Harian Analisa Online, Jumat, 22 Juni 2007
Hasil Survei: Pesantren Bukan Sarang Terorisme
Jakarta, (Analisa) - Hasil survei yang dilakukan Indo Barometer dengan waktu
pengumpulan data 11-27 Mei 2007 di 33 provinsi seluruh Indonesia menyebutkan
bahwa pesantren bukan merupakan sarang terorisme.
Dalam publikasi hasil survei di kantor Wahid Institute Jakarta, Kamis terungkap
bahwa mayoritas responden sebanyak 1.200 (seluruh agama) tidak melihat pesantren
sebagai sarang teroris.
Direktur Indo Barometer M.Qodari mengatakan, dengan ditangkapnya sejumlah
pelaku terorisme yang berlatar belakang pesantren menimbulkan asosiasi adanya
keterkaitan antara pesantren, kurikulum pesantren, dan terorisme.
"Namun mayoritas publik tidak melihat demikian. Survei menyebutkan, sebanyak
97,6 persen responden tidak setuju jika pesantren dikaitkan sebagai sarang teroris,"
katanya.
Selain itu, lanjut Qodari, sebanyak 97,9 persen menyatakan tidak setuju jika
kurikulum pesantren dinilai mengarah terbentuknya terorisme, sementara yang setuju
hanya 0,4 persen.
Qodari mengatakan, dalam penanganan masalah pesantren dalam kaitannya dengan
pemberantasan terorisme harus sangat hati-hati karena sentimen komunitas Islam
menolak sinyalemen pesanteren sebagai sumber terorisme.
Ia menjelaskan, metode penarikan sampel yang digunakan dalam survei ini adalah
multistage random sampling dengan margin of error analisa sebesar 3,0 persen pada
tingkat kepercayaan 95 persen.
Sampel ditarik dari seluruh warga negara Indonesia yang memiliki hak pilih dalam
pemilihan umum, yakni mereka yang berusia 17 tahun atau lebih, atau sudah
menikah ketika survei dilakukan.
Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara tatap muka responden
menggunakan kuesioner.
Berdasarkan survei tersebut, juga terungkap bahwa mayoritas responden setuju
bahwa terorisme berupa bom masih merupakan ancaman di Indonesia. 53,8 persen
menyatakan setuju, 32,5 persen tidak setuju, dan 13,8 tidak tahu/tidak menjawab.
"Mayoritas (71,8 persen) menyatakan tidak setuju terorisme ada hubungannya
dengan agama tertentu. Sementara yang melihat ada hubungan 13,7 persen,"
katanya.
Dalam survei tersebut, mayoritas responden 93,7 persen tidak setuju bahwa terorisme
diperbolehkan dalam ajaran Islam, sementara yang setuju 2,7 persen.
Acara publikasi hasil survei itu, dihadiri juga Direktur Wahid Institute, Zannuba Arifah
Chafsoh atau Yenny Wahid dan cendikiawan Muhammadiyah Moeslim Abdurrahman.
(Ant)
Copyright © 1998--2005 Harian Analisa Online All rights reserved
|