka tidak akan menimpakan dosa orang lain kepada orang yang tidak bersalah. ''Kita memang sangat sedih melihat umat Islam dibantai di Poso. Tapi kita tidak akan melakukan pembalasan kepada orang yang tidak bersalah,'' katanya menahan geram.

Menurut Saggaf, kalaupun umat Islam melakukan perlawanan terhadap warga Nashara, hal itu tidak boleh didasarkan atas rasa dendam. ''Sebab, dendam merupakan bagian dari perbuatan buruk yang menjadi salah satu penyakit hati manusia. Sedangkan melakukan perlawanan untuk menuntut suatu hak, itu adalah hak dan kewajiban.''

''Kalau kita yang terusir dari tanah milik kita, maka kita harus mempertahankan hak kita itu. Caranya, kita terus menuntut hak itu tanpa melebihi apa yang menjadi hak kita. Oleh karena itu, perjuangan kita bukan atas nama dendam, tapi atas nama hak dan kebenaran,'' lanjut Saggaf.

Ketika dimintai komentar tentang misi aparat keamanan berupa diterjunkannya pasukan Brimob dari Jakarta dan bantuan dari TNI untuk menyisir senjata-senjata tajam yang dimiliki para perusuh, Saggaf mengatakan ''Sampai sekarang, kita belum menerima laporan. Mudah-mudahan, tiadanya laporan itu karena situasi memang sudah aman, bukan sebaliknya.''

Kendati demikian, Saggaf beranggapan, terus meluasnya kerusuhan di Poso akibat lambannya aparat keamanan melokalisir kerusuhan. Sebab, sejak kerusuhan meletus yang pertama, pihaknya sudah mengingatkan semua aparat agar segera turun tangan. Namun setelah kerusuhan itu benar-benar meluas, mereka baru turun ke lapangan.

Kerusuhan Poso yang menelan korban jiwa sekitar 100 orang serta ribuan pengungsi itu memang mulai mencekam di Palu. Warga kota mulai dicekam kekhawatiran bahwa kerusuhan bakal merembet ke wilayah karena derasnya isu bakal dilakukan aksi balasan kepada kelompok 'barisan merah'.

Dari pantauan Republika, warga kota Palu kini mulai bersiap-siap menghadapi kemungkinan terburuk akibat kerusuhan yang melanda Kabupaten Poso, Sulteng. ''Saya mendengar, kenapa MTQN dipercepat sehari itu karena pada hari Minggu ini bakal ada aksi balasan dari umat Islam. Saya bisa memahami kemarahan umat Islam, karena pembantaian di Poso benar-benar sadis,'' ujar seorang pegawai bank swasta, kemarin (8/6).

Namun, dugaan percepatan penutupan MTQ tersebut dibantah panitia, ''Tidak benar itu. Sebab, percepatan ini sudah dilakukan jauh-jauh hari karena menyesuaikan jadwal Wapres,'' ujar seorang panitia pusat. n mms

Diterbitkan oleh Republika Online
Hak Cipta © PT Abdi Bangsa 2000