The Cross

 

Ambon Berdarah On-Line
News & Pictures About Ambon/Maluku Tragedy

 

 


 

 

 

Sala Waku Maluku


Sala Waku Maluku, 01 Mei 2004

Eskalasi konflik meningkat rekayasa elit politik mulai terbaca

I. Informasi Tentang Konflik.

Sejak pecahnya konflik Ambon tanggal 25 April 2004 wilayah konflik tidak berubah yaitu masih disekitar Tanah Lapang Kecil dan Batu Gantung pada areal konflik kurang lebih 500 x 400 meter, yang diikuti dengan upaya memperluas wilayah konflik, walaupun tidak berhasil . Walaupun wilayah konflik tidak meluas, namun eskalasi konflik diwilayah konflik cendrung meningkat.

Hingga Sabtu, tanggal 31 April 2004 beberapa kejadian penting yang dapat dicatat antara lain :

1. Hari Rabu, tanggal 28 April 2004 bertempat di Airport Pattimura Laha berlangsung pertemuan antara pejabat tinggi negara dari Jakarta (pusat) diantaranya Menteri Polkam ad enterim Hari Sabarno , Kapolri Jenderal Dai Baktiar, Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto dan Kepala Badan Intelejen Negara (BIN) Hendro Priyono dengan Muspida (Musyawarah Pimpinan Daerah) , tokoh masyarakat muslim dan Kristen di Maluku. Didalam pertemuan tersebut selain didengar laporan Gubernur Maluku tentang kondisi terakhir Kota Ambon ,juga dijelaskan beberapa kebijakan Pemerintah pusat untuk menyelesaikan konflik Maluku diantaranya (a) upaya memperkuat pasukan keamanan di Ambon, (b) menumpas kelompok FKM/RMS melalui prosedur hukum yang berlaku dengan meminta agar masyarakat tidak main hakim sendiri (c) menghimbau kelompok kelompok dari luar Ambon (Maluku) seperti laskar jihad dan kelompok lainnya untuk tidak datang ke Ambon serta (d) melakukan penembakan ditempat terhadap para sniper yang diduga berada digedung gedung bertingkat dilokasi konflik yang sering melakukan penembakan kepada masyarakat. Dalam pertemuan tersebut Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Maluku sempat mengusulkan agar di Maluku segera diberlakukan Keadaan Darurat Militer yang berdasarkan data yang dipercaya merupakan konsep pemikiran dari Pangdam XVI Pattimura Mayjen Syarifudin Summah. Usul ini kemudian menjadi bahan polemik didalam masyarakat. Sebelumnya perlu disampaikan bahwa pada hari Rabu malam terjadi pembakaran sebuah gedung gereja (Gereja Nazareth) dan 14 rumah penduduk Kristen di kawasan Karang Panjang yang berdasarkan data data dilapangan dibakar oleh aparat TNI yang bertugas diwilayah tersebut setelah terlebih dahulu meminta masyarakat untuk keluar meninggalkan lokasi tersebut dan menolak permintaan masyarakat untuk membantu aparat TNI yang bertugas untuk menjaga keamanan di wilayah tersebut. Hal tersebut yang mengakibatkan warga Kristen melakukan demonstrasi dihalaman Polda Maluku sebelum Muspida Maluku menuju Bandara Pattimura untuk bertemu Menko Polkam dan rombongan serta menuntut penanganan kasus tersebut secara tuntas.

Sekembalinya para pejabat negara tersebut ke Jakarta, maka pada malam harinya terjadi peningkatan eskalasi konflik melalui tembak menembak dan peledakan bom dikawasan Tanah Lapang Kecil dan Batu Gantung baik oleh masyarakat maupun aparat keamanan TNI dan Polri. Perlu dilaporkan juga bahwa bersamaan dengan kedatangan Pejabat Pemerintah pusat dari Jakarta ke Ambon telah ditugaskan Drs Sinyo Harry Sarundayang (mantan Pejabat Gubernur Maluku - kini staf ahli Menko Polkam) yang bertugas membantu Gubernur Maluku dalam pernyelesaian konflik.

2. Hari Kamis, tanggal 29 April 2004 pagi hingga sore hari ketika konflik terus berkembang melalui tembak menembak dan peledakan bom masyarakat dikejutkan dengan ditemukannya satu sosok mayat yang telah meninggal dunia ditepi pantai Kate Kate (1 km sebelah utara kampus Universitas Pattimura Poka) yang setelah diidentifikasi bernama Niko Silsili (Sopir mobil Toko Denso Motor) yang meninggalkan rumah untuk mengantar barang dan bosnya ke Airport Laha. Karena bosnya tidak jadi berangkat, maka dia dan bosnya menginap di Laha. Besoknya tanggal 26 April 2004 korban kembali ke Ambon dengan mengikuti iring iringan mobil yang mengangkut aparat Kostrad TNI dari Laha menuju Ambon. Sejak saat itu korban tidak kembali lagi kerumahnya. Diduga korban terjebak ketika kembali dari Laha ke Ambon dan dibunuh diiwilayah muslim. Disamping itu 2 sosok mayat yang tidak dikenal yang telah dibiarkan membusuk di Mapolres (Markas Kepolisian Resort ) Pulau Ambon dan Pulau Pulau Lease yang diduga sebagai warga Kristen Kupang - Nusa Tenggara Timur ,yang merupakan korban pembantaian Kapal Motor Doloronda, disamping 1 sosok mayat yang tidak dikenal yang juga diduga korban pembantaian KM Doloronda yang disemayamkan dirumah sakit Bakti Rahayu setelah dievakuasi oleh masyarakat ditempat pembuangan sampah di lokasi pangkalan taksi Jl Said Perintah Pardeis. Korban sempat dilihat oleh Puan Maharani (anak Megawati - Presiden RI) saat kunjungannya hari ini ke Rumah Sakit Bakti Rahayu. Sementara itu pada siang hari dilaporkan dari lapangan 3 warga Kristen di OSM mengalami luka luka karena ledakan bom yang sementara dirakit oleh mereka. Selanjutnya esklasi konflik mencapai puncaknya di hari ini ketika kira kira jam 22.00 Wit ,pasukan gegana Polri memasuki wilayah konflik di Tanah Lapang Kecil untuk menyisir wilayah tersebut dengan tujuan menangkap para sniper yang melakukan penembakan pada beberapa gedung bertingkat di wilayah konflik. Menurut data dari sumber yang dipercaya pasukan gegana sempat menangkap 3 orang militer ( 2 orang anggota Polri dan 1 orang anggota TNI) pada salah satu gedung bertingkat diwilayah konflik yang dikuasai kelompok muslim sebagai sniper yang melakukan penembakan kepada masyarakat. Satu anggota TNI saat ditangkap melakukan perlawanan ,akhirnya ditembak ditempat oleh pasukan gegana sedangkan 2 orang anggota Polri lainnya menyerahkan diri kepada pasukan gegana. Setelah penangkapan para sniper oleh pasukan gegana tersebut, konflik berkembang menjadi lebih besar melalui tembak menembak dan pelemparan bom, penembakan mortir serta lounser. Penggunaan mortir dan lonser baru terdengar semakin gencar pada konflik hari Kamis malam bersamaan dengan berkembangnya isu kurang lebih 2000 orang yang terdiri dari laskar mujahidin, jihad dan beberapa laskar lainnya telah memasuki Kota Ambon melalui Namlea (ibu kota) Kabupaten Pulau Buru. Kira kira jam 00.00 hari jumat tanggal 30 April 2004 dengan komando dari mesjid mesjid di sekitar wilayah konflik , kelompok perusuh mulai bergerak dari wilayah muslim dan melakukan penyerangan ke wilayah Kristen (khususnya Batu Gantung) yang diikuti dengan tembakan senjata api, peledakan bom, penembakan mortir dan louncer kearah wilayah Kristen yang dibalas dengan tembakan senjata api dari pihak Kristen. Kelompok perusuh muslim terus berusaha untuk merebut wilayah Kristen dengan sasaran Gereja Rehoboth yang terletak di Batu Gantung, namun mereka hanya mampu membakar beberapa buah rumah Kristen yang berhadapan dengan gereja Rehoboth tersebut. Tembak menembak ,pelemparan bom , penembakan mortir dan louncer diwilayah konflik (Tanah Lapang Kecil dan Batu Gantung) tersebut , sempat meluas kebeberapa wilayah lain seperti pusat kota, kawasan Mardika dan Karang Panjang dalam skala kecil, namun masyarakat kedua belah pihak (muslim dan Kristen) tidak memberikan reaksi apa apa. Sementara itu di hari Jumat tanggal 30 April beberapa Koran lokal dengan mengutip berita Koran nasional mulai menulis tentang kemungkinan terlibatnya para Capres (Calon Presiden) dalam konflik Ambon serta mulai munculnya perbedaan pendapat antara kelompok Wiranto dan kelompok Susilo Bambang Yudoyono/ Yusuf Kalla tentang ketidak berhasilan Susilo Bambang Yudoyono/Yusuf Kalla (arsitek Perjanjian Maluku di Malino) dalam melaksanakan isi perjanjian Malino tersebut.

3. Hari Jumat, 30 April 2004 sejak pagi hingga siang hari eskalasi konflik cendrung menurun. Namun laporan para investigator dari lokasi konflik bahwa 4 orang anak Kristen (yang dijuluki kelompok agas) dilaporkan menjadi korban peledakan bom, 1 diataranya meninggal dunia atas nama Thomas Matitaputty, sedangkan 3 orang lainnya mengalami luka luka dan dirawat di RSU Ambon. Hingga sore dan malam hari hanya terdengar beberapa tembakan dan ledakan di wilayah konflik (Tanah Lapang Kecil dan Batu Gantung). Sementara itu dari lapangan dilaporkan aparat keamanan mengalami kesulitan untuk mengerebek dan menangkap pendukung dan simpatisan RMS yang katanya bermarkas di rumah Alex Manuputty- Ketua FKM di kawasan Kudamati Ambon atas perintah Gubernur Maluku. Namun upaya tersebut tidak berhasil/gagal karena aparat yang menggunakan 5 buah panser terhalang barikade yang ditempatkan di jalan-jalan oleh masyarakat serta adanya keraguan dan kekuatiran aparat keamanan sendiri mengingat mereka menduga masih banyak sniper beroperasi di wilayah konflik.

4. Hari Sabtu, tanggal 1 Mei 2004, hingga tengah malam sekitar jam 00. hanya terdengar beberapa kali tembakan dan bunyi bom. Namun pada pukul 04.00 Wit kembali terdengar bunyi puluhan tembakan mortir dan launcher yang diselingi dengan tembakan senjata api secara beruntun beberapa kali di wilayah konflik Tanah Lapang Kecil dan Batu Gantung hingga pukul 05.30 WIT. Hingga laporan ini dibuat belum dipereloh data secara rinci tentang kondisi terakhir di wilayah konflik. Namun beberapa informasi penting yang diterima hingga saat ini antara lain (a) Pemeritah pusat mulai menunjukan komitmen untuk segera menyelesaikan konflik Maluku. Komitmen ini ditindak lanjuti dengan sikap Gubernur, Pangdam XVI Pattimura dan Kapolda Maluku yang mengeluarkan pengumuman/ pernyataan kepada publik sebagaimana disiarkan RRI (Radio Republik Indonesia) Ambon pagi ini untuk menembak di tempat para perusuh yang melakukan penyerangan, membakar rumah rumah penduduk dan fasilitas umum, memerintahkan aparat untuk menyekat wilayah konflik dan menguasai wilayah konflik serta melakukan sweping dan menangkap para penembak gelap (sniper), pembukaan barikade dijalan dijalan yang dipasang oleh masyarakat, perintah Komando Armada Angkatan Laut Wilayah III di Surabaya untuk menempatkan personil Angkatan Laut pada beberapa pelabuhan yang akan disinggahi oleh kapal kapal dengan tujuan Ambon guna mencegah masuknya laskar jihad ke Ambon.

II. Analisa

Fakta fakta tersebut diatas setelah dianalisa dengan cermat, maka terlihat hal hal sebagai berikut :

1. Wilayah konflik tidak berkembang dan masih terus berlanjut di kawasan Tanah Lapang Kecil dan Batu Gantung, walaupun ada upaya untuk memperluas konflik, namun masyarakat kedua belah pihak (Muslim - Kristen) diluar wilayah konflik tidak terprovokasi.

2. Usaha memperluas wilayah konflik dilakukan oleh perusuh dan pihak TNI (baca kasus pembakaran Gereja Nazareth dan tertangkapnya sniper yang adalah aparat keamanan) dimaksudkan untuk menimbulkan emosi rakyat (khususnya Kristen) sehingga akan balik menyerang dan sekaligus untuk menghilangkan image bahwa sasaran semula dari perusuh adalah kelompok RMS di Kudamati ,namun dalam kenyataannya kelompok Kristen yang bukan saja warga Kristen Maluku tetapi Kristen secara umum (baca pembantaian terhadap warga Kristen Kupang) yang kini menjadi sasaran (suatu cara terselubung untuk melanjutkan konflik 4 tahun yang lalu yang sarat dengan tindakan tindakan terorisme yang nuansa agama).

3. Isu RMS masih merupakan isu sentral pemerintah (termasuk elit politik ,militer dan kelompok Islam garis keras) yang kini dijadikan sebagai akar permasalahan konflik tanggal 25 April 2004,walaupun isu ini kemudian sengaja di back up dengan mencoba menurunkan opini masyarakat melalui sikap pemerintah untuk menangani masalah ini secara hukum dan bukan kekerasan. Hal tersebut dimaksudkan sebagai upaya untuk menghindar dari tudingan keras masyarakat saat ini bahwa pemerintah (termasuk militer dan para elit politik) selama ini sengaja memelihara isu RMS untuk dijadikan sebagai komoditi guna tujuan dan kepentingan politik mereka dengan memanfaatkan kekuatan Islam di lapangan.

4. Sementara itu sikap pemerintah untuk menangani permasalahan hukum untuk mencegah kekerasan dan melindungi masyarakat Maluku secara terang terangan dilakukan dengan standard ganda dimana disatu pihak hukum dijadikan sebagai sarana untuk menyelesaikan konflik Maluku, namun pada lain pihak pemerintah tidak melakukan tindakan hukum kepada kelompok perusuh termasuk kelompok jihad yang hanya dihimbau untuk tidak masuk ke Ambon,padahal kelompok ini jelas jelas telah melakukan berbagai tindakan kekerasan untuk memperkeruh konflik di Maluku termasuk konflik 4 tahun lalu tanpa tindakan hukum apapun atas segala kejahatan kemanusiaan yang mereka lakukan. Hal ini menimbulkan pertanyaan sejauh mana hubungan pemerintah dengan kelompok jihad tersebut,atau paling tidak ada konspirasi pemerintah (termasuk elit militer dan politik ) yang secara sengaja diperankan oleh laskar jihad. Sehubungan dengan itu isu masuknya laskar jihad dan kelompok kelompok garis keras Islam lainnya dari luar Maluku untuk memperkeruh suasana di Maluku khususnya di Ambon saat ini, sudah dapat dipastikan benar karena konflik 2 hari terakhir ini (tanggal 29 dan 30 April 2004) penggunaan senjata ,bahan peledak dan amunisi tidak berbeda ketika kelompok jihad berada di Maluku pada konflik 4 tahun lalu, yang sejak pecahnya konflik tanggal 25 s/d 28 April 2004 senjata ,bahan peledak dan amunisi tersebut tidak teridentifikasi dilapangan.

5. Upaya Pemerintah melalui Gubernur Maluku untuk memerintahkan aparat keamanan menggerebek dan menangkap pendukung FKM - RMS yang diduga berada di kediaman Alex Manuputty di kawasan Kudamati ,merupakan sebuah tindakan represif yang sudah terlambat yang disatu pihak ingin menunjukan sikap pemerintah untuk menyelesaikan konflik Maluku melalui pendekatan yuridis, namun dipihak lain upaya tersebut dianggap sudah tidak mampu menghentikan konflik, karena rekayasa konflik dengan mengunakan isu RMS ternyata telah berbeda dengan apa yang terjadi dilapangan.

6. Wacana perberlakuan darurat militer di Maluku tidak terlepas dari peranan TNI termasuk elit pemerintah dan kelompok elit politik lainnya untuk menjadikan Maluku sebagai proyek untuk mengeruk keuntungan politik terutama pencipataan situasi chaos menjelang pemilihan presiden. Padahal sipapun orangnya tentu akan memahami bahwa tidak mungkin darurat militer diberlakukan pada suatu siatuasi konflik dengan skala kecil dan baru terjadi beberapa hari. Apalagi jika dibandingkan dengan konflik 4 tahun lalu dengan eskalasi yang begitu tinggi, luasnya wilayah konflik, korban yang begitu banyak, tetapi pemerintah hanya memberlakukan darurat sipil.

7. Setidak tidaknya konflik beberapa hari ini telah mengungkapkan scenario dari kelompok teroris agama yang sengaja dibungkus dengan sikap nasionalisme dari perusuh dan para elit yang terlibat didalamnya dalam bentuk terorisme agama ( bandingkan bagaimana isu RMS yang dipakai ,tetapi warga Kristen Maluku dan warga Kristen Kupang yang NKRI dibantai dan dibunuh, anak anak,orang tua dan wanita hamil yang tidak berdosa dianiaya dan dibunuh tanpa peri keanusiaan, rumah rumah para pengungsi warga Kristen Maluku yang NKRI, rumah rumah gereja dan fasilitas umum dibakar oleh perusuh, penyerangan dilakukan disertai dengan dukungan spiritual melalui mesjid mesjid yang merupakan simbol agama).

8. Persaingan antara Wiranto dan Susilo Bambang Yudoyono, dua pernawirawan TNI yang akan bersaing dalam pemilihan Presiden serta upaya untuk melemahkan kredibilitas Megawati Soekarnoputri sebagai Presiden saat ini dan calon Presiden dari kalangan sipil yang padagilirannya akan dinilai tidak mampu menjamin keamanan didalam masyarakat, tidak terlepas dalam bagian dari konspirasi untuk melanggengkan konflik di Ambon saat ini.

9. Masyarakat Maluku (Ambon) baik muslim maupun Kristen ternyata sudah tidak tertarik lagi dengan konflik yang hanya mendatangkan penderitaan dan kesengsaraan. Hal mana terbukti dengan adanya upaya upaya untuk memperluas konflik diluar wilayah konflik saat ini, namun masyarakat tidak terprovokasi. Sebaliknya diwilayah konflik masyarakat terpaksa harus terlibat dalam konflik,malah sejauh ini kembali menyiapkan persenjataan untuk dipergunakan dalam konflik karena hal ini merupakan suatu tindakan yang terpaksa harus dilakukan untuk mempertahankan dan melindungi diri mereka karena aparat keamanan dinilai bertindak diskriminatif dan tidak dapat melindungi masyarakat.

III. Kesimpulan

Berdasarkan fakta, data dan hasil analisa diatas, maka dapat disimpulkan bahwa semakin jelas konflik Ambon saat ini adalah bagian dari aksi terrorisme murni yang apabila dilihat dari cara cara melakukan penyerangan serta korban yang jatuh, tidak berbeda jauh dengan pola pola aksi terorisme Internasional lainnya yang sengaja direkayasa dengan menggunakan isu RMS untuk kepentingan kelompok elit tertentu. Karena itu kepada seluruh masyarakat Indonesia diminta untuk tidak melakukan kegiatan kegiatan apapun baik langsung maupun tidak langsung yang bersifat mendorong kelompok kelompok tertentu melakukan kekerasan dalam bentuk mendukung konflik di Ambon saat ini yang dapat merugikan kepentingan masa depan Indonesia. Kepada masyarakat Internasional, juga diharapkan dapat memberikan dorongan kepada pemerintah Indonesia untuk segera menyelesaikan konflik di Ambon agar dapat menghindari pelanggaran Hak Asasi Manusia yang lebih berat lagi.

Tim Kajian Konflik Maluku
Yayasan Sala Waku Maluku

Sala Waku Maluku
 


Copyright © 1999-2001 - Ambon Berdarah On-Line * http://www.go.to/ambon
HTML page is designed by
Alifuru67 * http://www.oocities.org/nunusaku
Send your comments to
alifuru67@yahoogroups.com
This web site is maintained by the Real Ambonese - 1364283024 & 1367286044