Tugas Kelompok

Mata Kuliah : Filsafat Komunikasi

Dosen : Prof. Dr. Hj. Nina Winangsih, Dra., M.S.

 

KONTRIBUSI ILMU BIOLOGI

DALAM ILMU KOMUNIKASI

   

KELOMPOK BIOLOGI

BIDANG KAJIAN UTAMA ILMU KOMUNIKASI

PROGRAM PASCASARJANA

UNIVERSITAS PADJADJARAN

BANDUNG 2004

 


BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1. Latar Belakang

Ditinjau secara filsafat ilmu, ilmu komunikasi tergolong ke dalam ilmu-ilmu sosial. Obyek meteril ilmu sosial adalah kehidupan manusia (human life), sedangkan obyek materil ilmu alam (ilmu eksakta) adalah alam atau fenomena alam (natural phenomena). Ilmu komunikasi sendiri membedakan diri dari ilmu-ilmu sosial lainnya menurut obyek formalnya, yakni pesan-pesan manusia.

Pada awalnya pada satu sisi, komunikasi hanyalah suatu metode penelitian yang mulai berkembang mulai sejak Perang Dunia I untuk maksud-maksud tertentu non akademik, antara lain propaganda. Setelah Perang Dunia kedua, perkembangan industri dan jasa menyebabkan trend penelitian komunikasi bergeser ke kegiatan yang bertujuan komersil, seperti iklan pada majalah-majalah di AS dan survei khayak pendengar radio komersil (Nina Winangsih Syam, 2002).

Pada sisi lain dalam waktu sama, peneltian-penelitian komunikasi juga sedang berproses menjadi (to be exist) sebagai sebuah penelitian ilmu tersendiri. Proses itu "dikeroyok" oleh banyak bidang ilmu-ilmu sosial dan alam. Jalaluddin Rakmat melukiskan komunikasi seperti sebuah kampung yang setiap musafir akan menyinggahi karena mata air yang dimilikinya. Komunikasi begitu esensial seperti kampung itu, sehingga setiap ilmuan yang kajiannya bersinggungan dengan manusia, mestilah berurusan dengan komunikasi (Jalaluddin Rakhmat, 1985: 7). Bidang-bidang ilmu yang sempat terekam yang sempat "mampir" di komunikasi itu antara lain: antropologi, biologi, ekonomi, sosiologi, linguistik, psikologi, politik, matematika, engineering, neurofisiologi, filsafat, dan seterusnya.

Demikian pula, perspektif dalam teori-teori komunikasi dapat ditelursuri jejak-jejaknya ke belakang pada bebagai disiplin ilmu. Dalam psikologi komunikasi, kita mengenal empat perspektif: Behaviorisme, Humanisme, Psikonalisi, dan Kognitif. Keempat perspektif ini dimotori oleh perkembangan perspektif-perspektif yang ada dalam psikologi sosial dan psikologi itu sendiri. Sejumlah teori-teori dalam ilmu komunikasi juga dilatarbelakangi oleh konsepsi-konsepsi psikologi tentang manusia sepeprti teori-teori persuasi; teori tentang komunikasi kelompok adalah merupakan pengembangan lebih lanjut dari teori tengan pengelompokan sosial dalam sosiologi; Teori tentang komunikasi (bermedia) massa adalah merupakan pengembangan kajian tentang jurnalisme dan publisistik; atau teori-teori tentang komunikasi organisasi sebagai salah satu bidang kajian dalam ilmu administrasi.

Bila ditinjau dari sisi filsafat ilmu, ilmu komunikasi sendiri merupakan disiplin tersendiri sebagaimana ilmu lainnya seperti antropologi, sosiologi, linguistik, ekonomi, dan sebagainya. Filsasfat ilmu mengkategorikan fenomena realitas secara ontologis ke dalam dua pengelompokan utama, yaitu: fenomena alam dan fenomena manusia. Studi yang memenuhi prinsip dasar positivisme terhadap fenomena-fenomena inilah yang kemudian didikotomikan berdasarkan obyek fenomena tadi, yaitu Ilmu-ilmu Alam (Ilmu Pasti) dan Ilmu-ilmu Sosial. Ilmu Alam melakukan studi tentang hukum-hukum yang mendasari kejadian-kejadian alam sementara Ilmu-ilmu Sosial mempelajari gejala-gejala kemanusiaan seperti perilaku, tindakan, pikiran, norma-norma, nilai-nilai. Selain dua kategori ilmu tadi, terdapat juga ilmu-ilmu humaniora. Kelompok ini mendasarkan dirinya pada kajian obyeknya tentang manusia yang berpegang teguh pada pemahaman intuitif, suatu pemahaman yang bertolak belakang dengan prinsip-prinsip dasar "positivisme" seperti sistematis, obyektif, dan metodologis. Pengelompokan terakhir ini belum menjadi referensi utama dalam berbagai kajian tentang filsafat ilmu sehingga masih digolongkan ke dalam ilmu-ilmu sosial oleh berbagai kalangan.

Filsafat ilmu menamai kedua fenomena yang menjadi landasan utama ilmu-ilmu ini sebagai obyek material. Artinya, ilmu pengetahuan mempunyai, untuk sementara, dua obyek material: fenomena alam dan fenomena manusia. Masing-masing obyek material ini kemudian berkembang melalui berbagai studi yang kemudian melahirkan sub-sub kajian, seperti biologi, antropologi, matematika, kimia, sosiologi, ekonomi, linguistik dan sebagainya. Sub-sub kajian inilah yang oleh filsafat imu dinamakan obyek formal berdasarkan obyek materialnya. Obyek material ilmu-ilmu sosial misalnya, melahirkan sejumlah obyek formal seperti komunikasi (kajian tentang pesan-pesan manusia), sosiologi (kajian tentang interaksi dan pengelompokan manusia), antropologi (kajian tentang prilaku dan norma-norma manusia dalam hidup berbudaya), ekonomi (kajian tentang cara manusia mempertahankan hidup dan memenuhi kebutuhan hidupnya), dan sebagainya.

Dapat disebutkan bahwa ilmu komunikasi merupakan salah satu kelompok ilmu-ilmu sosial yang telah mengembangkan obyek formalnya dengan sejumlah definisi tentang disiplin ini sendiri yang membedakannya dengan ilmu-ilmu sosial yang berobyek material sama dengan ilmu komunikasi. Namun lebih dari itu, banyak pula aspek-aspek dari ilmu-ilmu sosial lainnya—belakangan ternyata mencakup juga ilmu-ilmu alam, yang melatarbelakangi kajian-kajian yang mengarah ke teori-teori dan perspektif dalam ilmu komunikasi.

Aktivitas komunikasi manusia dalam satu aspek studi, tidaklah berdiri sendiri dalam artian hanya mampu menjelaskan dirinya sendiri. Di luar kegiatan itu sendiri, ada sejumlah komponen dependant yang mau tidak mau ikut menentukan efektifitas komunikasi serta berperan sebagai instrumen pembantu (sebagian mengatakan utama) bagi metode-metode kajian dalam studi tentang komunikasi manusia. Misalnya, studi komunikasi yang menggunakan konsep dinamika kelompok merupakan eksplorasi dimensi-dimensi psikologis manusia, dan oleh karena itu kajian sebaiknya adalah bagian dari salah satu sub dari psikologi (salah teori dalam sosiologi dan psikologi sosial).

Pemanfaatan teknologi belakangan ini telah memberikan perspektif tersendiri dalam kajian-kajian efektivitas komunikasi manusia. Kajian tentang media massa, tidak dapat mengabaikan kehadiran teknologi informasi dan komunikasi yang mengubah konsep jurnalisme tentang pembagian jenis-jenis media massa berdasarkan frekuensi waktu. Begitu pula studi tentang efek media yang didasarkan pada frekuensi disseminasi pesan, tentu konsep-konsep lama tidak lagi dapat mengakomodasi pengembangan media cybernetik, dimana informasi terbaru dapat diakses dalam setiap detik atau menit. Dan, juga desain program-program tayangan interaktif yang mereduksi dominasi teori jarum suntik epidermik—manusia diposisikan secara pasif di hadapan pesan-pesan media.

Demikian juga, eksistensi fisik manusia. Kajian komunikasi selama ini masih mempatkan eksistensi fisik manusia sebagai elemen-elemen exculde dalam studi komunikasi tentang pesan-pesan manusia. Pada faktanya, kemampuan berkomunikasi sangat dipengaruhi oleh kemampuan berbahasa (lida, mulut, bibir, serta indera mata dan pendengaran). Dan yang sangat penting adalah bahwa kemampuan ruang kognisi manusia untuk mempersepsi (menkode dan mendekode) pesan-pesan komunikasi amat tergantung kemampuan dan kapasitas otak (brain), berikut sisi-sisi maintenance-nya. Yang terakhir ini menuntut manusia untuk "bekerja" dalam wilayah di luar area obyek material ilmu-ilmu sosial, yakni kita bergerak dalam area obyek materil ilmu-ilmu alam seperti ilmu biologi tentang kondisi otak dalam hal kemampuannya mempersepsi pesan.

Ilmu biologi sebagai salah satu landasan dari filsafat ilmu komunikasi adalah penting sebagai upaya "meminjam" (Aubrey B. Fisher 1978). Meminjam bukan dalam sifatnya yang sporadis dan dangkal. Alias, ilmu komunikasi bukan mempelajari biologi tetapi mempelajari peristiwa-peristiwa alam pada wilayah biologi yang merupakan variabel pengaruh terhadap fenomena komunikasi. Obyek ini bukan target dan point mainstream dalam biologi itu sendiri, sehingga sebaliknya pula bukan berarti biologi itu sendiri mempelajari komunikasi.

Contoh untuk hal ini bisa dilihat pada ilmu genetika sebagai cabang ilmu biologi yang membahas tentang sifat-sifat keturunan (hereditas) dan variasi-variasinya. Unit-unit hereditas yang dipindahkan dari satu generasi ke generasi berikutnya yang disebut dengan "gen". Perkembangan embrio manusia yang terdiri atas 46 kromosom yang mempunyai berjuta-juta bagian gen yang terdapat dalam nucleus sel. Sebuah gen mengandung informasi yang berkode bagi produksi sebagai awal dimulainya proses encoding (mempersepsi) atau penyampaian pesan (respon/produksi-reproduksi). Relevansi ini sulit diingkari apabila kita memasukkan efektivitas komunikasi manusia sebagai salah satu kajian utama dalam studi tentang pesan-pesan manusia, tetapi tetap berada di luar wilayah kajian biologi itu sendiri.

Realitasnya, faktor biologis terlibat dalam seluruh kegiatan manusia, bahkan terpadu dengan faktor-faktor sosiopsikologis. Penemuan DNA dalam biologi modern membeberkan bahwa warisan biologis manusia menentukan prilakunya karena struktur DNA menyimpan seluruh warisan biologis yang diterima manusia dari orang tuanya (Jalaluddin Rakhmat 1985). Konsepsi pengaruh ini memandang segala kegiatan manusia, termasuk agama, kebudayaan, moral, berasal dari struktur biologisnya. Aliran ini menyebut dirinya dengan nama sosiobiologis. Faktor-faktor biologis yang mendorong prilaku manusia lazimnya disebut sebagai motif biologis. Hal ini menunjukkan kedekatan konsepsi-konsepsi bilologis dengan konsepsi-konsepsi perilaku komunikasi manusia.

Relevansi ilmu biologi dengan berbagai bagian dalam kajian ilmu komunikasi ini tidak hanya beroperasi menurut pengertian relevansi itu sendiri, tetapi pada tingkatan epistemologis dalam filsafat ilmu, ilmu biologi justru memberikan peran sebagai kontribusi. Sebagai kontributor, maka studi tentang otak sebagai komponen genetika dalam ilmu biologi mestilah dieksplorasi lebih rinci sehingga link-nya dengan studi tentang efektivitas pesan-pesan komunikasi dapat lebih accountable dan verifikatif.

1.2. Tujuan

Memaparkan tentang peran-peran ilmu biologi dalam studi tentang ilmu komunikasi;

  • Mengeksplorasi perkembangan teori-teori biologi tentang genetika yang membedah seluk-beluk otak yang selama ini berperan dalam proses-proses produksi pesan; dan

  • Memetakan keterkaitan dan peran ilmu biologi dalam perkembangan ilmu komunikasi.

  • 1.3. Metode

  • Deskripsi; memberikan gambaran tentang fungsi fisik otak yang dikaji dalam ilmu biologi; dan

  • Eksplorasi; penelusuran mengenai perkembangan teori-teori biologi.


  • BAB II

    PERKEMBANGAN PEMIKIRAN DALAM BIOLOGI

    2.1. Perkembangan Pemikiran Biologi Sebelum Abad ke-20

    Hippocrates dan Gelen, dua dokter Yunani yang terkemuka, telah berjasa besar pada pengetahuan biologi zaman kuno dan tetap menjadi tokoh yang terhormat dalam ilmu kedokteran dan biologi sepanjang Abad Pertengahan. Selama Abad Pertengahan, ketika orang-orang Arab menjadi penjaga ilmu Barat dan mendominasi semua disiplinnya, biologi dikembangkan lebih jauh oleh para dokter, yang paling terkenal pada saat itu adalah Al-Razi, Ibn Sina, dan Ibn Rushd, yang semuanya juga sekaligus merupakan filsuf-filsuf terkemuka. Selama masa itu, para ahli kimia Arab, yang ilmunya secara tradisional dikaitkan dengan ilmu kedokteran, merupakan orang-orang pertama yang mencoba menganalisis benda hidup secara kimiawi, dan oleh karena itu, mereka menjadi pelopor biokomia modern.

    Hubungan yang dekat antara biologi dengan kedokteran berlanjut sepanjang masa Renaisans hingga zaman modern, ketika para ilmuwan yang berlatar belakang kedokteran mencapai kemajuan-kemajuan menentukan secara terus-menerus dalam ilmu-ilmu kehidupan. Dengan demikian, Linnacus, ahli klasifikasi besar pada abad kedelapan belas, bukan hanya seorang ahli botani dan zoologi melainkan juga seorang dokter, dan memang botani sendiri berkembang dari penelitian tentang tumbuh-tumbuhan yang mempunyai daya penyembuh. Pasteur, meskipun bukan seorang dokter, meletakkan dasar-dasar bagi mikrobiologi yang kemudian melakukan revolusi dalam ilmu kedokteran. Claude Bernard, pendiri fisiologi modern, adalah seorang dokter. Matthias Schleiden dan Theodor Schwann, penemu teori sel, mempunyai gelar dokter, dan begitu pula Rudolf Virchow, yang merumuskan teori sel dalam bentuknya yang modern. Lamarck mempunyai pendidikan kedokteran dan Darwin juga belajar kedokteran,meskipun kurang berhasil.

    Semua ini hanyalah beberapa contoh dari kesalinghubungan yang terus-menerus antara biologi dengan kedokteran yang masih berlangsung hingga zaman sekarang, ketika lembaga-lembaga kedokteran memberikan dana pada penelidan biologi dengan perbandingan yang signifikan. Oleh karena itu, sangat mungkinlah kiranya bahwa ilmu kedokteran dan ilmu biologi akan mengalami revolusi bersama lagi ketika para peneliti biomedis menemukan perlunya melampaui paradigma Descartes untuk membuat kemajuan yang lebih jauh dalam memaharni masalah kesehatan dan penyakit

    Model biologi Cartesian telah menemui banyak kegagalan dan keberhasilan sejak abad ketujuh belas. Descartes menciptakan suatu gambaran yang kuat tentang organisme hidup sebagai sebuah sistem mekanik dan menetapkan suatu kerangka konseptual yang kaku bagi penelitian berikutnya dalam fisiologi, tetapi tidak banyak menghabiskan waktu untuk observasi dan percobaan fisiologis serta meninggalkan kerangka tersebut pada para pengikutnya untuk menyelesaikan rincian dari pandangan hidup mekanistik tersebut. Orang pertama yang berhasildalam usaha ini adalah Giovanni Borelli, seorang murid Galileo, yang berhasil menjelaskan beberapa aspek dasar aksi otot dalam pengertian mekanika.

    Tetapi keberhasilan besar fisiologi abad ketujuhbelas tercapai ketika William Harvey menerapkan model mekanistik pada fenomena peredaran darah dan memecahkan apa yang selama ini menjadi masalah yang paling pokok dan sulit untuk dipecahkan sejak zaman kuno. Risalahnya, On the Movement of the Heart, memberikan suatu gambaran yang jelas semuayang dapat diketahui tentang sistem darah dalam pengertian anatomi dan hidrolika tanpa bantuan sebuah mikroskop. Risalah itu merupakan prestasi puncak fisiologi mekanistik dan mendapatkan pujian dengan antusiasme yang sangat besar dari Descartes sendiri.

    Karena diilhami oleh keberhasilan Harvey, para fisiolog pada masa itu mencoba menerapkan metode mekanistik itu untuk menggambarkan fungsi-fungsi tubuh lainnya, semacam pencernaan dan metabolisme, tetapi usaha-usaha tersebut semuanya gagal. Fenomena yang ingin dijelaskan oleh para fisiolog ini—seringkali dengan bantuan analogi mekanis yang ganjil—melibatkan proses-proses kimiawi dan listrik yang belum dikenal pada waktu itu dan tidak dapat diungkapkan dalam pengertian mekanik. Meskipun kimia tidak berkembang jauh pada abad ketujuh belas, terdapat sebuah aliran yang berakar pada tradisi kimia yang mencoba menjelaskan keberfungsian organisme hidup dalam pengertian proses-proses kimiawi. Pencetus aliran ini adalah Paracelsus von Hohenheim, seorang tokoh kedokteran abad keenam belas dan sekaligus seorang penyembuh yang sangat berhasil, setengah penyembuh setengah ilmuwan, dan lebih dari itu dia adalah seorang tokoh yang paling luar biasa dalam sejarah ilmu kedokteran dan biologi. Paracelsus, yang melakukan praktik kedokterannya sebagai seni dan ilmu gaib berdasarkan konsep-konsep kimia, percaya bahwa penyakit adalah akibat dari ketidakseimbangan dalam kimia tubuh. Pandangan terhadap penyakit semacam itu adalah terlalu revolusioner bagi ilmu pada zamannya dan terpaksa harus menunggu beberapa ratus tahun untuk memperoleh pengakuan yang luas.

    Pada abad ketujuh belas fisiologi terbagi menjadi dua kubu yang saling berlawanan. Pada kubu pertama terdapat para pengikut Paracelsus, yang menamakan diri "iatrokemis" dan percaya bahwa fungsi-fungsi fisiologis itu dapat dijelaskan dalam pengertian kimia. Pada kubu yang lain terdapat orang-orang yang dikenal sebagai "iatromekanis", yang mengikuti pendekatan Descartes dan percaya bahwa prinsip-prinsip mekanik merupakan dasar dari semua fungsi tubuh. Tentu saja mayoritas adalah iatromekanis dan mereka terus membangun model-model mekanik yang luas, yang sering kali salah tetapi lekat pada paradigma yang mendominasi pemikiran ilmiah abad ketujuh belas.

    Situasi tersebut banyak berubah pada abad kedelapan belas, yang menyangsikan serangkaian penemuan penting dalam kimia, termasuk penemuan oksigen dan rumusan Antoine Lavoisier tentang teori pembakaran modern "Bapak kimia modern" itu juga menunjukkan bahwa pernafasan merupakan suatu bentuk oksidasi khusus yang menetapkan relevansi proses kimiawi pada keberfungsian organisme hidup. Pada akhir abad kedelapan belas, suatu dimensi lebih lanjut pun ditambahkan pada fisiologi ketika Luigi Galvani menunjukkan bahwa transmisi impuls saraf berkaitan dengan arus listrik. Penemuan ini menuntun Allesandro Volta kepada penyelidikan tentang listrik sehingga menjadi sumber dari dua ilmu baru neurofisiologi dan elektrodinamika.

    Semua perkembangan ini menaikkan fisiologi ke tingkat kecanggihan baru. Model-model organisme hidup mekanis yang sederhana tidaklagi dipakai, tetapi esensi konsep Descartes masih tetap hidup. Binatang masih dianggap sebagai mesin, meskipun lebih rumit dari pada mesin arloji mekanis, yang melibatkan fenomena kimia dan listrik. Dengan demikian, biologi tidak lagi mengikuti Descartes dalam arti gambaran organisme hidup mekanis yang sempit, tetapi secara luas biologimasih mengikuti Descartes dalam pengertian usahanya untuk mereduksi semua aspek organisme hidup menjadi interaksi fisik dan unsur-unsur pokoknya yang terkecil. Pada saat yang sama fisiologi mekanistik sempit menemukan ungkapannya yang paling kuat dan rinci dalam risalah polemis La Mettrie Man a Machine, yang tetap dikenal hingga abad kedelapan belas. La Mettrie meninggalkan dualisme tubuh-jiwa ala Descartes, yang menyangkal bahwa manusia secara esensial berbeda dengan binatang; dan membandingkan organisme manusia, termasuk jiwanya dengan sebuah mesin arloji yang rumit.

    Materialisme ekstrem La Mettrie menimbulkan banyak perdebatan dan kontroversi, yang sebagian di antaranya mencapai abad kedua puluh. Sebagai seorang biolog muda Joseph Needham menulis sebuah esai dalam pembelaannya terhadap La Mettrie, yang diterbitkan pada tahun 1928 yang berjudul sama dengan karya asli La Mettrie, ‘Man a Machine.' Needham menjelaskan bahwa baginya—setidaknya pada waktu itu—ilmu dikenali dengan pendekatan mekanistik Descartes. "Mekanisme dan materialisme," tulisnya, "menjadi landasan bagi pemikiran ilmiah," dan dia secara jelas memasukkan studi tentang fenomena mental ke dalam. kategori ilmiah itu.

    Dalam sejarah model Cartesian tentang ilmu-ilmu kehidupan, abad kesembilan belas membawa perkembangan-perkembangan baru dan mengesankan yang disebabkan oleh kemajuan-kemajuan luar biasa dalam banyak bidang biologi. Abad kesembilan belas menjadi terkenal karena ditetapkannya teori evolusi, tetapi abad itu juga melihat dirumuskannya teori sel, permulaan embriologi modern, bangkitnya mikrobiologi, dan ditemukannya hukum-hukum keturunan.

    Salah satu generalisasi yang paling kuat dalam semua cabang biologi adalah pengakuan bahwa semua binatang dan tatanan tersusun atas sel-sel. Menandai suatu perubahan menentukan dalam pemahaman biologi terhadap struktur tubuh, keturunan, kesuburan, perkembangan dan diferensiasi, evolusi, dan banyak ciri-ciri kehidupan yang lain. Istilah ‘sel’ diciptakan oleh Robert Hooke pada abad ketujuh belas untuk menggambarkan berbagai struktur kecil yang dilihat melalui mikroskop yang baru saja ditemukannya, tetapi perkembangan teori sel tepat sebenarnya merupakan suatu proses bertahap dan pelan-pelan yang melibatkan kerja berbagai peneliti dan mencapai puncaknya pada abad kesembilan belas, ketika para biolog berfikir bahwamereka telah menemukan secara pasti unit-unit pokok kehidupan. Kepercayaan ini memberi suatu makna baru pada paradigma Descartes. Mulai saat itu, semua fungsi organisme harus dipahami dalam pengertian sel-selnya. Fungsi-fungsi biologi dipandang sebagai hasil interaksi antarbalok-balok bangunan sel dan bukan dipandang sebagai refleksi dari organisasi-organisme sebagai suatu keseluruhan.

    Pemahaman terhadap struktur dan keberfungsian sel melibatkan suatu masalah yang telah menjadi ciri semua biologi modern. Organisasi suatu sel telah sering dibandingkan dengan organisasi sebuah pabrik, di mana bermacam-macam bagian dibuat di tempat yang berlainan, yang disimpan di dalam fasilitas menengah, dan kemudian diangkut ke pabrik perakitan untuk digabungkan sehingga menjadi produk jadi untuk kemudian digunakan oleh sel itu sendiri atau dikirim ke sel-sel yang lain. Biologi sel telah membuat suatu kemajuan luar biasa dalam pemahaman tentang struktur dan fungsi berbagai subunit sel, tetapi aktivitas koordinasi yang memadukan operasi-operasi itu menjadi keberfungsian sel sebagai sebuah keseluruhan tetap belum diketahui. Kompleksitas masalah ini menjadi semakin tinggi dengan adanya kenyataan bahwa perlengkapan dan mesin-mesin sel bukanlah perlengkapan permanen sebagaimana perlengkapan dan mesin-mesin pabrik buatan manusia, melainkan dilepas dan dibangun kembali secara berkala, yang selalu sesuai dengan pola-pola khusus dan selaras dengan keseluruhan dinamika keberfungsian sel.

    Para biolog telah menyadari bahwa sel itu sendiri adalah organisme, dan mereka semakin sadar bahwa aktivitas terpadu sistem hidup ini—terutama keseimbangan jalan dan siklus metabolisme yang saling tergantung—tidak dapat dipahami dengan kerangka reduksionis.

    Ditemukannya mikroskop pada abad ketujuh belas membuka dimensi baru bagi ilmu biologi, tetapi alat itu belum dapat dipergunakan secara optimal hingga abad kesembilan belas, ketika berbagai masalah teknis dalam kaitannya dengan sistem lensa lama akhirnya bisa terpecahkan. Mikroskop yang baru disempurnakan itu menghasilkan bidang penelitian yang sama sekali baru, mikrobiologi, yang mengungkapkan kekayaan yang tak pernah diduga sebelumnya dan kompleksitas organisme hidup dalam dimensi makroskopis. Penelitian bidang ini didominasi oleh si jenius Louis Pasteur, yang dengan wawasannya yang mendalam dan rumusan-rumusannya yang jelas menghasilkan dampak abadi pada ilmu-ilmu kimia, biologi, dan kedokteran.

    Dengan menggunakan teknik-teknik percobaan yang piawai, Pasteur mampu menjernihkan suatu pertanyaan yang telah menggelisahkan para biolog sepanjang abad kedelapan belas, pertanyaan tentang asal usul kehidupan. Sejak zaman kuno telah dipercayai bahwa kehidupan setidak-tidaknya dalam bentuknya yang lebih rendah, dapat muncul secara seketika pada benda-benda mati. Selama abad ketujuh belas dan delapan belas konsep tersebut-yang dikenal dengan "generasi spontan" dipertanyakan, tetapi perselisihan pendapat itu belum dapat diselesaikan hingga Pasteur menunjukkan secara jelas, dengan serangkaian percobaan yang dirancang dengan saksama dan teliti, bahwa setiap mikroorganisme yang berkembang dalam kondisi yang tepat itu berasal dari mikroorganisme yang lain. Pasteurlah yang mengungkap berbagai macam dunia organik yang luar biasa itu hingga ke tingkat yang sangat kecil. Secara khusus dia mampu menetapkan peran bakteri dalam proses-proses kimia tertentu, semacam fermentasi sehingga membantu menetapkan landasan bagi ilmu baru biokimia

    Setelah dua puluh tahun melakukan penelitian terhadap bakteri, Pasteur beralih ke penelitian tentang penyakit pada binatang-binatang yang lebih tinggi dan mencapai kemajuan besar yang lain -pengungkapan suatu korelasi yang pasti antara kuman dan penyakit. Meskipun penemuan ini mempunyai dampak yang luar biasa pada perkembangan ilmu kedokteran, hakikat yang pasti dari korelasi antara bakteri dengan penyakit masih banyak disalahpahami. "Teori kuman penyakit" Pasteur, dalam interpretasinya yang paling simplistik dan reduksionis, menunjukkan bahwa peneliti biokimia cenderung menganggap bakteri sebagai satu-satunya penyebab timbulnya penyakit. Konsekuensinya, mereka menjadi tergoda dengan identifikasi tentang mikroba dan dengan tujuan semua mereka merancang "peluru ajaib", obat yang akan menghancurkan bakteri khusus tanpa menghancurkan organisme lainnya.

    Pandangan reduksionis tentang penyakit itu memudarkan suatu teori alternatif yang telah diajarkan selama beberapa dasawarsa sebelumnya oleh Claude Bernard, seorang dokter terkenal yang biasanya dianggap sebagai pendiri fisiologi modern. Meskipun Bernard, yang dekat dengan paradigma pada zamannya, melihat organisme hidup itu sebagai "mesin yang harus bekerja berdasarkan sifat-sifat fisiko-kimia dari unsur-unsur pokoknya" pandangannya tentang fungsi-fungsi fisiologis jauh lebih halus daripada pandangan-pandangan orang sezamannya. Dia menegaskan adanya hubungan yang erat antara suatu organisme dengan lingkungannya, dan dia merupakan orang pertama yang menunjukkan babwa terdapat juga suatu milieu interieur suatu lingkungan internal di mana organ dan jaringan organisme itu hidup. Bernard mengamati bahwa dalam suatu organisme yang sehat terdapat banyak fluktuasi. Penemuan ini menuntunnya kepada perumusan diktumnya yang terkenal: "Konstansi lingkungan internal merupakan syarat pokok bagi kehidupan mandiri."

    Penekanan Claude Bernard yang kuat pada keseimbangan internal sebagai suatu syarat bagi kesehatan tidak bisa mempertahankan dasar pijakannya melawan penyebaran pesat pandangan reduksionis terhadap penyakit di kalangan biolog dan dokter. Makna penting dari teori ini kemudian baru ditemukan kembali pada abad keduapuluh, ketika para peneliti menjadi semakin sadar akan peran lingkungan yang sangat menentukan di dalam fenomena biologi. Konsep Bernard tentang konstansi lingkungan internal sekarang telah dikembangkan dengan lebih jauh dan telah mengarah kepada pengertian penting tentang homeostasis, suatu kata yang diciptakan oleh neurolog Walter Cannon untuk menunjuk kecenderungan organisme mempertahankan sutu kondisi keseimbangan internal.

    Teori evolusi merupakan sumbangan penting ilmu biologi pada sejarah pemikiran abad kesembilan belas. Teori ini memaksa para ilmuwan untuk meninggalkan gambaran dunia Newton sebagai sebuah mesin yang telah muncul sepenuhnya dalam keadaan jadi dari tangan Sang Pencipta, dan menggantikannya dengan konsep sistem yang berevolusi dan berubah selamanya. Namun demikian, hal ini tidak menyebabkan para biolog memodifikasi paradigma reduksionis; sebaliknya, mereka justru memusatkan perhatian mereka pada penyesuaian teori Darwin dengan kerangka ala Descartes. Mereka benar-benar berhasil dalam menjelaskan berbagai mekanisme fisika dan kimia dalammasalah keturunan, tetapi tidak mampu memahami hakikat penting dari perkembangan dan evolusi.

    Teori evolusi pertama kali dirumuskan oleh Jean Baptiste Lamarck, seorang ilmuwan autodidak yang menemukan kata "biologi" dan beralih studi tentang spesies binatang pada waktu berusia hampir lima puluh tahun. Lamarck mengamati bahwa binatang berubah di bawah tekanan udara lingkungan, dan dia percaya bahwa binatang dapat menurunkan perubahan-perubahan ini hingga ke janin mereka. Penurunan ciri-ciri yang diperoleh ini bagi Lamarck merupakan mekanisme utama dalam evolusi. Meskipun kemudian Lamarck terbukti salah dalam hal ini, pengakuannya tentang fenomena evolusi—munculnya struktur biologi baru dalam sejarah spesies—merupakan suatu wawasan revolusioner yang berpengaruh besar pada pemikiran ilmiah pada masa berikutnya.

    Secara khusus, Lamarck mempunyai pengaruh yang kuat pada Charles Darwin, yang memulai karir ilmiahnya sebagai seorang geolog tetapi kemudian menjadi tertarik pada biologi selama ekspedisinya ke Kepulauan Galapagos, di mana dia mengamati kekayaan yang melimpah dan berbagai macam fauna pulau. Pengamatan-pengamatannya merangsang Darwin untuk berspekulasi tentang pengaruh isolasi geografis pada formasi spesies dan secara bertahap membawanya kepada formulasi teori evolusinya. Pengaruh-pengaruh penting lainnya pada pemikiran Darwin adalah konsep-konsep evolusi Charles Lyell, dan konsep ekonom Thomas Malthus tentang perjuangan yang penuh persaingan untuk dapat bereksistensi. Dari pengamatan dan penelitian ini muncullah konsep kembar yang menjadi dasar teori Darwin—konsep variasi kesempatan, yang kemudian disebut mutasi acak, dan konsep seleksi alam melalul "survival of the fittest".

    Darwin menerbitkan teori evolusinya pada tahun 1859 dalam karya monumentalnya On the Origin of Species dan melengkapi teori itu dua belas tahun kemudian dengan karyanya The Descent of Man, di mana konsep transformasi evolusi suatu spesies tertentu menjadi spesies lainnya diperluas dengan memasukkan spesies manusia. Di sini Darwin menunjukkan bahwa konsep-konsepnya tentang sifat manusia sangat diwarnai oleh bias patriarkhal pada zamannya, meskipun hakikat teorinya sendiri sebenarnya revolusioner. Dia melihat laki-laki secara tipikal kuat, berani, dan cerdas; perempuan secara tipikal pasif, bertubuh lemah, dan berotak lemah pula, "Laki-laki itu," tulisnya "lebih berani, lebih suka berkelahi, lebih energetik, dan memiliki kecerdikan yang lebih berdaya cipta daripada perempuan."

    Meskipun konsep Darwin tentang variasi kesempatan dan seleksi alam tetap merupakan landasan bagi teori evolusi modern, ternyata konsep variasi kesempatan, sebagaimana yang dilihat oleh Darwin, tidak pernah dapat menjelaskan ciri-ciri baru dalam evolusi spesies. Pandangan tentang keturunan pada abad kesembilan belas didasarkan atas anggapan bahwa ciri-ciri biologis individu merupakan suatu ‘campuran’ ciri-ciri orangtuanya, yang keduanya memberikan sumbangan yang besarnya kurang lebih sama ke dalam campuran itu. Hal ini berarti bahwa suatu janin dari suatu pasangan dengan variasi kesempatan yang tepat akan menurunkan 50 persen ciri baru, dan akan menurunkan hanya 25 persennya pada generasi berikutnya. Dengan demikian, ciri baru itu akan larut dengan cepat, dengan sedikit kesempatan untuk menetapkan dirinya melalui seleksi alam. Darwin sendiri mengetahui bahwa hal ini merupakan suatu kesalahan yang serius dalam teorinya yang tidak dapat dibenahinya sendiri.

    2.1. Pemikkiran Biologi Modern Abad 20

    Pada abad kedua puluh suatu perubahan penting terjadi dalam penelitian biologi yang mungkin menjadi langkah terakhir dalam pendekatan reduksionis terhadap fenomena kehidupan, yang mengarah pada kemenangannya yang besar tetapi pada saat yang sama juga merupakan kematiannya. Sementara sel dianggap sebagai balok-balok bangunan dasar dari organisme hidup selama abad kesembilan belas, perhatianpun bergeser dari sel ke molekul pada menjelang pertengahan abad kedua puluh, ketika para ahli genetika mulai meneliti struktur molekul gen. Penelitian mereka mencapai puncaknya pada penguraian struktur fisik DNA—dasar molekul kromosom—yang berdiri sebagai salah satu prestasi terbesar ilmu abad kedua puluh. Kemenangan biologi molekulini telah menyebabkan para biolog mempercayai bahwa semua fungsi biologis dapat dijelaskan dalam pengertian struktur dan mekanisme molekul, yang telah banyak mengacaukan penelitian-penelitian dalam ilmu-ilmu kehidupan.

    Dalam pengertian yang umum istilah "biologi molekul" mengacu pada studi tentang setiap fenomena biologi dalam pengertian struktur dan interaksi molekul yang terlibat di dalamnya.

    Langkah penting pertama menuju genetika molekul terjadi dengan ditemukannya bahwa sel mengandung agen, yang disebut enzim, yang dapat menimbulkan reaksi kimia. Selama paruh pertama abad kedua puluh para ahli biokimia berhasil menerapkan sebagian besar reaksi kimia yang terjadi di dalam sel, dan menemukan bahwa yang paling penting dari reaksi-reaksi ini secara essensial sama dalam semua organisme hidup. Masing-masing tergantung pada kehadiran enzim khusus, sehingga studi tentang enzim menjadi sangat penting.

    Selama tahun 1940-an para ahli genetika mencapai suatu wawasan lain yang juga sangat menentukan ketika mereka menemukan bahwa funsi utama gen adalah untuk mengendalikan sintesis enzim. Dengan penemuaan ini munculah suatu bagan besar tentang proses keturunan: gen menentukan sifat-sifat keturunan dengan cara mengarahkan sintesis enzim, yang kemudian menghasilkan reaksi kimia sesuai dengan sifat-sifat tersebut.

    Struktur dasar molekul biologi ditemukan pada awal 1950-an melalui pertemuan tiga metode observasi yang kuat—analisis kimia, mikroskopi elektron, dan kristalografi sinar-X. Terobosan pertama terjadi ketika Linus Pauling menentukan struktur molekul protein. Keberhasilan Pauling memberikan inspirasi kepada James Watson dan Francis Crick yang memusatkan semua usaha mereka untuk menguraikan struktur DNA.

    Diperlukan waktu satu dasa warsa lagi untuk memahami mekanisme dasar yang dilalui oleh DNA dalam melaksanakan dua fungsi pokoknya : replikasi diri dan sintesis protein. Penelitian ini, yang juga dilakukan oleh Watson dan Crick, mengungkapkan secara jelas bagaimana informasi genetis dikodifikasikan di dalam kromosom. Dalam ungkapan yang lebih sederhana, kromosom terdiri atas molekul-molekul DNA yang menunjukkan struktur Watson-Crick. Sebuah gen itu merupakan panjang per ganda DNA yang menentukan struktur enzim tertentu.

    Keberhasilan spektakuler biologi molekul dalam bidang genetika mendorong para ilmuwan menerapkan metode-metode genetis dalam semua bidang biologi sebagai upaya untuk memecahkan semua persoalan dengan cara mereduksinya menjadi tingkat molekul. Dengan demikian, kebanyakan biolog menjadi penganut reduksionis yang kuat, yang berurusan dengan rincian-rincian molekul. Biologi molekul, yang semula merupakan cabang kecil dari ilmu kehidupan dan kemudian menjadi suatu cara berpikir umum yang eksklusif, telah menyebabkan distorsiserius dalam penelitian biologi. Sebagaimana diungkapkan oleh Sidney Brenner, salah satu peneliti besar dalam biologi, "Tak seorang pun menerbitkan teori dalam biologi—dengan beberapa perkecualian. Sebaliknya, mereka keluar dari struktur protein yang lain.

    Masalah-masalah yang menentang pendekatan reduksionis biologi molekul mulai tampak pada tahun 1970-an, ketika struktur DNA dan mekanisme molekul keturunan dapat dipahami dengan baik pada organisme sel tunggal sederhana, semacam bakteri, tetapi masih harus diterapkan pada organisme sel majemuk. Biolog dewasa ini mengetahui struktur pasti beberapa gen tetapi mereka kurang mengetahui bagaimana gen-gen itu berkomunikasi dan bekerja sama dalam perkembangan suatu organisme—bagaimana gen-gen itu berinteraksi, bagaimana gen-gen itu diklasifikasikan, kapan gen-gen itu dihidupkan atau dimatikan,pada tatanan mana gen-gen itu berada.

    Bidang lain yang menunjukkan dengan jelas keterbatasan-keterbatasan pendekatan reduksionis adalah neurobiologi. Sistem saraf yang lebih tinggi merupakan sistem holistik yang aktivitas-aktivitas terpadunya tidak dapat dipahami dengan cara mereduksinya menjadi mekanisme molekul. Pada saat yang sama, sel-sel saraf merupakan sel terbesar sehingga paling mudah dipelajari. Oleh karena itu, para ahli saraf mungkin merupakan orang pertama yang mengusulkan model-model holistik keberfungsian otak untuk menjelaskan fenomena-fenomena semacam persepsi, memori, dan rasa sakit yang tidak dapat dipahami dalam kerangka reduksionis sekarang ini.

    Beberapa biolog terkemuka dari abad kita telah mengungkapkan pendapat mereka bahwa biologi molekul bisa mencapai tujuan kemaslahatannya. Francis Crick, yang mendominasi bidang tersebut sejak awal, mengakui banyaknya keterbatasan pendekatan molekul dalam usahanya memahami fenomena biologi dasar.


    BAB III

    KONSEP BIOLOGI TENTANG OTAK

     Secara umum penulisan bab ini bertujuan memberikan gambaran ringkas tentang konsep Biologi yang relevan dengan Ilmu Komunikasi. Keterbatasan referensi serta focus dalam pembahasan materi kali ini tidak menutup kemungkinan membahasnya secara luas, namun kami berusaha membatasi pembahasan kali ini hanya berkaitan dengan beberapa hal yang berkaitan dengan sistem saraf manusia, yaitu tentang Otak manusia.

    Sistem saraf manusia adalah suatu jalinan jaringan saraf yang kompleks, sangat khusus dan saling berhubungan satu dengan yang lain. Sistem saraf mengkoordinasi, menafsirkan dan mengontrol interaksi antara individu dengan lingkungan sekitarnya. Sistem tubuh yang penting ini juga mengatur kebanyakan sistem-sistem tubuh lainnya karena pengaturan saraf tersebut maka terjalin komunikasi antara berbagai sistem tubuh hingga menyebabkan tubuh berfungsi sebagai unit yang harmonis. Dalam sistem inilah berasal dari segala fenomena kesadaran, pikiran, ingatan, bahasa, sensasi dan gerakan. Jadi kemampuan untuk dapat memahami, belajar dan memberi respons terhadap suatu rangsangan merupakan hasil kerja integrasi dari sistem saraf yang mencapai puncaknya dalam bentuk kepribadian dan tingkah laku individu.

    3.1. Sistem Saraf Manusia

    Sistem saraf terdiri dari (1) sel-sel saraf (neuron) yang berfungsi menerima masukan motorik dan sensorik; (2) Sel-sel penyokong neuroglia dan sel Schwan (neuroglia, berfungsi sebagai pelindung dari neuron otak; sel Schwan, berfungsi sebagai pelindung dari sistem saraf pusat (SSP)). Sistem saraf dibagi menjadi :

  • Sistem saraf pusat (SSP) yang berfungsi tengkorak dan tulang melindungi otak dan

  • Sistem saraf tepi (SST) yang berfungsi melindungi otak dengan cairan serebrospinal.

  • Otak manusia kira-kira merupakan dua persen dari berat badan orang dewasa. Dimana Otak dibagi menjadi : otak depan otak tengah dan otak belakang Berdasarkan perkembangan embriologik. Otak menerima 20 persen dari curah jantung dan memerlukan sekitar 20 persen oksigen tubuh dan sekitar 400 kalori energi setiap harinya. Otak merupakan jaringan yang paling banyak memakai energi dalam seluruh tubuh manusia dan terutama berasal dari proses metabolisme oksidasi glukosa. Jaringan otak sangat rentan dan kebutuhan akan oksigen dan glukosa melalui aliran darah adalah konstan. Metabolisme otak merupakan proses tetap dan kontunu, tanpa ada masa istirahat. Bila aliran darah terhenti selama 10 detik saja, maka kesadaran mungkin sudah akan hilang, dan penghentian dalam beberapa menit saja dapat menimbulkan kerusakan ireversibel. Hipoglikemia yang berkepanjangan juga merusak jaringan otak. Aktifitas otak yang tak pernah berhenti ini berkaitan dengan fungsinya yang kritis sebagai pusat integrasi dan koordinasi organ-organ sensorik dan system efektor perifer tubuh dan fungsi sebagai "pengatur informasi" yang masuk, simpanan pengalaman, impuls yang keluar dan tingkah laku.

    Pembahasan berikut ini akan membahas secara ringkas mengenai struktur dan fungsi bagian-bagian tertentu otak :

    Batang Otak

    Bagian-bagian batang otak dari bawah keatas adalah berhubungan langsung dengan pusat-pusat otak yang lebih tinggi yaitu otak tengah, yang merupakan pusat relai dan refleks dari SSP.

    Serebelum

    Semua aktifitas serebelum berada dibawah kesadaran. Fungsi utamanya adalah sebagai pusat refleks yang mengkoordinasi dan memperhalus gerakan otot, serta mengubah tonus dan kekuatan kontraksi untuk mempertahankan keseimbangan dan sikap tubuh.

    Diensefalon

    Memproses rangkaian sensorik dan membantu memulai dan memodifikasi reaksi tubuh terhadap stimulus-stimulus tertentu. Diensefalon biasanya dibagi menjadi empat wilayah: Talamus, subtalamus, epitalamus, dan hipotalamus.

  • Talamus bertindak sebagai pusat sensasi primitive dan sensorik primitive juga berperan penting sebagai integrasi ekspresi motorik.
  • Hipotalamus terletak di bawah talamus, dimana berfungsi sebagai mengatur system rangsangan dari system susunan saraf otonom perifer yang menyertai ekspresi tingkah laku dan emosi. Di samping itu pula berperan penting dalam pengaturan hormon-hormon.
  • Subtalamus fungsinya belum dapat dimengerti sepenuhnya tetapi fungsi gerak refleks tak sengaja pada gerakan kaki dan tangan yang sangat kuat hempasannya.
  • Epitalamus berhubungan dengan sistem limbik dan agaknya berperan pada beberapa dorongan emosi dasar dan integrasi informasi.
  • Sistem Limbik

    Berarti batas atau tepi. Fungsi utamanya berkaitan dengan pengalaman dan ekspresi alam perasaan, perasaan dan emosi, terutama reaksi takut, marah dan emosi yang berkaitan dengan perilaku seksual. Sistem limbik memiliki hubungan timbal balik dengan banyak struktur system saraf sentral. Sistem limbik ini diduga juga berperan dalam ingatan, dimana mengakibatkan ingatan baru menjadi hilang.

    Gangguan persepsi, terutama dalam mengingat kembali, krisis emosional dan gangguan hubungan dengan orang lain dan dengan objek diperkirakan mempunyai sangkut paut dengan struktur ini.

     

    Serebrum

    Merupakan bagian otak yang paling besar dan paling menonjol. Serebrum dibagi menjadi himesfer kanan dan kiri oleh suatu lekuk atau celah dalam. Disini terletak pusat-pusat saraf yang mengatur semua kegiatan sensorik dan motorik juga mengatur proses penalaran, ingatan dan intelegensia. Pusat aktivitas sensorik dan motorik pada masing-masing himesfer dirangkap dua, dan sebagian besar berkaitan dengan bagian tubuh yang berlawanan. Himesfer kanan mengatur bagian tubuh sebelah kiri dan himesfer kiri mengatur bagian tubuh sebelah kanan. Konsep fungsional ini disebut pengendalian kontralateral.

    3.2. Bagian Dasar Otak Manusia

    Otak manusia adalah massa protoptasma yang paling kompleks yang pernah dikenal dialam semesta ini. Inilah satu-satunya organ yang sangat berkembang sehingga ia dapat mempelajari dirinya sendiri. Jika dirawat oleh tubuh yang sehat dan lingkungan yang menimbulkan rangsangan, otak yang berfungsi dapat tetap aktif dan reaktif selama lebih dari seratus tahun.

    0tak manusia mempunyai tiga bagian dasar: batang atau "otak reptil", sistem limbik atau "otak mamalia," dan neokorteks. Seorang peneliti, Paul MacLean, menyebutnya "otak triune" karena terdiri dari tiga bagian, masing-masing berkembang pada waktu yang berbeda dalam sejarah evolusi manusia. Masing-masing bagian juga mempunyai struktur saraf tertentu dari mengatur tugas-tugas yang harus dilakukan. Berikut ini penjelasan singkat ketiga bagian otak manusia tersebut:

    1. Batang Otak atau Otak Reptilia

    Dalam perkembangan evolusi adalah batang atau otak reptil. manusia mempunyai unsur-unsur yang sama dengan reptilia; nilai komponen kecerdasan terendah dari spesies manusia. Bagian otak ini bertanggungjawab atas fungsi-fungsi motor sensor-pengetahuan tentang realitas fisik yang berasal dari pancaindra.

    Perilaku yang ada dalam otak reptil berkaitan dengan insting mempertahankan hidup, dorongan untuk mengembangkan spesies. Perhatiannya adalah pada makanan, tempat tinggal reproduksi, dan perlindungan wilayah. Ketika individu merasa tidak aman, otak reptil ini spontan bangkit dan bersiaga atau melarikan diri dari bahaya. Pada masa-masa perkembangan awal manusia, inilah reaksi yang merupakan keharusan. Sayangnya, jika otak reptil ini dominan, kita tidak dapat berpikir pada tingkat yang lebih tinggi.

    2. Bagian Mamalia atau Sistem Limbik

    Di sekeliling otak reptil ini terdapat sistem limbik yang sangat kompleks dan luas, atau otak mamalia. Dalam istilah evolusioner sistem ini sangat cangih dan merupakan bagian yang juga dimiliki semua mamalia. Sistem limbik ini terletak di bagian tengah dari otak kita. Fungsinya bersifat emosional dan kognitif; yaitu ia menyimpan perasaan kita, pengalaman kita yang menyenangkan, memori kita, dan kemampuan belajar kita. Selain itu, sistem ini juga mengendalikan bioritme tubuh kita, seperti pola tidur, lapar, haus, tekanan darah, detak jantung, gairah seksual, temperatur dan kimia tubuh, metabolisme, dan sistem kekebalan.

    Sistem limbik ini jelas merupakan bagian yang penting dalam mempertahankan kehidupan manusia. Sistem limbik adalah panel kontrol utama kita yang mengunakan informasi dari indra penglihatan, pcndengaran, sensasi tubuh dan yang tak begitu sering indra peraba dan penciuman sebagai input-nya. Kemudian, informasi tersebut didistribusikan ke bagian pemikir di dalam otak kita, yaitu neokorteks.

    3. Bagian Neokorteks

    Neokorteks terbungkus di sekitar bagian atas dan sisi-sisi sistem limbik, yang membentuk 80% dari seluruh materi otak. Bagian otak ini merupakan tempat bersemayamnya kecerdasan manusia. Inilah yang mengatur pesan-pesan yang diterima melalui penglihatan, pendengaran, dan sensasi tubuh. Proses yang berasal dari pengaturan ini adalah penalaran, berpikir secara intelektual, pembuatan keputusan, perilaku waras, bahasa, kendati motorik sadar, dan ideasi (penciptaan gagasan) non verbal.

    Dalam neokortekslah semua kecerdasan yang lebih tinggi berada, yang membuat manusia unik sebagai spesies. Psikolog Howard Gardner dari Universitas Harvard telah mengidentifikasi berbagai kccerdasan khas atau "cara-cara mengetahui" yang dapat dikembangkan pada manusia. Di antara kecerdasan-kecerdasan ini adalah kecerdasan linguistik, matematika, visual/spasial, kinestetik/perasa, musikal, interpersonal, intrapersonal, naturalis.

    Mungkin kecerdasan tertinggi dan bentuk terbaik dari pikiran yang kreatif adalah intuisi. Intuisi adalah kemampuan untuk menerima atau menyadari informasi yang, tidak dapat diterima kelima indra kita. Kemampuan ini sangat kuat pada anak-anak antara usia empat dan tujuh tahun. Sering kali kemampuan ditekan dan dihentikan oleh orang-orang berkuasa yang memandangnya sebagai perilaku irasional. Orang khawatir dengan intuisi karena mereka pikir intuisi bisa menghalangi pemikiran rasional. Sebenarnya, intuisi justru berdasarkan pada pemikiran yang rasional dan tak dapat berfungsi tanpanya.

    Otak Manusia mempunyai tiga bagian

    dasar, yang seluruhnya dikenal

    sebagai "otak triune (Three inOne)".

    Sumber: Amstrong, 2003

     

    3.3. Stuktur dan Fungsi Otak

    Otak manusia dibagi menjadi dua bagian: bagian kanan, yang umumnya disebut hemisfir kanan, dan bagian kiri, yang disebut hemisfir kiri. Bentuk fisik kedua bagian ini sama, tetapi ada bagian-bagian yang fungsinya berbeda. Pada hemisfir kanan tidak ada bagian yang terkodratkan dipakai untuk pembentukan ide (ideational mechanicm). Bagian yang pada hemisfir kiri dipakai untuk membentuk ide, pada hemisfir kanan digunakan sebagai pusat untuk mengontrol kesadaran letak tubuh dan anggota badan lainnya serta konsepsi mengenai ruang (spatial relationship). Seperti halnya dengan hemisfir kiri, hemisfir kanan juga mempunyai bagian-bagian untuk pengontrolan suara, dan nampaknya ada kerjasama antara bagian-bagian ini.

    Pada waktu manusia lahir, belum ada pembagian tugas yang ketat antara hemisfer kiri dan hemisfer kanan. Keduanya merupakan suatu kesatuan yang plastis, sehingga kalau ada fungsi dari hemisfir satu yang tidak dapat dilaksanakan, maka hemisfir yang lain dapat dengan mudah melakukannya. Kasus-kasus seperti ini telah dibuktikan pada anak-anak yang menderita penyakit aphasia yang umumnya dapat lebih mudah disembuhkan daripada kalau orang ini sudah dewasa.

    Menjelang usia puber nampaknya terjadilah suatu proses penyebelahan (lateralization), yakni suatu proses saat keplastisan kedua bagian ini berkurang, dan terjadilah semacam penumpahan tugas pada hemisfir kiri. Ini terjadi pada orang yang kidal sekalipun, meskipun kita ketahui bahwa kekidalan makhluk itu dikontrol oleh hemisfir kanan. Kalau terjadi luka atau kerusakan kecil pada hemisfir kiri, maka bagian lain pada hemisfir ini mengambil alih tugasnya. Pengambilalihan oleh hemisfir kanan biasanya terjadi hanya kalau hemisfir kiri sudah tidak dapat berfungsi sama sekali.

    Pada hemisfir serebral kiri telah ditemukan bagian-bagian yang bersangkut paut dengan bahasa. Pada seorang pasien yang kena aphasia dan yang dioperasinya, Broca menemukan bahwa pasien ini mendapat luka pada bagian agak muka dari hemisfir kiri. Penemuan Broca yang pada waktu itu tidak diberi banyak arti ternyata kemudian merupakan penemuan penting dalam bidang neurologi. Bagian ini dibuktikan lebih lanjut sebagai salah satu bagian yang mengontrol ujaran dan terkenal sekarang dengan nama daerah Broca.

    Selanjutnya Broca mengatakan bahwa dasar ujaran tergantung pada empat faktor : (1) sebuah ide, (2) hubungan konvensional antara ide dan kata, (3) cara penggandengan gerak artikulasi dengan kata, dan (4) penggunaan alat-alat artikulasi. Keempat unsur ini harus ada, karena kalau tidak, akan terjadi keanehan-keanehan tertentu. Misalnya saja, tidak adanya faktor ke-4 menyebabkan orang tidak dapat berbicara, meskipun dia mengerti apa yang sedang terjadi di sekelilingnya.

    Dengan menggunakan tusukan listrik pada bagian-bagian di sekitar daerah Broca, Penfield dan Robert (1959: 123-126) juga mendapatkan bahwa ada gangguan-gangguan kebahasaan tertentu yang timbul, baik ini berupa hilangnya ujaran, keragu-raguan, ucapan-ucapan yang tidak jelas (slurring) maupun distorsi dari kata-kata yang diucapkan.

    Berbeda dengan penemuan Broca, penemuan yang dilakukan oleh Wernicke menyangkut hal-hal penanggapan indera. Dalam penelitiannya itu dia menemukan bahwa bagian belakang di sebelah agak kanan otak itu bersarang tanggapan-tanggapan rasa (sensory impressions). Sel-sel korteks ini sebenarnya bukan motoris dan juga bukan sensori, tetapi tergantung pada hubungan dengan korteks-korteks lainnya. Wernicke memisahkan daerah pendengaran bahasa (auditory speech area) dari daerah pendengaran pada umumnya dan menempatkan daerah pendengaran bahasa ini pada bagian belakang, agak ke tengah.

    Kalau pada bagian ini terjadi luka, maka orangnya akan kehilangan kemampuan, atau berkurang kemampuannya, untuk mengerti apa yang dikatakan orang lain. Penelitian lebih lanjut juga menunjukkan bahwa aphasia Wernicke ini menyebabkan si penderita tidak dapat berbicara dengan baik, bahkan membaca dan menulisnya pun terganggu. Keterangan yang dapat diberikan di sini nampaknya ialah bahwa daerah Wernicke merupakan daerah pertama, atau paling tidak salah satu daerah pertama, yang menanggapi rangsang indera. Kalau penanggapan di sini terganggu, maka yang lain-lain pun terganggu pula.

    Disamping daerah Broca dan Wernicke, kelihatannya ada satu daerah lagi yang langsung berkaitan dengan ujaran. Daerah ini ditemukan oleh Penfield pada tahun 1950. daerah yang dinamakan daerah korteks superior (atau sering juga dinamakan daerah motoris suplementer) ini berdekatan dengan hemisfir kanan, agak ke belakang dari daerah Broca. Tusukan listrik pada daerah ini juga menimbulkan aphasia tetapi tidak sekeras pada daerah Broca atau Wernicke dan biasanya mempunyai sifat yang sementara.

    Korteks superior ini mengontrol mekanisme kortikal yang dipakai untuk menggerakkan saraf-saraf penyara. Saraf-saraf ini berbentuk suatu rentetan mekanisme di daerah Rolando, berjajar menuju daerah Broca. Yang digerakkan adalah alat-alat penyara seperti lidah, bibir, rahang, dan sebagainya.

    Hubungan antara daerah Broca, Wernicke, dan korteks superior ini tidak otomatis. Kalau kita diberi rangsangan tertentu, maka kita akan memilih reaksi mana yang harus kita berikan sebagai tanggapan kita. Ini berbeda dengan insting pada binatang atau kemekanisan robot. Ketiga daerah penting yang ada pada otak manusia ini disentralkan dalam suatu sistem yang dinamakan sistem sentersefalis (centersephalic system) yang letaknya diperkirakan di tengah-tengah di antara daerah Broca, Wernicke dan korteks superior. Semua rangsangan, termasuk yang lewat telinga dan mata, yang masuk ke otak "diperiksa" dulu oleh sistem sentersefalis ini, dan baru kemudian "dikirimkan" ke bagian-bagian yang dipilih untuk menanggapinya. Karena hal seperti inilah maka reaksi atau tindakan manusia kadang-kadang menyimpang dari yang umum diramalkan.

    Dari uraian di atas sudah mulai jelas bahwa dari ketiga daerah di otak ini, daerah korteks superior adalah daerah yang paling kurang penting. Dari operasi klinis yang telah dilakukan dengan mengambil bagian ini, ternyata ada bagian lain yang menggantikan fungsinya sehingga si penderita dapat pulih kembali dalam waktu yang tidak lama. Daerah Broca lebih kritis dan lebih penting dari daerah korteks superior, tetapi banyak penderita aphasia Broca yang masih dapat disembuhkan, terutama kalau terjadi pada usia muda. Hal ini tidak dapat terjadi apabila luka itu terdapat di daerah Wernicke.


    BAB IV

    RELEVANSI KAJIAN BIOLOGI DENGAN KOMUNIKASI

     Sebenarnya sudah sejak abad kelima sebelum Masehi orang sudah mulai berkata bahwa otak adalah organ manusia untuk berpikir. Namun, baru pada pertengahan abad ke-17 sesudah Masehi mulailah timbul minat yang terarah untuk menyelidiki struktur otak manusia dalam kaitannya dengan fungsi fisik dan mental. Penelitian Pierre Paul Broca pada tahun 1861 yang merintis adanya bagian otak yang berhubungan dengan bahasa, penelitian Fritz dan Hitzig pada tahun 1870 yang membagi otak manusia menjadi dua bagian dan hubungan kedua bagian ini dengan kekidalan atau ketidakkidalan makhluk, serta penelitian Wernicke pada tahun 1874 yang berhubungan dengan bagian otak yang bersangkut paut dengan pendengaran (auditory) memberikan pelita pada peneliti-peneliti sekarang untuk mengadakan riset lebih lanjut.

    Meskipun sampai saat ini belum ada konsensus yang sempurna, namun dapatlah sudah dikatakan bahwa ada gejala-gejala umum yang menolong kita menarik kesimpulan-kesimpulan tertentu. Satu hal yang nampaknya jelas dapat diterima ialah bahwa kemampuan manusia berbahasa itu merupakan sutau perpaduan antara struktur biologis otak dengan lingkungan alam sekitar. Dari segi biologis otak manusia mempunyai bagian-bagian yang berbeda dengan otak, katakanlah, gorila; epiglotis memungkinkan kita untuk menghasilkan suara-suara yang distingtif.

    Pada waktu lahir seorang bayi hanya memiliki 40% dari otak orang dewasa, sedangkan makhluk lain 70 persen dari otak dewasanya (Menyuk 1971:31; Geschwind 1964: 165). Dari perbandingan ini nampak bahwa manusia "dikodratkan" secara biologis untuk mengembangkan otak dan kemampuannya secara drastis, sedangkan makhluk lain, yang sudah diberkahi dengan 70 persen dari otaknya itu dan yang tentunya sudah dapat berbuat banyak sejak lahir, hanya memerlukan tambahan-tambahan sedikit saja. Perkembangan makhluk dari kategori dryopithecinae ke homonoidae di satu pihak dan ponginae di pihak lain yang memisahkan manusia dari makhluk lain seperti gorila, simpanse, dan orang hutan membawa pula perubahan bentuk otak pada masing-masing makhluk ini.

    Proporsi otak manusia dan otak bukan manusia juga menunjukkan bahwa pada otak manusia terdapat bagian-bagian besar yang tidak berhubungan dengan insting seperti pada binatang. Pada otak manusia ada bagian-bagian yang sifatnya manusiawi, yakni, bagian-bagian yang berkaitan dengan pendengaran, ujaran, pengontrolan alat ujaran, dsb. Jadi dalam hal ini, yang membedakan manusia dengan binatang bukan hanya ukuran otaknya melainkan juga struktur dan fungsinya masing-masing. Memang manusia dewasa mempunyai otak seberat 1.350 gram, sedangkan simpanse hanya 450 gram (Slobin 1971: 118), tetapi telah dibuktikan bahwa orang kerdil yang termasuk golongan "nanocephalic" pun, yang otaknya hanya 400 gram waktu dewasa, masih dapat berbicara, sedangkan makhluk lain yang bukan manusia tetap saja tidak berhasil memakai bahasa (Lenneberg 1964).

    4.1. Fase-fase Belajar

    Pada hakekatnya manusia dilahirkan dengan rasa ingin tahu yang tidak pernah terpuaskan. Dan manusia mempunyai alat-alat yang diperlukan untuk memuaskannya. Bila kita perhatikan prilaku seorang bayi yang meneliti dengan seksama sebuah mainan baru yang diterimanya; ia memasukkan mainan itu ke dalam mulutnya untuk mengetahui rasanya, menggoyangkannya, mengangkatnya dan memutar-mutarkannya secara perlahan sehingga ia mengetahui setiap sisi-sisinya. Ia menempelkannya ditelinga, menjatuhkannya ke lantai mengambilnya kembali, membongkar-bongkar bagian-bagiannya dan menyelidikinya satu persatu.

    Proses penyelidikan ini yang kemudian hari orang menyebutnya dengan istilah belajar secara menyeluruh (global learning). Global learning merupakan cara belajar yang efektif dan alamiah bagi seorang individu manusia. Otak seorang anak hingga usia enam atau tujuh tahun seperti spons, menyerap berbagai fakta, sifat-sifat fisik dan kerumitan bahasa dengan cara yang menyenangkan bebas stres. Proses ini ditunjang dengan faktor umpan balik positif dan rangsangan lingkungan yang menunjang untuk belajar apa saja.

    Fase-fase belajar pada usia awal seorang anak yang normal dan sehat. Fase pertama adalah fase ketika seorang berusia sekita satu tahun saat seorang anak mulai belajar berjalan: suatu fase yang rumit baik secara fisik maupun mental yang hampir mustahil dilukiskan dengan kata-kata atau diajarkan tanpa didemonstrasikan terlebih dahulu, walaupun demikian seorang anak dapat melakukannya walau dengan berkali-kali jatuh dan tersandung, orang tua membantu dan meyakinkan bahwa ia bisa melalukannya, orangtua mendampingi dan mendorong anak agar tetap berusaha dan berusaha. Setiap keberhasilan diakhiri dengan kegembiraan dan tepukan serta pujian tidak pernah lupa diberikannya, inilah yang dapat memotivasi untuk tetap dan terus berusaha.

    Fase kedua, saat anak berusia sekitar dua tahun, ketika mulai berkomunikasi dengan bahasa, keterampilan yang dipelajari tanpa buku, tata bahasa, dan sekolah formal. Kenyataannya seorang anak seperti kebanyakan orang dewasa lainnya sebelum berusia lima tahun sudah mempelajari 90 persen semua kata yang selalu digunakan dilingkungannya. Dan jika seorang anak berada dalam lingkungan yang menggunakan dua bahasa, mungkin akan lancar menggunakan kedua bahasa tersebut.

    Fase ketiga, berkisar pada usia enam sampai tujuah tahun, seorang anak menjalani masa pendidikan formal di sekolah-sekolah, anak mulai belajar membaca, menulis, menghitung dan anak melakukan semua itu berkat kemampuan otak yang luar biasa.

    Kemudian pada perkembangan selanjutnya mungkin pada suatu hari, pada suatu kesempatan, mungkin di kelas satu atau kelas dua, seorang anak yang sedang belajar di ruang di kelas (sebut saja namanya Ahmad!) dan guru bertanya, "Siapa yang dapat mcnjawab pertanyaan ini?" Ahmad mengacungkan tangan dan berteriak keras,"Saya Pak!" kemudian ia maju ke depan kelas dan mengambil kapur lalu menulisnya dipapan tulis dengan penuh keyakinan Ahmad menjawabnya! Lalu Ahmad mendengar beberapa anak tertawa dan berteriak-teriak mengejek, "Turun-turun … hai pendul,…. Turun!" dan guru berkata, "Itu salah! Soal seperti ini kamu tak becus! Saya heran melihatmu!"

    Ahmad merasa malu sekali di hadapan teman-teman dan gurunya, yang merupakan salah seorang tokoh penting dalam hidup Ahmad pada saat itu. Keyakinan Ahmad terguncang, dan benih-benih keraguan mulai tertanam dalam jiwanya.

    Bagi banyak orang inilah awal terbentuknya citra negatif diri. Sejak saat itu, belajar menjadi tugas berat Keraguan tumbuh dalam diri kita, dan kita mulai mengurangi risiko sedikit demi sedikit.

    Pada 1982, Jack Canfield, pakar masalah kepercayaan-diri, melaporkan hasil penelitian di mana seratus anak ditunjuk untuk seorang periset selama satu hari. Tugas periset adalah mencatat berapa banyak komentar positif dan negatif yang diterima anak dalam sehari. Penemuan Canfield adalah bahwa setiap anak rata-rata menerima 460 komentar negatif atau kritik dan hanya 75 komentar positif atau yang bersifat mendukung. Jadi komentar negatif enam kali lebih banyak dibandingkan komentar positif!

    Umpan balik negatif yang kontinu ini sangat berbahaya. Setelah beberapa tahun bersekolah, "kemerdekaan belajar" yang sesungguhnya benar-benar terjadi, dan anak-anak menghalangi atau menutupi pengalaman belajar mereka secara tidak sadar. Saat lulus dari sekolah dasar, kata belajar itu sendiri bisa membuat murid merasa tegang dan terbebani.

    Pada saat yang hampir bersamaan ketika kemandekan belajar ini terjadi, sekolah tradisional beralih dari pendekatan "global learning" yang menyenangkan dan holistik (menyeluruh) menjadi pendekatan kaku, linear, dan berorientasi bahasa. Kini, guru mengharapkan siswa untuk duduk diam selama satu jam atau lebih, dalam deretan bangku-bangku yang berjajar menghadap ke depan. Guru berdiri dan mengajarkan subjek tertentu. Hilanglah permainan dan kegiatan kelompok, aktivitas seni yang menari, sentuhan-sentuhan hangat, dan semua aspek "bebas" sekolah kanak-kanak. Dengan berjalannya semua ini, proses pendidikan berubah dari global learning masa kanak-kanak menjadi suatu sistem yang menitik beratkan otak kiri. "Ketakseimbangan" membuat banyak siswa merasa tidak mempunyai inspirasi dan tidak berharga.

    4.2. Perkembangan Tingkat Kecerdasan

    Semua kecerdasan yang lebih tinggi, termasuk intuisi, ada dalam otak sejak lahir. Dan selarna lebih dari tnjuh tahun pertama kehidupan, kecerdasan ini dapat disingkapkan jika dirawat dengan baik.

    Agar kecerdasan-kecerdasan ini terawat secara baik, ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi :

  • Struktur saraf bagian bawah harus cukup berkembang agar energi dapat mengalir ke tingkat yang lebih tinggi.

  • Anak harus merasa aman secara fisik dan emosional.

  • Harus ada model untuk memberikan rangsangan yang wajar.

  • Marilah kita melihat masa-masa perkembangan kecerdasan ini. Kemampuan linguistik muncul ketika manusia masih dalam rahim. Seorang anak tidak diajarkan bahasa ibunya; jika ibunya mempunyai kemampuan berbicara, maka tak dapat mcnghalangi anaknya untuk bclajar berbicara. Nyatanya, jika seorang anak selalu mendengar suatu bahasa setiap saat selama tujuh tahun pertama hidupnya, maka kecerdasan linguistiknya akan menjadi aktif.

    Dalam tahun-tahun pertama kehidupan, fungsi motor sensorik bekerja. Hal ini dicapai melalui kontak langsung oleh anak dengan lingkungannya, dengan interaksi terus-menerus dengan ibunya dan benda-benda di dunia sekitarnya. Ketika seorang bayi memasuki sesuatu ke dalam mulutnya, dan mendekatkannya ke hadapan cahaya, dan memukulkannya pada benda lain, berarti ia sedang belajar tentang benda itu dengan satu-satunya cara yang mungkin pada saat itu melalui pancaindra.

    Pada usia satu atau dua tahun, otak motor sensorik sudah cukup berkembang, dan anak tersebut melangkah ke tahap perkembangan berikutnya. Terjadi peningkatan luar biasa dalam jalinan-jalinan neuron, dan ketika sistem emosional kognitif mulai bekerja, perilaku bayi berubah hampir dalam satu malam. Perilaku baru ini umumnya dikenal sebagai "dua tahun yang mengerikan" (the terrible twos) dan mengkhawatirkan orangtua di scluruh dunia. Namun, pertimbangkanlah hal ini: adalah penting bahwa anak melewati perkembangan emosional ini supaya dapat mencapai tingkat pemikiran yang lebih tinggi dalam neokorteks.

    Pada tahap ini, selain berkembang secara emosional, anak sedang bersiap untuk perkembangan intelektual yang lebih tinggi melalui bermain. Menirukan, membacakan cerita, dan aktivitas bermain yang imajinatif lainnya adalah cara-cara anak mengembangkan kemampuan metaforis dan simbolis merupakan dasar dari semua pendidikan yang lebih tinggi.

    Pada usia empat tahun, struktur neuron motor sensorik dan kognitif emosional berkembang 80 persen. Setelah inilah alam berpengaruh mengalirkan energi untuk bergerak ke cara berpikir yang lebih tinggi. Inilah waktunya ketika kecerdasan lain terbuka untuk perkembangan. Jika dirawat dengan benar, semuanya akan berkembang. Jika anak merasa terancam atau tidak ada contoh, maka kecerdasan-kecerdasan ini pada akhinya akan mandek pada usia sekitar tujuh tahun.

    Pada anak yang telah dirawat dengan benar, banyak proses pemikiran yang lebih tinggi dapat terbentang dan berkembang dengan menggembirakan dan mulus. Pada tahap ini, otak motor sensorik (reptil) berkembang sehingga mampu mengatifkan autopilot (bawah sadar), yang bergerak hanya ketika ada bahaya. Sistem limbik juga sangat berkembang dan terus memonitor keamanan psikologis dan kesehatan emosional. Ketika anak sehat secara emosional, maka ia bebas menggerakkan bagian neokorteks yang lebih tinggi.

    Neokorteks terdiri dari 12-15 juta sel saraf, yang disebut neuron. Sel-sel ini dapat berinteraksi dengan sel-sel lain melalui vibrasi di sepanjang cabang-cabang yang disebut dendrit. Masing-masing neuron dapat berinteraksi dengan neuron-neuron di sekitarnya yang berarti bahwa terjadi interaksi yang potensial antara sel-sel dalam satu otak manusia daripada atom-atom di seluruh alam semesta!! (Menajubkan!!!) Interaksi-interaksi ini juga menentukan kemampuan manusia untuk belajar.

    Kunci penghubung antara dendrit-dendrit adalah suatu zat yang disebut myelin. Secara singkat myelin dapat dijelaskan adalah protein lemak yang dikeluarkan oleh otak untuk melapisi hubungan antara dendrit ketika kita mempelajari suatu informasi baru. Ini terjadi saat pertama kali penghubung dibuat dan setelah itu, setiap saat ada rangsangan yang cukup dari lingkungan untuk mengaktifkan hubungan itu lagi.

    Pada saat terjadinya hubungan pertama, dibutuhkan banyak energi untuk "mendapatkan kontaknya". Setelah itu, hal ini menjadi semakin mudah kctika myelin membentuk lapisan yang lebih tebal. Akhirnya, dengan penggulangan yang cukup, penghubung menjadi cukup mendapatkan myelin dan mampu beroperasi tanpa usaha ketika penghubung lain sedang dibuat.

    Barangkali kita pernah mengalami ketika seorang anak sering kali minta dibacakan cerita favorit tertentu berulang-ulang? Lalu setelah itu, ia tampak puas dengan cerita tersebut dan siap untuk mendengarkan cerita-cerita yang baru. Apa yang sebenarnya terjadi adalah, selama pembacaan yang berulang-ulang itu, anak menyerap hubungan simbol-simbol dan metaforis yang ada dalam cerita. Rantai-rantai neuron menjadi aktif, dan mielinisasi pun dimulai. Ketika rantai itu cukup ter-meilinasi, anak itu tidak perlu lagi dibacakan cerita tersebut berulang-ulang; sekali saja sudah cukup. Setelah mielinisasi terjadi; pengulangan hanya perlu dilakukan sekali-sekali saja. Jika setelah bertahun-tahun kisah ini tidak diulangi lagi, myelin mulai hilang.

    Ilmuwan peneliti otak, Dr. Marian Diamond, telah menghabiskan waktu tiga puluh tahun mengadakan rangkaian percobaan pada otak. Kesimpulannya adalah: Pada umur berapa pun sejak lahir hingga mati, adalah mungkin untuk meningkatkan kemampuan mental Anda melalui rangsangan lingkungan. Karyanya menunjuk pada kenyataan bahwa sejauh menyangkut otak. semakin terangsang otak Anda dengan aktivitis intelektual dan interaksi lingkungan, semakin banyak jalinan yang dibuat antara sel-sel. Anda dapat melihat bahwa potensi Anda tak terbatas!

    4.3. Kerja Otak Kanan dan Otak Kiri

    Manusia memiliki tiga bagian otak yang juga dibagi mcnjadi belahan kanan dan belahan kiri. Kini dua belahan ini lebih dikenal sebagai "otak kanan" dan "otak kiri". Beberapa eksperimen terhadap dua belahan tersebut telah menunjukan bahwa masing-masing belahan bertanggung jawab terhadap cara berpikir, dan masing-masing mempunyai spesialisasi dalam kemampuan-kemampuan tertentu, walaupun ada beberapa persilangan dan interaksi antara kedua sisi.

    Pada otak sebelah kiri proses berpikir bersifat logis, sekuensial, linear, dan rasional. Pada sisi otak sebelah ini sangat teratur. Walaupun berdasarkan realitas, ia mampu melakukan penafsiran abstrak dan simbolis. Cara berpikirnya sesuai untuk tugas-tugas teratur ekspresi verbal, menulis, membaca, asosiasi auditorial, menempatkan detail dan fakta, fonetik, serta simbolisme.

    Pada otak sebelah kanan proses bersifat acak, tidak teratur, intuitif, dan holistik. Cara berpikirnya sesuai dengan cara-cara untuk mengetahui yang bersifat non verbal, seperti perasaan dan emosi, kesadaran yang berkenaan dengan perasaan (merasakan kehadiran suatu benda atau orang), kesadaran spasial, pengenalan bentuk dan pola, musik, seni, kepekaan warna, kreativitas dan visualisasi.

    Kedua belahan otak penting artinya. Orang yang memanfaatkan kedua belahan otak ini juga cenderung "seimbang" dalam setiap aspek kehidupan mereka. Belajar terasa sangat mudah bagi mereka karena mereka mempunyai pilihan untuk menggunakan belahan otak yang diperlukan dalam setiap pekerjaan yang, sedang dihadapi. Karena sebagian besar komunikasi diungkapkan dalam bentuk verbal atau tertulis, yang keduanya merupakan spesialisasi otak kiri, bidang-bidang pendidikan, bisnis, dan sains cenderung berat ke otak kiri. Sesungguhnya, jika seseorang termasuk kategori otak kiri dan orang itu tidak melakukan upaya tertentu memasukkan beberapa aktivitas otak kanan dalam hidupnya, ketidakseimbangan yang dihasilkannya dapat mengakibatkan orang bersangkutan menjadi stres dan juga kesehatan mental dan fisik yang buruk.

    Untuk menyeimbangkan kecenderungan masyarakat terhadap otak kiri, perlu dimasukkan musik dan estetika dalam pengalaman belajarnya, dan memberikan umpan balik positif bagi dirinya. Semua itu menimbulkan emosi positif, yang dapat membuat otak seseorang lebih efektif. Emosi yang positif mendorong ke arah kekuatan otak, yang mengarah pada keberhasilan, yang mengarah pada kehormatan diri yang lebih tinggi, (Coba kita perhatikan bahwa orang-orang yang sangat berhasil tampak mempunyai penghargaan yang tinggi terhadap seni?)

    Baik kita sedang membicarakan tentang sistem limbik ataupun neokorteks, belahan kanan ataupun kiri, masalahnya adalah tak satu pun bagian otak ini bekerja secara sempurna tanpa adanya rangsangan atau dorongan dari bagian yang lainnya. Inilah yang kami maksudkan ketika kami membicarakan keseluruhan otak atau cara belajar global (global learning).

    Selama masa hidup kita, kita semua mempunyai kesimpulan-kesimpulan tentang otak kita dan kekuatannya. Mungkin penampilan Anda di sekolah membuat Anda menyimpulkan bahwa otak Anda tidak "sebaik" otak siswa-siswa lain yang selalu mendapatkan nilai baik. Mungkin Anda telah memutuskan bahwa otak Anda "cocok" dalam beberapa hal, tetapi tidak untuk hal-hal lainnya. Atau mungkin Anda baru menyadari bahwa ada beberapa hal yang Anda tidak akan pernah mampu mempelajarinya karena Anda tidak punya otak untuk itu. Semua kesimpulan ini patut disesalkan dan salah.

    Terlepas dari perbedaan nyata dalam kecerdasan dan tingkat kesuksesan di antara orang-orang, kita sernua mempunyai susunan saraf yang sama. Fisiologi otak Anda sangat mirip dengan milik orang lain, bahkan juga. dengan pemikir-pemikir cemerlang seperti: Ilmuwan besar abad 20 Albert Einstein, pelukis kontroversial Vincent van Gogh, Pelukis terkenal Leonardo Da Vinci., pemain sepakbola Diego Armando Maradona, Pebulutangkis Susi Susanti bahkan dengan Mang Boim penjaga sekolah SD di kampung saya. Ini berarti setiap orang mempunyai peluang yang luar biasa besarnya. Jika kita mengenal seseorang yang menampilkan perilaku yang kita kagumi, atau yang telah mencapai sesuatu yang ingin kita lakukan, kita dapat menggunakan orang itu sebagai model. Dan kita dapat meniru keberhasilan orang itu dengan mengatur pola berpikir dan tubuh kita seperti dia. Para ilmuwan peneliti tentang perilaku menyebut ini sebagai pemodelan (modelling).

    Kasus klasik permodelan ini adalah atlet Inggris Roger Bannister, orang pertama yang berlari sejauh satu mil dalam waktu kurang dari empat menit. Sebelum ia mencapai keberhasilan ini, para atlet dan dokter-dokter olahraga juga meyakini bahwa berlari satu mil dalam empat menit mustahil dilakukan oleh manusia. Seorang dokter dengan serius mengatakan bahwa jika seorang manusia lari cepat, jantungnya akan pecah karena terlalu dipaksa. Jelas, Roger Bannister tidak terhalang oleh ramalan ini. Ia pun berlari-lebih cepat dari siapa pun dalam sejarah. Setelah ribuan atlet berlatih selama puluhan tahun tanpa memecahkan rekor empat menit itu, Bannister berhasil melakukannya, memesona dunia, dengan waktu 3 menit 59,4 detik. Bahkan setelah keberhasilan itu dibenarkan dan diterima, masih banyak orang yang menyatakannya sebagai kebetulan bahwa Bannister adalah manusia super dan tak seorang pun akan dapat melakukannya lagi.

    Akan tetapi, hanya sebulan setelah itu, rekornya dipatahkan oleh seorang pelari Australia bernama John Landy. Segera setelah itu, banyak orang berlari sejauh satu mil dalam waktu kurang dari empat menit dan semakin hari waktunya semakin singkat.

    Bagaimana ini bisa terjadi? Salah satu penjelasannya adalah bahwa tiba-tiba ada orang yang menjadi model dan kemudian setiap orang yang dapat menirunya akan mencapai apa yang telah mereka lakukan.Manusia mempunyai potensi yang sama dengan orang lain. Perbedaannya adalah bagaimana kita menggunakan otak kita!

    Masing-masing dari dua belahan otak bertanggung jawab atas cara berpikir yang berbeda-beda dan mengkhususkan diri pada kemampuan-kemampuan tertentu, walaupun penyilangan memang terjadi.

    Sumber: De Porter dan Hernacki, 2003

    Otak Manusia mempunyai jutaan sel saraf yang disebut neuron,

    yang dapat berinteraksi dengan sel-sel

    lain di sepanjang cabang yang disebut dendrit.

    Sumber: De Porter dan Hernacki, 2003

    4.4. Jenis Kecerdasan Dasar

    Howard Gardner memetakan lingkup kemampuan manusia yangluas menjadi delapan kategori atau delapan kecerdasan dasar manusia, yang meliputi sebagai berikut:

  • Kecerdasan Lingkuistik

  • Kemampuan menggunakan kata secara efektif baik lisan maupun tulisan. Kecerdasan ini meliputi kemampuan memanipulasi tata bahasa atau stuktur kata, fonologi atau bunyi bahasa, semantik atau makna bahasa, dimensi pragmatik atau penggunaan praktis bahasa. Penggunaan bahasa ini antara lain mencakup:

  • Retorika (penggunaan bahasa untuk mempengaruhi orang lain melakukan tindakan tertentu).

  • Mnemonik atau hapalan (penggunaan bahasa untuk mengingat informasi)

  • Eksplanasi (penggunaan bahasa untuk memberi informasi)

  • Metabahasa (penggunaan bahasa untuk membahas bahasa itu sendiri)

  • Sistem Neurologis (wilayah primer) berada pada: lobus temporal kiri dan lobus bagian depan (misal wilayah broca dan wernicke)

    Faktor-faktor perkembangan: "meledak" pada masa awal kanak-kanak dan tetap bertahan hingga lanjut usia.

  • Kecerdasan Matematis-Logis

  • Kemampuan menggunakan angka dengan baik dan melakukan penalaran dengan benar. Kecerdasan ini meliputi kepekaan pada pola dan hubungan logis, pernyataan dan dalil (jika-maka, sebab-akibat), fungsi logis dan abstraksi-abstraksi lainnya. Proses yang digunakan dalam dalam kecerdasan matematis logis ini antara lain:

  • Kategorisasi

  • Klasifikasi

  • Pengambilan kesimpulan

  • Generalisasi

  • Penghitungan, dan

  • Pengujian hipotesis

  • Sistem Neurologis (wilayah primer) berada pada: lobus bagian depan kiri dan pariental kanan

    Faktor-faktor perkembangan: memuncak pada masa remaja dan masa awal dewasa;wawasan matematis tingkat tinggi akan menurun setelah berusia 40 tahunan.

  • Kecerdasan Visual-Spasial

  • Kemampuan mempersepsi dunia visual-spasial secara akurat dan mentransformasikan persepsi dunia spasial-visual tersebut. Kecerdasan ini meliputi kepekaan warna, garis, bentuk, ruang dan hubungan antar unsur tersebut. Kecerdasan ini meliputi kemampuan membayangkan, mempresentasikan ide secara visual dan mengorientasikan diri secara tepat dalam matrik spasial.

    Sistem Neurologis (wilayah primer) berada pada: bagian belakang hemisfer kanan

    Faktor-faktor Perkembangan: pola pikir topologis pada awal masa kanak-kanak memungkinkan anak menguasai paradigma Euclidean pada usia sekitar 9 – 10 tahun; kepekaan artistik tetap bertahan hingga tua.

  • Kecerdasan Kinestetika

  • Kemampuan menggunakan seluruh tubuh untuk mengekspresikan ide, dan perasaan serta keterampilan menggunakan tangan untuk menciptakan atau mengubah sesuatu. Kecerdasan ini meliputi kemampuan-kemampuan fisik secara spesifik, seperti koordinasi, keseimbangan, keterampilan, kekuatan, kelenturan, dan kecepatan maupun kemampuan menerima rangsangan (propriocetive) dan hal yang berkaitan dengan sentuhan (tactil & haptic)

    Sistem Neurologis (wilayah primer) berada pada: serebelum, basal ganglia, motor korteks

    Faktor-faktor perkembangan: bervariasi bergantung pada komponen (kekuatan, fleksibelitas)

  • Kecerdasan Musikal

  • Kemampuan menangani bentuk-bentuk musikal dengan cara mempersepsi (misal sebagai penikmat musik), membedakan (misal sebagai kritikus musik), mengubah (misal sebagai komposer), dan mengekspresikan (misal sebagai penyanyi). Kecerdasan ini meliputi kepekaan pada irama, pola titi nada atau melodi dan warna nada atau warna suara suatu lagu. Orang dapat memiliki pemahaman musik figural atau "atas-bawah" (global-intuitif) pemahaman formal atau "bahwa-atas" (analitis, teknis) atau keduanya.

    Sistem Neurologis (wilayah primer) berada pada: lobus temporal kanan

    Faktor-faktor perkembangan: kecerdasan yang berkembang paling awal; anak yang genius sering mengalami krisis perkembangan.

  • Kecerdasan Interpersonal

  • Kemampuan mempersepsi dan membedakan suasana hati, maksud, motivasi serta perasaan orang lain. Kecerdasan ini meliputi kepekaan pada ekspresi wajah, suara, gerak-isyarat;kemampuan membedakan berbagai macam tanda interpersonal dan kemampuan menanggapi secara efektif tanda tersebut dengan tindakan pragmatis tertentu (misal: mempengaruhi sekelompok orang untuk melakukan tindakan tertentu)

    Sistem Neurologis (wilayah primer) berada pada: lobus bagian depan, lobus temporal (terutama hemisfer kanan) sistem limbik.

    Faktor-faktor perkembangan: kedekatan atau ikatan kasih sayang selama masa kritis tiga tahun pertama.

  • Kecerdasan Intrapersonal

  • Kemampuan memahami diri sendiri dan bertindak berdasarkan pemahaman tersebut. Kecerdasan ini meliputi kemampuan memahami diri yang akurat (kekuatan dan keterbatasan diri); kesadaran akan suasana hati, maksud, motivasi, temperamen dan keinginan serta kemampuan berdisiplin diri, memahami dan menghargai diri sendiri.

    Sistem Neurologis (wilayah primer) berada pada: lobus bagian depan, lobus pariental, sistem limbik.

    Faktor-faktor perkembangan: pembentukan batas antara "diri" dan "orang lain" selama masa kritis tiga tahun pertama.

  • Kecerdasan Naturalis

  • Kemampuan mengenali dan mengkategorikan spesies-flora dan fauna di lingkungan sekitar. Kecerdasan ini meliputi kepekaan pada fenomena alam lainnya (misalnya formasi awan dan gunung-gunung) dan bagi mereka yang dibesarkan di lingkungan perkotaan, kemampuan membedakan benda tak hidup seperti mobil, sepatu, baju dan lain sebagainya.

    Sistem Neurologis (wilayah primer) berada pada: wilayah-wilayah lobus pariental kiri yang penting untuk membedakan mahluk hidup dengan benda mati.

    Faktor-faktor perkembangan: muncul secara dramatis pada sebagian anak kecil;sekolah atau pengalaman dapat mengembangkan kemampuan formal atau informal.

    4.5. Hubungan Bahasa dengan Otak

    Dalam biologi telah dikembangkan suatu teori baru tentang otak manusia dimana pada tiap-tiap generasi terdapat peningkatan paradigma yang lebih baik dan alami. Sepanjang sejarah membahas tentang teori otak manusia sudah mulai dikembangkan pada tiap-tiap kejadian disekitar lingkungan kita. Misalnya pada penelitian mempelajari kerusakan bahasa berkaitan dengan gejala-gejala pada bagian tubuh manusia yaitu otak manusia. Otak dipelajari melalui neurology dan bahasa di pelajari menggunakan ilmu bahasa (linguistik). Neurologi mempelajari bagaimana otak itu bekerja dan membantu menyembuhkan bila terjadi kerusakan pada otak. Bagian-bagian otak itu sendiri ada yang menjadi pusat bahasa, yaitu pada otak kanan dan kiri. Otak kiri lebih bertanggung jawab terhadap bahasa secara primer, sedangkan yang kanan bertanggung jawab terhadap control visual dan ketrampilan bagian-bagian seperti persepsi non linguistic dan melodi musik.

    Dalam psikolinguistik menggabungkan dua bidang keilmuan bahasa dengan proses mental. Dengan demikian psikolinguitik merupakan bidang studi penting yang mempelajari tentang bagaimana pikiran terorganisasikan dan bagaimana pula kerja pikiran.

    Usaha untuk memahami kerumitan kemampuan kognitif manusia telah dimulai sejak berabad-abad lampau, sampai sekarang. Salah satu sarana untuk meneliti kemampuan dan proses mental itu adalah dengan meneliti bahasa. Sarana lainnya untukmeneliti kemampuan dan proses mental itu dengan meneliti bahasa. Sarana lainnya lainnya untuk tujuan tersebut adalah meneliti fungsi otak manusia dan membandingan fungsinya dengan otak hewan secara anatomis, psikologis, dan perilaku. Studi yang memusatkan perhatian pada dasar biologis bahasa dan hal-hal berhubungan dengan otak yang mendasari pemerolehan dan pemakaian bahasa adalah neurolinguitik.

    Kita mengenal ada dua bagian besar jika membicarakan otak, yakni otak kanan dan kiri. Otak kiri dan otak kanan memiliki fungsi masing-masing. Fungsi otak sebelah kanan, antara lain kemampuan untuk mengenal pola-pola secara keseluruhan (persepsi Gestalt), pengenalan wajah orang dan ruang, danjuga kemampuan bahasa secara terbata.Menurut fromkin dan rodman (Nababan, 1992:109), bahasa berhubungan erat dengan otak sebelah kiri.Dr.Paul Brocca mengatakan bahwa kemampuan berbicara kita berpusat pada otak sebelah kiri. Broca melaporkan temuannya bahwa luka atau sakit pada bagian depan (anterior) otak sebelah kiri manusia akan mengakibatkan artikulasi kata yang kurang jelas, gramatikal dan ketidak-lancaran dalam berbicara. Sebaliknya, kerusakan otak sebelah kanan tidak menyebabkan penyakit lupa bahasa walaupun akibat lain seperti problem persepsi ruang dan pengenalan (recognition) ruang dan pola-pola, serta kekurang-mampuan kognitif sering terjadi.

    Laterisasi merujuk pada penjelasan setiap bagian otak untuk fungsi kognitif yang berbeda-beda. Bila bagian otak kiri rusak, akiabat yang timbul adalah ketidak-mampuan memahami, memproses dan menghasilkan bahasa (afasia). Laterisasi disebut juga sebagai masa kritis, yaitu waktu lahir sampai dengan masa pubertas. Anak-anak yang belajar pada masa kini dapat memperoleh kemampuan penutur asli yang normal. Bagaian otak ditutupi membrane kortex yang terdiri atas tonjolan gyru dan lekukan fissure. Tonjolan berfungsi untuk mengidentifikasi bagian otak secara fisik, sedangkan lekukan berfungsi menghubungkan otak dan badan secara timbale balik. Bila otak secara fisik mengalami kerusakan, orang akan kehilangan kemampuan berbahasa yang disebut afasia. Afasia terdiri dari dua macam yaitu afasia broca dan afasia wernicke.

    Di samping struktur mulut manusia yang secara biologis berbeda dengan struktur mulut binatang, bahasa juga terkait dengan biologi dari segi yang lain. Hal ini terutama tampak pada proses pemerolehan bahasa.

    Dimanapun juga di dunia ini, anak memperoleh bahasa dengan melalui proses yang sama. Antara umur 6 sampai 8 minggu, anak mulai mendekut (cooing), yakni mereka mengeluarkan bunyi-bunyi yang menyerupai bunyi vokal dan konsonan. Bunyi-bunyi ini belum dapat diidentifikasi sebagai bunyi apa, tapi sudah merupakan bunyi. Pada sekitar umur 6 bulan mulailah anak dengan celoteh (babbling), yakni, mengeluarkan bunyi yang berupa suku kata. Pada umur sekitar 1 tahun, anak mulai mengeluarkan bunyi yang dapat diidentifikasi sebagai kata. Untuk bahasa yang kebanyakan monomorfemik (bersuku kata satu) maka suku itu, atau sebagian dari suku, mulai diujarkan. Untuk bahasa yang kebanyakan polimorfemik, maka suku akhirlah yang diucapkan. Itu pun belum tentu lengkap. Untuk kata ikan, misalnya, anak akan mengatakan /tan/ (lihat Dardjowidjojo 2000). Kemudian anak akan mulai berujar dengan ujaran satu kata (one word utterance), lalu menjelang umur dua tahun mulailah dengan ujaran dua kata (two word utterance). Akhirnya sekitar umur empat sampai lima tahun anak akan telah dapat berkomunikasi dengan lancar.

    Untuk 18 bulan yang pertama, Lenneberg (1969: 13) memberikan patokan seperti terlihat pada Bagan 6 berikut dimana digambarkan keterkaitan antara perkembangan biologi manusia dengan bahasa yang sedang diperolehnya.

    Patokan minggu, bulan dan tahun seperti diberikan di atas haruslah dianggap relatif karena faktor biologi pada manusia itu tidak semuanya sama. Yang penting dari patokan itu adalah bahwa urutan pemerolehan pada anak itu sama: dari dekutan, ke celotehan, ke ujaran satu kata, dan kemudian ke ujaran dua kata, dan seterusnya. Begitu juga dalam hal komprehensi dan produksi. Anak dimanapun dan dalam bahasa apa pun menguasai komprehensi lebih dulu daripada produksi.

    Manusia dapat menguasai bahasa secara natif hanya kalau prosesnya dilakukan antara umur tertentu, yakni antara umur 2 sampai sekitar 12 tahun. Di atas umur 12 orang tidak akan dapat menguasai akses bahasa tersebut dengan sempurna.

    Dengan fakta-fakta seperti dipaparkan di atas maka pandangan masa kini mengenai bahasa menyatakan bahwa bahasa adalah finomena biologis, khususnya finomena biologi perkembangan. Arah dan jadwal munculnya suatu elemen dalam bahasa adalah masalah genetik. Orang tidak dapat mempercepat atau memperlambat munculnya suatu elemen bahasa.

    4.6. Hipotesis Umur Kritis

    Sehubungan dengan bagian dan fungsi otak seperti yang diuraikan di atas, timbullah suatu hipotesis yang menghubungkan pertumbuhan biologis manusia dengan taraf-taraf penguasaan bahasa. Ini kemudian terkenal dengan nama Hipotesis Umur Kritis (Critical Age Hypothesis) (Lenneberg 1967). Pada dasarnya hipotesis ini mengatakan bahwa (1) penguasaan bahasa itu tumbuh sejajar dengan pertumbuhan biologis, dan (2) sesudah masa puber, penguasaan bahasa secara natural sudah tidak bisa lagi.

    Dalam hal kesejajaran biologis dan linguistik ini, Lenneberg menghubungkan keterampilan motoris, seperti mulainya si anak dapat duduk, berjalan, dsb., dengan tingkat-tingkat pencapaian penguasaan bahasa. Pada umur enam bulan si anak sudah mulai "ngoceh" (cooing dan babbling), tetapi hanya pada umur sekitar dua tahunlah dia dapat memakai kalimat yang berdua kata.

    Keterampilan motoris yang lebih langsung berhubungan dengan perbahasaan ialah keterampilan pemakaian alat-alat penyuara seperti lidah, bibir dan sebagainya yang dikontrol oleh baris Rolando yang telah kita sebutkan. Pada waktu saraf motoris di otak tumbuh, dan alat-alat penyuara menjadi makin lebih dapat dikendalikan, si anak mendapatkan rangsangan-rangsangan dari alam sekitar. Bahwa rangsangan dari luar ini penting untuk mengaktifkan dan menggerakkan alat-alat penyuara telah dibuktikan dengan kasus Ginie. Ginie adalah seorang wanita yang sejak lahir sampai umur 13 tahun diasingkan oleh orang tuanya. Dia tidak pernah diajak bicara, tidak pernah mendengar suara lewat televisi, dan tidak boleh bergaul. Ketika dia akhirnya ditemukan orang lain, dia ternyata tidak dapat berbicara, bahkan setelah mendapat latihan pun dia tetap tidak dapat menguasai bahasa pertamanya dengan baik.

    Dari kenyataan bahwa Ginie (1) mengalami kesukaran dalam hal urutan kata, (2) lebih dalam kosa kata daripada sintaksisnya, dan (3) lebih baik dalam komprehensi daripada ujarannya, yang semuanya ini adalah gejala-gejala hemisfir kanan, maka kelihatannya disini umur kritis Ginie sudah lewat, keplastisan otaknya sudah hilang dan karena itu dia mengalami kesulitan belajar bahasanya sendiri (Curtis 1977; Krashen 1973).

    Bukti-bukti lain untuk menunjang hipotesis umur kritis ialah kenyataan bahwa anak kecil yang menderita retardasi mental masih dapat menguasai dan mengembangkan bahasanya tetapi perkembangan ini berhenti setelah dia berumur belasan tahun. Demikian pula orang yang tuli dari lahir tidak akan dapat berbicara, atau berbicara secara normal, sedangkan yang tuli pada usia muda, seperti dua tahun, masih dapat dilatih bahasanya.

    Implikasinya

    Hipotesis umur kritis ini mendapat banyak tanggapan dari ahli bahasa, ahli neurologi, dan ahli ilmu jiwa. Pada umumnya ahli-ahli ini setuju bahwa memang ada umur kritis ini, tetapi mereka tidak sependapat kapan umur kritis ini berakhir. Istilah "puber" yang dipakai Lenneberg diartikan sebagai umur belasan tahun, terutama belasan bawah. Peneliti lain seperti Krashen, yang memakai eksperimen psikologis, berkesimpulan bahwa proses penyebelahan ini terjadi pada sekitar umur empat tahun (Krashen 1973), sedangkan peneliti seperti Penfield dan Roberts (1959:235), yang memakai dasar neurologi, berkata bahwa pada umur di bawah dua belas si anak masih merupakan "spesialis dalam belajar bahasa".

    Dari pengamatan pribadi saya sendiri terhadap dua anak sana yang laihr dan dibesarkan di negara yang berbahasa Inggris, nampaknya sesudah umur-umur di atas 5-7 memang proses penguasaan bahasa menjadi tidak begitu lancar. Pada tahun 1976 ketika kedua anak ini masih berumur 7 dan 5 tahun dan mereka tinggal di Indonesia selama 6 bulan, pada bulan ketiga setelah mereka di Indonesia, mereka sudah berubah menjadi "penutur asli" bahasa Indonesia. Proses belajar mereka nampaknya proses yang langsung dalam arti bahwa mereka mendengarkan, mengadakan observasi dan setelah data pendengaran yang merangsang saraf-saraf otaknya nampaknya cukup, mereka seolah-olah lalu dapat berbicara bahasa Indonesia begitu saja, dan dengan aksen yang asli. Kemudian kami kembali ke Hawaii, dan bahasa Indonesia mereka tertekan lagi oleh bahasa Inggris. Sekarang setelah mereka berumur 12 dan 10 dan berada di Indonesia selama 3 bulan, kelihatan sekali bahwa mereka tidak dapat menguasai bahasa Indonesia semudah seperti sebelumnya.

    Ditinjau dari segi neurofisiologis, nampaknya keplastisan otak dan kerjasama antara daerah Wernicke, Broca, dan korteks superior sangat teratur dan barangkali juga bersifat refleks sehingga dapatlah si anak ini mencapai suatu taraf penguasaan bahasa yang sempurna. Gerakan bibir, tinggi rendahnya lidah, penutupan dan pembukaan selaput suara, dan gerakan-gerakan alat penyuara lainnya nampaknya dapat dikendalikan oleh baris Rolando dengan tepat sehingga terciptalah suatu wujud bahasa yang asli. Dengan perkataan lain, si anak ini tidak mempunyai aksen asing.

    Orang dewasa mempunyai kelebihan-kelebihan tertentu dibandingkan dengan anak kecil. Dalam hal menguasai bahasa ia dapat menguasai sintaksis bahasa asing dengan sempurna dan dalam waktu yang dapat lebih pendek dari anak kecil. Tetapi dalam hal penguasaan aksen, hampir semua, atau bahkan semua orang dewasa ini gagal. Meskipun dispekulasikan bahwa penguasaan kedua hal ini dilakukan dengan cara yang berbeda-beda. Nampaknya penguasaan sintaksis memerlukan pemakaian logika, dan ini orang dewasa mempunyainya, sedangkan penguasaan akses asli semata-mata dilakukan oleh saraf-saraf motoris yang ada pada baris Rolando. Karena keplastisan otak sudah berhenti waktu orang menjadi dewasa, maka nampaknya inilah sebabnya mengapa orang dewasa selalu kedengaran seperti orang asing, kalau ia berbicara bahasa asing yang dipelajarinya setelah dewasa.

    Implikasi lain dari hubungan antara otak dengan bahasa ialah bahwa jadwal waktu kita mengajarkan bahasa asing itu selalu pada saat yang tidak sangat menguntungkan. Pada saat otak sudah tidak plastis lagi, kita baru mulai mengajarkan bahasa asing. Bagi mereka yang percaya akan adanya teori "transfer" dari bahasa satu ke bahasa lain, maka kita mulainya saja bukan dari nol tetapi sudah dari minus. Pantas saja selalau kita rasakan bahwa kita tidak sering berhasil dengan sangat baik.

    Di pihak lain dapat kita tanyakan apakah kita akan pasti lebih berhasil, kalau kita mulai mengajarkan bahasa asing pada umur di bawah lima? Kalau jawabannya hanya berdasarkan segi neurofisiologis saja, tentu saja mesti akan berhasil, tetapi hipotesis umur kritis yang diajukan oleh Lenneberg itu bersangkut paut dengan suatu alam lingkungan dimana bahasa yang sedang dikuasai oleh anak kecil ini adalah bahasa ibu yang tiap harinya didengar dan dipakai. Jadi sentuhan-sentuhan elektris yng merangsang otak anak ini berjalan secara terus-menerus, tidak dicampuri oleh rangsangan-rangsangan yang datang dari bahasa lain.

    Apabila di dalam suatu lingkungan tertentu bahasa yang sedang dipelajari itu berbeda dengan bahasa yang dipakai masyarakat sekitarnya, paling tidak akan ada dua macam rangsangan yang masuk. Dari dua rangsangan ini jelaslah bahwa rangsangan yang lebih sering mencapai otaklah yang akan menjadi dominan. Dengan perkataan lain, pengajaran bahasa pada anak kecil tidak akan berhasil dengan sempurna, apabila bahasa ini bukanlah bahasa yang sehari-hari dipakai di dalam masyarakat tempat anak tadi menghabiskan sebagian besar waktunya.

    Pertanyaan lain yang dapat kita ajukan sehubungan dengan hipotesis umur kritis ini adalah kebalikan dari pertanyaan di atas, yakni apakah benar bahwa dalam kenyataan orang dewasa, kalau belajar bahasa asing, tidak mungkin dapat kedengaran seperti penutur asli? Lagi, secara neurofisiologis jawabannya mesti dalam bentuk yang negatif, tetapi mungkin ada faktor-faktor lain yang dapat mengubah keadaan ini. Disamping adanya kemungkinan keanehan biologis seseorang, faktor kemiripan bahasa pertama dengan bahasa kedua nampaknya dapat mengubah atau mengurangi keketatan hipotesis ini, terutama kalau kemiripan itu terletak pada ciri-ciri suprasegmentalnya. Orang-orang yang termasuk kategori ini, mungkin tidak akan mencapai taraf penutur asli yang sempurna, tetapi baru setelah lama berbicara dia suatu ketika akan ketahuan sebagai bukan penutur asli.

    Faktor lain yang nampaknya juga mengubah hipotesis ini ialah semacam kedwibahasaan yang berlaku di rumah suatu keluarga. Meskipun kedua anak saya yang pada umur 12 dan 10 ini nampaknya mendapat kesukaran dalam menguasai bahasa orang tuanya, namun kalau saya perhatikan aksen yang sedang mereka bentuk sekarang ini adalah aksen penutur asli. Baik tekanan kata, maupun suara-suara yang sukar seperti bunyi tril r dan bunyi muka ng kelihatannya tidak berbeda dengan cara kita mengucapkan suara-suara itu. mungkin sekali hal ini disebabkan oleh kenyataan bahwa (i) pada umur tujuh dan lima tahun mereka pernah dapat berbicara bahasa Indonesia dengan sempurna selama tiga atau empat bulan, dan (ii) meskipun setelah mereka kembali ke Hawaii bahasa Indonesia mereka tertekan ke bawah oleh bahasa Inggris selama lebih dari lima tahun, tetapi toh di rumah mereka sering mendengar orang tuanya berbicara bahasa Indonesia (dan Jawa). Kami sering juga berbicara dengan mereka di dalam bahasa Indonesia selama lima tahun terakhir itu, meskipun mereka selalu menjawabnya dengan bahasa Inggris. Jadi disini nampak bahwa rangsangan yang diterima otak, meskipun dalam bentuk pasif, mempunyai pengaruh pula pada pembentukkan ciri-ciri suprasegmental.


    BAB V

    KESIMPULAN

    Peran-peran ilmu biologi dalam studi tentang ilmu komunikasi sangat strategis karena mampu memberi perspektif lebih luas tentang hambatan, rintangan, dan reduksi yang berkembang secara biologis. Sementara hal ini sulit dijangkau jika hanya dengan perspektif yang selama ini digunakan;

    Perkembangan teori-teori biologi tentang genetika yang membedah seluk-beluk otak yang selama ini berperan dalam proses-proses produksi pesan telah memberikan peluang bagi ilmu komunikasi untuk berkembang lebih jauh; dan

    Keterkaitan dan peran ilmu biologi dalam perkembangan ilmu komunikasi masih memerlukan perjalanan kajian yang lebih lanjut. Sehingga keterkaitan itu dapat lebih dipertanggungjawabkan secara epistemologis.


    DAFTAR PUSTAKA

    ____________, Relasi Ilmu Sastra dengan Ilmu Politik, Sosial, dan Kedokteran. Makalah Seminar Temu Ilmiah Nasional Alumni Sastra Universitas Padjadjaran Bandung di Bandung, 12 Oktober 2004

    Armstrong, Thomas, Penterjemah Yudhi Murtanto, 2003, Sekolah Para Juara, Kaifa, Bandung.

    Captra, Fritjop, 2004, Titik Balik Peradaban (Sains, Masyarkat dan Kebangkitan Kebudayaan). Yogyakarta: Bentang Pustaka

    Dardjowidjojo, Soenjoko, Dasar-dasar Neurofisiologis Dalam Penguasaan Bahasa. Makalah yang disajikan pada Seminar Pengjaran Bahasa, di Jakarta, 12-17 April 1982.

    DePorter, Bobbi dan Mike Hernacki, Penterjemah Alwiyah Abdurrahman, 2003, Quantum Learning Membiasakan Belajar Nyaman dan Menyenangkan, Kaifa, Bandung.

    Effendy, Onong Uchjana, 1993, Ilmu, Teori dan Filsafat Komunikasi. Bandung: Citra Aditya Bakti

    Fisher, A. Aubrey, Teori-teori Komunikasi, 1978. Penyunting: Jalaluddin Rakmat, penerjemah: Soejono Trimo, MLS. Remaja Rosdakarya, Bandung.

    Markam, Suprapti S. Dan Soemarmo Markam, 2003, Pengantar Neuro-Psikologi. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

    Rakhmat, Jalaluddin, 2000, Catatan Kang Jalal Visi Media, Politik dan Pendidikan, Remaja Rosdakarya, Bandung.

    …………………….., 2003, Psikologi Komunikasi, Remaja Rosdakarya, Bandung.

    Syam, Nina Winangsih, 2002, Perpspektif Pohon Komunikasi, Pidato Pengukuhan Guru Besar Universitas Padjadjaran Bandung.

    Tafsir, Ahmad, 1990, Filsafat Umum (Akal dan Hati Sejak Tales Sampai Capra, Pangantar kepada Filsafat untuk Mahasiswa Perguruan Tinggi). Bandung: Remaja Rosda Karya.