Banjarmasin Post, Kamis, 22 Maret 2007 04:03
Petani Simpan 500 Kg Bom
Solo, BPost. Aksi teror masih mengancam rakyat Indonesia. Ini terbukti dengan
disitanya ribuan butir amunisi, senjata dan setengah ton bahan peledak milik seorang
petani yang diduga anggota jaringan teroris di Dusun Pancasan, Desa Toriyo
Bendosari, Sukoharjo, Jateng, Rabu (21/3).
Adalah Sikas yang diduga menjadi pemilik amunisi, senjata dan bahan peledak itu.
Benda-benda berbahaya tersebut disembunyikan dalam bunker, yang terletak di
dapur rumahnya.
Kapolwil Surakarta Kombes Pol Yotje Mende, menjelaskan, di bunker tersebut
ditemukan 2009 butir amunisi senjata jenis AK, satu unit senjata api AR organik, satu
unit senjata api rakitan laras panjang, satu unit revolver rakitan, 200 detonator aktif,
TNT 20 kg low explosive, 12 buah pelontar granat dan 500 kg potasium klorat.
Penggerebekan oleh Densus 88 Mabes Polri ini mengejutkan para tetangga. Selama
ini mereka mengenal Sikas sebagai petani biasa. Namun, seorang warga bernama
Yoso (62) mengatakan, Sikas dikenal sebagai takmir masjid di Desa Toriyo. Bahkan
selama 10 tahun terakhir, Sikas juga mendirikan sebuah kelompok pengajian.
"Tapi anggotanya bukan orang desa sini, mereka dari luar. Sikas juga sering
kedatangan tamu bermobil. Tapi kita tidak tahu apa tujuan mereka itu," ujar Yoso.
Sikas sudah diamankan. Namun keberadaanya tidak jelas, karena Yotje enggan
menyebutkan.Hingga malam tadi, puluhan personel polisi menjaga ketat setiap mulut
gang menuju rumah tersebut. Mereka melarang setiap orang yang mencoba
mendekati rumah Sikas.
"Tim Jihandak sudah memindahkan bahan-bahan peledak itu," ujar seorang anggota
polisi.
Amunisi, senjata dan bahan-bahan peledak itu disimpan di gudang barang bukti Polwil
Surakarta.
Dua Teroris
Sebelumnya, Selasa (20/3) malam, Densus 88 melakukan penyergapan terhadap
para pelaku aksi terorisme di seluruh Indonesia yang diduga kuat dari jaringan Abu
Dujana.
Penyergapan di depan toko Bangunan Alam Jaya, Ring Road Utara Depok Sleman itu
diwarnai baku tembak. Sayang, Abu yang diduga terlibat kasus peledakan bom
Kedubes Australia, berhasil lolos.
Densus 88 hanya berhasil melumpuhkan dua orang teroris saja. Dia adalah Supardjo
(40) yang mengalami luka tembak dan Agus Susaryo yang tewas di lokasi. Jenazah
Agus masih berada di kamar mayat RS Dr Sardjito, Jogjakarta.
Kadiv Humas Polri Irjen Pol Sisno Adiwinoto saat dikonfirmasi menegaskan polisi
terus melakukan perburuan terhadap para teroris terutama Abu Dujana.
"Beberapa tersangka lagi dibawa untuk memburu tersangka lainnya," ujar Sisno.
Kepala BIN Syamsir Siregar menambahkan tersangka teroris yang berhasil
dilumpuhkan bukan dua orang, tapi lima orang. Selain itu, Polri juga menyita senjata
M16 beserta pelurunya.
"Satu orang meninggal, satu orang lagi luka-luka dan dirawat di RS Bayangkara.
Disita juga 1 senjata M 16, 1 pistol, dan peluru M16 serta bom rakitan," ujar Syamsir.
Anehnya, Kepala Bidang Humas Polda DIJ, AKBP Budi Santosa membantah
kelompok yang dilumpuhkan Densus 88 itu para tersangka terorisme.
"Para tersangka diduga hanya terlibat kejahatan dengan tindak kekerasan," ujar Budi.
Dia mengakui Densus 88 Mabes Polri masih melakukan penyelidikan untuk mencari
saksi-saksi.
"Namun belum ada indikasi bahwa kelompok itu terlibat dalam jaringan teroris,"
ujarnya.
Tangkap Hidup
Mantan Kepala BIN Hendropriyono berharap Abu dapat ditangkap hidup-hidup.
"Kalau Abu Dujana sampai tertangkap, kita interogasi. Makanya kalau bisa
penangkapan itu hidup-hidup. Dari dia nanti banyak terungkap dan terbongkar jaringan
teroris," ujarnya.
Menurutnya, penggerebekan di Sleman jelas terkait dengan peristiwa-peristiwa
sebelumnya.
"Mereka ada di Indonesia dengan segala persiapannya sejak lama. Poso
diacak-acak, dibongkar semua jaringan mereka, mereka bubar kembali ke pusat
komando pengendalian di Jawa, khususnya Jawa Tengah dan daerah penyanggganya
Jawa Timur," ujarnya.
Setiap kali satu gerakan bawah tanah punya basis (Jateng-Jatim), daerah penyangga
(Jatim dan sekitarnya), dan daerah operasi (Poso, Ambon).
"Dulu saya lingkari Jogjakarta, Solo, dan Semarang hingga Jawa Timur. Ini analisa
dari berbagai kejadian yang sebelumnya berlangsung," ujarnya. dtc/mio/JBP/ahf
Copyright © 2003 Banjarmasin Post
|