PENDAHULUAN
oleh Drs. Muslih Fathoni, M.A.
Manusia sebagai makhluk berakal dan beragama tetap memiliki
kebebasan berkehendak untuk menyatakan pikiran, ide, dan
menentukan jalan hidupnya. Dalam kaitan ini Islam menjamin
kebebasan tersebut dengan suatu pertanggungjawaban dalam
arti yang sebenarnya.
Akidah tauhid yang merupakan sokoguru kesatuan bagi ummat
Muslim yang diliputi oleh suasana persaudaraan, sejak zaman
Nabi SAW., menjadi goyah terutama menjelang berakhirnya
dekade kedua masa Khulafa'ur-Rasyldin yaitu, diakhir
pemerintahan Khalifah 'Usman ibn 'Affan. Sebab utama
goyahnya kesatuan ummat Muslim tersebut, berpangkal pada
pertikaian politik yang bercorak keagamaan diantara
kelompok-kelompok Muslim yang sedang bersaing. Peristiwa
tersebut merupakan awal masa desintegrasi yang dalam
perkembangan selanjutnya, terutama sesudah terbunuhnya
Khalifah ketiga, benar-berlar mendorong lahirnya sekte-sekte
dalam Islam dengan doktrin atau ajaran masing-masing yang
berbeda-beda.
Kambuhnya semangat fanatisme golongan di satu pihak, dan
munculnya sikap kultus individu terhadap diri 'Ali ibn Abi
Talib dan Ahl al-Bait di pihak lain, tampaknya sangat
berpengaluh terhadap lahirnya doktrin teologi kaum Syi'ah
dalam penalaran sejarahnya. Kekalahan mereka di bidang
politik dan militer, selama pemerintahan Bani Umayyah dan
Bani 'Abbasiyyah, yang menyebabkan banyak di antara para
imam mereka menjadi korban politik, rupanya merupakan faktor
penting yang mendorong lahirnya ide atau mitos tentang Imam
Mahdi atau al-Mahdi al-Muntazar.
Keanekaragaman aspirasi politik dan doktrin yang dibawa oleh
berbagai sekte dalam Islam itu, berdampak negatif sebagai
akibat terjadinya akulturasi budaya dan keyakinan, sesudah
meluasnya daerah kekuasaan Islam. Rupanya al-Quran dan
Sunnah Rasul tidak lagi dijadikan sebagai rujukan oleh
sekian banyak aliran yang muncul waktu itu guna mencari
titik temu . Akan tetapi sebaliknya, justru keduanya mereka
jadikan sebagai dasar untuk menguatkan doktrin atau paham
mereka masing-masing. Sikap demikian ini mendorong mereka
kepada tindakan-tindakan yang ekstrem dan permusuhan dengan
sesama Muslim, sebagaimana yang pernah dilakukan oleh
golongan Syi'ah maupun Ahmadiyah dalam mewujudkan dan
menyebarkan ide serta pengaruh mereka masing-masing.
Paham Mahdi atau Mahdiisme, sebagaimana diketahui dalam
sejarah, adalah ajaran yang meyakini akan datangnya seorang
tokoh Juru Selamat atau Messiah pada ummat yang tertindas,
akibat merajalelanya kezaliman penguasa.Tokoh tersebut
dikenal sebagai al-Mahdi yang ditunggu-tunggu. Paham yang
millenaristis ini, juga pernah muncul di Indonesia sekitar
abad XIX - abad XX, khususnya di Jawa pada masa pemerintahan
kolonial Belanda. Tokoh gerakan tersebut oleh sebagian
masyarakat Jawa dikenal pula dengan nama Ratu Adil.1 Dengan
demikian, corak gerakan Mahdiisme dapat dikatakan sebagai
modus gerakan masyarakat belum maju yang tertindas serta
mengalami perubahan tata sosial yang drastis untuk melakukan
protes sosial terhadap penguasa yang lalim guna memperoleh
kejayaan mereka kembali. Lahirnya Mahdiisme juga bermula dan
protes-protes sosial sebagai akibat pergolakan politik yang
didorong oleh ambisi ingin merebut kekuasaan dari sekian
banyak kelompok Muslim yang saling bermusuhan pada permulaan
sejarahnya.
Dari serangkaian kegagalan pemberontakan bersenjata yang
dimotori oleh kaum Syi'ah selama kurang lebih dua abad
lamanya, mereka mengalami kekecewaan yang mendalam,
kekalahan serta penderitaan yang beruntun, dan selalu
menjadi korban kekerasan lawan-lawan politiknya. Disamping
itu, tidak sedikit di antara para imam mereka menjadi korban
kekerasan politik; dan ini menyebabkan kecintaan mereka
kepada imam-imam tersebut semakin mendalam. Keadaan seperti
inilah yang menyebabkan kaum Syi'ah mudah mencerna 'aqidah
ar-raj'ah dan masalah al-gaibah, dua masalah yang tampaknya
merupakan faktor dominan dalam mempercepat proses lahirnya
sikap menunggu-nunggu kehadiran kembali para imam mereka
yang telah wafat atau yang tidak mereka akui kematiannya.
Kepercayaan seperti ini tidak dikenal oleh ummat Muslim
sebelumnya. Oleh karena itu, doktrin Mahdiisme, yang semula
lahir sebagai penggerak gerakan keagamaan yang bersifat
politis, berkembang menjadi doktrin teologi yang
eskatologis. Paham Mahdiisme ini semakin luas pengaruhnya
dan bahkan akhirnya menjadi milik berbagai aliran dalam
Islam.
Paham Mahdi semula muncul di kalangan Syi'ah Kaisaniyyah,
aliran ini berkeyakinan bahwa Muhammad ibn Hanafiyah adalah
al-Mahdi al-Muntazar. Menurut keyakinan mereka, dia masih
hidup dan tinggal di bukit Radwa, dan kehadirannya kembali
senantiasa mereka tunggu Dalam hubungan ini timbul
pertanyaan, mengapa paham Mahdi ini tidak tumbuh di kalangan
kaum Khawarij? Jawaban terhadap pertanyaan ini cukup jelas:
bahwa kaum Khawarij tidak mengenal 'aqidah ar-raj'ah dan
al-gaibah, sekalipun sekte tersebut juga mengalami nasib
yang sama dengan nasib kaum Syi'ah.
Selanjutnya paham Mahdi ini pun muncul di kalangan sekte
Syi'ah al-Jarudiyyah. Para pengikut keyakinan sekte ini
selalu menunggu kehadiran kembali imam mereka, Muhammad ibn
'Abdullah, atau yang dikenal dengan sebutan
an-Nafsuz-Zakiyyah, sebagai al-Mahdi.
Di kalangan Syi'ah Imamiyyah, terdapat dua kelompok pengikut
paham Mahdi yang besar pengaruhnya dan terkenal dalam
sejarah, yaitu sekte Syi'ah Sab'iyyah (Syi'ah Tujuh) atau
yang dikenal dengan Syi'ah Isma'iliyyah atau Syi'ah
Batiniyyah, dan kedua adalah sekte Isna 'Asyariyyah (Syi'ah
Duabelas). Dalam merealisasikan ide kemahdiannya kedua
aliran tersebut tampaknya terdapat perbedaan yang cukup
menonjol. Jika kemahdian Syi'ah Isma'iliyyah lebih bersifat
realistis, maka kemahdian Syi'ah Isna 'Asyariyyah lebih
bersifat idealis. Menurut sekte yang disebut pertama,
al-Mahdi itu telah mengejawantah pada diri Abdullah ibn
Muhammad, dan ia berhasil membentuk dinastinya di Magrib
(Afrika), sedangkan menurut sekte yang disebut kedua,
al-Mahdi itu terjelma pada diri Muhammad ibn Hasan
al-'Askari (Imam keduabelas) sesudah ia dinyatakan hilang
secara misterius dan dinyatakan pula sebagai yang
ditunggu-tunggu tanpa batas waktu tertentu.
Paham Mahdi yang pernah berkembang di Indonesia lebih mirip
dengan paham Mahdi Syi'ah daripada paham Mahdi Ahmadiyah.
Menurut aliran terakhir ini, al-Mahdi dan al-Masih adalah
satu pribadi yang terjelma pada diri Mirza Ghulam Ahmad,
pendiri aliran tersebut. Selain itu, ia juga mengaku sebagai
jelmaan Krishna. Aliran ini berpendapat bahwa kehadiran
al-Mahdi didasarkan atas pengangkatan dari Tuhan melalui
jalan ilham atau mukasyafah (terbukanya tirai alam gaib).
Pengalaman Mirza Ghulam Ahmad tersebut oleh sementara
pengikutnya diinterpretasikan sebagai wakyu. Asumsi ini
tampaknya dibenarkan oleh Mirza, karena itu wahyu dipandang
masih terbuka sepanjang zaman, asalkan syari'atnya tetap
mengikuti syari'at Nabi Muhammad SAW. Demikian pandangan
aliran Ahmadiyah Qadian terhadap diri Mirza. Berbeda dengan
aliran Ahmadiyah Lahore, mereka memandangnya hanya sebagai
mujaddid abad ke-14 H, dan ia bukan nabi hakiki. Sebab ia
hanya merjerima wakyu tajdid atau wahyu walayah (wahyu
kewalian), bukan wahyu nubuwwah (wahyu kenabian). Sekalipun
demikian, aliran kedua ini, secara implisit masih mengakui
Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi, yakni nabi secara lugawi.2
Tugas kemahdian dan kemasihan Mirza memang dapat dijumpai
dalam berbagai literatur dan diuraikan secara jelas baik
oleh Mirza sendiri maupun oleh para pengikutnya. Akan tetapi
dapat dikatakan langka uraian yang menyangkut tugas
kekrishnaannya, sebagai yang pernah dinyatakan pada 1904,
bahwa dirinya adalah penjelmaan Krishna. Jika pengakuannya
sebagai Krishna adalah atas dasar wahyu maka sulit
dibuktikan kebenarannya baik secara literal maupun melalui
tanda-tanda alamiah. Dengan demikian, ummat Muslim yang
non-Ahmadiyah, tentunya sulit menerima kebenaran pengakuan
tersebut.
Sebagaimana diketahui, tugas kemahdian dan kemasihan Mirza
memang berbeda dengan tugas kemahdian dalam Syi'ah. Menurut
Paham Syi'ah, al-Mahdi dikenal pula dengan al-Qa'im (orang
yang bangkit untuk menuntut balas terhadap musuh-musuhnya),
sehingga kepercayaan terhadap al-Mahdi ini merupakan faktor
pendorong bagi perjuangan kaum Syi'ah untuk merebut
kekuasaan politik dan untuk menegakkan pemerintah Islam
sesuai dengan aspirasi mereka. Berbeda dengan tugas
kemahdian menurut Ahmadiyah, disini al-Mahdi ingin
menegakkan Islam diatas semua agama, dan karenanya dia
dikenal pula dengan sebutan Hakim Pengislah, yang bertugas
mendamaikan ummat Muslim seluruhnya dan mengislamisasikan
yang lain tanpa jalan kekerasan.
PAHAM MAHDI AHMADIYAH
Apabila paham Mahdi atau Mahdiisme Syi'ah itu lebih ditandai
oleh motif-motif politik, maka paham Mahdi Ahmadiyah yang
lahir di ujung abad ke-19, tampaknya lebih bermotif
pembaharuan pemikiran dalam Islam, terutama dalam menghadapi
bahaya Kristenisasi sebagai akibat penjajahan Inggris di
India. Dengan demikian, ide kemahdian Ahmadiyah berbeda
dengan ide kemahdian Syi'ah yang mencita-citakan terwujudnya
kekuasaan politik di dunia Islam di bawah pimpinan al-Mahdi.
Mahdiisme Ahmadiyah rupanya tidak bisa terlepas dari
kaitannya dengan masalah kehadiran kembali 'Isa- al-Masih di
akhir zaman, dimana ia ditugaskan oleh Tuhan untuk membunuh
Dajjal, mematahkan tiang salib, yaitu mematahkan
argumen-argumen agama Nasrani dengan dalil-dalil atau
bukti-bukti yang meyakinkan, serta menunjukkan kepada para
pemeluknya kebenaran Islam. Disamping itu ia pun ditugaskan
untuk menegakkan kembali syari'at Nabi Muhammad, sesudah
ummatnya mengalami kemerosotan dalam kehidupan beragama.
Menurut paham aliran ini, 'Isa dan al-Mahdi adalah satu
pribadi, bukan sebagaimana yang dipahami orang pada umumnya.
Oleh karena itu, mereka hanya mengambil salah satu dari
beberapa hadis-hadis Mahdiyyah yang sesuai dengan keyakinan
aliran ini, dan mereka - para pengikut paham Ahmadiyah -
memandang hadis Mahdiyyah yang mereka pegangi sebagai
otentik seperti hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah:
"Tiada seorang pun (sebagai) al-Mahdi selain 'Isa."
Hadis tersebut mereka pahami dan mereka hubungkan dengan
pribadi Mirza Ghulam Ahmad sebagai pengejawantahan 'Isa
al-Masih dan al-Mahdi, yang berasal dari India. Tentunya
para pengikut paham Ahmadiyah ini secara tegas menolak
hadis-hadis Mahdiyyah lairmya yang mengandung maksud berbeda
dengan paham mereka. Apabila kemahdian Ahmadiyah meniru
sifat-sifat atau watak Nabi 'Isa, maka dalam mene;apai
tujuannya, aliran ini tidak suka menempuh jalan kekerasan,
akan tetapi dengan jalan damai, sebagaimana yang ditempuh
oleh kaum misionaris Kristen. Menegakkan Islam dengan jalan
kekerasan atau perang, menurut paham pengikut aliran ini,
adalah tidak penting bahkan tidak perlu. Sebab menegakkan
agama (Islam) dengan perang, hanyalah merupakan jihad atau
perang kecil yang dikenal dengan [kata-kata Arab]. Akan
tetapi, yang terpenting adalah jihad akbar [kata-kata Arab]
yaitu perang melawan hawa nafsu.
Sifat kemahdian Ahmadiyah tersebut, berlainan dengan sifat
kemahdian Syi'ah yang jauh lebih agresif. Pada umumnya,
pengikut paham Mahdi Syi'ah mendasarkan paham kemahdiannya
pada aqidah raj'ah dengan menunggu-nunggu kehadiran kembali
pemimpin mereka yang telah wafat, khususnya dari keturunan
mereka yang telah wafat, khususnya dari keturunan
Ahlul-Bait. Sedangkan paham Mahdi Ahmadiyah tidak didasarkan
pada aqidah raj'ah, karenanya pengikut aliran ini tidak
memandang penting silsilah al-Mahdi itu berasal dari
keturunan Ahlul-Bait. Menurut paham yang terakhir ini,
al-Mahdi itu tidak harus keturunan Ahlul Bait atau dari
bangsa Arab, akan tetapi siapa saja yang dikehendaki dan
diangkat oleh Tuhan baik dengan jalan wahyu atau ilham. Jika
kemahdian Syi'ah selalu dikaitkan dengan masalah keimaman,
maka kemahdian Ahmadiyah selalu dihubungkan dengan masalah
kenabian, dan kemungkinan masih diturunkannya wahyu sesudah
Nabi Muhammad. Persepsi yang demikian ini, apa pun alasan
yang mereka ajukan, tetap akan ditolak oleh golongan Islam
lainnya, khususnya golongan Sunni.
Dari perbedaan-perbedaan yang prinsip ini, kehadiran aliran
Ahmadiyah di tengah-tengah pengikut Sunni, tidak bisa mereka
terima pada awal kemunculannya. Bahkan sampai hari ini pun
aliran tersebut tidak diakui sebagai kelompok Muslim, oleh
Rabitah al-'Alam al-Islami. Untuk mendapatkan gambaran yang
lebih jelas, terlebih dahulu perlu diuraikan beberapa
masalah yang berkaitan dengan Mahdiisme Ahmadiyah.
SEJARAH LAHIRNYA AHMADIYAH
1. LATAR BELAKANG SEJARAH LAHIRNYA AHMADIYAH
Lahirnya aliran Ahmadiyah merupakan serentetan peristiwa
sejarah dalam Islam, yang kemunculannya tidak terlepas dari
situasi dan kondisi ummat Muslim sendiri pada saat itu.
Sejak kekalahan Turki 'Usmani dalam serangannya ke benteng
Wina tahun 1683, pihak Barat mulai bangkit menyerang
kerajaan tersebut, dan serangan itu lebih efektif lagi di
abad ke-18. Selanjutnya di abad berikutnya bangsa Eropa
didorong oleh semangat revolusi industri dan ditunjang oleh
berbagai penemuan baru, mereka mampu mencipta
senjata-senjata modern. Secara agresif mereka dapat menjarah
daerah-daerah Islam di satu pihak, sedangkan di pihak lain
ummat Muslim sendiri masih tenggelam dalam kebodohan dan
sikap yang apatis dan fatalistis. Akhirnya Inggris dapat
merampas India dan Mesir, Perancis dapat menguasai Afrika
Utara, sedangkan bangsa Eropa lainnya dapat menjarah
daerah-daerah Islam lainnya.1
Sesudah India menjadi koloni Inggris, tampaknya sikap ummat
Muslim yang masih sangat tradisional dan fatalistis, dengan
disertai semangat antipati dan fanatisme keagamaan yang
berlebihan dalam menghadapi tradisi Barat, menyebabkan
mereka semakin terisolasi. Keadaan kaum Muslimin India ini,
semakin buruk terutama sesudah terjadinya pemberontakan
Mutiny di tahun 1857.
Sebagai akibat pemberontakan tersebut, pihak Inggris menjadi
lebih curiga dan bersikap reaksioner terhadap ummat Islam.
Inggris berkeyakinan bahwa ummat Islamlah yang menjadi biang
keladi pemberontakan tersebut, dan oleh karena itu harus
bertanggung jawab. Selain itu ia pun menuduh ummat Muslim
ingin mengembalikan hak-hak kemaharajaan Mughal, disamping
itu Inggris menganggap oposisi ummat Muslim adalah karena
didorong oleh semangat nasionalisme yang menyala-nyala,
sedangkan kaum Hindu tampak dapat menyembunyikannya,
sehingga mereka dapat diajak bekerja sama dengan pemerintah
Inggris. Dengan demikian, posisi kaum Hindu jauh lebih baik
bila dibandingkan dengan posisi ummat Islam, demikianlah
penjelasan K. 'Ali.2
Sebagaimana diketahui, kaum Hindu dibawah pemerintahan
kolonial Inggris, lebih bersikap kooperatif daripada ummat
Islam, karena itu sikap nonkooperatif ummat Muslim India
saat itu semakin memojokkan posisi mereka serta membawanya
kedalam situasi keterasingan di negeri sendiri. Selain itu
mereka semakin tenggelam dalam keterbelakangan dan
perselisihan dengan sesama Muslim, karena masalah
khilafiyyah di satu pihak, dan di pihak lain hubungan
diantara mereka terutama yang telah mendapat didikan sistem
Barat, semakin jauh jarak yang memisahkannya. Situasi ummat
Muslim di India saat itu, boleh jadi tidak jauh berbeda
dengan keadaan ummat Muslim Indonesia di zaman pemerintahan
kolonial Belanda.
Dalam keadaan demikian, intelektual kaum ulama Islam sebagai
digambarkan oleh Maulana Muhammad 'Ali, telah tenggelam
sampai ke tingkat yang paling bawah. Sehingga pertarungan
antar sesama kelompok Muslim, karena perbedaan paham yang
kecil saja telah dipandang sebagai pengabdian terhadap Islam
yang paling besar, dan menghukum Muslim lainnya sebagai
kafir.3 Demikianlah situasi ummat Muslim yang melatar
belakangi munculnya gerakan Mahdiisme Ahmadiyah. Sebagai
yang telah disinggung dimuka, bahwa kemahdian Ahmadiyah
berorientasi pada pembaharuan pemikiran. Di sini Mirza
Ghulam Ahmad yang mengaku telah diangkat sebagai al-Mahdi
dan al-Masih oleh Tuhan, merasa mempunyai tanggung jawab
moral untuk memajukan Islam dan ummat Muslim dengan memberi
interpretasi baru terhadap ayat-ayat al-Qur-an sesuai dengan
tuntutan zamannya, sebagai yang diilhamkan Tuhan kepadanya.
Motif Mirza ini tampaknya didorong oleh gencamya serangan
kaum misionaris Kristen dan propaganda kaum Hindu terhadap
ummat Muslim saat itu.
Dalam hubungan ini, Wilfred Cantwell Smith menggambarkan
bahwa Ahmadiyah yang lahir menjelang akhir abad ke-19,
ditengah huru-hara runtuhnya masyarakat Islam lama dan
infiltrasi budaya dengan sikapnya yang baru, serangan gencar
kaum misionaris Kristen (terhadap Islam), dan berdirinya
Universitas Aligarh yang baru, maka lahimya Ahmadiyah adalah
sebagai protes terhadap keberhasilan kaum misionaris Kristen
memperoleh pengikut-pengikut baru. Juga sebagai protes
terhadap paham rasionalis dan westernisasi yang dibawa oleh
Sayyid Ahmad Khan dengan Aligarh-nya. Disamping itu, di saat
yang sama, demikian Smith menambahkan, lahirnya Ahmadiyah
juga sebagai protes atas kemerosotan Islam pada umumnya.4
Sayangnya pembaharuan al-Mahdi Ahmadiyah ini menyentuh
keyakinan ummat Muslim yang sangat sensitif, yaitu masih
adanya nabi dan wahyu yang diturunkan Tuhan sesudah al-Quran
dan sesudah kerasulan Nabi Muhammad. Inilah kiranya yang
menyebabkan timbulnya reaksi keras dan permusuhan ummat
Muslim terhadap aliran yang baru lahir itu.
2. PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN SEKTE AHMADIYAH
Sejarah berdirinya Ahmadiyah, tidak terlepas dari sejarah
Mirza Ghulam Ahmad sendiri sebagai pendiri aliran ini. Ia
dilahirkan di Qadian tahun 1835, ayahnya bernama Mina Ghulam
Murtada. Menurut riwayat, nenek moyangnya berasal dari
Samarkand yang pindah ke India pada tahun 1530, yaitu
sewaktu pemerintahan dinasti Mughal, mereka tinggal di
Gundaspur, Punjab - India. Di situ mereka membangun kota
Qadian. Menurut suatu keterangan, famili Ghulam Murtada
masih keturunan Haji Barlas dari dinasti Mughal, dan oleh
karenanya didepan nama keturunan keluarga ini terdapat
sebutan Mirza.
Tampaknya keluarga Mirza ini, pernah menjadi pembantu setia
pemerintah kolonial Inggris di India. Jauh sebelum itu,
keluarga tersebut sudah menjalin kerja sama yang erat dengan
pimpinan kaum Sikh, Ranjat Singh.5 Dengan demikian, tidak
pelak lagi jika aliran Ahmadiyah bersikap kooperatif dengan
pemerintah Inggris. Tentunya sikap kooperatif tersebut,
berbeda dengan sikap kooperatif yang dijalankan oleh Sayyid
Ahmad Khan, sekalipun keduanya sama-sama mendapat reaksi
keras dari ummat Muslim India. Apabila Ahmad Khan
menginginkan agar ummat Muslim bisa memperoleh kemajuan dan
kesuksesan sebagaimana yang dicapai oleh bangsa Eropa,
dengan mendirikan Universitas Aligarh, maka Mirza Ghulam
Ahmad dengan Ahmadiyahnya ingin mendapat perlindungan secara
politis, sehingga ia bebas menyebarkan ide kemahdiannya dan
dapat mempertahankan aliran yang didirikannya.
Disamping itu, pendiri Ahmadiyah juga ingin melestarikan
tradisi keluarganya yang telah lama menjalin hubungan mereka
dengan pemerintah Inggris, sebagaimana pernyataan Mirza
Ghulam Ahmad sendiri:
"Sungguh sejak masa mudaku sampai hari ini, aku dalam usia
60 tahun, aku menjadi orang yang gigih berjuang dengan lisan
dan penaku supaya aku dapat memalingkan keikhlasan hati kaum
Muslimin kepada pemerintah Inggris karena kebaikannya, dan
bersikap lunak kepadanya. Dan aku mengajak mereka, agar
mereka menghilangkan pikiran untuk berjihad (terhadap
Inggris), dimana pikiran seperti itu masih diikuti oleh
sebagian mereka yang bodoh-bodoh, dan pikiran semacam itulah
yang mencegah mereka tidak mau patuh kepada pemerintah
Inggris."6
Demikian pula halnya dengan pernyataan Basyiruddin Mahmud
putera Mirza Ghulam Ahmad, yang sewaktu Putera Mahkota
Kerajaan Inggris berkunjung ke India, menyatakan:
"Kami atas nama seluruh warga Ahmadiyah mengucapkan Selamat
datang atas kunjungan Tuan ke India, dan kami tegaskan
kepada Tuan bahwa warga Ahmadiyah adalah setia kepada
pemerintah Inggris. Dan insya'allah kesetiaan warga
Ahmadiyah ini akan tetap untuk selama-lamanya."7
Dalam perjalanan hidupnya, pendiri aliran ini pernah
mendapat pendidikan dasar di kampung sendiri, kemudian ia
meneruskan pelajarannya di kota Batala dekat kota Qadian.
Sewaktu mudanya, ia diasuh sendiri oleh ayahnya dalam
mengurus tanah pertaniannya, kemudian ia menjadi pegawai
pada pemerintah Inggris di Sialkot sejak 1864-1868.
Disamping pekerjaan sehari-harinya, sisa waktu yang ada, ia
pergunakan untuk membaca al-Quran. Selama di Sialkot,
demikian Maulana Muhammad 'Ali, ia pernah terlibat dalam
suatu persengketaan dengan kaum misionaris Kristen dan
sesudah empat tahun tinggal disana, ia dipanggil pulang oleh
ayahnya untuk bertani. Karena merasa tidak cocok dengan
pekerjaan tersebut, maka sebagian besar waktunya
dipergunakan untuk mempelajari al-Quran. Di saat yang sama,
ia lebih suka menyepi daripada mengejar keduniaan. Kematian
ayahnya, merupakan babak baru dalam sejarah hidupnya,
sekarang ia lebih banyak mencurahkan perhatiannya kepada
Islam. Tampaknya ia mulai tertarik pada pergerakan kaum
Hindu, Arya Samaj yang merupakan tantangan baginya serta
mendorongnya untuk menulis beberapa artikel keagamaan, guna
menentang kepercayaan dan pemimpin Hindu dalam berbagai
media cetak.
Semangat pembaharuan al-Mahdi Ahmadiyah ini, muncul setelah
ia melihat kemunduran Islam dan ummat Muslim di satu pihak,
dan gencarnya serangan-serangan kaum Arya Samaj, dan kaum
misionaris Kristen terhadap Islam di pihak lain. Karenanya
ia merasa terpanggil untuk mengadakan pembaharuan dalam
masyarakat. Pada awal kegiatannya, ia diterima oleh
masyarakat luas termasuk dari kalangan masyarakat Islam
ortodoks. Akan tetapi, sesudah Mirza menyatakan menerima
wahyu dan telah diangkat oleh Tuhan sebagai al-Masih dan
al-Mahdi, masyarakat berbalik memusuhi dan menghinanya.8
Bagi kaum Ahmadiyah, Mirza Ghulam Ahmad adalah realitas 'Isa
al-Masih dan al-Mahdi yang dijanjikan kemunculannya di akhir
zaman. Keyakinan ini mereka jadikan sebagai prinsip akidah
dan sekaligus merupakan ciri khas teologi aliran tersebut.
Untuk menopang kebenaran keyakinan itu, mereka menggunakan
ayat-ayat al-Quran yang berkaitan dengan tanda-tanda hari
kiamat, dan mereka tafsirkan sesuai dengan paham mereka.
Demikian pula dengan hadis-hadis Nabi, terutama hadis-hadis
yang berhubungan dengan turunnya 'Isa al-Masih dan
hadis-hadis Mahdiyyah yang relevan dengan prinsip keyakinan
diatas, yang mereka tafsirkan dan sesuaikan dengan
peristiwa-peristiwa alamiah. Selain itu, untuk memperkuat
signifikansi keyakinan tersebut, mereka juga menggunakan
ramalan-ramalan yang mereka sebut sebagai ramalan orang suci
atau wali.
Sebagai contoh yang cukup menarik dikemukakan di sini, ialah
bahwa diantara tanda-tanda kehadiran al-Mahdi adalah
terjadinya dua gerhana di bulan Ramadan, dan belum pernah
terjadi sejak penciptaan langit dan bumi. Pertama gerhana
bulan di malam permulaan bulan Ramadan, dan kedua, gerhana
matahari di pertengahan bulan tersebut. Menurut kaum
Ahmadiyah, dua peristiwa alamiah yang dinyatakan dalam hadis
riwayat al-Daraqutni, benar-benar telah terjadi di daerah
Punjab, India, dimana Mirza Ghulam Ahmad dilahirkan.
Kejadian gerhana yang aneh ini, menurut pendapat mereka,
terjadi pada hari Kamis 13 Ramadan 1311 H/22 Maret 1894 M,
sedangkan gerhana matahari terjadi pada hari Jum'at 28
Ramadan 1311 H/6 April 1894 M. Dua peristiwa ini merupakan
tanda-tanda alamiah tentang kebenaran pengakuan Mirza
sebagai al-Mahdi dan al-Masih.9 Demikian menurut keyakinan
Ahmadiyah. Sebagai pengikutnya, Saleh A. Nahdi mengomentari
hadis yang menyatakan: "... Bila kamu melihat di sebelah
Timur api berkobar selama tiga atau tujuh hari lamanya, maka
harapkanlah kelapangan bagi ummat Muhammad." Api yang
berkobar di sebelah Timur diartikan sebagai gunung Krakatau
yang meletus tahun 1883.10 Dengan demikian, kehadiran
pendiri aliran ini menurut keyakinan pengikutnya telah
diramalkan oleh Rasulullah, kemudian mereka interpretasikan
secara rasional dan untuk menguatkan alasan-alasan mereka,
dikemukakan pula sebuah hadis riwayat Abu Nu'aim dari Abu
Bakr ibn Muqri:
"Al-Mahdi akan muncul dari sebuah kampung bernama Karimah."
Dalam keterangan lain menyebutkan, tempat munculnya al-Mahdi
adalah kampung Kadi'ah atau disebut juga dengan nama
Kara'ah.11 Nama-nama tersebut menunjukkan tidak jelasnya
tempat di mana al-Mahdi akan muncul, sehingga siapa saja
dapat menafsirkannya sesuai dengan keinginannya.
Menurut paham pengikut Ahmadiyah, al-Mahdi yang dimaksud
dalam hadis-hadis Mahdiyyah, bukanlah berasal dari Mekkah
atau Madinah, akan tetapi dari Persia yang tidak ada
hubungannya sama sekali dengan keturunan Rasulullah. Kalau
pun al-Mahdi itu harus dari Ahlul-Bait, maka yang
dimaksudkan tidaklah ia mesti mempunyai hubungan darah
dengan Nabi, akan tetapi boleh jadi ia seorang yang saleh,
taat, dan setia kepada Nabi, seperti yang ditunjukkan oleh
Salman al-Farisi sebagai yang diisyaratkan hadis Nabi dalam
al-Jami'us-Sagir: "Salman termasuk (keluarga) kami
Ahlul-Bait. Walhasil, demikian Maulana Muhammad Sadiq
menegaskan, hadis yang menerangkan bahwa Mahdi di akhir
zaman itu berasal dari kalangan Ahlul-Bait, hanyalah
menyatakan bahwa dia seorang yang sangat setia dan taat
kepada Nabi.12 Sekalipun dia bukan berasal dari keturunan
Nabi atau bukan bangsa Arab, tetapi dia seorang yang saleh
dan setia kepada Allah dan Rasul-Nya sebagai yang
ditunjukkan oleh Mirza, maka menurut paham aliran ini,
dialah al-Mahdi yang dijanjikan oleh Nabi. Oleh karena itu,
didalam masalah kemahdian, tentunya kaum Ahmadiyah cenderung
menolak hadis-hadis Mahdiyyah yang dipegangi oleh kaum
Syi'ah.
Pertumbuhan dan perkembangan Ahmadiyah pada dasarnya dapat
dibagi dalam tiga fase, yaitu fase kebangkitan, fase
perpecahan, dan fase perluasan daerah pengaruhnya.
A. FASE KEBANGKITAN (1880 -1900)
Pada fase ini, Mirza Ghulam Ahmad sebagai pendiri aliran
Ahmadiyah, mulai aktif menangkis serangan-serangan kaum
propagandis Hindu dan kaum misionaris Kristen terhadap
Islam. Disamping itu, ia juga aktif berdakwah dengan
mengadakan pembaharuan pemahaman keagamaan di kalangan
masyarakat luas. Sudah barang tentu, keyakinan dan ajaran
Islam yang didakwahkannya tidak jauh berbeda dengan apa yang
dikenal dan diketahui oleh ummat Muslim pada umumnya. Dalam
hubungan ini, al-Maududi menjelaskan, bahwa Mirza dalam
1880, pernah menyatakan dirinya sebagai Wali Allah yang
paling utama bagi ummat saat itu, sehingga mengundang reaksi
yang cukup keras, kemudian ia kembali meredam kemarahan
mereka. Ia berusaha menakwilkan pernyataannya itu, agar
mereka dapat menerima penjelasannya akan kebenaran apa yang
diyakininya itu.13
Timbulnya reaksi keras tersebut amatlah mungkin, karena
pernyataannya yang dipandang aneh oleh masyarakat yaitu,
bahwa untuk membangun suatu ummat yang telah mengalami
kemunduran sebagaimana yang ia hadapi waktu itu masih
diperlukan wahyu Tuhan (yang baru). Oleh karena itu, ia
menyatakan bahwa wahyu itu tidak terbatas dimasa lampau
saja, tetapi Tuhan tetap berfirman kepada siapa saja yang
dipilih-Nya sampai hari ini. Selain itu, disaat yang sama,
ia pun menyatakan bahwa dirinya adalah Mujaddid atau
renovator abad ke-14 H, karena ia merasa telah ditunjuk oleh
Tuhan untuk mempertahankan Islam.14 Di tahun itu pula
pernyataan-pernyataannya yang mengejutkan itu dikumpulkannya
sendiri menjadi sebuah buku dan baru diterbitkan di tahun
1884 yang dikenal dengan Barahin Ahmadiyah. Dalam buku ini
dibicarakan pula tentang kebenaran Islam yang lebih bersifat
apologis terutama berupa tangkisan-tangkisan Mirza Ghulam
Ahmad terhadap serangan-serangan kaum Arya Samaj, Brahmo
Samaj, dan kaum misionaris.
Dalam merealisasikan ide pembaharuannya, Mirza di awal
Desember 1888, dengan cara terang-terangan menyatakan
dirinya telah mendapat perintah dari Tuhan untuk menerima
bai'at dari jamaatnya. Dengan cara ini, rupanya ia ingin
menghimpun suatu kekuatan yang dapat menopang misi dan
cita-cita kemahdiannya guna menyerukan Islam ke seantero
dunia. Menurut keyakinannya, mempertahankan dan
mempropagandakan Islam tidak akan berhasil tanpa suatu
organisasi yang kuat. Untuk maksud yang terakhir ini, ia
memerlukan bai'at atau janji setia dari para pengikutnya.
Sesudah diadakan pembai'atan, ia mengorganisasikan mereka
menjadi suatu aliran baru dalam Islam dengan nama Jemaat
Ahmadiyah.
Nama Ahmadiyah, tampaknya bukan diambil dari nama pendiri
aliran ini, akan tetapi menurut Mirza nama tersebut diambil
dari salah satu nama-nama Rasulullah,15 demikian penjelasan
Maulana Muhammad 'Ali. Tentunya nama tersebut diambil dari
Surah as-Saf: 6, yang isinya memuat informasi Nabi 'Isa
kepada Bani Isra'il, bahwa sesudahnya nanti akan datang
seorang nabi yang bernama Ahmad. Anehnya, Mirza sendiri
kemudian mengklaim nama sebagai yang disebutkan dalam
as-Saf: 6 tersebut, adalah dirinya yang diutus oleh Tuhan
untuk menunaikan tugas kemahdiannya.
Adapun pernyataan Mirza yang mengejutkan dan sekaligus
mengundang reaksi keras adalah sebagai berikut:
"Di antara beberapa pengajaran dan pemahaman yang diberikan
kepadaku (oleh Tuhan), ialah bahwa al-Masih ibn Maryam itu
telah wafat secara alamiah seperti wafatnya para rasul lain.
Dan Tuhan telah memberitahukan kepadaku (dengan firman-Nya);
"Bahwa al-Masih dan al-Mahdi yang dijanjikan dan
ditunggu-tunggu itu adalah engkau (Mirza) dan Kami (Allah)
melakukan apa yang Kami kehendaki, dan janganlah engkau
tergolong orang-orang yang membuat kedustaan" . Allah
berfirman lagi: "Sungguh Kami (Allah) menjadikan engkau
sebagai al-Masih ibn Maryam." Maka Allah pun melimpahkan
keindahan rahasia-Nya dan menjadikan aku dapat melihat
masalah-masalah yang sekecil-kecilnya."16
Pengakuan sebagai al-Mahdi dan sekaligus merupakan
penjelmaan 'Isa al-Masih. yang menerima wahyu secara
berulang-ulang dan berkesinambungan, demikian Mirza, adalah
merupakan pengalaman rohaniah yang menenangkan hatinya. Akan
tetapi, justru pengakuan tersebut menggelisahkan ummat
Islam, sehingga ia dan para pengikutnya dituduh sebagai
pembawa bid'ah dan karenanya mereka dikucilkan dari
komunitas Muslim dan bahkan dipandang telah keluar dari
Islam.
Dari kenyataan diatas, aliran yang baru lahir ini harus
menghadapi gelombang permusuhan yang dahsyat terutama dari
intern ummat Muslim sendiri, disamping ia harus menghadapi
tantangan dari kaum misionaris Kristen dan para propagandis
Hindu. Terpisahnya kaum Ahmadiyah dari komunitas Muslim,
mendorong pendiri aliran ini memikirkan nasib para
pengikutnya yang dikenal dalam masyarakat sebagai golongan
Mirzais atau Qadianis, dan sudah dapat dipastikan bahwa
mereka akan menjadi suatu kelompok aliran baru dalam Islam.
Nama "Ahmadiyah," oleh Mirza diumumkan penggunaannya secara
resmi pada tanggal 4 November 1900, dan sejak itulah nama
aliran ini dimasukkan dalam catatan resmi pemerintah
kolonial Inggris.
B. FASE MENGHADAPI UJIAN (1900-1908)
Jemaat Ahmadiyah sebagai suatu wadah dan sarana perjuangan
untuk mengembangkan ide kemahdian dan mencapai cita-citanya,
mulailah para pengikut aliran ini secara terang-terangan di
tahun 1900, mendakwahkan Mirza Ghulam Ahmad sebagai "nabi"
dan menghormatinya seperti layaknya seorang rasul Tuhan.
Dalam hubungan ini al-Maududi menjelaskan bahwa salah
seorang propagandisnya, Maulawi 'Abd al-Karim menyatakan
dalam khutbah Jumatnya sebagai berikut:
"Ketahuilah olehmu, bahwasanya kamu sekalian jika tidak
patuh kepada al-Masihul-Mau'ud (Mirza Ghulam Ahmad) mengenai
apa saja yang kalian perselisihkan, dan tidak mengimaninya
sebagaimana para sahabat mengimani Rasulullah SAW, maka
kalian tergolong orang-orang yang memisahkan diri dari Rasul
Allah dan bukan pengikut Ahmadiyah."17
Selanjutnya ditambahkan bahwa Mirza membenarkan pernyataan
tersebut, namun ia sendiri tidak mengaku sebagai nabi
sebagai yang didakwahkan oleh Mubalignya. Sekalipun
demikian, tampaknya ia mencoba menjelaskan kepada orang
banyak, tentang kenabian yang dimaksudkan oleh juru
dakwahnya. Adapun istilah "nabi" yang dimaksud adalah
an-Nabiyyun-Naqis atau an-Nabiyyul-Muhaddas. Tampaknya sikap
seperti inilah yang menjadi salah satu faktor penyebab
terpecahnya aliran ini menjadi dua golongan, sesudah
pendirinya wafat.
Dalam perkembangan selanjutnya, terjadilah pergeseran akidah
pada diri Mirza Ghulam Ahmad sesudah tahun 1901. Sehubungan
dengan masalah ini, al-Maududi menjelaskan bahwa Mirza dalam
beberapa tulisannya telah menyatakan kenabian dan
kerasulannya dengan menggunakan term tersebut di atas.
Selanjutnya dijelaskan bahwa seorang Qadiani bernama
Jalalud-Din Syam dalam bukunya Ma'al-Munkirin-Nubuwwah,
menerangkan bahwa Mirza sebelum tahun 1901, dalam berbagai
tulisannya mengingkari kenabian dirinya dengan mengatakan:
Aku bukan nabi tetapi aku adalah Muhaddas (orang yang diajak
berdialog oleh Tuhan). Akan tetapi sesudah tahun itu, Mirza
menegaskan bahwa dirinya adalah nabi. Pengakuannya ini
dijelaskan pula oleh puteranya, Basyiruddin Mahmud Ahmad,
bahwa ayahnya tidak lagi berpegang pada akidahnya semula
(sebelum tahun 1901) dan tahun itu adalah merupakan masa
pergeseran dari akidahnya yang lama kepada akidahnya yang
baru (mengaku sebagai nabi).18
Dalam kegiatan dakwahnya di tahun 1904, ia pun mengaku tidak
hanya sebagai al-Masih dan al-Mahdi yang dijanjikan, tetapi
ia juga mengaku sebagai Krishna. Ia merintis usahanya
melalui majalah bulanan berbahasa Inggris seperti Review of
Religions from Qadian, sebagai media yang dianggap banyak
menarik orang-orang Barat dengan mendapat tantangan melalui
berbagai mass media. Memang yang menjadi misi kemahdiannya
di berbagai negeri di Barat adalah untuk meluruskan
pandangan mereka yang keliru terhadap Islam. Rencananya ini
lebih lanjut dikembangkan oleh pengikutnya sesudah ia wafat.
Kemudian di tahun 1912 didirikan misi Islam di Inggris,
sedangkan di Jerman Barat didirikan pada tahun 1922.19
Keinginan menyebarkan ide kemahdiannya di Eropa ini, telah
ia canangkan dalam karyanya Nurul Haq yang ditulis dua tahun
sesudah ia mengaku sebagai al-Masih dan al-Mahdi yang
dijanjikan.
Disamping keberhasilan yang dicapai juga tidak ringan
tantangan yang dihadapinya dalam mewujudkan ide
pembaharuannya, terutama tantangan dari intern ummat Islam.
Lahirnya tantangan yang sengit ini adalah disebabkan oleh
pembaharuan yang dimajukan Mirza, sangat kontradiktif dengan
akidah yang telah dimiliki oleh ummat Islam yaitu masih
adanya nabi sesudah Nabi Muhammad SAW. Apapun argumen yang
dimajukannya, hal itu sulit dapat diterima oleh mayoritas
ummat Islam. Akibat perbedaan yang prinsipal ini, lahirlah
permusuhan dan fitnahan, sehingga terjadi saling
mengkafirkan antara satu dengan lainnya. Permusuhan ini
kemudian diikuti oleh tindakan pemutusan hubungan
kekeluargaan antara pengikut Ahmadiyah dengan Muslim lain
yang non-Ahmadiyah. Keadaan ini rupanya tidak jauh berbeda
dengan peristiwa yang pernah menimpa ummat Islam Indonesia,
yaitu antara pengikut Islam Jama'ah dengan mereka yang bukan
pengikut Islam Jama'ah. Dalam hubungan ini, Maulana Muhammad
'Ali menggambarkan, bahwa kekerasan dan permusuhan yang
dialamatkan kepada aliran yang baru lahir itu, tampaknya
mereka tidak mendapat pembelaan dari siapa pun. Mereka
dikucilkan melalui fatwa-fatwa Ulama, perkawinan dengan
mereka dipandang tidak sah dan barang-barang milik mereka,
halal dirampas tanpa dapat dituntut di pengadilan. Akan
tetapi, mereka tetap tabah dan berdiri tegar menghadapi
ujian yang datang dan golongan Islam, Hindu, dan Kristen
itu. Golongan Hindu dipimpin oleh Pandit Lekhram, 'Abdullah
Atim dari golongan Kristen, dan Maulana Muhammad Husain dari
Batala mewakili golongan 'Ulama Hadis dari kelompok Hanafi,
Sunni, dan Syi'ah.20
Dalam menghadapi ujian ini Mirza menyatakan:
"Celakalah kaumku! Sungguh mereka tidak mengenalku, mereka
mendustakan, mencaci-maki, mengkafirkan, serta melaknatiku
sebagai yang dilakukan oleh orang-orang kafir."21
Dalam aktivitasnya mempropagandakan tugas kemahdiannya di
kalangan kaum Hindu di tahun 1904, ia pun mengatakan, bahwa
dia diutus oleh Tuhan, tidak hanya untuk orang Islam dan
Kristen, tetapi juga untuk orang-orang Hindu. Disaat itulah
Mirza menyatakan dirinya sebagai Krishna. Dengan demikian,
sifat kemahdian Ahmadiyah ini tampak jangkauannya lebih luas
daripada sifat kemahdian Syi'ah. Sebelum ia wafat di tahun
1905, ia berwasiat pada pengikutnya, agar dibentuk suatu
masyarakat yang disebut sebagai Sadar Anjuman Ahmadiyah.
Selanjutnya ia pun menunjuk penggantinya yang kemudian
diistilahkan sebagai khalifahnya.
Setelah Mirza merasa sudah dekat ajalnya, ia menyerahkan
tugas kemahdiannya kepada penggantinya yang masih muda
usianya, untuk menyebarkan kebenaran Islam yang telah
didakwahkannya, dan dua tahun kemudian, Mirza masih sempat
menulis buku seperti Haqiqat al-Wahyi, Barahin Ahmadiyah
bagian ke 5, dan Chashmah Ma'rifah dan lain sebagainya. Ia
pada akhir April 1908, pergi ke Lahore dan disana ia
menyelesaikan bukunya terakhir ini dimaksudkan untuk
menjalin hubungan persaudaraan antara orang-orang Hindu dan
Islam. Ia menderita sakit diare yang kronis, dan pada 26 Mei
1908, ia menghembuskan nafas terakhir dan jenazahnya
dimakamkan di Qadian.22 Dalam hubungan ini al-Maududi
menjelaskan bahwasanya Milza Ghulam Ahmad adalah seorang
yang banyak menderita berbagai macam penyakit, sebagaimana
yang dicentakan lewat tulisan-tulisan Mirza sendiri dan para
pengikutnya.23
Dalam kegiatan dakwahnya, aliran Ahmadiyah ini tampaknya
cukup mendapat sambutan di kalangan masyarakat Kristen di
Barat yang sedang dilanda oleh krisis spiritual di satu
pihak, dan di pihak lain masyarakat Barat yang telah
memperoleh kemajuan berpikir dan tidak loyal lagi terhadap
Gereja, karena ajarannya yang dogmatis dan sulit mereka
cerna itu. Hal ini mengingatkan kita pada keberhasilan
aliran Baha'i di Eropa dan Amerika Serikat di bawah pimpinan
'Abb-as Afandi yang memfokuskan kegiatan propagandanya di
kalangan Kristen dan Yahudi, sesudah aliran ini gagal
mempengaruhi ummat Islam.
C. FASE PERPECAHAN DAN PENGEMBANGAN (1908-1924)
Keutuhan dan kesatuan Ahmadiyah, rupanya hanya terbatas pada
masa hidup pendirinya, Mirza Ghulam Ahmad, sekalipun aliran
ini harus bekerja sesuai dengan wasiatnya yang ada pada Sadr
Anjuman Ahmadiyah. Pimpinan Ahmadiyah yang diistilahkan
dengan "khalifah" sesudah Mirza wafat, adalah di tangan
Maulawi Nuruddin sampai wafatnya tahun 1914. Selama itu
Ahmadiyah sebagai gerakan Mahdi telah memperoleh kemajuan
pesat dan mulai dikenal di kalangan ummat Islam secara luas.
Akan tetapi, bibit perpecahan di kalangan pengikutnya pada
saat itu sudah mulai tampak, yaitu munculnya dua pemikiran
yang bertolak belakang. Dimana pemikiran pertama berkisar
tentang masalah khalifah (pengganti pimpinan), sedangkan
pemikiran kedua berkisar pada masalah pengkafiran terhadap
sesama Muslim.
Pemikiran pertama, erat hubungannya dengan masalah manajemen
pengorganisasian Ahmadiyah sebagai gerakan Mahdi yang
memiliki jangkauan luas, baik di kalangan Muslim sendiri
maupun non-Muslim. Tampaknya pemikiran ini menjadi salah
satu faktor penyebab perpecahan dari dalam. Dan pada
pemikiran kedua, tidak hanya berkaitan dengan doktrin
Mahdiisme Ahmadiyah saja, akan tetapi juga berhubungan
dengan prinsip-prinsip Islam. Pemikiran kedua ini rupanya
merupakan sebab utama perpecahan di kalangan Ahmadiyah,
terutama sesudah Maulawi Nuruddin wafat. Dalam kaitan ini,
Maulana Muhammad 'Ali menjelaskan, bahwa golongan pertama
mempertahankan keyakinannya yaitu: Barang siapa yang tidak
percaya kepada Mirza Ghulam Ahmad, apakah ia telah mendengar
namanya atau tidak, apakah ia (Mirza) sebagai Muslim, atau
Mujaddid, atau sebagai al-Masih dan al-Mahdi yang
dijanjikan, maka orang itu, dihukumi kafir dan keluar dari
Islam, kecuali mereka secara formal telah membai'atnya.
Golongan kedua berpendapat, bahwa setiap orang yang telah
mengucapkan dua kalimah syahadah, mereka adalah seorang
Muslim, sekalipun mereka mengikuti aliran lain dalam Islam,
dan tak seorang pun dari mereka keluar dari Islam, kecuali
jika ia rnengingkari kerasulan Nabi Muhammad. Adapun masalah
kenabian Mirza Ghulam Ahmad, masih tetap merupakan masalah
yang dipertentangkan diantara kedua golongan tersebut.24
Sikap para pengikut Mirza ini tampak lebih agresif daripada
sikap pendiri aliran tersebut, sebab dia tidak suka
mengkafirkan Muslim lain, kecuali kalau dirinya dikafirkan
Muslim lain, kecuali kalau dirinya dikafirkan secara
terang-terangan, sebagaimana dinyatakan:
"... Maka mereka telah mengkafirkan aku dan mereka telah
pula memfatwakan yang demikian itu untuk diriku maka, dengan
pengkafiran mereka terhadap diriku, jadilah mereka itu
tergolong orang-orang kafir, berdasarkan pada fatwa Nabi
Muhammad SAW. Oleh sebab itu, aku tiada mengkafirkan mereka,
bahkan mereka sendirilah yang memasukkan diri mereka ke
dalam fatwa Rasulullah".25
Sejak munculnya dua pendapat yang kontoversial dari intern
Ahmadiyah ini, maka secara riilnya di tahun 1914,
terpecahlah aliran ini menjadi dua sekte. Pertama adalah
sekte Ahmadiya Qadiani, yang dalam ajarannya mencela Muslim
lain sebagai kafir, dan sekte ini berkeyakinan bahwa
kenabian tetap terbuka sesudah RasuBullah SAW. Sekte ini
dipimpin oleh Basyiruddin Mahmud Ahmad. Kelompok ini
berpandangan bahwa Mirza Ghulam Ahmad tidak hanya sebagai
Mujaddid (pembaharu) saja, tetapi juga sebagai nabi dan
rasul yang harus ditaati dan dipatuhi seluruh ajarannya.
Dengan demikian, Mahdiisme Ahmadiyah lebih realistis
daripada Mahdiisme Syi'ah Isna 'Asyariyyah, sekalipun
keduanya masih tetap bertahan sampai hari ini.
Terpilihnya Basyiruddin Mahmud sebagai Khalifah al-Mahdi
yang kedua, tampaknya tidak mendapat dukungan penuh dari
seluruh Jemaat Ahmadiyah, di saat yang sama, maka muncullah
Ahmadiyah tandingan yang disponsori oleh Khawaja Kamaluddin
dan Maulawi Muhammad 'Ali yang tidak menyetujui pendirian
prinsip golongan pertama yang kemudian dikenal sebagai
golongan Qadiani.
Adapun golongan kedua, dikenal sebagai Ahmadiyah Lahore,
yang disebut pula dengan Ahmadiyah Anjuman Isha'at Islam,
sedangkan di Indonesia, golongan ini dikenal dengan Gerakan
Ahmadiyah Indonesia (GAI); Untuk pertama kalinya golongan
ini dipimpin oleh Maulawi Muhammad 'Ali. Syafi R. Batuah
sebagai pengikut sekte Qadian berpendapat, bahwa lahirnya
sekte Ahmadiyah Lahore ini adalah bermula dari kegagalan
Maulawi Muhammad 'Ali dalam mencapai ambisinya untuk menjadi
Khalifah kedua. Oleh sebab itu, ia dan pengikutnya
memisahkan diri dan membentuk sekte baru yang berpusat di
Lahore.26 Akan tetapi, yang menjadi sebab perpecahan itu
tampaknya lebih berpusat pada masalah akidah. Sebagai
pernyataan R. Batuah sendiri bahwa jika golongan Ahmadiyah
Lahore memandang Mirza sebagai al-Masih dan al-Mahdi serta
sebagai Mujaddid, maka sekte Qadiani memandangnya, sebagai
nabi dan rasul yang harus didengar dan ditaati
ajaran-ajarannya. Alasan yang mereka majukan adalah bahwa
orang tidak mempercayai al-Masih dan al-Mahdi (Mirza),
berarti ia tidak mengikuti seluruh ajaran al-Quran serta
tidak mengindahkan pesan Nabi tentang kehadiran al-Mahdi di
akhir zaman.27
Setelah Ahmadiyah menghadapi perpecahan yang tidak mungkin
lagi dihindarkan, akhirnya gerakan Mahdiisme ini terpecah
menjadi dua aliran dan tampaknya kedua sekte tersebut sulit
dipersatukan kembali. Akan tetapi kedua sekte ini, sangat
aktif dan intensif dalam usaha mewujudkan cita-cita
kemahdiannya, terutama di kalangan masyarakat Kristen Barat.
Pengikut masing-masing sekte mendirikan mesjid-mesjid
sebagai pusat kegiatan, menterjemahkan al-Quran berikut
dengan komentar-komentarnya kedalam bahasa asing. Selain itu
mereka juga menerbitkan buku-buku tentang Islam. Golongan
Lahore di bawah pimpinan Maulana Muhammad 'Ali, menerbitkan
The Religion of Islam, sedangkan golongan Qadiani dibawah
pimpinan Basyiruddin Mahmud, menulis sebuah uraian yang
diterjemahkan kedalam bahasa Inggris dengan judul Ahmadiyah
or The True Islam, terbit tahun 1924, dan dalam
penerbitannya yang terakhir disebut dengan; 8500 Precious
Gems from World's Best Literature yang berisi
catatan-catatan dari literatur lama dan modern baik dari
Islam maupun non-Islam. Demikian pula dimuat masalah-masalah
agama dan moral. Dalam tahun 1947 komunitas Ahmadiyah yang
berpusat di Qadian, terpaksa harus memindahkan pusat
kegiatannya ke Rabwa Pakistan, sewaktu timbul masalah
perbatasan antara Pakistan dengan India.28
Disamping itu, Gerakan Mahdi Ahmadiyah tampaknya juga aktif
mendirikan berbagai lembaga pendidikan serta pusat-pusat
kesehatan di berbagai tempat di kawasan Asia dan Afrika.
Sebagaimana diketahui, Ahmadiyah masuk ke Indonesia pada
tahun 1924, dibawa oleh dua orang mubalignya yaitu Maulana
Ahmad dan Mirza Wali Ahmad, mereka memulai kegiatannya di
Yogyakarta. Setahun kemudian yaitu tahun 1925, sekte Qadian
menyusul, dibawa oleh seorang mubalignya bernama Rahmad 'Ali
H.A.O.T. dan mulai mendakwahkan ide kemahdian Mirza, di
Tapaktuan, dua tahun kemudian ia pindah ke Padang. Kedua
sekte tersebut berlomba untuk menanamkan pengaruhnya, dan
rupanya mendapat tanggapan positif dari masyarakat dan
mendapat kesuksesan dalam misinya.
