GATRA, 9 Februari 2006
Tebar Pesona Numpang Al-Qaeda
LABELNYA galak: Tandzim Qaedatul Jihad. Artinya, Organisasi Penegak Jihad.
Pucuk pimpinannya Noor Din Moh. Top, gembong teror bom paling top yang kini terus
diuber polisi. "Organisasi ini menempatkan Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam,
dan Filipina sebagai wilayah operasinya,'' kata Kapolri Jenderal Sutanto.
Kabar terbaru ihwal sepak terjang Noor Din dari balik tirai persembunyianya itu
disampaikan Sutanto dalam rapat kerja dengan Komisi Hukum dan Hak Asasi
Manusia DPR di Senayan, Jakarta, Senin pekan lalu. Meski sudah kehilangan
tandemnya, Dr. Azahari, sang arsitek bom, agaknya teroris asal Malaysia itu tak
surut menebar ancaman maut. Ia terus mengonsilidasi kekuatan. Satu di antaranya,
ya itu tadi, membuat organisasi baru dan memperluas wilayah ancaman.
Sutanto mengatakan, keterangan tentang "badan" baru gerakan teror bom itu didapat
dari kesaksian 11 anggota kawanan Noor Din yang tertangkap di berbagai tempat di
Jawa Tengah. Dari mereka, ada yang berperan sebagai agen propaganda, perekrutan
pelaku bom bunuh diri, perekam videoklip ancaman Noor Din, serta kesaksian tiga
anggota kawanan bom Bali II, Oktober 2005. Dari rumah seorang tersangka, polisi
juga menemukan setumpuk dokumen yang menerangkan keberadaan organisasi
anyar itu.
Sebetulnya, menurut Komisaris Jenderal Polisi Makbul Padmanegara, Kapala Badan
Reserse dan Kriminal Mabes Polri, organisasi atau kelompok baru Noor Din itu cuma
sejenis organ taktis. Jaringannya tetap. Layaknya di polisi, tutur Makbul, dalam satu
kegiatan, misalnya, ada istilah Operasi Lilin. Maka, Tandzim Qaedatul Jihad pun
hanyalah istilah dan sandi. ''Sekadar untuk menentukan strategi dan arah gerakan,''
kata Makbul. Artinya, nama organisasi boleh berganti-ganti, tapi pelaku aksi terornya
tetap itu-itu saja. Nama Qaedatul yang dipakai tak serta-merta menunjukkan
kaitannya dengan Al-Qaeda.
Maksud mengubah-ubah nama organ taktisnya itu, menurut Brigadir Jenderal Polisi
Anton Bahrul Alam, juru bicara polisi, untuk mengelabui penyelidikan Polri dan
menyesatkan masyarakat. ''Pada dasarnya, karena ketakutan!" ujarnya kepada Deni
Mulya Barus dari Gatra. Anton yakin, dalam persembunyian, Noor Din terus mencoba
menyusun rencana untuk aksi lanjutannya. Tentu dengan taktik, strategi, dan pola
berbeda. Targetnya tetap tidak bergeser, yakni aksi kekerasan dengan pesan
melawan Amerika Serikat dan sekutunya.
Chairuddin alias Muhammad Nasir Abbas, orang yang pernah jadi bagian dari aksi
teror bom, membenarkan adanya konsilidasi oleh Noor Din. ''Saya sudah melihat
dokumen itu,'' kata bekas Ketua Mantiqi III Al-Jamaah-al-Islamiyah ini. Ia sendiri
mengaku tak kaget dengan apa yang dilakukan bekas anak buahnya itu.
Sejak dulu, tutur Nasir, Noor Din punya ambisi besar untuk jadi pemimpin. ''Dia suka
mengatur-atur, jadi lebih pada unsur memaksa kalau jadi pemimpin,'' tutur Nasir, yang
sama-sama asal negeri jiran Malaysia. ''Kalau anak buah tak menuruti perintah atau
aturannya, dia akan marah sekali,'' Nasir menambahkan. Untuk bisa terus jadi
pemimpin, Noor Din selalu membuat organisasi baru.
Nasir mencontohkan, ketika bom Kuningan, nama kelompok pelakunya Brigade
Firaqul Maut. Sebelumnya, pada bom Bali I (Oktober 2002) serta Hotel Marriott
(Agustus 2003), namanya Anshorul Muslimin. Terakhir, kala aksi bom Bali jilid II,
muncul nama Tandzim Qaedatul Jihad. Soal nama ini, kata Nasir, menurut tata
bahasa Arab, bila kata Jihad dihilangkan, maka jadilah Al-Qaeda. Apakah pemilihan
nama kelompok anyar Noor Din ini ingin menegaskan ada hubungan dengan
Al-Qaeda pimpinan Osama bin Laden? ''Saya tidak tahu," ujar Nasir.
Ada tidaknya keterkaitan kelompok Noor Din dengan Al-Qaeda memang sulit dicari
jawabannya. Hasil penyidikan polisi terhadap orang dekat Noor Din yang ditangkap
pun belum mengarah ke sana. Namun, berdasarkan pengamatan Sidney Jones,
Direktur International Crisis Group Asia Tenggara yang intens mengkaji gerakan teror
di kawasan Asia Tenggara, khususnya Indonesia, nama versi Noor Din itu tidak terkait
dengan jaring Al-Qaeda. ''Ia cuma omong besar,'' katanya ketika dihubungi Gatra
lewat sambungan telepon.
Menurut Sidney, nilai strategis pembuatan nama itu semata-mata untuk
membesarkan diri Noor Din dan kelompoknya. Sebagai kelompok sempalan yang
kecil, menurut dia, Noor Din ingin menunjukkan pada dunia bahwa dirinya orang hebat
yang bisa mendirikan organisasi-organisasi seperti di Irak. "Dia sepertinya ingin
memberitahu bahwa dirinya benar-benar memimpin kelompok internasional. Bukan
kelompok kecil yang hanya ada di Indonesia,'' ujar Sidney.
Bagi kepentingan perjuangan kelompoknya sendiri, pemilihan nama itu tidak lebih
sebagai bahan jualan dalam mencari pengikut-pengikut baru, untuk tebar pesona.
Menurut Nasir Abbas, langkah ini mendesak, mengingat Noor Din sudah ditinggalkan
oknum-oknum yang pernah menjadi pendukung Jamaah Islamiyah dan para
pendukung gagasan Negara Islam Indonesia.
Hasilnya cukup efektif. Dengan mendompleng nama Al-Qaeda, kelompok ini berhasil
merekrut anggota baru dari warga masyarakat kebanyakan. Mereka tak hanya yang
berpendidikan rendah dan miskin. ''Tapi orang-orang yang menerima paham Osama
bin Laden,'' kata Nasir. Toh, anggota baru itu tak bakal mengecek ada tidaknya
hubungan kelompok Noor Din dengan Al-Qaeda.
Pilihan nama baru organisasi yang nyerempet-nyerempet ke Al-Qaeda pun tak lepas
dari motivasi duit. Menurut Sidney, dengan cara ini, Noor Din berharap memperoleh
kucuran dana dari luar negeri, khususnya donatur yang simpati pada perjuangan
Al-Qaeda dan kelompok sejenis. Sidney yakin, kemampuan finansial gerakan teror ini
sudah mengempis. Sukses-tidaknya taktik ini, menurut dia, sangat bergantung pada
kontrol Pemerintah Indonesia atas lalu lintas uang yang masuk ke Indonesia. ''Tapi
saya nggak yakin,'' katanya meragukan Noor Din.
Sidney boleh jadi benar. Pasalnya, Pemerintah Indonesia --lewat kerja sama polisi
dengan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan-- sudah lama
memperketat pengawasan aliran dana yang mencurigakan. Hasilnya, terenduslah
bahwa para teroris itu mendapat dana dari satu jaringan di Arab Saudi. Uang itu
dikirim bukan lewat transfer bank, melainkan dititipkan ke tenaga kerja Indonesia.
''Mereka memanfaatkan kurir yang terputus. Sekali pakai, ganti,'' kata Sutanto.
Pertengahan tahun lalu, aliran dana itu dapat diputus. Polisi menangkap sang pelaku,
Abdullah Sonata. ''Akibatnya, keberadaan mereka melemah,'' ujar Sutanto. Sejak itu,
kelompok Noor Din mencari sumber dana dari dalam negeri. Mereka berjualan
voucher telepon genggam yang keuntungannya, menurut Sutanto, mencapai Rp 5 juta
per bulan. Selain itu, mereka juga mencari duit dengan merampok orang-orang yang
mereka anggap kafir. ''Seperti pernah dilakukan kelompok Imam Samudra lewat
perampokan toko emas,'' kata Sutanto, menyebut salah satu gembong bom Bali I
yang dibekuk bisa polisi itu.
Aksi perampokan itu pernah dibongkar oleh Kepolisian Daerah (Polda) Jawa Tengah.
Satu di antaranya adalah peristiwa perampokan toko ponsel Modern, Semarang,
Oktober tahun lalu. Polisi membaui bahwa aksi perampokan ini tak dilakukan oleh
kawanan kriminal biasa.
Ternyata, tutur Inspektur Jenderal Polisi Dodi Sumatyawan, Kepala Polda Jawa
Tengah, pelakunya ialah Subur Sugiarto alias Abu Mujahid dan seorang kawannya
yang kini diketahui sebagai Joko. Keduanya termasuk dalam 11 orang yang kini
diringkus polisi.
Subur disebut-sebut pernah menampung Noor Din untuk bersembunyi, sedangkan
Joko adalah pemilik Rumah Makan Padang Selera, tempat pembuatan klip video
ancaman Noor Din dan kesaksian pelaku bom bunuh diri pada peristiwa bom Bali II.
''Dalam aksi perampokan ini, mereka berhasil menggondol enam telepon genggam
dan uang Rp 35 juta,'' katanya kepada Imung Yuniardi dari Gatra. Apakah uang itu
telah menjadi bom?
Hidayat Gunadi, Luqman Hakim Arifin, dan Alexander Wibisono
[Nasional, Gatra Nomor 13 Beredar Senin, 6 Februari 2005]
Copyright © 2002-04 Gatra.com.
|