Radio Nederland Wereldomroep, Selasa 27 April 2004 22:00 WIB
Kalangan Maluku Belanda Serukan Pengiriman Pasukan
Perdamaian ke Ambon
Gelombang kerusuhan terbaru di Ambon juga menimbulkan reaksi di luar negeri.
Sejumlah organisasi Maluku Belanda mendesak politisi Belanda dan internasional
agar mengirim pasukan perdamaian untuk menghentikan apa yang mereka sebut
"genosida" di Maluku. Mengapa muncul usul semacam itu dan sejauh mana ini akan
berhasil? Samuel Pormes adalah senator di Majelis Tinggi Belanda untuk fraksi Kiri
Hijau dan pemerhati masalah Maluku di Belanda. Bagaimana Pak Sam melihat
tuntutan pengiriman pasukan perdamaian ke Maluku?
Samuel Pormes [SP]: Saya rasa itu memang tidak jelas juga dan mereka kurang
realistis juga. Karena mereka punya agenda tersendiri, agenda lain. Karena mereka
mendukung apa yang terjadi di Ambon. Merayakan Republik Maluku Selatan itu kan
didukung mereka sendiri. Jadi saya anggap mereka juga terlibat dalam kerusuhan
yang sekarang dan mereka juga harus bertanggungjawab atas perbuatan mereka di
sini. Karena mereka ini provokasi.
Radio Nederland [RN]: Mereka ini maksud bapak adalah RMSnya di sini gitu?
SP: Jelas, kalau komunitas Maluku yang kumpul di Capelle aan den IJssel itu bukan
komunitas semua ya. Itu cuma sebagian yang punya agenda RMS dan jelas sewaktu
tanggal 25 April di Belanda punya dukungan juga sudah turun. Kalau melihat saya
sendiri, tinggal di kompleks yang terbesar masyarakat Maluku dan dari 180 rumah
hanya 25% yang ikut kegiatan dan upacara bendera. Jadi sedikit sekali sekarang.
RN: Yang menginginkan supaya ada pasukan internasional ke Maluku hanya
seperempat dari komunitas Maluku di Belanda. Apa yang mereka bisa lakukan?
SP: Kalau mereka minta pasukan internasional, itu karena mereka ingin supaya
internasional campur tangan dalam politik Indonesia. Supaya mereka bisa
mendukung mereka punya cita-cita sebagai separatis.
RN: Ini bukan usul yang pertama kali. Kerap kali mereka datang dengan usul ini.
Seberapa besar peluangnya untuk berhasil, kali ini?
SP: Saya rasa tidak ada hasil. Apa yang perlu didiskusi dalam komunitas Maluku itu:
jangan kita pakai agenda tersendiri. Sebetulnya kita harus support (mendukung red.)
satu agenda. Itu perdamaian dan rekonsiliasi. Itu cuma satu agenda. Jadi kalau
mereka punya agenda lain, baiklah kalau kita diskusi dan jelas bahwa agenda apapun
coba tunda! Mundur. Kita hanya mendukung perdamaian dan rekonsiliasi di Ambon.
RN: Apa yang mereka lakukan untuk mencapai itu?
SP: O ndak ada, ndak ada. Mereka hanya kasih keluar statement bahwa mereka
tuntut ada pasukan internasional tetapi kalau langkah yang berikut umpama mereka
lobi di luar negeri atau di PBB kan tidak pernah. Hanya cara lisan aja tetapi dalam
policy tidak ada.
RN: Sekarang presiden FKM, Front Kedaulatan Maluku yang punya juga hubungan
dengan RMS dr. Alex Manuputty berada di Amerika. Dan dia sebelum berangkat ke
Amerika mengatakan ingin ke New York supaya perjuangan lebih dekat kepada PBB.
Sejauh mana lobi itu sekarang bergulir?
SP: Lobi hanya untuk mengirim surat kepada semua kedutaan untuk minta support.
Dan interpretasinya aneh sekali, karena kita kan tahu dalam komunikasi sebagai
diplomat selalu membalas surat dengan hormat dengan sopan. Dianggap itu sudah
jadi support. Jadi itu mereka anggap bahwa dapat balasan seperti itu, disupport
seperti dari England, tetapi semua kan tahu England kan tidak mungkin mereka
support separatis di Indonesia.
RN: Alasannya tidak mungkin apa itu?
SP: Ya tidak mungkin karena mereka kan akui Indonesia sebagai NKRI 1945. Dan
jelas mereka tidak bisa support itu. Dan kebijakan Eropa juga tidak mungkin karena
seperti Spanyol yang punya minoritas secara etnis banyak, kan tidak mungkin
mereka support kepentingan etnis atau religius untuk dapat kemerdekaan sendiri.
RN: Bagaimana politik di Belanda melihat masalah Maluku ini?
SP: Mungkin yang masih mendukung ide itu, itu cuma partai ortodoks Kristen yang
mendukung. Tetapi selama saya aktif juga di kalangan politik tidak pernah saya
dengar partai-partai politik yang mendukung ide-ide RMS, tidak pernah. Hanya yang
partai seperti Christen Unie sama SGP itu yang fundamentalis kristen, tapi itu kecil
sekali. Jadi tidak punya arti dalam pendukungan politik.
Demikian Samuel Pormes, senator Majelis Tinggi Belanda untuk fraksi Kiri Hijau.
© Hak cipta 2004 Radio Nederland Wereldomroep
|