Banjarmasin Post, Selasa, 13 Maret 2007 01:15
Negeri Tragedi
Oleh: Imam Suharjo
Entah apa yang terjadi di negeri ini, bencana seakan datang silih berganti. Awal 2007
dibuka dengan bencana transportasi yang menelan banyak korban jiwa dan harta
benda, bahkan masih banyak penumpang yang sampai saat ini belum ditemukan.
Kalau kita melihat ke belakang, diawali dengan krisis ekonomi 1998, secercah
harapan menyongsong masa depan lebih cerah dengan hadirnya era reformasi
setelah tumbangnya orde baru (Orba). Tetapi ! yang ditemui adalah tragedi demi
tragedi kemanusian yang menelan banyak nyawa dan harta. Eforia yang disikapi
secara berlebihan mencabik persatuan dan nilai toleransi masyarakat Indonesia
dengan melahirkan kerusuhan SARA seperti di Maluku, Kalimantan dan Poso.
Secara simultan terjadi tsunami di Aceh dan Nias, kemudian gempa di Jogjakarta. Di
bidang transportasi publik pun tak ketinggalan dengan jatuhnya pesawat Mandala,
Lion dan beberapa kali kecelakaan kereta api. Di pentas politik, pertarungan elitnya
menyulut pertarungan antarmassa pendukung yang juga membawa korban jiwa dan
harta.
Introspeksi
Meskipun tidak terlalu relevan mengaitkan banyaknya bencana yang terjadi dengan
perilaku hidup masyarakat, tidak salahnya Bangsa Indonesia khususnya muslim
sebagai pemeluk Islam terbesar di Indonesia untuk introspeksi diri. Mulai dari
pemimpin formal dan nonformal sampai masyarak! at biasa, merenungkan kembali
perilaku hidup selama ini yang mungkin tidak sesuai tuntunan agama.
Implementasi dari bentuk pernyataan kita terhadap keesaan Allah adalah shalat yang
diawali takbiratul ikram dan diakhiri dengan salam. Realisasi dari dua rukun shalat ini,
benarkah sudah dilaksanakan sebagaimana mestinya. Seringkali kita menganggap,
selain Allah masih ada yang besar seperti kekuasaan, jabatan, kekayaan yang
akhirnya menjadi tujuan utama hidup. Sudahkah salam yang diucapkan ke kanan dan
kiri saat mengakhiri shalat, kita aplikasikan pada kehidupan sehari-hari. Mulut
mengucapkan salam (keselamatan) tetapi tindakan kita malah sebaliknya membuat
kerusakan, ketidakadilan dan ancaman baik pada alam ataupun manusia lain.
Benarkah puasa sebagai bentuk kepatuhan atas perintah Allah sudah menjadikan kita
termasuk orang yang bertakwa, ataukah puasa kita tak lebi! h dari memindahkan jam
makan minum tanpa memberi implikasi pada perubahan perilaku.
Zakat sebagai wujud terima kasih kita atas rizki yang diberikan Allah, sudahkah kita
keluarkan sesuai perintah agama atau sekadar zakat fitrah yang nilainya hanya ribuan
rupiah. Itu pun dikeluarkan karena rasa takut tidak diterimanya pahala puasa kita
yang sebetulnya sudah amburadul. Sepertinya kita masih beribadah dengan orientasi
hanya pada pahala.
Bentuk ketaatan terakhir adalah melaksanakan ibadah haji. Sudahkah kita
memahami pelajaran dan hikmah selama melaksanakan ibadah haji, ataukah pulang
sekadar membawa predikat haji beserta atributnya untuk kemudian dijadikan bahan
pameran tanpa mampu menunjukkan kesalehan sebagai orang yang terpilih untuk
memenuhi panggilan Ilahi.
Inkonsistensi ritual ibadah dengan perilaku hidup dapat dilihat dengan masih
banyaknya korupsi, kerusakan lingkungan akibat peti maupun illegal logging,
pergaulan bebas, narkoba, kerusuhan, kemiskinan, kebohongan dan bentuk
kerusakan lain yang terasa semakin semarak di negara berpenduduk Islam terbesar
di dunia ini. Akibat inkonsistensi dalam beragama, janganlah membuat kita termasuk
orang fasik atau munafik.
Perilaku Islam
Secara ilmiah, wilayah Indonesia memang termasuk dalam lingkaran api (ring of fire)
yang terdapat banyak daerah patahan bumi sehingga sering mengakibatkan gempa.
Secara logika dinyatakan, umur armada sangat menentukan tingkat keselamatan
transportasi. Yang terjadi di Indonesia ternyata menghapus anggapan itu. Kecelakaan
Garuda membuktikan, pesawat baru tak lebih aman dari armada lama. Bencana alam
tidak selalu berwujud gempa. Mungkin semua bencana di negeri ini merupakan
peringatan Allah sebagai wujud kasih sayang Nya, agar kita kembali ke jalan yang
benar.
Indonesia memerlukan orang-orang berperilaku islami, bukan simbol Islam yang
ditegakan melalui aturan syariah yang tak konsisten dijalankan kecuali hanya untuk
kepentingan tertentu. Penegakan simbol Islam yang demikian, tidak mencerahkan
sinar Islam sebagai agama rahmatan lil alamin (rahmat bagi seluruh alam). Tetapi
sebaliknya, memperburuk citra Islam. Bahkan pengultusan simbol tersebut dapat
memicu sikap diskriminasi dan perpecahan sesama umat.
Mulai saat ini marilah kita bulatkan tekat, mantapkan niat untuk berjihad melawan
hawa nafsu menuju kehidupan yang benar sehingga Ibu Pertiwi tidak lagi bersusah
hati.
e-mail: ims_wiraarya@yahoo.com
Copyright © 2003 Banjarmasin Post
|