PALU -- Tokoh Islam kota Palu, KH Saggaf Al-Djufrie, yang juga
pimpinan Yayasan Al-Khaerat serta ketua MUI Palu meminta agar umat Islam
setempat bersabar sehubungan merebaknya isu kerusuhan Poso menjalar ke
ibu kota Provinsi Sulteng ini.
''Saya tegaskan, isu seperti itu tidak benar. Kita menginginkan kota
Palu tetap merupakan daerah yang aman bagi semua pemeluk agama. Oleh
karena itu, semua pihak hendaknya tidak resah,'' kata Saggaf di Palu
kemarin.
Ia menegaskan, umat Islam di Palu sudah cukup dewasa, sehingga mereka
tidak akan menimpakan dosa orang lain kepada orang yang tidak bersalah.
''Kita memang sangat sedih melihat umat Islam dibantai di Poso. Tapi
kita tidak akan melakukan pembalasan kepada orang yang tidak bersalah,''
katanya menahan geram.
Menurut Saggaf, kalaupun umat Islam melakukan perlawanan terhadap
warga Nashara, hal itu tidak boleh didasarkan atas rasa dendam. ''Sebab,
dendam merupakan bagian dari perbuatan buruk yang menjadi salah satu
penyakit hati manusia. Sedangkan melakukan perlawanan untuk menuntut
suatu hak, itu adalah hak dan kewajiban.''
''Kalau kita yang terusir dari tanah milik kita, maka kita harus
mempertahankan hak kita itu. Caranya, kita terus menuntut hak itu tanpa
melebihi apa yang menjadi hak kita. Oleh karena itu, perjuangan kita
bukan atas nama dendam, tapi atas nama hak dan kebenaran,'' lanjut
Saggaf.
Ketika dimintai komentar tentang misi aparat keamanan berupa
diterjunkannya pasukan Brimob dari Jakarta dan bantuan dari TNI untuk
menyisir senjata-senjata tajam yang dimiliki para perusuh, Saggaf
mengatakan ''Sampai sekarang, kita belum menerima laporan.
Mudah-mudahan, tiadanya laporan itu karena situasi memang sudah aman,
bukan sebaliknya.''
Kendati demikian, Saggaf beranggapan, terus meluasnya kerusuhan di
Poso akibat lambannya aparat keamanan melokalisir kerusuhan. Sebab,
sejak kerusuhan meletus yang pertama, pihaknya sudah mengingatkan semua
aparat agar segera turun tangan. Namun setelah kerusuhan itu benar-benar
meluas, mereka baru turun ke lapangan.
Kerusuhan Poso yang menelan korban jiwa sekitar 100 orang serta
ribuan pengungsi itu memang mulai mencekam di Palu. Warga kota mulai
dicekam kekhawatiran bahwa kerusuhan bakal merembet ke wilayah karena
derasnya isu bakal dilakukan aksi balasan kepada kelompok 'barisan
merah'.
Dari pantauan Republika, warga kota Palu kini mulai
bersiap-siap menghadapi kemungkinan terburuk akibat kerusuhan yang
melanda Kabupaten Poso, Sulteng. ''Saya mendengar, kenapa MTQN
dipercepat sehari itu karena pada hari Minggu ini bakal ada aksi balasan
dari umat Islam. Saya bisa memahami kemarahan umat Islam, karena
pembantaian di Poso benar-benar sadis,'' ujar seorang pegawai bank
swasta, kemarin (8/6).
Namun, dugaan percepatan penutupan MTQ tersebut dibantah panitia,
''Tidak benar itu. Sebab, percepatan ini sudah dilakukan jauh-jauh hari
karena menyesuaikan jadwal Wapres,'' ujar seorang panitia pusat. n mms