|
|
DR. Yusuf
Al-Qardhawi: “Proyek
Kristenisasi Indonesia
Gagal”
|
|
 |
DR. Yusuf
Al-Qardhawi, ulama asal Mesir, Jum’at 15/10 berkunjung
ke Indonesia. Dalam kunjungannya yang ke lima ini, ia
menyempatkan hadir di masjid Al-Azhar dan memberi ceramah. Di
depan ribuan pemuda Islam yang berulangkali meneriakkan
takbir, ia berbicara tentang proyek kristenisasi internasional
yang menggerogoti Indonesia sepanjang 50 tahun. Berikut
petikannya:
Sangat bahagia dan menggembirakan sekali, hari ini saya bisa
bertemu dengan para pemuda Indonesia. Ini adalah kunjungan
saya yang kelima. Kebahagiaan saya berlipat lagi ketika saya
bandingkan jumlah yang hadir saat ini dengan jumlah dan
kondisi ketika saya datang pertama kali ke negeri ini. Dahulu,
sekitar dua puluh lima tahun silam, saya mendengar dan
menyaksikan dengan mata kepala saya sendiri. Bahwa proyek
Kristenisasi telah menetapkan merubah Indonesia Islam menjadi
Indonesia Kristen, dalam rentang waktu 50 tahun. Dan agenda
itu yang mereka upayakan berpuluh tahun setelah program itu
dicanangkan.
Kedatangan saya ke Indonesia terinspirasi setelah seorang
Libanon yang menulis sebuah buku dengan judul: “Wahai kaum
Muslimin, selamatkan Indonesia” datang menemui
saya.
Dalam perjalanan kala itu di dalam pesawat saya bertemu dengan
beberapa orang Indonesia. Saya bertanya kepada salah seorang
pramugari, “Siapa nama Anda?” Wanita itu lalu menyebutkan
namanya. Saya bertanya lagi, “Apakah Anda seorang muslimah?”
Ia menjawab, “Tidak, tapi keluarga saya muslim. Saya Kristen.”
Mendengar jawabannya, langsung saya paham bahwa ia sudah
murtad dan telah menjadi korban kristenisasi. Kemudian saya
bertanya juga pada seorang pramugara, “Apakah Anda muslim?” Ia
menjawab, “Tidak, tetapi saya menikahi seorang wanita
muslimah.” Satu musibah lain, seorang muslimah menikah dengan
seorang non muslim.
Kejadian yang saya alami itu menyadarkan saya, bahwa ada
strategi yang luar biasa dahsyat di balik itu semua. Karena
itu pula, saya semakin menyadari bahwa kunjungan saya ke
negeri ini semakin perlu.
Sejak itu
saya semakin yakin, bahwa Indonesia sedang menghadapi bahaya
yang sangat besar dan tidak mungkin dibiarkan begitu
saja.
Saudara-saudara sekalian, dalam kunjungan saya yang pertama
itu, saya bertemu seorang mujahid Indonesia. Ia bertekad akan
memerangi gerakan kristenisasi. Ia memaparkan kepada saya
langkah-langkah yang direncanakan dan sudah dilakukan untuk
menggagalkan proyek kristenisasi Barat di Indonesia. Mujahid
tersebut adalah Muhammad Natsir rahimahullah. Ia kemudian
mendirikan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia yang akan berdiri
di garis depan memerangi gerakan kristenisasi. Ia juga
berdiskusi tentang berbagai program yang dibuatnya agar
panji-panji Islam tetap tegak di negeri ini.
Saudara-saudara sekalian, semua itu menyatakan bahwa
sesungguhnya Islam memiliki sumber kekuatan yang sangat besar.
Selama masih ada agama ini, kita memiliki sumber perlawanan
yang tak akan habis-habis. Meskipun umat Islam lemah, tapi
akidah Islam adalah kekuatan yang menjadikannya umat ini tidak
mungkin ditundukkan atau ditelan oleh umat lain. Meskipun
kristenisasi memiliki dukungan dan kemampuan yang luar biasa,
baik dana, SDM, tekhnologi, lapangan udara dan sebagainya.
Tetapi Indonesia hingga kini tetap menjadi negara muslim.
Panji syahadat tetap berkibar di Indonesia. Allahu
Akbar-Allahu Akbar, hayya ala shalah, hayya alal
falah....!
Hingga kini, masjid-masjid masih berdiri. Misi zending
kristenisasi dan penjajah gagal menggoyahkan akidah umat
Islam. Alhamdulillah, kaum muslimin dengan segala keterbatasan
yang mereka miliki, berhasil mengatasi serangan dahsyat
Kristenisasi itu. Semua upaya dan kerja keras mereka itu
gagal. Maha Benar Allah SWT. yang berfirman, “Mereka ingin
mematikan cahaya Allah dengan mulut mereka, akan tetapi Allah
tidak rela kecuali tetap memancarkan cahaya-Nya, meskipun
orang-orang kafir itu benci.”
Mereka
ingin memadamkan cahaya Allah, tapi Allah menolaknya. Apakah
manusia mampu memadamkan cahaya matahari dengan tiupan? Tidak
mungkin. Allah menetapkan agar cahaya-Nya tetap memancar di
negeri ini. Janji Allah inilah yang menjadikan kita tenang.
Tenang, karena Islam sampai saat ini masih kalah di Indonesia!
Bendera Islam yang telah ditancapkan di Indonesia tidak jatuh!
Allah SWT berfirman, “Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan
petunjuk dan agama yang benar (Islam), untuk memenangkannya di
atas segala agama, meskipun orang-orang musyrikin benci.”
Menang di atas segala agama, semua agama.
Kaum
muslimin di zaman sahabat dan tabi’in unggul atas Yahudi,
menaklukkan Majusi, mengalahkan Nasrani di pusat kekuatan
mereka di Byzantium dan menang atas penyembahan berhala. Tapi
kini, kekuatan terbesar Nasrani masih bercokol di Eropa, Asia
dan Afrika. Meski demikian ingat firman Allah, “Janji Allah
itu benar”, “ Dan sesungguhnya janji Allah pasti terjadi”.
Kita masih menanti masa penyebaran Islam di seluruh dunia,
sampai Islam benar-benar berada di atas segala agama, meski
orang-orang kafir itu tidak menyukainya.
Saudara-saudara sekalian, sebelas tahun silam, terakhir kali
saya mengunjungi Indonesia, saat itu saya baru kembali dari
lawatan saya ke Australia. Saya sempat mendatangi banyak
tempat di negeri ini. Saya berkunjung ke Sumatera dan beberapa
kota di dalamnya. Ketika itulah, saya melihat fajar
kebangkitan Islam di Indonesia. Hari ini, saya menyaksikan
kebangkitan, telah datang masa panennya. Kebangkitan Islam
telah tumbuh pesat. Ibarat sebuah biji di tanam di lokasi yang
subur, dan dipelihara oleh petani yang baik. Buah kebangkitan
Islam itu saya saksikan hari ini. Semua rencana dan strategi
para misionaris untuk mengkristenkan Indonesia selama lima
puluh tahun telah sia-sia. Mimpi dan harapan mereka buyar,
karena ternyata hari demi hari Islam di Indonesia makin kuat
dan mengakar dalam.
Dari
berbagai fenomena yang saya saksikan itu, saya simpulkan
bahwa, karakteristik agama Islam itu, ketika dalam kondisi
terjepit dan sulit, mampu memunculkan kekuatan yang tidak
diduga-duga. Islam dapat mengumpulkan kekuatan, menarik
nafasnya, bangkit dan terjadilah perlawanan dahsyat. Banyak
orang mengira Islam telah bangkrut semasa mengalami
penjajahan. Banyak juga yang mengira, bendera Islam tidak akan
berkibar lagi. Tapi ternyata semua itu tidak benar. Kini,
kebangkitan Islam itu telah muncul di setiap tempat. Saya
lihat kebangkitan ini. Saya menemukan para pemuda Islam yang
melakukan dzikir di waktu sahur, mereka yang berpuasa Senin
dan Kamis, mereka disiplin membaca Al-Qur‘an, dan sepakat
untuk bersama-sama menegakkan kalimatul Islam. Saya lihat dan
menemukan langsung para pemuda itu di sini.
Mereka
berdiri tegak dan mengatakan pada semua orang, “Kami di sini,
kami adalah muslim yang hidup dan bergerak.” Gambaran ini ada
di berbagai tempat, di desa-desa terpencil, di wilayah
minoritas Islam, di Eropa, Amerika, Jepang, Korea, dan di
seluruh sudut bumi. Alhamdulillah, Islam tengah menggeliat
bangkit. Saudara-saudara sekalian, kita memiliki sejumlah
optimisme dari Al-Qur`an dan sunnah bahwa agama ini akan
memperoleh kemenangan. “layastakhlifannahu ....”
Ketika
Rasulullah saw pertama kali membawa agama ini, beliau
menjanjikan kepada kaum muslimin bahwa Allah akan membukakan
seluruh negeri untuk umat Islam. Allah juga telah mengatakan
“niscaya agama ini akan sampai ke seluruh tempat yang pernah
mengalami siang dan malam”. Artinya, Islam akan menyebar dan
sampai ke seluruh penjuru bumi. Tak satu tempat pun yang tak
tersentuh oleh kemuliaanya. Islam telah datang dengan
kemuliaannya dan menghancurkan kekufuran. Ini berita gembira
dari Rosulullah. Rosulullah saw pernah ditanya dengan nada
tantangan, “Kota manakah yang lebih dahulu ditundukkan, Romawi
atau Qastantiniyah (Istambul).”
Seolah dengan pertanyaan ini para sahabat sudah merasakan
bahwa kelak dua kota yang merupakan pusat kekuatan Nasrani itu
akan ditundukkan. Rosulullah saw menjawab, “Hiraql
(Qastantiniyah) yang akan lebih dahulu ditundukkan.”
Qastantiniyah dahulu merupakan basis kekuatan Nasrani di mana
kaisar Hiraqlius
berkuasa. Janji
itu telah diwujudkan oleh Allah SWT tujuh abad kemudian.
Qastantiniyah berhasil ditundukkan oleh pasukan Islam yang
dipimpin pemuda belia berusia 23 tahun, bernama Muhammad bin
Murad Al-Fatih. Ia terdorong untuk menundukkan Qastantiniyah
karena membaca sebuah hadits, “Qastantiniyah akan tunduk.
Ketika itulah sebaik-baik pemimpin, dan sebaik-baik pasukan.”
Setelah membaca itu, ia ingin menjadi pemimpin yang disinggung
dalam hadits itu, dan ingin menjadi bagian dari prajurit Islam
yang disebutkan itu. Allah SWT kemudian mengabulkan cita-cita
itu. Qastantiniyah berhasil
ditaklukkan.
Kini, tinggal kemenangan kedua yang dijanjikan, yakni
penaklukan Romawi. Artinya, Islam akan masuk ke Eropa sekali
lagi, setelah dua kali dikeluarkan dari Eropa. Islam masuk
Eropa melalui Maghrib, Jabal Thariq. Dan berhasil mendirikan
peradaban sepanjang delapan abad di Andalusia. Setelah itu
Islam terusir dari Eropa. Tapi selanjutnya Islam kembali
datang memasuki Eropa melalui wilayah Balkan oleh daulah
Utsmaniyah. Tapi saya percaya, setelah itu Islam keluar
kembali dari Eropa. Saudara-saudara sekalian, hadits
Rosulullah tadi, merupakan berita gembira bahwa Islam akan
kembali menguasai Eropa sekali
lagi. Saya
katakan, kemenangan Islam di Eropa itu nanti tidak melalui
pedang. Kemenangan dakwah di Eropa akan terwujud melalui
pemikiran yang mampu mengobati berbagai penyakit hedonisme,
nasionalisme, materialisme, kegelisahan dan gejolak jiwa yang
selama ini tidak mereka dapatkan obat penawarnya, kecuali
dengan Islam. Dan saya yakin, Indonesia akan menjadi ujung
tombak pertama kemenangan Islam di seluruh muka bumi, insya
Allah.
Saudara-saudara sekalian, Indonesia merupakan harapan
besar dari peradaban Islam di dunia. Kenapa? Indonesia adalah
negara Islam terbesar dari sisi kuantitas. Indonesia memiliki
banyak potensi menjadikannya mampu memimpin peradaban.
Indonesia mempunyai potensi ekonomi dan SDM yang menjadikannya
mampu menarik gerbong kebangkitan Islam. Kami menginginkan
kaum muslimin Indonesia bangga karena mereka telah menjadi
muslim. Setiap muslim harus bangga dengan agamanya. Rosul saw
mengajarkan kita, kita selesai makan untuk mengatakan
“Alhamdulillah yang telah memberi makan dan minum kepadaku
serta menajdikanku seorang muslim. Seperti juga kebanggaan
sahabat bernama Salman al-Farisi ketika ditanya, “Siapa anda?”
Ia menjawab, “Saya anak muslim.”
Kedua,
hendaknya kebanggaan itu menjadikan kita mampu berpegang teguh
pada tali Islam. Kebanggaan yang menjadikan kita terikat oleh
akhlak dan nilai-nilai Islam. Bukan hanya sekadar mengatakan,
“saya muslim”, tapi tidak menjalankan Islam dalam
kehidupannya. Setiap muslim harus menjadikan Islam sebagai
unsur perubah dalam dirinya sebagaimana dahulu kaum jahiliyah
menjadi muslim. Kita menginginkan setiap muslim adalah
aplikasi dari Al-Qur’an yang dapat disaksikan oleh semua
orang. Sehingga manusia bisa menyaksikan inilah Islam, inilah
adab Islam, inilah etika Islam. Seperti ketika Aisyah ditanya
tentang akhlak Nabi saw, ia mengatakan bahwa akhlak nabi
adalah
Al-Qur`an.
Ketiga, hendaknya semua umat Islam Indonesia bersatu dan tidak
berpecah belah. “Berpegang teguhlah pada tali Allah dan jangan
berpecah belah.” Dan janganlah kalian berpecah belah sehingga
kekuatan kalian menjadi lemah.” Bila kekuatan kufur dan jahat
bersatu, saya serukan pada seluruh kekuatan Islam untuk
melupakan semua perbedaan yang tidak prinsipil di antara
mereka. Bersatulah di atas kalimat Tauhid “laa ilaaha illallah
Muhammad Rosulullah.” Setelah itu berdirilah bersama
menghadapi kekuatan lain. Inilah yang saya inginkan dari umat
Islam Indonesia ketika mereka tengah melalui masa-masa
genting.
Terakhir, saya ingin kaum muslimin Indonesia mampu memilih
pemimpin dengan baik. Pemimpin yang mampu membimbing umat
Islam, memberi manfaat bagi Islam, mampu mengatasi berbagai
kondisi yang sulit ini. Ketika banyak mata melihat Indonesia,
saya ingin melihat pemimpin yang terpilih secara demokratis.
Pemimpin yang mampu membimbing rakyat dengan iman dan ilmu,
hati dan akal, iman dan akhlak. Inilah yang kita inginkan dari
Indonesia.
Rosulullah saw bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh
Imam Turmudzi, “Bila pemimpin kalian adalah orang yang terbaik
dari kalian, maka orang-orang kaya di antara kalian adalah
orang yang paling dermawan dari kalian, dan semua permasalahan
di antara kalian diselesaikan dengan cara syura (musyawarah),
maka apa yang diatas bumi ini lebih baik dari apa yang di
dalamnya. Kehidupan ini akan lebih baik dari kematian.
Tapi
sebaliknya, bila pemimpin kalian adalah orang yang paling
jahat di antara kalian, maka orang-orang kaya di antara kalian
adalah yang paling kikir, dan masalah kalian diserahkan pada
wanita, maka apa yang ada di dalam bumi ini lebih baik dari
apa yang di atas bumi. Di sinilah kematian lebih baik dari
kehidupan. Ketika semua timbangan menjadi terbalik, nilai
menjadi rusak, saat itulah tidak ada gunanya lagi kehidupan.
n
M. Lili
NA.

|