GATRA, 22 Juni 2007
Raymond "Ongen" J.J. Latuihamallo: Seseorang Duduk dengan
Munir
"Timbangan saya turun sampai 10 kilo," kata Raymond "Ongen" J.J. Latuihamallo
seraya menarik napas panjang. Pemberitaan selama ia tak berada di Indonesia,
katanya, membuat ia bersama istri, Etha Pattinasary, 39 tahun, serta kedua putrinya,
Inri Milasari, 23 tahun, dan Sabilsa Wiara, 17 tahun, mengalami tekanan berat.
Ketidakhadirannya ketika itu membuat pemberitaan tentang Ongen menggelinding
bak bola liar. Ongen, misalnya, tak cuma dikaitkan dengan kematian Munir. Ia juga
disebut-sebut sebagai bandar narkoba dan juru tagih. Padahal, Ongen sudah empat
kali diperiksa polisi. Lelaki berambut panjang itu mengikuti pula pra-reka ulang
peristiwa terbunuhnya Munir di bandara internasional Singapura, Changi.
Setelah menghilang sekian lama, lelaki 51 tahun yang disebut-sebut sebagai saksi
kunci kasus kematian aktivis Munir itu akhirnya muncul di depan publik.
Ia tak hanya membantah semua pemberitaan miring tentangnya dalam sebuah
konferensi pers. Dengan serius, ia menyewa pengacara untuk membuat surat
bantahan yang dimuat sepanjang dua halaman majalah. Bersama pengacaranya,
Ongen juga mendatangi Dewan Pers dan minta perlindungan hukum ke Komisi III
DPR-RI.
Kepada wartawan Gatra Anthony, Ongen meluruskan kesimpangsiuran berita itu. Ia
juga bertutur tentang "persembunyian" dan pemeriksaan polisi terkait pembunuhan
Munir.
Wawancara yang berlangsung di sebuah kafe di Cilandak Town Square, Jakarta
Selatan, Sabtu sore pekan lalu, itu meleset satu jam dari janji. "Maaf, saya terlambat
karena melaksanakan ibadah," ujar Ongen.
Dalam obrolan yang berlangsung santai itu, Ongen ditemani pengacaranya, Ozhak
Emanuel Sihotang. Berikut petikannya:
Apa saja rutinitas Anda belakangan ini?
Saya merasa belum lega, aktivitas saya masih terganggu. Rutinitas saya sebagai
penyanyi dan menciptakan beberapa lagu. Saya belum bisa bikin apa-apa. Apalagi
telah dipojokkan dalam berita-berita selama ini, seolah-olah sayalah pelaku
pembunuhan Saudara Munir.
Sejak kapan Anda mulai merasa terganggu?
Sejak saya dipanggil polisi, Maret lalu. Saya juga kaget. Pada panggilan pertama
memang saya tidak hadiri karena ada pelayanan rohani di Maluku Utara. Nanti
panggilan kedua, saya hadir. Awalnya istri saya keberatan dan mengingatkan saya
jangan pergi sendiri. Saya berdoa agar mendapat kemudahan, dan saya
memberanikan diri sebagai warga negara memenuhi panggilan polisi.
Kapan itu?
Sekitar 30 Maret 2007. Ketika saya diperiksa, keluarga saya menghubungi Ozhak.
Pengacara saya menyusul datang ketika saya sedang diperiksa di Polda. Saya
diperiksa sampai tengah malam, baru disuruh pulang.
Setelah pemeriksaan itu, Anda menghilang ke luar negeri dan menghindari pers.
Saya bukan menghindar. Saya pergi ke Belanda karena ada jadwal nyanyi. Saya ke
sana untuk promosi album saya. Itu tanggal 4 sampai 20 April. Di Belanda, saya juga
mendapat kabar dari keluarga bahwa saya diberitakan hal-hal negatif. Saya tidak
mungkin langsung pulang, kegiatan saya masih banyak. Akhirnya, di Belanda juga
saya terbebani dengan pemberitaan sehingga tidak bisa bikin apa-apa. Pada saat itu,
saya tidak konsentrasi lagi bekerja di Belanda.
Kenapa tidak segera kembali ke Indonesia untuk mengklarifikasi?
Saya pikir, masih terlalu dini saya pulang, apalagi saya masih harus bekerja. Saya
juga sudah diperiksa polisi, dan saya pikir itu cukup. Karena semua sudah saya
jelaskan kepada polisi ketika saya diperiksa pertama. Tapi akhirnya saya pulang
juga, karena keluarga saya di Indonesia sangat merasa terganggu.
Anda sempat dijemput polisi dan menjalani rekonstruksi.
Memang saya sempat dibawa ke Singapura. Di situ saya menjelaskan secara detail
kepada polisi. Saya tidak tahu apakah ada anggota BIN di situ. Saya tahunya hanya
polisi yang ada. Saya jelaskan semuanya, bagaimana saya, posisi saya duduk di
kafe ketika di Bandara Changi. Katanya, itu rekonstruksi kejadian.
Bisa Anda jelaskan bagaimana kejadiannya ketika itu?
Saya sudah mulai lupa-lupa... (Ongen mengernyitkan dahi seperti sedang
mengingat-ingat). Saya hendak ke Belanda pakai pesawat Garuda. Saya memang
sudah menjadwalkan ke Belanda karena masih promosi lagu saya di sana. Saya
berangkat kira-kira pukul 21.30 dari Jakarta. Kami transit di Singapura. Karena badan
saya tidak fit, saya singgah duduk di Coffee Bean. Saya minum teh panas karena
mau minum obat sakit kepala.
Katanya, Anda duduk bersama Munir?
Saya hanya duduk sendiri. Di situ memang melihat ada Munir duduk.
Apakah Munir bersama orang lain?
Memang ada orang, saya lihat satu orang duduk dengan Munir. Saya tidak kenal
orang itu. Mereka bicara-bicara berdua tidak jauh dari tempat saya. Saya tidak bicara
dengan Munir. Kira-kira 10 menit, saya tinggalkan. Mereka masih duduk-duduk
berdua.
Apakah Anda mengenal Pollycarpus?
Saya tidak kenal. Tahu Polly dari media saja.
Anda disebut-sebut dikenalkan pada Pollycarpus dalam sebuah kebaktian.
Di kebaktian mana? Kapan? Di mana? Itu informasi mengada-ada.
Seingat Anda, apakah orang yang duduk bersama Munir itu Pollycarpus?
Itu menyangkut BAP. Saya nggak jawab deh.
Sewaktu meninggalkan kafe, ke mana tujuan Anda ketika itu?
Ya, saya menuju waiting room. Di situ, kebetulan ketemu teman lama dari Ambon
(Josep Ririmase --Red.). Saya cerita-cerita masa lalu. Tidak lama Munir lewat, saya
tegur, "Halo, apa kabar?" Munir cuma senyum. Sudah lama juga, mulai lupa-lupa juga
itu.
Jadi, Anda kenal Munir?
Saya tidak kenal, cuma tahu wajahnya karena dia public figure. Saya tidak pernah
kenalan dengan Munir. Tahunya dia sebagai aktivis.
Apa kira-kira Munir mengenal Anda?
Saya tidak tahu apakah Munir kenal saya. Sejak tahun 2000, saya jarang tampil lagi.
Di belakang layar saja.
Kapan Anda terakhir bertemu Munir?
Ya, setelah sapaan itu. Saya tidak tahu Munir terakhir ketemu lagi dengan siapa.
Saya cuma tegur Munir saja. Munir masih bersama temannya itu. Saya tidak tahu
apakah saya yang terakhir tegur atau ada orang lain. Mana saya tahu. Saya juga
tidak tahu tempat duduknya di mana.
Apakah Munir berjalan sendirian?
Ada dengan seseorang yang temani jalan. Dia duluan.
Selanjutnya?
Ya, kami semua penumpang naik pesawat. Saya duduk di belakang. Saya tidak
perhatikan Munir di pesawat, karena saya tidak punya kepentingan dengan dia.
Kapan Anda tahu Munir sudah meninggal?
Setiba di Belanda, esoknya. Pesawat landing, kami semua penumpang dikumpulkan
sebelum pergi. Saya juga tidak tahu ada apa. Kami cuma lihat-lihat. Katanya, semua
penumpang tidak boleh turun dulu. Setelah diperbolehkan turun, teman saya tadi
bilang, katanya Munir meninggal. Saya juga kaget, karena masih segar saya lihat di
Singapura, tiba-tiba sudah meninggal.
Anda disebut-sebut bergelut di dunia hitam, seperti bandar narkoba dan debt colletor
di Indonesia. Betulkah?
Saya jadi bingung juga. Bagaimana benar sampai dituduh sejauh itu.
Apakah Anda bersedia dipanggil dan diperiksa polisi lagi?
Kalau BAP-nya sudah cukup, apa lagi yang mau ditanyakan? Semua sudah saya
ceritakan. Saya sudah rekonstruksi di Singapura. Sudah empat kali diperiksa polisi.
Setelah menjelaskan semuanya kepada polisi, apakah Anda merasa masih
terbebani?
Saya ini seniman, musisi. Saya bersyukur bisa ke mana-mana. Cuma perasaan dan
trauma yang dibangun media membuat saya terganggu. Media menyudutkan saya,
membuat semua orang menuduh saya pelakunya. Media-media seperti itu hendaklah
bertanggung jawab. Tapi tidak semua media seperti itu. Saya juga berterima kasih
kepada media yang betul-betul ingin memajukan bangsa dan negara ini. Media yang
menjunjung tinggi kode etik jurnalistik.
[Hukum, Gatra Nomor 32 Beredar Kamis, 22 Juni 2007]
Copyright © 2002-04 Gatra.com.
|