Gamma Digital News
Resensi Buku
Judul Buku  : Fakta, Data dan Analisa KONSPIRASI POLITIK RMS DAN 
KRISTEN MENGHANCURKAN UMMAT ISLAM DI AMBON - MALUKU
Penerbit:  : Wihdah Press, Yogyakarta, Maret 2000 (Cet. Ke-2)
Penulis  : Rustam Kastor (Brigjen Purn. TNI)
Halaman  : xxxvi+320 halaman
LAPORAN   "BRIGJEN K"  TENTANG AMBON

Rustam Kastor pernah disebut-sebut oleh Gus Dur dengan inisial "Brigjen K" yang konon mendalangi kerusuhan di Ambon, Maluku. Bahkan Rustam Kastor juga mendapat 'kehormatan' masuk ke dalam daftar 40 musuh Presiden Abdurrahman Wahid. Kini, ia menulis sebuah buku tentang Ambon, berjudul "Fakta, Data dan Analisa Konspirasi Politik RMS Dan Kristen Menghancurkan Ummat Islam di Ambon - Maluku."
Bagi Rustam Kastor, buku yang ditulisnya ini merupakan sebuah laporan kepedihan yang mendalam tentang tanah kelahirannya sendiri, tentang kehidupannya yang tiba-tiba menjadi melarat akibat pertikaian di Ambon itu. Sebab dari kerusuhan itu, Rustam Kastor kehilangan segalanya: rumah, mata pencaharian, kedamaian dan kehidupan!
Terlepas dari itu semua, motivasi Rustam Kastor menuliskan laporan tragedi Ambon ini lebih didorong oleh rasa kemanusiaannya: "Ummat Islam tanpa salah sedikit pun dibunuh, rumah serta semua miliknya dibakar habis…, lebih menyakitkan lagi setelah pemutar balikkan fakta, seakan-akan ummat Islamlah yang sengaja merencanakan kerusuhan ini…" (hal. xxxiii).
Tragedi kemanusiaan Ambon sekilas memang mirip konflik antar dua komunitas berbeda agama (Islam versus Kristen), namun bila dilihat dengan teliti, melalui fakta-fakta yang kasat mata, tragedi itu nampaknya dimunculkan oleh sebuah konspirasi besar berlatar belakang separatisme, yaitu sebuah keinginan mendirikan negara berdasarkan agama tertentu (nasrani) yang memang masih menjadi cita-cita sebagian elite politik tertentu.
Kalau saja pihak aparat cukup terampil menggali dan memanfaatkan fakta serta data yang ada, sehubungan dengan tragedi kemanusiaan di Ambon ini, serta melakukan serangkaian pengusutan yang intensif, maka dugaan keterlibatan RMS (Republik Maluku Serani) sejak awal sudah bisa dikenali dengan baik.
"Karena RMS sebagai pelaku maka wataknya yang anti dan sangat membenci ummat Islam di Maluku mengakibatkan penghancuran ummat Islam sebagai objek dan subjek politik telah kebablasan dengan pembakaran dan penghancuran Masjid-masjid, pembakaran al-Qur'an, penghinaan terhadap Rasulullah Muhammad SAW serta agama Islam pada khususnya maka konflik bernuansa politik itu telah berobah menjadi perang agama." (hal. 63).
Kalau saja penciuman aparat cukup tajam dan objektif, tragedi kemanusiaan Ambon-Maluku niscaya tak berlangsung berlarut-larut. Bila sejak awal aparat dengan tegas sudah  menyatakan bersalah kepada mereka yang berdasarkan fakta dan hukum yang berlaku memang adalah pihak yang bersalah, maka tragedi kemanusiaan berupa genocide di Halmahera yang memakan korban 3000 jiwa ummat dalam sehari, tak akan pernah terjadi.
Konsep Pela Gandong yang selama ini dibangga-banggakan, ternyata cuma konsep kosong yang tak menyentuh kawasan moral masyarakat Maluku khususnya komunitas Kristennya. Sehingga mereka yang sehari sebelumnya adalah tetangga yang baik, maka pada esok harinya sudah menjadi monster pencabut nyawa yang sangat haus darah!
Karena sesungguhnya konsep Pela Gandong merupakan konsep tipu daya yang dibuat kekuatan kolonialis Belanda, dalam rangka memecah-belah masyarakat Maluku yang semula masyoritas Islam. Konsep pela Gandong adalah ujung tombak dari implementasi misi Gold, Glory dan Gospel, yaitu mengeruk harta, membangun kemuliaan dan menjalankan misi kristenisasi di Maluku.
Akibatnya, tragedi kemanusiaan di Ambon (atau Maluku pada umumnya) tidak saja merupakan salah satu upaya sistematis untuk mencapai tujuan politik tertentu, namun sudah "… menerobos masuk ke dalam wilayah yang amat rawan yaitu penghinaan kepada agama Islam dan pembersihan masyarakat yang beragama Islam…" (hal. 184).
Analisa Rustam kastor yang mengarah kepada RMS sebagai pelaku utama tragedi kemanusiaan di Ambon-Maluku itu, memang tidak menutup kemungkinan adanya kekuatan lain yang memiliki kesamaan visi sebagai pelaku kerusuhan berdarah di kawasan Ambon-Maluku, seperti GPM (Gereja Protestan Maluku), juga PDI-P setempat.
Pada buku ini, Rustam Kastor juga mengulas posisi RMS, PDI-P dan GPM (Gereja Protestan Maluku) di tengah-tengah tragedi kemanusiaan di Ambon-Maluku ini. PDI-P Maluku, menurut Kastor, berbeda dengan PDI-P di tempat lain. Ia bukanlah partai yang berjiwa PNI, tetapi sebuah partai yang --secara historis dan ideologis-- menginduk kepada Parkindo atau Partai Katholik.
Sebagai partai politik, PDI Perjuangan sangat berkepentingan dengan perolehan suara sebesar-besarnya, wajah PDI Perjuangan di Maluku adalah identik dengan wajah Kristen… PDI Perjuangan akan memperoleh posisi kuat dalam percaturan politik di Maluku apabila Golkar dan Parpol Islam bisa dikalahkan…" (hal. 138).
Salah satu cara jitu yang ditempuh untuk mencapai tujuan politik tadi, adalah dengan mengusir komunitas Islam, bahkan dengan cara-cara paling keji sekalipun, yaitu berupa genocide!
Sebagai saksi korban dan sebagai mantan Komandan Korem 174 Pattimura, Rustam Kastor punya alasan yang kuat untuk mengatakan RMS sebagai pelaku utamanya. Sebab, di tahun 1989 ketika Kastor masih berpangkat Kolonel, ia berhasil membongkar jaringan organisasi gelap RMS di kota Ambon dan sekitarnya. Bahkan ketika itu, Kastor berhasil mematahkan rencana RMS membangun kekuatan bersenjata di Pulau Seram.
Sejak awal, RMS memang sudah mempunyai rencana besar tentang separatisme, mendirikan Republik Maluku Serani, yang meski waktu itu belum mampu diwujudkan namun mendapat dukungan yang luas di kalangan komunitas Kristen di sana, bahkan juga oleh kepentingan politik Kristen di luar Maluku. Apalagi kemudian mereka mendapat inspirasi dari kasus separatisme Timor Timur yang mendapat dukungan dunia internasional.
Buku ini, seperti sebuah catatan lengkap tentang tragedi kemanusiaan di Ambon, yang tidak bisa diperoleh dari media massa (cetak dan elektronik). Kronologi kejadian penting diturunkan secara komprehensif. Pada Tragedi Idulfitri Berdarah (19 Januari 1999) misalnya, mulai dari Yopi yang memeras Usman, hingga rentetan kejadian berikutnya, diungkapkan terperinci dalam buku ini. Begitu juga dengan kerugian materi yang dialami ummat Islam.
Dari data dan fakta yang dikemukakannya, Rustam Kastor terkesan sangat serius ingin meyakinkan kita, bahwa tragedi kemanusiaan di Ambon-Maluku, bukan sekedar konflik biasa-biasa saja. Bukan sekedar perang agama antara komunitas Islam dengan Kristen. Bukan sekedar separatisme, ingin mendirikan negara Nasrani di Maluku. Tapi lebih jauh dari itu. Bahwa, orang-orang Kristen (setidak-tidaknya di Ambon-Maluku) sudah sama kualitasnya dengan binatang-binatang Serbia yang memangsa etnis Albania, binatang-binatang Israel yang memangsa Palestina, dan binatang-binatang Rusia yang memangsa bangsa Chechnya.
Kini, jauh setelah buku ini ditulis, keadaan yang terjadi di lapangan sudah berbalik 180 derajat. Kalangan Islam yang teraniaya dan terusir sejak Idul Fitri Berdarah (19 Januari 1999), saat ini kembali menguasai daerah-daerah yang terampas. Berbagai laskar yang berbondong-bondong telah memberikan kekuatan moral-psikologis yang luar biasa, sekaligus memberikan alasan kepada dunia internasional (terutama Amerika Serikat) untuk melakukan intervensi. Karena menurut kaca mata mereka, kehadiran laskar-laskar itu merupakan indikasi adanya tirani mayoritas (Jawa-Islam) terhadap minoritas.

Rachmat Basoeki Soeropranoto
Mantan Tapol Kasus Peledakan BCA 1984
Dan Aktivis FAKtor
(Front Aksi Anti Konglomerasi dan Koruptor)
http://welcome.to/faktor
.

Go top

Kembali Halaman Muka
sm027.gif (4469 bytes)
<p align="justify">
</p>