The Cross

 

Ambon Berdarah On-Line
News & Pictures About Ambon/Maluku Tragedy

 

 


 

 

 

Seputar Indonesia


Seputar Indonesia, Minggu, 18/03/2007

Haruskah Terbang sambil Terus Berdoa

PENGUJUNG artikel bertajuk "Safety First" di The Economist pekan lalu sangat menyindir bangsa ini. Tulis majalah itu, "hingga penegakan (aturan) tidak berjalan, orang harus terbang di Indonesia sambil terus berdoa."

Lain lagi dengan artikel Andre Vltchek "Indonesia: Natural Disasters or Mass Murder?" di IHT yang mengurai, setiap enam hari setidaknya terjadi kecelakaan kereta api di Indonesia. Sebagai perbandingan, Malaysia tidak pernah punya kecelakaan KA fatal selama 13 tahun terakhir dari 2005. Tingkat keamanan penerbangan di Indonesia pada 2007 disebut Ascend,firma konsultasi penerbangan global,lebih buruk dari rata-rata negara Afrika.

Kesimpulan ini muncul berdasarkan jumlah penumpang yang tewas setiap periode penerbangan yang dihitung. Tiga catatan itu sudah cukup untuk sekadar menunjukkan stigma buruknya pelayanan transportasi di Indonesia di mata bangsa asing. Sebuah kondisi tragis, karena sesungguhnya, mengabaikan keselamatan sebagai roh transportasi sama halnya menunjukkan diri tidak beradab dan tidak bermartabat.

Di negara maju, seorang pengemudi bus keluar membantu penumpang cacat masuk ke bus adalah pemandangan biasa yang beradab. Di sana, mobil langsung berhenti ketika lampu menyala merah dan mempersilakan penyeberang jalan untuk lewat adalah hal jamak yang bermartabat. Anehnya, pemandangan itu sulit ditemui di Indonesia. Lebih lucu lagi, pemandangan sangat jorok dan pasti berbahaya, orang naik kereta api di bagian atap dengan mudahnya ditoleransi.

Jika di sebagian besar negara di dunia, terbakarnya pesawat Garuda GA-200 di Yogyakarta sudah cukup untuk memaksa pejabat pemerintah yang bertanggung jawab untuk mundur, tidak demikian halnya di Indonesia. Jika rasa tanggung jawab itu ingin ditumbuhkan, sudah semestinya ada yang memulai budaya mundur.

Dari gambaran buruknya penghargaan terhadap keselamatan itu,wajar jika terlalu banyak nyawa yang melayang siasia akibat kecelakaan transportasi baik darat, laut, maupun udara. Artinya, perlu pembenahan besar-besaran tidak hanya dari sisi regulasi transportasi, tetapi juga penerapannya di lapangan. Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia Bambang Susantono pernah mengungkapkan, problem utama dari masalah transportasi di Indonesia adalah terlalu kecilnya investasi yang digerojokkan pemerintah untuk teknologi transportasi.

Sejak krisis ekonomi, tiadanya uang selalu menjadi alasan untuk lari dari tanggung jawab setelah kecelakaan terjadi. Terhadap ungkapan klise dari pemerintah ini, uang tentu tidak bisa menjadi alasan untuk lari. Indonesia boleh miskin, tetapi pemerintah harus eksis, dan menunjukkan keberadaannya dalam hal perlindungan terhadap warganya yang melakukan perjalanan transportasi. Kesadaran bahwa keselamatan adalah faktor utama dalam transportasi harus ditumbuhkan.

Dengan begitu, prioritas pengeluaran uang,sudah semestinya mengutamakan keselamatan. Alasan ketiadaan uang bisa diakali dengan menggunakan prioritas penggunaan. Dalam hal regulasi, banyak pakar yang menyebut sudah cukup memenuhi syarat karena kebanyakan mengadopsi standar keselamatan yang berlaku global.Yang harus menjadi catatan penting, bagaimana implementasi regulasi itu dijalankan sepenuhnya.

Dasar bagi semua pelaku bisnis transportasi dan pengguna semestinya adalah mengutamakan keselamatan. Kepentingan lain dalam hal ini bisnis atau budaya korup yang mewarnai sistem transportasi nasional sudah semestinya dipangkas. Regulasi seharusnya tidak dibuat membabi buta tetapi juga memperhitungkan situasi yang ada. Misalnya dalam hal pembatasan usia pesawat masuk ke Indonesia menjadi 10 tahun. Jika itu diterapkan, hanya akan ada empat pesawat yang memenuhi syarat beroperasi di Indonesia.Atau seperti kata Patrick Smith, seorang pilot dan pengamat penerbangan yang dikutip AP.

"Standar yang ada, usia pesawat 10 tahun adalah baru. Bukan masalah usia, melainkan bagaimana pesawat itu dioperasikan, itu yang membuatnya aman," kata Patrick yang menyebut, jika aturan itu diberlakukan di AS, separuh armada transportasi udaranya bakal di-grounded. (titis widyatmoko)

Copyright © 2007 Media Nusantara Citra Group
 


Copyright © 1999-2002 - Ambon Berdarah On-Line * http://www.go.to/ambon
HTML page is designed by
Alifuru67 * http://www.oocities.org/rumah3poka
Send your comments to alifuru67@yahoogroups.com
This web site is maintained by the Real Ambonese - 1364283024 & 1367286044